
"Herry, kamu harus baik-baik saja," ujar Safira dengan khawatir.
Safira mondar-mandir di depan ruang pemeriksaan. Sedangkan Melati duduk gemetar di bangku. Dia masih linglung dengan kejadian yang terjadi di depan matanya. Dia tidak kalah cemas dengan keadaan Herry.
Safira sekali-kali hanya melihat Melati sekilas. Dia tidak berniat membantu dan menenangkan Melati. Dia saat ini juga sedang cemas sendiri tapi masih bisa menguasai diri.
Tit…. Tit…. Tit….
Handphone punya Melati berdering dan bergetar. Dengan tangan gemetar Melati membuka tasnya dengan susah payah. Suara panggilan masuk putus karena Melati terlalu lama mencari handphone. Melati tetap terus mencari handphone.
Setelah mencari handphonenya, Melati mengeluarkan handphone tersebut dari tas.
Tit…. Tit…. Tit….
Panggilan masuk kembali berdering untuk yang kedua kali. Melati melihat siapa orang menelponnya. Orang yang meneleponnya adalah Bimo. Dengan jari yang masih belum bisa diajak kerjasama, Melati menggerakkan jarinya dengan pelan pada tombol hijau dengan gemeteran. Setelah itu digesek kan tombol tersebut. Sehingga panggilannya tersambung dengan Bimo.
"Kak Bimo…." kata Melati dengan bibir bergetar.
"Melati, ada apa dengan nada suara kamu? Apa yang terjadi sama kamu? Sekarang kamu sama siapa? Di mana posisi kamu? Kakak akan menjemput kamu," tanya Bimo beruntun dengan nada penuh khawatir.
"Kak, Melati... Melati…." kata Melati tidak bisa berpikir lagi.
Melati tidak tahu harus berkata apa. Pikiran terasa kosong. Tidak ada rangkaian kata lagi di kepalanya.
Safira gemas melihat tingkah laku Melati. Dengan nada suara Melati bisa membuat orang berpikir jika terjadi sesuatu. Dia tahu jika Melati masih sangat terkejut dengan kejadian tadi. Dia akhirnya segera merebut handphone punya Melati.
Melati menatap Safira yang mengambil handphone dia. Dia tidak berkata apapun juga. Hanya memperhatikan.
Safira sudah tahu siapa orang yang menelpon Melati. Jadi dia tidak sungkan lagi berkata terus terang.
"Jika kamu ingin melihat Melati, datanglah ke rumah sakit. Kami ada di ruang pemeriksaan," ujar Safira the to point.
"Halo…. siapa kamu? Apa yang terjadi sama Melati?" tanya Bimo panik tidak karuan di seberang panggilan.
"Jangan banyak tanya lagi. Jika kamu ingin menenangkan Melati segera ke sini," tambah Safira.
Safira segera matikan teleponnya secara sebelah pihak. Setelahnya dia melirik ke arah Melati. Melati membalas melirik tanpa berkata apapun.
Safira jadi terbayang kembali di mana saat dia sedang berjalan berdua dengan Herry saat itu. Saat ketika Safira dan Herry menemukan Melati.
***
Flashback
Safira kembali menarik Harry untuk jalan-jalan bersama. Safira tidak pernah kehilangan ide untuk menarik perhatian Herry. Dia akan melakukan apapun supaya Herry mau melihatnya.
__ADS_1
"Safira tunggu,' ujar Herry tiba-tiba ketika mereka berada di jalan.
Herry memberhentikan Safira. Dia meletakkan tangannya di depan Safira agar Safira benar-benar berhenti berjalan. Dia kembali memfokuskan indra pendengarannya. Tadi dia seperti mendengar suara yang tidak asing baginya.
"Ada apa Herry?" tanya Safira penasaran.
"Tadi aku seperti mendengar suara minta tolong Melati," sahut Herry.
'Herry, kenapa kamu jalan sama aku tapi masih saja terbayang dengan Melati. Padahal di sekitar sini tidak ada ada Melati. Apa segitu berarti nya Melati buat kamu,' batin Safira kecewa.
"Kamu dengar tidak?" tanya Herry balik karena tidak lagi mendengar suara Melati.
"Kamu salah dengar kali. Ayo kita jalan lagi," sahut Safira dengan menggandeng kembali tangan Herry.
