Dr Clara

Dr Clara
Episode 10


__ADS_3

Selesainya mandi dan mengenakan baju santai, aku jatuhkan tubuhku tengkurap di ranjang sedang yang berada dikamar apartemenku.


Membenamkan wajahku disalah satu bantal, mataku terpejam dan munculah wajah seorang pria yang tadi sore membuatku terkena serangan jantung dadakan.


Aku mencintaimu Clara


Sebuah kalimat singkat yang mampu menerbangkan aku menuju langit ke tujuh. Aku tersenyum kembali mengingat hal itu kemudian menendang nendang kasurku seolah tak percaya dengan kejadian tadi sore.


Aku balikkan tubuhku terlentang menghadap langit langit kamarku, aku sentuh kembali bibirku dan senyuman itu kembali lagi menghiasi wajahku.


~Flashback on ~


Mataku mengerjap ngerjap beberapa kali merasakan sebuah benda kenyal dan lembut yang menempel di bibir tipisku.


Reflek aku dorong dada bidangnya.


"Aku mencintaimu Clara"


Mataku melotot bukan main, Clara?


Jadi pesan yang semalam itu dari pak David?


Pak David tersenyum padaku, tatapan matanya lembut tidak seperti biasanya.


Aku terhipnotis olehnya hingga tanpa aku sadari tubuhku telah terkunci olehnya. Tangan kanannya yang kekar dan jauh lebih besar dari tanganku memeluk pinggangku erat dan tangan kirinya menarik tengkuk leher belakangku mendorongnya agar wajahku lebih naik dan lebih dekat lagi dengan wajahnya.


Aku masih diam dan menatap wajahnya yang untuk pertama kalinya aku bisa melihat wajah pak David dari jarak yang bahkan cuma tinggal beberapa centi lagi. Pak David perlahan menutup matanya merasakan sensasinya sendiri.


Pak David menciumku, menghisap bibir bawah dan atasku bergantian. Lidahnya yang panas bergerak keluar mencari celah diantara kedua bibirku yang masih tertutup rapat.


Aku tidak tahu sungguh karna ini adalah hal pertama bagiku.


Pak David melepas ciumannya dan menatap kedua mataku.


"Buka mulutmu Clara"


Tanpa pikir panjang aku membuka mulutku sedikit, pak David pun menciumku kembali dan lidahnya langsung masuk dengan liarnya didalam mulutku.


"Emhh.."


Lidahnya panas tapi terdapat rasa manis didalamnya.


Pak David terus menggerakkan lidahnya, membelit lidahku menekan lebih dalam lagi kepalaku agar ciuman kami semakin dalam.


Pelukannya semakin erat membuat tubuh kami saling berdekatan tidak ada jarak diantara kami.


Ku pejamkan mataku dalam dalam, kurasan nafasnya yang memburu panas dipipiku. Jantungku berdetak 10 kali lebih cepat dari biasanya, ku remas kaos yang digunakannya dibagian perut menyalurkan semua rasa yang sedang aku alami saat ini.


Perlahan dia mendorongku hingga menempel pada salah satu tembok tanpa melepas ciuman kami.


Cukup lama itu semua berlangsung hingga akhirnya aku tersadar bahwa ini salah.


Aku dorong badannya sekuat tenaga dengan sisa sisa nafasku yang masih berada.


Aku lari kearah luar dan masuk kedalam mobilku, didalam mobil aku masih diam mengatur nafas dan jantungku. Bisa aku lihat pak David sedang berdiri didepan pintu memandangiku dari luar mobil.


~Flashback off~

__ADS_1


Ting!


sebuah pesan masuk kedalam ponselku melalui aplikasi whatsapp.


+628528062****


"Aku sungguh mencintaimu Clara"


Aku hanya membacanya, sebenarnya ingin sekali membalas aku juga mencintaimu pak David.


Ting!


+628528062****


"Clara?"


Aku hanya melihatnya, andai pak David belum menikah aku pasti dengan senang hati akan membalas pesan darinya jangankan pesan perasaannya pun akan aku balas.


Kring! Kring! Kring!


+628528062 calling..


Aku berusaha cuek karna bagaimana pun secinta apapun aku padanya atau pak David padaku itu tidak akan mungkin. Karna aku tidak ingin menjadi orang ketiga apalagi menjadi pelakor.


Pagi hari pun tiba dan aku mulai melakukan aktifitasku di Rumah Sakit seperti biasa.


"Pagi dr. Melliza" sapa salah satu perawat pria yang berpapasan denganku di lorong Rumah Sakit.


Aku hanya mengangguk dengan senyuman diwajahku.


Aku tidak heran karna hampir setiap saat aku selalu dapat sapaan terutama dari kaum pria.


