Diburu Nikah

Diburu Nikah
Bab 48. Flashback Part 1


__ADS_3

Hari ini adalah hari sial bagi Yongki, bagaimana tidak, dalam perjalanan kembali ke kantor dia mendapati mobilnya mogok di tengah jalan. Untung saja mobilnya bisa dibawa ke tepi jalan. Yongki telah menghubungi bagian derek mobil supaya bisa membawa mobil dia ke bengkel.


Yongki hanya mengambil barang penting dan segera menuju ke halte untuk menunggu taksi yang lewat. Sekarang cuaca sangat panas.


"Sabar, sebentar lagi aku sampai. Yang jadi Bos di sini siapa, kamu atau aku," kata Yongki menjawab telepon.


Yongki berjalan sambil berteleponan sama Putra, teman sekaligus sekretarisnya. 


"Ah itu ada taksi."


Yongki melihat ada taksi dari kejauhan. Tapi tiba tiba ada Ibu Ibu yang terjatuh dan barang belanjaannya berhamburan di dekat Yongki. Yongki hanya melihat sekilas karena dia terburu buru. Yongki memilih menyetop taksi daripada membantu Ibu itu.


"Dasar orang tidak punya perasaan," tiba tiba muncul Natasya dari belakang Yongki.


Natasya segera membantu Ibu itu mengumpulkan barang barangnya.


"Terima kasih Nak."


"Sama sama Bu," Jawab Natasya.


Natasya kembali beralih pada Yongki setelah Ibu itu pergi.


"Tuan ini bener bener tidak rasa iba sama sekali. Padahal tadi Ibu itu lagi kesusahan pas di sampai Tuan. Rugi wajah ganteng dan penampilan keren tapi rasa kepeduliannya kurang," cibir Natasya.


"Ah... aku bisa terlambat menemui pengajar," sambung Natasya.


Natasya segera naik taksi yang di stop sama Yongki.


Yongki dari tadi melihat Natasya yang cuek kepadanya, baru kali ini ada cewek yang terang terangan menegurnya. Yongki bisa merasakan jantungnya yang berdetak kencang. Belum pernah jantungnya berdetak sekencang ini saat melihat perempuan mana pun, ini adalah pertama kali dalam hidup Yongki.


Yongki masih menatap ke arah mobil itu menghilang. Rasanya ada perasaan yang tidak rela.


"Gimana kamu sudah ada di dalam taksi belum," tanya Putra dari balik telepon.


Yongki tidak mendengar suara Putra, dia masih di dunia lamunan.


"Sepertinya aku sakit jantungan ya, jantung ini berdetak keras," kata Yongki memegang dadanya.


"Apa… yang serius kamu Yongki, sekarang kamu dimana biar aku yang jemput," teriak Putra.


Suara Putra menyadarkan Yongki dari lamunannya.


"Aku bisa balik sendiri," jawab Yongki.


Yongki mematikan telepon dan menyetop taksi baru. Selama perjalanan wajah Natasya dan suara Natasya masih tergiang di pikirannya.


***


Yongki memasuki ruang kerjanya.

__ADS_1


"Bagaimana, apa yang sakit, ayo katakan pada aku biar aku panggilkan Dokter," ujar Putra bertubi-tubi.


Yongki mengabaikan Putra dan lanjut memeriksa dokumen.


"Kamu ini gimana sih aku sebagai sahabatmu khawatir tau."


Yongki tetap diam. Putra yang kesal karena didiamkan memilih melanjutkan pekerjaannya di sofa depan meja Yongki.


Yongki berhenti memeriksa dokumen, kepalanya masih terngiang Natasya.


"Putra," panggil Yongki.


"Hemmm," guman Putra masih lanjut bekerja.


"Putra," panggil Yongki lagi.


"Apaan sih, katakan aja, aku denger kok. Aku sibuk ni," jawab Putra.


Yongki menyandarkan tubuhnya di sandaran.


"Kalau aku suruh kamu mencarikan seseorang mau tidak," kata Yongki ragu.


"Kenapa kamu tanya, biasanya langsung suruh. Tapi kami mau cari siapa, kamu kasih aja identitasnya, nanti kamu tinggal tunggu hasilnya," sahut Putra.


Yongki mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuk.


"Kamu bisa cari orang tanpa nama."


"Kalau tidak ada foto nya?"


Kali ini Putra baru menoleh ke arah Yongki.


