
Tidur nyenyakku mulai terusik saat seseorang mengguncangkan tanganku keras. Ku buka sedikit mataku dan ternyata mas David yang sedang berusaha membangunkanku.
David: "Bangun Clara, bangun!"
Melliza: "Masih ngantuk mas, sudah sini bobok lagi" kataku malas sambil menepuk tempat kosong disebelahku.
David: "Bangun Clara! ayo cepat bangun, kita harus ke Rumah Sakit sekarang" katanya dengan suara penuh kepanikan.
Melliza: "Kenapa sih mas? mas David ada pasien atau..
Melliza: "Sakit mas tambah parah?! aku langsung duduk dan memperhatikannya.
David: "Bukan mas, tapi kamu Clara. Ayo cepat bangun!"
Aku?
Memangnya aku kenapa?
Kenapa mas David nampak khawatir sekali
Melliza: "Eh! tunggu mas" aku berusaha mencegah tangan mas David yang berusaha ingin menggendongku.
David: "Clara.. Mas mohon kali ini saja ya Clara nurut, mas ga mau.. mas ga mau kehilangan dia sayang"
Melliza: "Dia? dia siapa mas?"
Aku bingung sekali akan tingkah mas David yang aneh ini. Apa sakit mas David ini parah sampai menimbulkan halusinasi tinggi?
David: "Maafkan mas Clara, maaf... karna mas tadi malam melakukannya membuat.. membuat... sudah ayo ke Rumah Sakit siapa tahu belum terlambat"
Melliza: "Terlambat? apanya yang terlambat mas?" aku semakin terheran heran dengan tingkah aneh mas David ini.
David: "Mas tidak mau kehilangan dia Clara, mas tidak mau dia pergi. Dia harus tetap berada disisi kita Clara, Harus!"
Melliza: "Dia siapa sih mas?! mas David lagi ngomongin apa?"
David: "Janinmu sayang.. calon anak kita" katanya lirih yang masih bisa aku dengar.
Aku membulatkan mataku tak percaya akan ucapan mas David.
Janin?
Calon anak?
Melliza: "Mas David mengira aku hamil?" tanyaku padanya.
David: "Tentu saja apalagi? lihat.. kamu.. kamu pendarahan Clara, ini pasti karna semalam mas tidak bisa menahannya"
Mas David begitu nampak frustasi dan kebingunan.
David: "Kamu terus menggoda mas membuat mas tidak bisa menahannya lagi. Tapi mas sungguh, semalam sudah melakukannya penuh dengan kelembutan tidak sampai melukainya. Mas juga tidak melakukannya lama agar tidak menyakitinya, tapi kenapa dia...
Melliza: "Ppffft.. Hahahahaha" aku tertawa setelah mendengar penuturan mas David yang sedari tadi membuatku bingung.
David: "Kenapa? kenapa malah tertawa? stop Clara kamu semakin menggoncangkannya!" mas David memegangi perutku dan menahan tawaku.
Syukurlah, akhirnya aku bisa lega juga akan hari ini.
Melliza: "Mas.. aku ini tidak hamil mas" kataku pelan berusaha menyadarkannya dari imajinasi tingginya.
David: "Tidak hamil? bagaimana bisa?"
Melliza: "Ya tentu saja bisa karna tidak ada sel telur yang aku buahi makanya aku tidak hamil" terangku.
David: "Tapi minggu lalu mas kan.. Lalu itu" mas David menunjuk seprei yang terdapat noda darah lumayan banyak.
Melliza: "Hanya sekali masuk belum tentu langsung hamil juga kali mas, lagian kemarin kan kamu belum menuntaskan semuanya. Dan ini...
__ADS_1
Kataku terhenti dan memperhatikan wajah mas David yang nampaknya penuh rasa penasaran.
Melliza: "Ini aku kedatangan tamu bulanan mas, bukan keguguran" bisikku di telinganya.
Ekspresi yang tadinya penuh kekhawatiran, gelisah dan ketakutan berubah menjadi wajah datar tanpa ekspresi seperti biasanya.
David: "Oh" mas David langsung melepaskan tanganya dari perutku.
Melliza: "Kamu begitu ingin aku hamil yah mas?"
David: "Berapa lama kamu menstruasi?" tanyanya mengalihkan pertanyaanku.
Melliza: "Kadang seminggu kadang bisa sampai sepuluh hari juga sih belum tentu"
Mas David langsung berdecak sebal mendengar penuturanku.
Harus siap puasa lagi kamu mas David.
Ini keputusanmu mas, meminta agar aku tidak menunda kehamilan maka kamu juga harus menikmati masa menstruasiku yang akan menggangu kenimatamu sebulan sekali.
Setelah hari itu mas David selalu berusaha menjaga jarak agar tidak menggarapku yang sedang datang bulan.
Selain kita yang masih beda sift, itu sebenarnya sedikit membantu mas David agar tidak terlalu haus akan tubuhku yang sudah menjadi candu baginya.
.
.
Hari yang dulu selalu ku nanti nanti pun tiba, hari dimana menjadi hari terakhir seorang dr. Melliza disebut sebagai dokter magang. Aku yang tadi berjaga semalaman karna proses lahiran caesar begitu tidak merasa letih setelah mengetahui proses magangku telah usai.
Aku yang tengah rehat sebentar diruanganku harus dikejutkan dengan dua orang pria yang sudah sangat aku kenali salah satu dari mereka.
Melliza: "Mus?"
