Diburu Nikah

Diburu Nikah
Bab. 73 Karyawan Baik atau Tidak?


__ADS_3

Angin siang menjelang sore begitu nyaman. Hari itu matahari tidak terlalu terik yang membuat gerah. Dengan angin sepoi-sepoi yang terus berhembus membuat suasana terasa di pantai.


Di dalam mobil Natasya sudah tidak sabar melihat Yongki. Sesekali Natasya melirik bingkisan yang dia bawa, berharap Yongki akan memakannya.


'Tapi... apa mas Yongki akan suka ya dengan cheese cake ini. Natasya lupa jika mas Yongki tidak terlalu suka sama makanan yang manis. Apa tidak jadi aku kasih sama Mas Yongki saja ya,' batin Natasya yang ragu.


Natasya yang terlalu bersemangat lupa akan selera Yongki. Yongki tidak terlalu suka yang manis. Sedangkan yang dia bawa termasuk ke dalam makanan dengan rasa manis yang tinggi.


"Permisi Mbak Natasya," ucap sang supir.


"Ah iya, Pak," sahut Natasya yang sedang melamun.


"Maaf Mbak, kita telah sampai," terang sang sopir.


Natasya melihat ke sekeliling. Mereka sudah ada di lobi perusahaan. Natasya tidak menyadari jika sudah tiba. Perasaan dia baru sebentar naik ke mobil.


"Baik Pak. Bapak tunggu sebentar ya. Nanti saya kembali lagi. Saya tidak akan lama," ujar Natasha yang sudah sadar dari lamunan.


"Baik Mbak."


Sekarang sudah terlambat bagi Natasya jika mengurungkan niatnya. Dia sudah terlanjur tiba di perusahaan.


'Sudahlah, aku kasih dulu ke Mas Yongki. Kalau nanti mas Yongki tidak makan, biar aku saja yang makan,' batin Natasya dengan hati optimis.


Natasya segera turun. Dengan hati riang gembira dia memasuki ke dalam perusahaan. Natasya belum pernah pergi ke perusahaan Sudirman. Sehingga dia tidak tahu di mana letak ruangnya Yongki.


Natasya mendekat ke arah resepsionis. Dia memutuskan untuk bertanya di sana. 


"Permisi Mbak," sapa Natasya.


"Iya Mbak. Ada yang bisa saya bantu," sahut sang resepsionis.


Resepsionis melihat Natasha dari atas ke bawah. Penampilan Natasya memang biasa. Natasya menggunakan baju yang terlihat 'biasa'. Natasya tidak mau terlihat glamour.  


"Maaf Mbak, saya ingin bertanya dimana ruangannya pak Yongki," tanya Natasya dengan sopan.


"Ada perlu apa kamu mencari pak Yongki," tanyanya dengan sebelah mata.


Dia sudah banyak menghadapi perempuan yang mendekati Yongki. Berbagai alasan mereka gunakan untuk bisa dekat dengan Yongki. Jadi kali ini dia juga bersiap untuk mengusir Natasya.


"Ini Mbak, tadi pak Yongki menelepon ke rumah. Kata pelayan pak Yongki ketinggalan berkas ini," sahut Natasya menunjukkan berkas.


'Jangan-jangan dia adalah anaknya pembantu. Dari penampilannya saja biasa. Pasti dia ke sini mau curi kesempatan,' batin dia curiga. 

__ADS_1


"Kamu berikan saja dokumen itu kepada saya. Nanti saya akan kasih langsung ke pak Yongki nya."


"Apa tidak bisa saya berikan langsung Mbak? Karena dokumen ini sangat penting. Sekalian mau memberikan ini kepada pak Yongki," tanya Natasya.


'Sesuai dugaan aku, dia mau menggoda pak Yongki. Kenapa hari ini aku harus menghadapi perempuan seperti ini sih. Apa tidak ada tugas aku yang lebih greget. Lama-lama aku jadi tukang pengusiran. Lagian apa dia tidak malu ya, padahal dia tinggal serumah dengan pak Yongki. Pasti dia sudah mengenal istrinya pak Yongki. Ini ni ciri-ciri bibit pelakor. Aku usir dia saja lah. Dari pada nanti aku kenak omel lagi.'


"Maaf Mbak tidak bisa. Ini adalah tugas saya. Tidak sembarang orang bisa menemui pak Yongki. Jika tidak ada janji tidak bisa bertemu," ujarnya dengan memaksakan tersenyum ramah. 


"Aahh… baiklah Mbak," sahut Natasya lesu tidak mau mengganggu kerja karyawan.


