
Mereka berdua berjalan ke arah kamar. Natasya yang memegang jas punya Yongki berhenti berjalan. Dia merasa seperti mencium bau wangi parfum perempuan di jasnya Yongki. Dengan ragu-ragu Natasya membaui jas Yongki. Memang ada parfum perempuan pada jas Yongki. Natasya yakin jika penciumannya tidak pernah salah. Yongki tidak pernah menggunakan parfum feminim.
"Mas," panggil Natasya.
Yongki menghentikan langkahnya yang baru berjalan dua langkah. Dia membalikkan badannya lagi ke arah Natasya.
"Ya Chacha, ada apa," sahut Yongki.
"Mas, kenapa di baju Mas tercium bau parfum perempuan?" tanya Natasya langsung biar tidak ada kecurigaan di hari mendatang.
Yongki kaget dengan pertanyaan Natasya. Dia tidak menduga jika Natasya bisa mencium bau parfum Amanda.
'Sekarang aku yakin jika tadi Amanda sengaja menjatuhkan diri kepada aku. Supaya bau dia menempel di jas aku. Dia pasti ingin membuat Natasya salah paham dan kami bertengkar,' batin Yongki.
"Apa? Bau parfum perempuan lain?" tanya Melisa.
Melisa segera berdiri dan merebut jas punya Yongki. Dengan hidung yang tajam, dia mencium jas punya Yongki.
"Yongki, parfum siapa ini?" tanya Melisa menatap Yongki dengan tatapan tajam.
"Ma itu…."
"Itu kenapa. Di baju kamu jelas ada bau perempuan. Kamu jangan bilang ingin selingkuh dari anak mama," tuduh Melisa dengan memotong jawaban Yongki.
Yongki bahkan belum selesai menjawab pertanyaan Melisa. Melisa sudah menuduh dia yang bukan-bukan.
Natasya kaget dengan pernyataan Melisa. Natasya menatap Yongki dengan tatapan menuntut penjelasan.
"Bukan seperti itu…."
"Kalau bukan seperti itu, kenapa ada bau perempuan di jas kamu?"
"Itu…."
"Kapan kamu menemui perempuan itu?"
"...."
"Siapa perempuan itu? Apa hubungan kali hah?" tanya Melisa yang sudah marah ke ubun-ubun tidak terima jika anak kesayangannya di selingkuhin.
"Ma, apa Mama sehat?" tanya Rangga.
"Kamu mau mendoakan Mama sakit," ucap Melisa dengan emosi.
"Ma, jika Mama sedang bad mood dan ingin marah-marah, Mama jangan melampiaskan sekarang kepada Yongki. Apa Mama tidak lihat raut wajah sedih Natasya sekarang," sahut Rangga.
Melisa segera melirik ke arah Natasya. Dia melihat jika anak kesayangannya sedang sedih dan terluka.
Natasya awalnya berpikir positif. Dia tidak curiga apapun. Tapi berkat pertanyaan Melisa yang membuat Natasya curiga. Itu yang membuat Natasya sedih.
"Lihat apa yang kamu lakukan. Kamu membuat anak mama tersakiti. Berani-beraninya kamu membuat anak Mama terluka," kata Melisa tidak terima.
Tanpa berkata lagi Melisa memukul paha kiri Yongki dengan menggunakan jas.
"Ma, tenang dulu," kata Yongki menghindari pukulan dari Melisa.
"Mama hentikan," cegah Hartato.
__ADS_1
Hartato menahan tangan Melissa dengan kedua tangannya. Melisa sekarang tidak bisa bergerak lagi.
"Papa jangan tahan Mama. Mama tidak akan berhenti memukulnya sebelum dia menjelaskan semuanya," berontak Melisa.
"Bagaimana Yongki mau menjelaskan Ma. Jika dari tadi Mama terus menodong Yongki dengan pertanyaan. Dan jika Mama tidak berhenti berbicara dan memberikan kesempatan pada Yongki untuk menjelaskan kepada kita semua, Mama semakin membuat nak Chacha semakin sedih. Dia yang sangat perlu penjelasan," ujar Hartati.
