Diburu Nikah

Diburu Nikah
Bab. 69 Bad Mood


__ADS_3

Melisa pulang dengan keadaan sangat kesal. Emosinya bagaikan gunung berapi yang siap mengeluarkan laharnya. Dia sudah berusaha secepat mungkin untuk mengantri membeli cheese cake yang dia inginkan. Ketika dia tiba di restoran tersebut sudah banyak orang yang mengantri. 


Sehingga hilanglah kesempatan Melisa untuk bisa menikmati cheese cake tersebut. Dia sudah membayangkan betapa nikmatnya kelembutan cheese cake yang akan menari-nari di lidah. Sekarang malah emosi dia yang menari-nari. 


Satu hal lagi yang lebih sial lagi buat Melisa. Ada beberapa teman Melisa yang bisa membeli cheese cake tersebut. Mereka dengan bangga memamerkan bagaimana tentang cita rasa kelezatan dari cake saat mereka sedang mengadakan arisan di siang harinya.


Melisa tidak terima jika dia dipamerkan begitu saja. Dia adalah wanita yang yang pantas memamerkan suatu barang. Mengingat itu kembali semakin Melisa kesal.


"Mama kenapa?" tanya Hartato dengan lanjut meminum kopi. 


"Mama kesal Pa. Mama sudah capek pergi dari pagi. Tapi Mama tidak mendapatkan cheese cake tersebut," jawab Melisa sambil duduk dengan kasar di samping Hartato.


"Kan sudah Papa dan Yongki sarankan, kenapa Mama tidak mau menyuruh orang buat antri," kata Hartato.


"Mama niatnya mau melakukan sendiri Pa. Mana Mama tahu jika banyak yang minat. Tahu gitu kemarin Mama menyuruh orang lain saja," jawab Melisa sebal. 


"Sudah lah Ma. Bubur sudah menjadi nasi, tidak bisa diubah lagi," ucap Hartato.


"Yang benar nasi sudah menjadi bubur Pa," ralat Melisa. 


"Papa tahu, Papa hanya ingin menghibur Mama saja. Biar Mama tidak marah lagi," sahut Hartato tertawa kecil. 


"Candaan Papa tidak lucu tuh," ucap Melisa dengan mengerucutkan bibir.


Melisa menyembunyikan pipi dia yang merona. Godaan Hartato membuat Melisa meleleh. Melisa jadi terbayang masa muda mereka. Betapa lihai nya Hartato menaklukkan manusia cantik (macan) seperti dia.


"Siang Ma, Pa," ucap Natasya yang telah pulang dari kampus.


"Siang sayang. Sayang kamu sudah pulang," sambut Melisa dengan tersenyum.


Natasya masih bisa melihat muka Melisa yang tadi cemberut. Melisa tidak menutupi dengan baik.


"Mama, muka Mama kenapa?" tanya Natasya menghampiri Melisa.


Melisa bahkan tidak bangkit memeluk Natasya seperti biasanya.


"Mama kamu tidak mendapat incarannya. Makanya muka Mama seperti benang kusut," sahut Hartato.


"Papa ini," tegur Melisa tidak mau membuat Natasya khawatir.


"Mama jangan cemberut seperti itu dong. Nanti cantiknya Mama bisa hilang," canda Natasya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa kecantikan Mama hilang. Asal jangan muncul kecantikan yang baru," sindir Melisa.


Uhuk…


Uhuk… 


Hartato terbatuk mendengar sindiran istrinya. Dia tahu persis apa maksud perkataan Melisa. 


"Biarpun banyak bunga cantik diluar, Papa tidak pernah berniat melirik bunga lain," sahut Hartato.


"Papa jangan modus," dengus Melisa pura-pura marah.


"Maksudnya Mama dan Papa apa?" tanya Natasya tidak mengerti.


"Sudahlah sayang, kamu abaikan saja Papa," ujar Melisa. 


"Jika Mama ingin makan cheese cake, bagaimana kalau Chacha coba buat cheese cake untuk Mama," tawar Natasya.


'Chacha pasti ingin menghibur aku. Cheese cake dan resep yang dibuat oleh chef itu sangat susah untuk di praktek. Dia pasti hanya menyenangkan hati aku karena aku sedang sedih. Rasanya senang sekali mempunyai anak perempuan yang sangat perhatian dengan aku. Lebih baik aku mengiyakan saja perkataan Chacha. Aku tidak mau mematahkan semangat anakku," batin Melisa terharu.


"Jika kamu bisa, Mama tidak keberatan makan masakan kamu sayang," sahut Melisa.


"Apa Mama punya video kemarin yang Mama nonton. Chacha kemarin tidak sempat melihatnya," ujar Natasya.


