Diburu Nikah

Diburu Nikah
Bab. 77 Menolong Melati


__ADS_3

Melati pulang berjalan kaki menelusuri jalan. Dia belum berniat untuk pulang terlebih dahulu. Melati ingin menghabiskan waktu sendiri untuk menenangkan hatinya. Belakangan ini Melati sering melihat Herry jalan bersama dengan dengan perempuan yang pernah kenalkan saat pernikahan Natasya dan Yongki, Safira.


Melati melihat mereka berdua bermesraan di tempat umum. Tidak jarang Safira merangkul Herry. Tidak ada gelagat untuk Herry menjauh dari Safira. Melati mencoba menarik nafas untuk mengurangi rasa sesak di dadanya. Tidak ada yang bisa dia lakukan untuk memperjuangkan Herry.


Bimo yang menjadi penghalang. Dia masih saja tidak merestui hubungan dia dengan Herry. Sekarang Herry sudah dekat dengan perempuan lain. Jadi dia sudah tidak ada kesempatan lagi untuk dekat dengan Herry.


Langkah Melati semakin berjalan menjauhi kerumunan orang banyak. Dia sudah mulai memasuki jalan sempit yang jarang dilalui orang. Tanpa dia sadari dia berjalan dengan tuntunan kaki tanpa arah.


Dia berjalan mengikuti kata hatinya. Dia tidak melihat ke sekitar lagi. Dia sibuk dengan melamun.


"Ada cewek cantik nih," ucap salah satu preman yang berdua di lorong.


"Hai cantik, kenalan dong."


"Ayo ikut sama kami. Kami pasti akan membuat kamu senang."


"Iya, nanti setelah kita main kami akan memberikan kamu uang," ujar mereka bergantian.


Di lorong tersebut ada tiga orang laki-laki yang bertubuh urakan. Mereka adalah preman yang sering memalak orang dan melakukan kekerasan. Mereka tidak segan-segan sering menggoda dan melecehkan perempuan.


Melati menggenggam tali tasnya. Dia merasakan takut dengan mereka bertiga. Dia merasakan firasat buruk.


Melati memutar arah untuk pergi dari sana. Dia tidak mau terjadi apa-apa sama dirinya. Alarm di kepala juga ikut berbunyi. Pertanda menyuruh Melati untuk berbalik.


"Cantik jangan pergi dulu dong. Kita belum bersenang-senang," kata salah satu lelaki yang yang menghadang Melati pergi.


"Kamu jangan sombong cantik. Nanti tidak ada laki-laki yang mau sama kamu. Sini biar kami memuaskan kamu."


"Pergi… jangan ganggu aku. Aku tidak kenal sama kalian," ujar Melati dengan gemetar.


"Makanya kita kenalan dulu. Iya tidak?" ujarnya ingin meraih Melati.


Melati menghindar tangan lelaki itu. Dia semakin takut mereka berbuat nekad.


"Kamu ya… kamu jangan sok jual mahal," kata mereka yang sudah tidak sabar.


"Tidak, jangan sentuh aku. Pergi!" usir Melati lagi dengan ketakutan.


Melati sudah berdiri dengan punggung berdempetan dengan tembok. Dia sudah tidak ada celah untuk kabur. Tadi dia reflek mundur terus sehingga terpojok.


"Makin menolak kamu semakin seksi saja."


"Tidak pergi! Tolong!" teriak melati yang mulai berkeringat dingin.


"Kamu tidak perlu berteriak lagi. Tidak akan ada yang menolong kamu."

__ADS_1


"Tolong! Tolong!"


"Bos, dia terlalu berisik. Nanti kita tertangkap lagi."


"Ayo kita bawa dia ke markas."


"Tidak mau! Tolong! Siapapun tolong aku," ujar Melati tidak putus asa.


"Kalian berdua seret dia," perintah bos preman.


"Apa mau kalian?"


"Ayo manis ikut sama kami."


"Tidak mau! Pergi kalian! Tolong!"


Mereka menggerakkan tangan untuk meraih Melati. Melati kembali menghindar.


"Hei... berhenti kalian. Jangan ganggu Melati!" teriak Herry yang baru datang bersama Safira.


Ketiga preman itu melihat ke belakang untuk melihat siapa yang mengganggu kesenangan mereka bertiga.