Mus atau yang berkepanjangan Mustofa adalah orang kepercayaan kakek yang sudah bekerja pada kakek semenjak aku belum lahir. Dia sangat baik dan perhatian padaku sejak kecil sama seperti kakek, saking mengabdinya beliau pada kakek, dia bahkan mengusung keluarga kecilnya agar ikut berbakti pada kakek.
Melliza: "Kenapa kau disini Mus?" tanyaku padanya yang mulai masuk bersama seorang pria yang ku yakini dia adalah salah satu bodyguard suruhan kakek.
Melliza: "Pulang?"
Mustofa: "Iya neng.. tuan bilang masa magang neng Melliza disini sudah berakhir maka dari itu tuan menyuruh saya menjemput neng Melliza agar cepat pulang karna tuan sudah sangat merindukan neng Melliza"
Secepat itu kah kakek bertindak?
Aku harus memberikan alasan apa pada Mus?
Aku tidak mungkin meninggalkan mas David begitu saja, meski aku pulang hanya sebentar tetap saja aku harus berpamitan padanya.
Melliza: "Kau pulang lah terlebih daluhu, besok aku akan pulang ke Malang"
Mustofa: "Tidak bisa neng Melliza.. tuan ingin neng Melliza pulang bersama saya"
Melliza: "Tapi aku harus mengurus pekerjaanku disini terlebih dahulu" kataku berusaha mencari alasan.
Mustofa: "Neng Melliza percayakan saja pada anak buah tuan yang sudah mendapat perintah dari tuan, tugas neng Melliza sekarang adalah pulang dan bertemu tuan dirumah"
Sepertinya memang harus menurut apa katanya, lagian aku sudah disini selama enam bulan. Sudah sepatutnya aku pulang dan bertemu dengan kekasih gelapku yang sepertinya sudah merindukanku.
Melliza: "Baiklah tapi aku harus berpamitan dengan seseorang terlebih dahulu"
Mustofa: "Tidak bisa neng Melliza, pesawat kita..
Melliza: "Hanya sebentar" potongku.
Bodyguard itu nampak berbisik pada Mus.
Mustofa: "Tapi janji hanya sebentar ya neng?"
__ADS_1
Aku hanya mengangguk mengiyakan pertanyaanya.
Akhirnya aku pun pulang kerumah mas David dipagi buta sekitar jam lima pagi dengan dikawal oleh kedua orang suruhan kakek itu.
Melliza: "Kalian tunggu disini" perintahku pada kedua pria itu.
Mustofa: "Jika sampai lama saya akan..
Melliza: "Lima belas menit! hanya lima belas menit"
Setelah mengatakan itu aku berjalan menuju pintu rumah utama itu, membukanya dengan kunci cadangan yang waktu itu diberikan oleh mas David saat pertama aku datang untuk menginap disini.
Masih sangat gelap keadaan dalam rumah mas David. Hanya lampu kamar mandi dapur yang sedikit memberikan penerangan.
Melliza: "Mas David belum bangun?" gumamku saat melangkah mendekat kearah pintu kamarnya.
Oh syukurlah, ternyata dia sudah bangun batinku saat melihat pergerakan pintu kamar yang tadinya hendak aku buka.
Aku langsung mematung, diam tak bisa bergerak dari tempat sekarang aku berdiri.
"Melliza? lo sudah pulang?"
Jantungku rasanya sesak untuk bernafas, sakit mulai menggelayuti tubuhku.
Melliza: "Mbaa.. mbak Vanessha?" kataku lirih masih tak percaya.
Aku masih terkejut disertai rasa perih, rasanya jantungku seperti diikat sesuatu hingga aku sulit mengatur nafasku.
Aku tidak percaya akan apa yang aku lihat.
Mbak Vanessha keluar dari dalam kamar mas David?
Dan itu.. dia hanya.. dia hanya. hanya menggunakan handuk.
Handukku? handuk yang bertuliskan Clara?
Apa yang baru saja meraka lakukan saat aku tidak ada?
Apa kamu juga meminta dilayani oleh mbak Vanessha mas David?
Apa kamu tidak tahan menungguku hingga datang bulanku berakhir?
Vanessha: "Jangan berisik yah, mas David dia tidur lagi sepertinya kecapean" katanya lirih lalu melirik kedalam kamar.
SAKIT
Mas?
Mbak Vanessha juga memanggilnya mas?
Tega kamu mas David!
Aku sudah tidak tahan lagi untuk membendung air yang siap meluncur dari kelopak mataku.
Melliza: "Aku hanya hendak berpamitan padanya" kataku berusaha menyembunyikan kesedihanku.
Vanessha: "Memangnya lo mau kemana?"
Melliza: "Aku mau pulang mbak, masa magangku sudah selesai jadi aku mau pulang"
Vanessha: "Ooooh begitu, jadi lo mau berpamitan pada mas David? tapi gue kasihan kalo suruh bangunin soalnya semalam mas David dia...
Melliza: "Tidak usah dibangunkan, aku cukup berpamitan pada mbak Vanessha dan tolong ucapkan terima kasihku atas bimbinganya selama ini" kataku berusaha memotong perkaranya agar tidak membuat telingaku semakin sekuat mendengarnya.
Melliza: "Kalau begitu aku pamit ya mbak"
Setalah mengatakan itu aku pun bergegas memberesi barang barang ku yang barada dikamar depan.
__ADS_1
Aku bakal benci banget mas kalau apa yang aku kira ini benar benar terjadi.
Akan aku tunggu penjelasan pastinya, tapi tidak sekarang.