Melisa berhenti meronta. Dia merasa sedikit bersalah (ingat hanya sedikit, seorang Melisa selalu benar).
Melihat pergerakan sang istri tidak lagi memukul anaknya, Hartato melepaskan tangan Melisa. Melisa segera mendekati Natasya.
"ayang, kamu jangan sedih ya. Ayo duduk dulu," ajak Melisa dengan lembut.
Melisa menuntun Natasya untuk duduk kembali. Tidak mau jika sang anak capek.
"Kamu jangan sedih ya sayang. Jika ada yang mau menyakiti kamu, Mama akan membalasnya berkali-kali lipat," ucap Melisa menggenggam erat tangan Natasya.
"Jika Mama yang menyakiti Natasya, apa Mama juga akan membalas diri sendiri?" sahut Rangga bertanya balik.
Melisa menatap Rangga dengan garang. Dia tidak terima dengan pertanyaan Rangga.
Sedangkan Rangga bersikap seperti tidak bertanya. Dia memukul mulut sendiri yang terlalu kurang oli. Sehingga mulutnya tidak bisa direm.
"Ma, bukan seperti itu. Chacha percaya sama Mas Yongki. Chacha juga ingin mendengar langsung penjelasan dari Mas Yongki. Mas yang tidak mungkin berbuat hal seperti itu," jawab Natasya tanpa mengungkit kerisauan pertanyaan Melisa.
"Sekarang Mama lihat, Mama marah-marah dari tadi tapi Natasya saja tidak seheboh Mama," ujar Hartato.
"Ya... Mama hanya khawatir saja jika ada yang menyakiti anak perempuan Mama," ucap Melisa menyelipkan rambut Natasya ke belakang telinga.
"Sekarang mari kita dengarkan penjelasan daripada Yongki. Supaya semuanya semakin jelas. Ayo jelaskan sekarang pada kami," suruh Hartato.
"Jadi ceritanya, tadi ada ibu-ibu yang tidak sengaja jatuh ke arah Mas. Mas reflek menolong dia. Jadi bau parfum tinggal di tubuh Mas," terang Yongki.
'Amanda itu kan perempuan. Jadi aku tidak berbohong jika menyebutkan dia adalah ibu-ibu,'batin Yongki membenarkan perkataannya.
"Kamu tidak bohong kan?" tanya Melisa.
"Iya Ma, Yongki tidak berbohong. Jika Mama masih tidak percaya, Mama tanya saja sama Rangga. Rangga juga melihat semuanya," ucap Yongki.
Tatapan Melisa langsung tertuju ke arah Rangga.
"...."
"Iya Ma, tadi Rangga tidak sengaja melihat ada ibu-ibu yang terjatuh ke pelukan Mas Yongki," jawab Rangga dengan cepat sebelum mamanya kembali bertanya.
Rangga menatap tajam ke arah masih Yongki. Seakan memberikan isyarat 'kenapa Yongki menyeret-nyeret aku'. Yongki juga membalas Rangga dengan jawaban 'kan memang benar saat itu kamu melihat sendiri'.
"Ternyata semua Ini hanya salah paham. Kenapa kamu tidak jelaskan dari tadi," ucap Melisa tidak merasa bersalah sedikitpun.
'Bagaimana aku/Mas Yongki/Yongki menjelaskan dari tadi. Jika mama tidak berhenti bertanya,' batin mereka berempat dengan kompak.
"Ya sudahlah. Semuanya sudah beres. Sekarang sana kamu pergi mandi," usir Melisa.
"Iya Ma," sahut Yongki dengan lemah tak berdaya dengan tingkah mamanya yang selalu ngedrama.
Natasya mengikuti Yongki dari belakang.
***
__ADS_1
Natasya menutup pintu setelah mereka berada di kamar. Natasya curiga dengan Rangga yang membantu Yongki. Jika Rangga tidak menjawab maka Natasya tidak curiga lagi. Natasya sudah tahu gerak-gerik keadaan Rangga ketika berbohong.
"Mas, apa benar tadi yang jatuh ke pelukan Mas tadi ibu-ibu?" tanya Natasya.
"Sayang, bukan maksud Mas berbohong," sahut Yongki.