Lagi lagi aku hanya tersenyum, ya kali ini aku sedikit berbeda dari biasanya. Kini aku tidak menggunakan rok mini atau celana pendek sebatas paha tapi kali ini aku menggunakan celana jeans panjang yang robek robek dengan baju bermodel berlengan sebelah dilengkapi sepatu sneakers.


Aku masuk kedalam ruanganku melihat jadwalku untuk hari ini. Terdapat beberapa pasien yang akan ** siang ini, itu artinya paginya aku sedikit longgar dan bisa santai sejenak.


Aku senderkan kepalaku ke kursi yang tengah aku duduki, ku pejamkan mataku mengatur nafas untuk mencari kesunyian di pagi hari.


Hingga aku tersentak dan kursi yang aku duduki terpundur sedikit kebelakang sesaat setelah aku membuka mata.


"Pak David?" kataku lirih melihat seorang pria yang kini tengah berdiri tepat dihadapan ku.


Sejak kapan dia masuk?


Aku sama sekali tidak mendengar suaranya.


David: "Kenapa tidak membalas pesanku?" katanya dengan sedikit membungkuk mendekatkan wajahnya padaku yang sedang duduk.


Pak David menggunakan bahasa aku kamu?


Apa tidak salah?


Melliza: "Eeee.. Anu.. itu.. apa" kataku terbata bata.


David: "Apa?!" katanya lebih mendekatkan wajahnya padaku.


Aku menelan salivaku dengan susah payah. Aku dorong bahunya sedikit dan aku berdiri menjauh darinya.

__ADS_1


Melliza: "Eee.. itu se.. se. semalam sss..sa. saya sudah tidur pak iya sudah tidur" kataku mulai mencari alasan.


Dia berjalan kearahku dan itu membuat aku mundur untuk menjauhinya, dia terus maju hingga aku mundur sampai terpentok dinding Rumah Sakit.


Aku menengok kanan dan kiri melihat celah mana yang bisa membuat aku melarikan diri dari pak David. Tapi sebelum aku benar benar lari Pak David telah mengunciku dengan kedua sisi tangannya yang menempel di dinding.


Melliza: "Ini apa ya pak maksudnya?"


David: "Jadilah kekasih ku Clara?"


Aku mematung, ini aku lagi mimpi ga sih?


Ko kelihatannya nyata banget.


Belum sempat aku menjawab pak David terlebih dulu melancarkan ciumannya dibibirku.


Dan aku? aku tidak menolak, aku menerimanya ciuman yang sangat lembut di pagi hari.


Pak David menghisap bibir atasku dan aku menghisap bibir bawahnya seperti itu terus bergantian, lidah kita bertempur satu sama lain mencari kenikmatan. Tanganku entah mengapa bergerak melingkar kearah lehernya seolah meminta lebih, tangan kanannya mengelus punggung sebelah kiriku yang tidak tertutupi oleh bajuku.


Pak David melepaskan cium nya dan menatapku dengan nafas terengah engah.


David: "Jadilah kekasih ku Clara" katanya dengan mengusap lembut pipi kiriku.


Melliza: "Saya tidak bisa pak" jawabku lalu menunduk tak sanggup menatap wajahnya.


David: "Kenapa?" tanyanya dan mengangkat dagu ku.


Melliza: "Karna anda telah menikah"


David: "Aku tidak mencintai istriku, aku mencintaimu Clara" dari jawabannya membuat pertanyaan besar di kepalaku.


Jika pak David tidak mencintainya lalu untuk apa dia menikahinya?


David: "Kau mencintaiku bukan Clara? maka jadilah kekasih ku"


Melliza: "Saya memang mencintai anda tapi saya tidak bisa jika harus menjadi orang ketiga"


Aku berusaha melepaskan diri dari kungkungan tangan pak David, tapi lagi lagi tangannya menahanku.


Pak David mencium bibirku sekilas dan bibirnya perlahan turun kebawah menuju leherku. Dia mengecup setiap kulitnya menjilatinya dan memainkan lidahnya didaerah leherku.


"Eehhh.. jangan pak"


Rancauku mulai merasakan setiap sentuhan bibir pak David pada leherku. Bukannya berhenti pak David malah semakin gencar mengecupnya.


David: "Aku tanya sekali lagi, kamu mau kan menjadi kekasih ku?" tanyanya masih membenamkan sedikit wajahnya dibagian leher sebelah kiriku.


Melliza: "Saya tidak bisa pak"


Dari jawabanku, aku malah mendapat gigitan keras dibagian leherku.


"Aaakh pak David sakit" keluhku dan memukul mukul kedua bahunya.


Pak David menggigit dengan keras dan menariknya hingga menimbulkan suara.


Tidak hanya sekali, pak David bahkan menggigitku dua kali dan itu di area yang sama.

__ADS_1


David: "Aku yakin kamu akan menjadi kekasih ku Clara, aku jamin"


__ADS_2