Dr Clara

Dr Clara
Episode 3


__ADS_3

"kalau begitu anda boleh keluar dari ruangan ini"


Apa yang telah aku lakukan tadi?


Apa aku telah menantang dr. David?


Apa aku akan benar benar dikeluarkan?


Bodoh!


Kenapa mulutku ini begitu ber ego tinggi?


Tamatlah kisah dr. Melliza yang cantik dan sexy ini.


Ku rutuki setiap kebodohan diperkataan yang tadi aku lontarkan pada dr. David.


Aku awalnya tidak berniat sama sekali untuk melawannya. Namun entah mengapa mulut ini seakan tertantang dan terbawa akan arus permainan kata yang terus dokter bedah itu katakan.


Setelah menjumpai dokter pembimbingku, aku langsung bertolak menuju ruanganku sendiri. Terlamun dan hanya berdiam diri di depan pintu ruanganku sendiri dengan pikiran yang masih sama yaitu masalah yang belum lama ini aku buat.


Ku buka pintu yang sedari tadi ku pegangi knop pintunya tapi tiba tiba seseorang mengejutkanku dari arah dalam.


DRORR!


Pekiknya dengan suara khas yang memenuhi setiap ruangan yang ada.


Tapi sayangnya aku sama sekali tidak terkejut, karna ini hampir dilakukan setiap kali aku bertemu dengannya.


Marsya


Siapa lagi kalau bukan dia.


Mengejutkanku adalah tradisi katanya.


Marsya: "Yaaah, lagi lagi tidak terkejut. Kan aku sudah mengendap endap seperti pencuri tadi" katanya dengan sedikit kesal.


Melliza: "Ya sudah deh.. Aduuuuuh terkejut deh aku" ledek ku dengan memegang dadaku seperti orang jantungan.


Marsya: "Telat!"


Kita pun tertawa lepas di depan ruanganku, hingga akhirnya Marsya memutuskan untuk masuk ke dalam ruanganku.


Marsya: "Aku cari cari dari tadi ko tidak ada? Dari mana?" tanyanya sambil menutup pintu.


Melliza: "Dari ruangan dr. David" jawabku lalu duduk di kursiku.


Marsya: "Haaaaah?!" dia membatu di depan pintu.


Melliza: "Hep! tutup mulutnya nanti lalat pada masuk"


Marsya: "Kamu ngapain ke ruangan dr. David?" tanyanya dan hendak duduk di kursi di depanku.


Melliza: "Dia jadi dokter pembimbingku selama magang disini" jawabku santai.


Marsya: "Apa?!!" dia terkejut dengan mulut terbuka dan matanya yang melotot seolah tak percaya dengan ucapanku.


Melliza: "Kontrol itu muka ah, tidak enak sekali dilihat. Memang kenapa? Ada yang salah?"

__ADS_1


Marsya hanya menggeleng dengan mata yang tak kunjung berkedip dan jangan lupakan mulutnya yang masih terbuka karna terkejut.


Melliza: "Teruuus?"


Marsya: "Kamu tahu tidak? Kamu dokter magang pertama yang dia bimbing" katanya dengan terheran heran.


Aku pun terkejut, benarkah aku yang pertama?


Oh senangnya hati ini, aku harus mulai memikirkan cara agar dr. David menjadi kekasih ku masalah umur mah belakangan yang terpen..


Marsya: "Tapi jangan coba coba rayu dia yaah" Marsya mengancamku dengan jari telunjuk yang mengarah padaku.


Melliza: "Kenapa? Jangan bilang kamu juga naksir dia juga? Takut dia lebih memilih aku karna aku lebih cantik dan sex..


Marsya: "Dia sudah punya bini" bagai tersambar petir disiang bolong dengan awan yang cerah.


Marsya: "Lagi pula dia sudah berumur tiga puluh tujuh tahun, kamu doyan yang om om?"


Aku pun mendengus kesal, baru saja terpikirkan sebelum janur kuning melengkung akan aku kejar lah ini janurnya malah sudah layu kering.


Tidak apa om om yang namanya cinta memangnya memandang usia?


Tapi akhirnya aku juga harus mengubur dalam dalam perasaan ini, karna bagaimanapun tidak mungkin kan Melliza Clara yang biasanya jadi kejar kejaran para kaum pria akan menjadi pelakor.


Marsya: "Tapi kamu juga harus sabar ya elliza" katanya menepuk bahuku.


Melliza: "Kenapa memangnya?"


Marsya: "dr. David lumayan sulit untuk didekati, bahkan dokter lain belum ada yang tahu sebenarnya dr. David ini mempunyai karakter seperti apa setelah menikah" jelasnya dengan nada berbisik.


Melliza: "Maksudmu dr. David sebelum menikah tidak seperti sekarang?" tanyaku penuh menyelidik merasa ingin tahu.


Melliza: "Haduuuh semakin susah deh dapat nilai bagusnya ini kalau pembimbingnya saja susah didekati" aku mulai merengek membayangkan hal hal buruk apa saja yang akan menimpaku.


Marsya: "Jangan menyerah begitu dong seperti bukan Elliza yang aku kenal saja" katanya mencoba menyemangatiku.