"Jadi kamu menyuruh aku mencarikan seseorang tanpa nama dan foto?" tanya Putra tidak percaya.


"Hemmm."


"Terus apa yang kamu punya, agar aku bisa mencari orang yang kamu maksud?"


Yongki membenarkan cara duduknya, dia merasa kurang yakin sama permintaannya.


"Tidak jadi saja deh, kamu lanjut aja kerjanya," kata Yongki.


"Kamu ini kenapa sih, tidak kayak biasanya. Siapa sebenarnya yang mau kamu cari?"


"Aku tidak tau dia siapa, baru tadi bertemu sekali, aku tidak sempat tanya. Dia keburu pergi, yang aku tau dia seorang mahasiswi karena dia mau bertemu pengajar."


"Kamu ini gila ya, kalau gila jangan ngajak-ngajak dong. Bagaimana aku bisa cari orang jika orang itu saja tidak jelas. Kamu pikir berapa banyak mahasiswi di kota ini hah," ujar Putra emosi.


Temannya ini kalau kasih dia tugas tidak ada peri kekawanan.

__ADS_1


"Lagian tumben kamu cari cewek," sambung Putra.


"Kalau kamu tidak bisa bilang aja, sana lanjut kerja," suruh Yongki.


"Itu mustahil aku cari tau, beda antara bisa dan mustahil. Tidak mungkinkan aku masuk ke pikiran kamu mau lihat rupa gadis itu."


Yongki yang merasa memang mustahil meminta bantuan Putra memutuskan ingin melupakan nya. Yongki melanjutkan memeriksa dokumen sampai malam.


Tapi lain mulut lain di hati, Yongki sengaja tiap hari melewati bahkan sesekali menunggu di sana berharap bisa bertemu sama Natasya lagi. Yongki telah sebulan mencoba bolak balik ke tempat itu tapi Natasya tidak kunjung bertemu. Sejak saat itu Yongki memutuskan kembali untuk tidak mencari Natasya kembali. 


Namun sayang, nasib berkata lain. Yongki dan Natasya dipertemukan kembali setelah beberapa bulan kemudian. Yongki melihat Natasya yang masih memakai seragam sekolah dan sedang membuat tugas bersama Rangga.


"Eh Mas sudah pulang," Sapa Rangga.


"Hemmm."


Yongki menatap lekat ke arah Natasya, tapi Natasya malah sibuk sama tugas kelompok mereka.


"Oh kenalkan Mas ini teman Rangga, dia anak pindahan, sudah beberapa bulan dia pindah ke sekolah kami," terang Rangga.


Yongki sudah pernah kenalan sama teman Rangga yang lain, maka dari itu Rangga memperkenalkan Natasya.


Natasya yang mendengar namanya disebut segera berdiri tapi tidak mendekati Yongki.


"Siang Mas," Sapa Natasya biasa.


"Hemmm," guman Yongki.


Yongki entah kenapa saat ini sedang merasa kesal, Natasya sama sekali tidak mengingatnya. Lagian bisanya jika ada yang mau berkenalan dengannya pasti akan menjabat tangannya. Tapi Natasya hanya beri sapa kemudian duduk kembali.


Yongki segera pergi dari sana dengan perasaan tidak karuan.


"Kamu jangan heran sama sifat dinginnya Mas Yongki ya Natasya, dia orangnya memang begitu, irit suara," ujar Aura.


Natasya hanya mengiyakan saja karena dia merasa tidak ada hubungannya sama dia.


***


Yongki melempar tasnya dengan kesal. Dia tidak tau jika Natasya masih sekolah, apalagi sifat Natasya yang seakan tidak pernah bertemu dengannya.


"Jika Natasya seangkatan sama Rangga berati usia nya sebaya Rangga, beda usia kami hanya 8 tahunan. Sekarang menikah beda usia lagi ngetrend, hanya tinggal tunggu dia tamat kuliah atau sekolah saja. Tapi kalau nunggu tamat kuliah masih lama, nikah muda tidak apa kali ya."


Pikiran Yongki sudah kemana mana.


"Tapi kenapa dia cuek begitu ya. Itu pasti taktik dia buat dekati aku," ujar Yongki pede.


"Iya pasti begitu, tidak ada wanita yang menolak pria sempurna seperti aku."


Yongki memutuskan untuk segera mandi dan mau bertemu Natasya lagi. Padahal baru saja dia melihat Natasya tapi sudah ingin melihat lagi.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2