"Kalian lebih baik pergi dari sini. Jangan mengganggu kesenangan kami," usir mereka.


"Tidak! Aku tidak pergi. Kalian yang harus pergi dari sini. Jangan ganggu teman aku," tolak Herry.


Dia melihat bahwa perempuan lainnya yang juga tidak kalah cantik.


'Jika tambah satu perempuan lagi akan lebih seru.'


"Kamu lebih baik pergi dari sini dan tinggalkan teman kamu itu."


"Kalian jangan kurang ajar ya," ucap Hery tidak terima.


"Kamu pergi selagi aku masih bicara baik-baik. Pergi dari sini," katanya dengan nada keras.


"Tidak, aku tidak akan pergi," tolak Herry dengan serius.


Sang kepala preman memberikan kode kepada dua anak buahnya untuk menghajar Herry. Herry dengan sekuat tenaga menghindar pukulan dari mereka. Sehebat apapun Herry menghindar, tetapi dia terkena pukulan dari preman itu juga.


Herry yang sama sekali tidak bisa melindungi dirinya sendiri menjadi sasaran empuk mereka. Mereka mulai melayangkan tinju kepada Herry. Ketika Herry terjatuh, mereka menggunakan kesempatan itu untuk menendang-nendang Herry.


Melati yang kakinya tadi gemetaran seakan ada tenaga kembali saat melihat Harry dipukul oleh mereka bertiga. Melati menguatkan diri dan membalas memukul mereka. Walaupun ilmu bela dirinya tidak sepandai Bimo tapi dia bisa sedikit untuk melindungi diri sendiri.


"Tolong! Tolong! Ada perampokan!" teriak Safira dengan keras.

__ADS_1


Beberapa pejalan kaki mendekati Safira yang meminta tolong. Suara Safira yang lantang dan nyaring bisa membuat orang mendengarnya.


"Rasakan kamu."


"Ayo kita pergi," kata temannya mendengar suara langkah banyak orang mendekat.


"Awas kalian. Jika bertemu lagi aku akan membuat kalian menyesal," kata mereka mengancam.


Mereka bertiga segera lari sana. Mereka tidak mau masuk penjara lagi. Baru kemarin mereka keluar dari penjara.


Keadaan Herry sangat mengkhawatirkan. Dia sudah babak belur dipukuli dan ditendang oleh preman itu. Harry mulai berkunang-kunang dan hampir tidak sadar diri. Dia memperhatikan ke sekitar melihat kondisi Melati. Melihat Melati yang baik-baik saja membuat dia lega.


Dengan pelan Melati membawa kepala Herry ke pangkuannya. Melati tidak mau menambah kesakitan buat Melati.


"Herry… apa… apa kamu tidak apa-apa?" tanya Melati khawatir.


"Aku tidak apa-apa kok," ujar Herry dengan lemah.


"Kamu tidak terluka kan?" tanya Herry selanjutnya.


"Iya, aku tidak apa-apa. Tapi kamu…."


"Apa yang terjadi?"


"Kalian baik-baik saja?" tanya orang-orang yang tiba.


"Teman kami dipukuli sama preman, Pak," sahut Safira.


"Preman itu tidak kapok masuk penjara."


"Biar aku telepon taksi. Kawan kalian perlu pertolongan segera."


"Terima Pak," ucap Safira.


Safira mendekat ke arah Herry dan Melati. Dia ikut berjongkok di samping Herry.


"Herry, bertahan ya. Sebentar lagi taksi datang," ujar Safira.


"Aku tidak apa-apa, Safira," ujar Herry dengan sok kuat.


"Kamu tidak baik-baik saja. Ayo kita segera pergi ke rumah sakit," ajak Safira dengan mengabaikan perkataan Herry.


Safira segera membantu Herry bangun. Melati juga ikut membantu. Taksi sudah datang. Mereka harus segera ke rumah sakit.


Herry berusaha berjalan agar tidak membebankan badan kepada Safira dan Melati. Badan mereka terlalu kecil dan lemah. Dengan sekuat tenaga Herry mempertahankan kesadarannya. Begitu dia duduk di dalam taksi baru dia hilang kesadaran sepenuhnya.

__ADS_1


Setelah mengucapkan terima kasih kepada orang yang ikut membantu, mereka berangkat ke rumah sakit. Mereka tidak mau membuang waktu.


Bersambung...


__ADS_2