Dia kembali menarik Herry untuk menemaninya jalan-jalan. Sedangkan Herry masih bingung dengan pendengaran sendiri. Dia menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran tentang suara Melati.
"Tolong!"
Langkah Herry kembali berhenti. Sehingga otomatis Safira menghentikan langkahnya. Herry kembali melihat ke sekitar.
"Herry kamu kenapa sih?" tanya Safira merajuk.
"Safira, aku yakin jika suara yang tadi aku dengar itu suaranya Melati. Tadi aku dengar lagi," ujar Herry yakin.
"Tidak mungkin Herry. Di sini tidak ada Melati," kata Safira meyakinkan Herry.
"Kamu lihat kan? Tidak ada Melati?"
"Iya sih," jawab Herry ragu-ragu.
"Ayo jalan lagi," ajak Safira.
"Tapi…."
"Tapi apalagi? Apa kamu tidak mau menemani aku pergi jalan-jalan ya. Atau kamu benci sama aku?" tanya Safira dengan rasa kecewa.
Safira kecewa dengan sikap Herry. Herry terus bilang mendengar suara Melati, tapi mereka sama sekali tidak melihat Melati. Dia menganggap jika itu semua hanya alasan Herry saha.
"Tidak, bukan begitu maksud aku. Aku…."
"Tolong!"
Herry kembali suara Melati. Dia jadi berhenti berbicara. Dia kembali memfokuskan pendengaran.
"Tolong!"
__ADS_1
"Itu pasti teriakan Melati. Kamu tunggu di sini dulu," ujar Herry tiba-tiba.
Herry melepaskan rangkulan tangan Safira. Dia segera mencari sumber di mana suara Melati.
Safira menatap kepergian Herry dengan tidak percaya. Dia tidak sempat mencegah Herry. Akhirnya dia memutuskan mengejar Herry.
"Herry tunggu," panggil Safira.
***
"Melati, kamu di mana!" teriak Herry dengan keras.
Setelah mengitari beberapa tempat, dia melihat sebuah lorong yang sepi. Firasat Herry membawa langkah dia menuju ke sana.
"Tolong!"
"Sepertinya, suara Melati dari sana," ucap Harry.
Herry kembali berlari menuju ke arah jalan sepi tersebut. Di belakang Safira terus mengikutinya.
Safira terkejut begitu melihat Herry. Herry benar-benar menemukan Melati yang sedang dalam bahaya. Hati Safira berdenyut sakit saat dia tahu bagaimana dalamnya perasaan Herry kepada Melati. Padahal jarak mereka terbilang cukup jauh, tapi hari masih bisa mendengar suara Melati. Tanpa dia sadari air mata Safira menetes.
"Herry!" teriak Melati.
Teriakan Melati membuat Safira sadar kembali di mana dia sekarang berada. Dia melihat Herry yang sudah ditendang dan dipukuli oleh ketiga permen itu. Dengan Melati yang mencoba menyingkirkan preman itu agar menjauh dari Herry. Seketika Safira segera meminta pertolongan dengan berteriak kepada pejalan kaki.
"Tolong! Tolong!
Flashback selesai.
***
"Ini handphone punya kamu," ucap Safira menyerahkan telepon genggam Melati.
"Terima kasih," ujar Melati dengan masih gemetar.
"Kamu tidak perlu berterima kasih. Jika semua ini bukan gara-gara kamu, maka Herry tidak akan seperti ini," kata Safira dengan menusuk.
Perkataan Safira benar-benar menembus hati Melati. Dia kembali dengan pikiran negatif dan rasa takutnya. Dia semakin merasa bersalah.
"Maaf, semua ini memang salahku," mohon Melati.
"Kamu tidak perlu minta maaf. Maaf kamu tidak mungkin membuat Herry seperti satu jam yang lalu," sindir Safira.
Air mata Melati sudah tidak dapat dibendung lagi. Dia sudah menangis dengan menahan suaranya. Dua berusaha untuk tidak menangis, tapi tubuhnya tidak bisa diajak kerja sama.
__ADS_1
Safira tidak berniat untuk menenangkan Melati. Dia kembali berbalik ke arah ruang operasi. Berharap dokter segera keluar dan memberikan kabar terbaik.
Bersambung....