"Jadi Mas tadi beneran berbohong?" tanya Natasya lagi.
"Iya, Mas terpaksa berbohong. Karena Mas tidak mau mama tahu kejadian buang sebenarnya," ucap Yongki.
"Jadi siapa perempuan itu? Dari parfum yang dia pakai, pasti dia perempuan yang masih muda," tebak Natasya.
"Dia adalah Amanda," jawab Yongki jujur.
Natasya terkejut mendengar jawaban Yongki. Dari sekian perempuan, dia tidak menyangka jika perempuan itu adakah Amanda. Raut wajah Natasya seketika langsung muram.
"Sayang dengarkan Mas. Biar Mas ceritakan," kata Yongki supaya Natasya tidak salah paham.
Natasya menatap mata Yongki. Dia ingin melihat keseriusan Yongki. Dari mata, Yongki sama sekali tidak berbohong.
"Tadi kejadian sebenarnya itu…. Seperti itulah ceritanya," ujar Yongki menceritakan semuanya kepada Natasya.
"Jadi, jika Mas bekerjasama dengan Amanda, berarti Mas akan sering berhubungan sama Amanda. Chacha tidak terlalu suka dengan Amanda. Bukannya Chacha tidak percaya sama Mas, tapi Amanda yang tidak bisa dipercaya," ucap Natasya dengan nada lesu.
"Sayang, kamu tenang saja. Mas pasti akan menyuruh Putra untuk melakukan pekerjaan ini ke depan. Jadi Mas tidak akan banyak berinteraksi sama Amanda," sahut Yongki cepat.
"Tidak Semuanya bisa Mas hindari. Apalagi nanti Mas akan kerja lapangan. Pasti Amanda akan cari kesempatan dalam kesempitan."
"Mas janji sebisa mungkin menyerahkan kerja ini sama Putra. Jika bisa Putra kerjakan pasti Mas menghindar. Palingan saat tandatangan saja yang tidak bisa mas hindari. Jika ada apa-apa, Mas rasanya ingin membawa kamu bersama Mas."
"Mas, itu adalah pekerjaan bukan wisata. Jika Mas sudah mau menjauhi Amanda, maka hati Chacha sudah lebih tenang. Intinya, Mas saat bersama Amanda Mas tidak boleh berdua sama dia," ucap Natasya serius.
Yongki tersenyum dengan nasehat Natasya. Dia bangga punya istri seperti Natasya buang tidak mudah marah dan cemburuan. Yongki bangga jika Natasya memilih mempercayai dia sepenuhnya.
"Kenapa Mas tersenyum?"
"Mas senang jika kamu cemburu," sahut Yongki.
"Mas jangan menggoda Chacha. Istri yang mana tidak akan cemburu mengetahui suaminya didekati sama perempuan lain. Apalagi perempuan itu adalah mantan yang jelas-jelas ingin merebut Mas dari Chacha," balas Natasya.
"Manisnya ketika istri Mas cemburu seperti ini," ujar Yongki memeluk Natasya dengan gemas.
"Mas sudah, sekarang Mas mandi. Nanti mama bisa menyusul ke sini," tegur Natasya.
"Baiklah, Mas akan mandi," ujar Yongki dengan tidak rela melepas Natasya.
Bersambung….
Informasi lagi.,...
Novel ini tetap akan ada orang ketiga ya. Karena selain untuk konflik supaya bisa menghadirkan humor receh yang bisa menghidupkan novel ini.
Kak kenapa harus pakek orang ketiga sih? Kan orang ketiga bikin kesel yang menganiaya tokoh perempuan? Kenapa disamakan sama novel lain?
Karena salah satu konflik umum dalam sebuah rumah tangga adalah hadir nya orang ketiga. Selain faktor ekonomi dan keluarga. Di sini ekonomi mereka sudah stabil. Keluarga juga sudah menerima hubungan mereka. Jadi saya ambil konflik orang ketiga. Dan saya pastikan jika orang ketiga dalam novel saya berbeda di novel lain. Apa bedanya? Tunggu saja di kelanjutannya.
Intinya jangan biarkan jika orang ketiga selalu menang.
__ADS_1