Diburu Nikah

Diburu Nikah
Bab 87. Ide Hartato


__ADS_3

"Pa, Papa kenapa sih bawa Mama ke kamar segala. Mana pintu pakek dikunci segala. Pa, Mama masih mau bicara sama Yongki, Mama…."


"Mama mau cucu kan?" tanya Hartato.


"Kalau Papa sudah tahu, Papa jangan halangi Mama. Papa minggir, Mama mau bicara lagi sama Yongki," ujar Melisa mendorong Hartato yang menghalangi pintu.


"Maka dari itu, Papa ajak Mama bicara di kamar. Jadi tidak ada orang yang akan dengar suara kita," ujar Hartato dengan suara kecil. Seakan-akan akan ada orang yang mendengar suaranya.


"Pa, apa maksud Papa. Apa jangan-jangan Papa mau punya…." kata Melisa kehabisan kata-kata.


Hartato menaikkan sebelah alisnya karena tidak mengerti dengan kata-kata Melisa yang terputus. Lagian Hartato sudah menebak isi pikiran Melisa.


"Jangan-jangan Papa ingin mempunyai anak dari mama lagi ya?" tuduh Melisa menunjuk curiga ke arah suami.


"Uhuk… uhuk… uhuk…." Hartato terbatuk-batuk mendengar perkataan Melisa.


Dia tidak menduga jika Melisa akan berkata seperti itu. Sangat jauh dari isi pikirannya.


"Ya ampun Pa! Pa nyebut! Kita ini sudah tua. Bukan saatnya kita memiliki anak lagi, kita seharusnya memiliki cucu bukan anak," ujar Melisa dengan berlebihan dan suara lantang.


Hartato segera menutup mulut Melisa. Dia malu mendengar tebakan Melisa. Dia tidak mau orang lain juga mendengarnya. Cukup dia yang dengar. 


"Ma, siapa yang bilang Papa mau anak lagi. Mama jangan bikin Papa malu, Ma," kata Hartato melepaskan tangan dari mulut Melisa.


"Terus... kenapa Papa membawa Mama ke kamar. Pakai kunci pintu segala," tanya Melisa melipat kedua tangan di dada.


"Maksud Papa bukan begitu Ma, Papa…." 


"Bukan begitu apanya?" tanya Melisa memotong perkataan Hartato.


"Ma, ayi duduk dulu," ajak Hartato dengan lelah menghadapi Melisa.


Hartato menarik kedua tangan Melisa dengan pelan. Dia menuntun ke arah kasur. Bicara sama Melisa butuh usaha ekstra kalau belum nyambung. 

__ADS_1


"Pa, lepas," ujar Melisa melepaskan tangannya dengan kasar dari Hartato.


Tapi Melisa tidak menolak untuk duduk di atas kasur. Dia duduk dengan keinginan sendiri.  


"Jangan pegang-pegang. Kita sudah tua," sindir Melisa.


"Iya… iya, kita sudah tua," ujar Hartato dengan menghela nafas lelah. 


"Jadi, apa yang mau Papa bicarakan sama Mama?" tanya Melisa ulang. 


"Ini mengenai keturunan kita Ma."


"Jadi beneran Papa ingin mempunyai anak lagi?" ujar Melisa dengan menyilang kedua tangan di dadanya.


"Ma, jangan bercanda. Kenapa Mama tidak bisa serius sedikitpun. Jika Papa mau, Papa tidak akan konsultasi sama Mama. Mending Papa langsung praktek." 


"Itu salah Papa sendiri sih. Papa yang membuat Mama salah paham," sahut Melisa gugup mendengar perkataan Hartato.


"Sudah cukup, Papa tidak mau lagi berputar-putar."


'Sabar… sabar…. Ingat, masih sayang,' batin Hartato.


"Sekarang Papa akan mengatakan langsung, Mama jangan…."


"Apa yang mau Papa katakan langsung. Papa sadar tidak sih, Papa dari tadi sama sekali belum mengatakan apa yang mau Papa katakan." 


"Oke baik, jadi Mama ini seorang cucu kan?" tanya Hartato sudah mode serius menatap mata Melisa dengan lekat. 


