
Melliza: "Lepas!"
David: "Tidak mau"
Setalah tadi aku yang melenggang masuk kekamar mas David langsung mengikutiku dan mengunci pintu kamarku. Dia seperti berada dirumahnya sendiri tanpa rasa malu dan canggung langsung main nyelonong begitu saja kedalam kamarku tanpa meminta izin terlebih dulu dariku.
Tanpa basa-basi dia langsung memeluk tubuhku dari belakang dengan cukup kuat membuat aku tidak bisa melepaskan diri darinya. Bahkan dia mengunci pergerakan ku agar tidak dapat melarikan diri dari dekapannya.
Melliza: "Aku bilang lepas DAVIIID!"
"Aahhhh sakit brengsek!"
"Sakiiiiit" pekikku karna dengan kuatnya payudaraku sebelah kiri diremas olehnya.
David: "Mas masih suamimu jadi panggil mas dengan sebutan seperti biasa"
Mas David kemudian membalikkan tubuhku agar menghadap kearahnya. Saat mulai adanya pergerakan dari wajahnya yang hendak mendekat kearah wajahku aku langsung mengalihkan pandanganku.
Melliza: "Jangan paksa aku, kau sudah janji tidak akan memaksa dan membentakku lagi" kataku datar tak mau menatapnya.
David: "Tapi sayang.. mas tidak suka ditolak, suamimu ini ingin melakukannya sekarang"
Bisikannya begitu membuatku jijik saat mendengarkan serentetan kata perkaranya.
Melliza: "Kau minta saja pada istri pertamamu, dia mungkin akan lebih menyenangkan hasratmu" kataku masih tak mau menatapnya.
David: "Kau benar.. kenapa tidak mas minta saja padanya, dia juga istri mas bahkan lebih resmi secara agama dan negara"
Perih sakit tersiksa
Rasanya dadaku sepeti tertusuk benda tajam saat setelah mendengar perkataan mas David yang memang benar adanya.
David: "Tapi sayang...
Mas David menggantungkan kalimatnya dan mencoba menggesekan miliknya yang masih berada didalam celana kearah selangkanganku yang masih tertutup rok hitam pendek.
David: "Dia sedang tidak berada disini, jadi apa salahnya meminta pelayanan dari istri kedua"
Sakit mas David, sadarkah kau telah menyakiti perasaanku?
Melliza: "Aku sedang tidak ingin disentuh olehmu" kataku berusaha tegar menghadapi perkatan perkatan mas David yang begitu menyayat hati.
David: "Mas sudah sangat lama tidak menyentuhmu sayang, dia juga pengin bertemu dengan sarang terfavoritnya"
Mas David mulai melancarkan aksinya dengan menyibakan rok yang tengah aku gunakan.
David: "Kenapa? kenapa Clara balik ke Malang dan tidak memberitahu mas?" katanya disela sela kegiatan tangannya.
Berkali kali aku berusaha menghindar dan menampik tanganya yang mulai merayapi bagian tersensitifku yang masih menggunakan CD.
Melliza: "Aku sudah mengatakannya pada istri pertamamu yang baru saja keluar dari kamarmu hanya menggunakan handuk pagi itu"
David: "Clara melihatnya? apa yang dia katakan?" dia nampak terkejut
Melliza: "Dia berkata bahwa kau telah menghabiskan malam yang panjang dan melelahkan dengannya" aku menatap tak suka pada mas David.
Ekspresi keterkejutannya langsung berubah menjadi ekspresi datar.
Melliza: "Kenapa? ingin mengelaknya?"
Aku masih terus berharap mas David tidak melakuan hubungan intim dengan mbak Vanessha, meski aku tahu mbak Vanessha juga memiliki hak atas dirinya. Tapi entah mengapa aku masih ingin mendengar jawaban tidak dari mulut mas David langsung.
__ADS_1
David: "Tidak"
Jantungku rasanya mencelos begitu saja mendengar jawaban yang bahkan tidak aku harapkan.
Jadi mas David sungguh telah berhubungan dengan mbak Vanessha selama aku tidak ada?
Berapa kali meraka berhubungan?
Dan bagaimana hubungan pernikahan mereka saat ini?
Melliza: "Setelah nanti aku kembali ke Jakarta aku tidak ingin lagi tinggal dirumahmu, aku ingin balik tinggal di apartemenku lagi"
Rasa perih yang begitu dalam, memang tidak nampak lukanya tapi sakitnya begitu menyayat dan ingin rasanya aku menangisi nasibku yang malang ini.