Marsya: "Kamu pepet saja terus, lama kelamaan dia juga pasti luluh" sarannya.


Setelah mendapat pencerahan dari Marsya aku pun bersiap siap untuk pulang karna jam telah menunjukan pukul lima sore. Ku naiki mobil mini cooper ku yang selalu melengkapi penampilan cantik dan super sexy ku.


Ku edarkan pandanganku saat mobil yang ku naiki mulai keluar dari parkiran rumah sakit.


Ku lihat sosok lain yang belum lama ini menjadi topik pembicaraan antara aku dan sahabatku.


dr. David


Ku lihat pria yang aku kagumi akan ketampanannya sedang berdiri di pinggir jalan seperti sedang menunggu seseorang. Aku mulai berfikir mungkin ini bisa aku jadikan sebagai kesempatan untuk mendekatinya, setidaknya jangan sampai aku didepak dari rumah sakit ini karna ego mulutku yang terlalu tinggi.


Walaupun masih ada rasa kecewa kenapa dia sudah menikah, tapi aku harus tetap menjalin hubungan baik dengan pak David. Batinku mulai menimbang.


Melliza: "Loh pak David belum pulang? Lagi menunggu siapa pak?" aku mencoba menyapanya dari dalam mobil dengan kaca jendela terbuka.


David: "Taksi" singkat padat jelas.


Ya ampun Melliza, hari harimu kedepan akan sangat sulit untuk dilewati jika harus berhadapan dengan cowo tampan tapi dinginnya seperti es batu.


Tapi entah mengapa kejutekannya itu membuat aku semakin tertarik padanya.

__ADS_1


Melliza: "Mau saya antar pulang pak?" tawarku penuh dengan senyuman di wajahku.


David: "Tidak terima kasih"


Ctarrrr...


Sakit ditolak di depan mata, masih kurang apa lagi aku pak David Mayndra?


Melliza: "Baiklah kalau begitu saya duluan ya pak, mari" aku yang senyum semanis gula merah dibalas dengan anggukan dan jangan lupakan wajah datarnya.


Jangan sebut wanita cantik ini Melliza jika langsung menyerah begitu saja tanpa sebuah usaha.


Jelas aku tidak akan mudah berlalu dan membiarkan ini semua terlewati tanpa campur tanganku.


Ya aku masih menunggunya, menunggu pria beristri yang masih setia berdiri di pinggir jalan yang letaknya tak jauh dari pertama aku menawarinya sebuah tumpangan gratis.


Satu jam telah berlalu dan aku hanya memperhatikannya dari jauh di dalam mobil ku.


Aku mulai geram, memangnya ego laki laki ini sama ya seperti perempuan? Saya kira pria memiliki sembilan akal dan satu perasaan tapi kenapa dia menolak ajakanku?


Seharusnya dia beruntung kan dapat tumpangan gratis supirnya cantik lagi.


Ku parkirkan kembali mobil ku di hadapannya dan ku buka kembali kaca jendela mobil ku.


Melliza: "Pak David, anda mau sampai kapan berdiri disini?" tanyaku yang mulai lelah menunggu.


David: "Apa dari tadi anda memperhatikan saya?"


Melliza: "Ya karna saya perduli"


David: "Anda perduli atau ingin mendapat nilai plus dari saya?" aduh ketahuan deh.


Melliza: "Terserah bapak mau menganggap perbuatan baik saya seperti apa. Lebih baik bapak jangan menolak ajakan saya karna semakin malam pasti semakin tidak ada taksi yang lewat dan disaat itu bapak akan menyesal karna menolak ajakan saya" kataku mencoba meluluhkan egonya yang tinggi.


Dia nampak berfikir, mungkin dia masih ragu ragu.


Melliza: "Pak saya tidak akan menculik bapak, tenang saja"


Dia pun masuk mobil ku dan duduk di depan, tepatnya di sebelah ku. Jika hanya untuk membujuknya agar mau ku antar pulang saja sudah menguras tenaga dan banyak waktu, apa kabar dengan rencana ku yang lain?


Melliza: "Maaf pak ini arahnya kemana ya? Kan saya belum tahu rumah bapak" tanyaku setelah jalan beberapa meter.


David: "Lurus" sahutnya super singkat.


Astaga ya Tuhan kau ciptakan hati manusia di sebelahku ini dari apa? Rengekku dalam hati.


Setelah aku melajukan mobil ku dengan arahannya kurang lebih dua puluh lima menit dengan kecepatan sedang akhirnya aku sampai disebuah rumah yang bisa dibilang cukup besar walaupun tidak sebesar rumah kakek di Malang.


David: "Ini" dia mengulurkan tangan dengan selembar uang seratus ribu di tangan kanannya.


Melliza: "Untuk apa pak?" tanyaku terheran heran.


David: "Ucapan terima kasih karna telah mengantar saya pulang" wah benar benar dianggap jadi supir aku.


Melliza: "Tidak pak terima kasih kalau uang mah saya ada"


David: "Saya tidak terima gratisan"

__ADS_1


Melliza: "Kalau diperbolehkan saya numpang makan pak, saya sudah lapar sekali dari siang belum makan"


__ADS_2