"Iya dong Pa. Ma sudah ingin mempunyai seorang cucu. Nanti kalau Mama punya cucu, Mama akan membuat pesta tujuh hari tujuh malam," sahut Melisa berbinar.


 "Terserah Mama saja mau buat tujuh hari tujuh malam. Sekarang Papa mau tanya, apa Mama tahu bagaimana proses mereka punya anak?" 


"Maksud Papa, selama ini Mama selalu menahan Nak Chacha dan Yongki di rumah. Apa Mama tahu, apa yang Mama lakukan ini salah besar."

__ADS_1


"Apa lagi maksud Papa ini. Apa Papa menganggap jika mereka menderita bila bersama Mama?" tanya Melisa tidak terima dengan perkataan Hartato. 


Melisa menganggap jika Hartato ingin mengatakan jika dia lah pengganggu hubungan Natasha dan Yongki. Padahal dia yakin, selama ini dia tidak pernah melakukan kesalahan sedikitpun. Bahkan dialah yang selalu mengingatkan mereka untuk mempunyai seorang anak.


"Ma, maksud Papa, jika mereka terus Mama dampingi, kapan mereka ada waktu berdua? Kapan mereka ada moment untuk membuatkan cucu untuk kita. Sekarang biarkan mereka punya rumah sendiri. Dengan begitu, mereka mempunyai waktu berdua lebih lama. Mereka bisa mempunyai waktu yang cukup untuk membuatkan cucu untuk kita." 


Melisa terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya. Dia membenarkan hal itu. Tapi dia belum rela jika berpisah dengan Natasya sekarang. 


"Kalau Mama ingin seorang cucu biarkan mereka tinggal berdua atau mereka tetap berada di rumah bersama Mama tapi tidak memberikan Mama seorang cucu?"


Melisa bimbang ingin memilih yang mana. Kedua pilihan itu terlalu sulit untuk melisa pilih. Dia tidak mau jauh-jauh dari Natasya.


"Apa tidak ada pilihan lain Pa? Ini terlalu berat buat Mama," tawar Melisa. 


"Kenapa Mama malah menawar? Kita bukan lagi belanja Ma. Lagian jika Mama ingin bersama mereka, mereka bisa setiap liburan pergi ke rumah kita. Nanti kalau Natasya sudah hamil, Mama kan bisa membawa mereka ke rumah ini lagi."


"Wah… ide Papa bagus. Yah, walaupun sementara Mama harus jauh hari anak kesayangan Mama. Tapi tidak apa Pa, ini demi cucu Mama. Nanti kalau Chacha hamil, Mama tidak akan mereka membiarkan mereka berdua tinggal berdua," ujar Melisa menggebu-gebu.


Hartato lega, sekarang dia berhasil membujuk Melisa. Dengan begitu Yongki dan Natasya punya privasi sendiri.


"Ayo Pa, kita segera bicarakan sama Yongki. Biar mereka berangkat malam ini juga," ujar Melisa bangkit dari atas kasur.


"Mama jangan terlalu buru-buru. Nanti malam Mama bisa menjelaskan kepada mereka. Jangan seolah-olah Mama mengusir mereka. Nanti mereka bisa curiga," larang Hartato.


"Baiklah Pa. Nanti malam Mama akan katakan.  Mama sudah tak sabar ingin punya cucu. Kalau gitu udah ya Pa  Mama mau masak enak buat makan malam," pamit Melisa.


"Mama mau masak?" tanya Hartato tidak yakin. 


"Maksud Mama, Mama mau menyuruh pelayan untuk memasak masakan enak. Mama mau mengawasi mereka supaya tidak ada kesalahan. Sudah ya Pa, Mama pergi dulu," ucap Melisa dengan buru-buru.


Setelah mengatakan itu, Melisa segera keluar dari kamar. Sekarang suasana hati Melisa saat ini sedang bahagia.


Hartato menggeleng kepala melihat tingkah istrinya. 

__ADS_1


"Istriku memang menggemaskan dari dulu. Tidak pernah berubah," puji Hartanto.


Bersambung....


__ADS_2