David: "Baiklah.. mas tidak akan memaksamu"
Jawabannya lagi lagi membuat aku bahkan tak kuasa lagi menahan sakit hingga rasanya benar benar ingin menangis.
Aku bahkan begitu pasrah saat mas David terus berusaha mencumbu tubuhku. Sakit hati, kecewa dan marah begitu melingkupi perasaanku kali ini.
Aku tidak bernafsu, sama sekali tidak ingin melakukan percintaan ini setalah mendengar jawaban jawaban mas David yang tak pernah diduga sebelumnya.
Aku kira dia benar benar menjadikanku wanitanya satu satunya, hanya menjadikanku kesayangannya tapi ini bahkan kita belum genap menikah dua bulan. Hanya terjeda aku menstruasi dan karna jam sift mas David dia malah memintanya pada mbak Vanessha?
David: "Apa begitu sakit sayang.. sampai Clara menangis?" tanyanya disela kegiatannya.
Sakit mas..
Sangat sakit
Sakit mas David sakit hati!
Wanita mana yang akan kuat mas David menerima perlakuan seperti ini?
Tidak cukupkah kau hanya melakukannya dengan mbak Vanessha saja atau hanya denganku saja?
Melliza: "Apa sudah selesai? aku letih dan ingin cepat tidur"
Aku mengalihkan kembali pandanganku saat mas David berusaha mencium bibirku.
Kau boleh mencumbu tubuhku selama yang kau inginkan mas, tapi jangan harap aku akan menyerahkan bibirku untuk kau ***** setelah menikmati bibir wanita lain.
Mas David mengambil tisu dan mengelapnya pada bagian perutku yang tertumpah cairannya.
Aku yang diam tak memberikan tanggapan apapun berhasil membungkam mas David dan tak banyak berbicara dan menuntut melakukannya lagi.
Setalah merasa lelah bukan hanya karna melayani nafsunya, aku juga letih karena tak henti hentinya mataku mengeluarkan air yang semakin lama semakin membanjiri dan membuat isak tangisku keluar begitu saja.
David: "Maaf jika mas melukaimu sayang, istirahatlah besok kita akan balik ke Jakarta"
Setelah menyelimuti tubuhku yang masih polos, mas David melangkah pergi menuju kamar mandi yang berada didalam kamarku.
Menjijikan!
Kau menjijikan Melliza
Kau bahkan diam saja saat tubuhmu dijajah pria yang tak setia dan banyak mulut seperti mas David.
Setiap tusukan yang mas David bahkan saat berusaha semakin dalam dilakukannya membuat aku jijik pada tubuhku sendiri.
Setiap geraman yang keluar karna kepuasannya membuat aku merasa bahwa tubuh ini benar benar murahan tidak memilki harga diri sama sekali.
__ADS_1
Hanya satu yang menguatkanku dalam kondisi seperti ini yaitu Kakek. Hanya demi dia Melliza, bertahanlah pada posisi ini demi keamanannya.
Saat suara kunci kamar mandi mulai terdengar, aku memaksa mataku agar terpejam sempurna. Tak ingin lagi rasanya bercakap cakap denganya setalah semuanya terjadi.
Permasalah hubungan mas David dengan Vanessa, belum lagi dengan ancamannya yang hendak memasukkan kakekku ke dalam penjara yang belum aku ketahui apa penyebabnya. semua begitu menyiksaku malam ini aku harus melihatnya bahkan aku harus seranjang dengannya.
Aku langsung membalikan tubuhku untuk membelakanginya agar dia tidak tau kalau aku masih menangis terlebih itu karenanya.
David: "Sayaaang" panggilnya lembut dengan mengelus rambutku.
David: "Clara sudah tidur?"
Aku tetap diam berusaha menahan tangisanku.
CUP
Kecupan hangat dia berikan dipelipis mataku.
David: "Mas mencintaimu sayang.. mas akan lakukan segalanya untuk memilikimu" bisiknya lirih di telinga kananku.
David: "Maaf.. maaf jika Clara terluka, mas sungguh minta maaf. Demi apapun mas hanya mencintaimu sayang"
David: "Jangan pernah percaya akan perkatan orang lain Clara, kamu hanya cukup percaya pada mas.. Hanya mas..
Sayup sayup suara mas David mulai tak terdengar, rasanya aku mulai terbuai kedalam bawah sadarku dan hendak menerjang alam mimpi segera.
David: "Kakekmu dia.. tidak baik.. dia tidak sebaik yang kau pikirkan. Dia...
Aku tak tahu, dan juga tak mendengarnya karna aku....
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Telah tertidur
__ADS_1