"Ina, apa suruhan dari rumah pak Yongki sudah datang?" tanya Putra kepada sang resepsionis tadi.


Natasya membalikkan badannya mendengar suara yang menyebut suaminya. Dia juga tidak asing sama suara itu.


"Natasya, ternyata kamu yang datang, bukan para pelayan. 


Natasya bingung dengan lelaki yang berada di depannya. Natasya hanya berjumpa satu kali. Dia tahu jika itu adalah sekretaris Yongki. Tapi dia lupa sama namanya. Natasya mencoba mengingat nama Putra.


"Kamu pasti lupa sama aku kan? Aku Putra, sekretarisnya Yongki," kata Yongki memperkenalkan diri lagi.


"Mas Putra," ucap yang Natasya memberikan hormat.


"Kamu jangan sungkan sama saya, Natasya. Oh ya, apa kamu ke sini mau mengantar itu buat Yongki?" tanya Putra melihat Natasya membawa bingkisan.


"Jadi kamu mau menemui Yongki?"


"Iya Mas jika bisa. Kalau mas Yongki sibuk tidak apa-apa," tolak Natasya.


"Kamu ini kan istrinya, jadi tidak apa. Ayo ikut dengan saya. Saya tidak mungkin membiarkan istrinya Yongki tersesat di perusahaan sendiri," canda Putra.


"Baik Mas," balas Natasya.


Ina, resepsionis tadi terpaku. Seluruh tubuh membeku. Dia mendengar seluruh percakapan Putra dan Natasya. Sekarang dia takut akan dipecat. Dia sudah bertindak lancang sama istri bos nya. 


"Siska, apa benar itu istrinya pak Yongki?" tanya Ina dengan bergetar.


Ina belum siap dipecat. Dia berharap jika tadi dia salah dengar.


"Aku juga tidak tahu. Aku belum pernah melihat istri bos kita. Penampilan istri bos kita pasti berkelas. Tadi penampilan perempuan itu sangat biasa sekali," sahut Siska cuek.


"Mungkin istri bos bukan perempuan yang suka memakai barang mewah," sahut Ina.


"Kalau seperti itu, dia tidak level dengan pak Yongki."

__ADS_1


"Tapi bagaimana ini?" tanya Ina takut.


"Bagaimana apanya?"


"Apa kamu tidak dengar pak putra bicara sama perempuan tadi?"


"Aku tidak dengar. Aku masih banyak kerjaan daripada mengurus hal itu."


"Mati aku," gumam Ina.


Ina menjedot kepala ke atas meja beberapa kali. Kali ini habis nasibnya.


"Kamu kenapa sih, jangan gila di sini deh. Noh, di toilet aja biar ada temen," kata Siska sebal terganggu dengan suara yg dibuat oleh Ina.


"Aku bisa beneran gila jika dipecat Siska," kata Ina menggoyangkan lengan Siska.


"Kami ini apaan sih," kata Siska melepaskan tangan Ina.


"Tadi pak Putra menyebut perempuan itu istri pak Yongki. Jika itu bener, aku bisa dipecat Siska. Tadi aku telah mengusir dia," ucap Ina hampir menangis.


'Bahkan aku menuduh dia macam-macam. Untung saja masih di pikiran, tidak keluar. Jika keluar, tamat sudah hidup aku.'


"Ah… aku akan turut berduka cita jika kamu dipecat," canda Siska menepuk bahu Ina.


"Siska!" teriak Ina tidak terima.


"Berteriak lah, mungkin kamu akan dipecat duluan sebelum istri pak Yongki melapor."


"...."


"Kamu lanjut kerja saja. Aku yakin kamu tidak akan dipecat. Lihat saja tadi istri pak Yongki sangat sopan. Jika dia mau pecat kamu, sudah dari awal masuk dia akan memarahi kamu. Sekarang kita kerja lagi," hibur Siska.


"Baik, semoga aku tidak dipecat," ujar Ina dengan semangat.


***


'Tadi aku lupa bilang sama Natasya jika Yongki lagi sama Amanda di ruangan. Jika aku bilang sekarang, yang ada Natasya bisa marah. Yongki semoga kamu tidak berbuat aneh di ruangan,' batin Putra berdoa untuk keselamatan Yongki.


'Ternyata perusahaan mas Yongki sangat luas. Gedungnya juga bagus. Kira-kira butuh berapa hari buat sapu dan pel seluruh lantai jika sendiri ya?'


Bersambung….


Ayo tebak apa yang akan dilakukan oleh Natasya ketika melihat Yongki bersama Amanda di dalam ruangan. Silahkan isi prediksi kalian sebelum baca bab selanjutnya ya.

__ADS_1


__ADS_2