"Baik Ma. Hari ini Natasya akan mencoba mempelajari resepnya. Besok Natasya akan belanja bahan dan membuatnya untuk Mama," hibur Natasya.


"Terima kasih sayang. Oh iya sayang, kebetulan teman Mama besok siang mau ke tempat rumah kita. Jadi apa boleh Mama meminta kamu untuk memasak makan siang buat teman Mama. Kamu kan besok tidak ada jadwal kuliah. Kamu tidak perlu masak yang ribet, yang simpel saja," ucap Melisa penuh harap.


"Ma, Chacha ini bukan pembantu. Dia menantu kita Ma," tegur Hartato. 


"Siapa yang membuat mantu kesayangan Mama jadi pembantu," kata Melisa menatap tajam ke arah sang suami. 


"Mama tadi yang menyuruh Chacha untuk masak buat teman Mama. Kenapa tidak suruh pembantu saja," sahut Hartato tidak mau kalah.


"Maksud Mama bukan begitu Pa. Mama ingin memamerkan menantu Mama pada teman Mama. Dulu mereka sering memamerkan menantu mereka. Jadi apa salahnya jika Mama ingin menunjukkan jika menantu Mama itu bisa memasak makanan yang tidak kalah dari hotel berbintang. Mereka hanya bisa pamer menantu mereka yang bisa beli ini itu. Mereka harus tahu jika mantu kita adalah menantu terbaik di dunia," terang Melisa.


"Papa setuju jika menantu kita paling bagus. Tapi Mama bisa membuat Chacha capek jika memasak untuk mereka. Apa Mama rela jika teman Mama mencicipi masakan dari tangan menantu kita?" tanya Hartato.


"Iya sih Pa. Mama juga tidak rela. Tapi…."


"Tidak apa-apa Ma, Pa. Chacha sudah biasa bekerja di dapur," sahut Natasya.

__ADS_1


"Ah… menantu Mama memang yang terbaik. Tapi sayang, lain kali kamu jangan memasak buat orang lain ya. Mama tidak rela. Mama tidak mau kamu capek-capek di dapur," ucap Melisa.


Hartato memijit keningnya mendengar perkataan Melisa. Melisa yang menyuruh Natasya memasak untuk temannya. Semenit kemudian menyuruh Natasya untuk tidak capek. Dia tidak habis pikir kemana sifat konsisten istri jika didepan Natasya. 


"Natasya akan selalu menjaga kesehatan Ma," sahut Natasya.


***


Matahari sudah bersembunyi di balik lautan yang dalam. Digantikan dengan rembulan yang bermata sipit muncul di langit. Saat itulah Yongki menjejakkan kaki di rumah. 


Tadi Yongki sempat membahas proyek dengan Putra. Mereka sampai lupa waktu.  


"Tahu pulang juga kamu," sindir Melisa yang masih dalam keadaan mood yang buruk. 


Yongki memilih diam. Diam lebih berharga dari emas jika Melisa sedang marah.


Natasya segera berdiri menyambut kepulangan suaminya. Dia meraih tas dan jas Yongki.


"Mas kenapa pulang kemalaman?" tanya Natasya.


"Maaf sayang, tadi Mas ada proyek yang Mas bahas dengan Putra. Kami sampai lupa waktu ketika membahas proyek tersebut," sahut Yongki.


"Halah… bilang saja kalau kamu malas pulang ke rumah," kata Melisa dengan nada yang tidak enak. 


"Sayang, kenapa dengan Mama," bisik Yongki. 


"Mama sedang dalam mood yang tidak baik Mas," sahut Natasya kecil.


"Kenapa kamu bisik-bisik sama anak Mama," kata Melisa menatap tajam.


"Yongki hanya tanya kenapa Mama bad mood lagi. Lagian sudah Yongki bilang jika Mama tidak akan berhasil mendapatkannya," ucap Yongki.


"Jadi kamu tidak suka jika Mama mendapatkannya," tuduh Melisa.


"Ma berhenti. Mama jangan mulai lagi," lerai Hartato.


Melisa membuang mukanya ke arah lain. Melisa masih belum puas mencari korban.


"Ayo Mas, Mas mandi dulu. Pasti Mas sudah capek," ajak Natasya ke kamar.


"Iya, Mas juga sudah sangat gerah," sahut Yongki.

__ADS_1


Mereka berdua berjalan ke arah kamar. Natasya yang memegang jas punya Yongki berhenti berjalan. Dia merasa seperti mencium bau wangi parfum perempuan di jasnya Yongki. Dengan ragu-ragu Natasya membaui jas Yongki. Memang ada parfum perempuan pada jas Yongki. Natasya yakin jika penciumannya tidak pernah salah. Yongki tidak pernah menggunakan parfum feminim.


Bersambung....


__ADS_2