
Perlahan lahan mataku terbuka seiring berderingnya jam diatas nakas tempat tidurku menandakan bahwa pagi telah menyapa menenggelamkan malam agar mau berganti posisi dengannya.
Aku terus mengerjap ngerjap karna masih merasakan kantuk yang melanda mataku. Lalu ku paksakan tubuh ini untuk duduk karna mau tidak mau hari ini aku harus berangkat pagi ke Rumah Sakit.
DU.UUUT
Aku membantu seketika mendengar suara yang sangat jarang aku dengar.
Melliza: "Oh astaga! apa tadi aku kentut?" kataku tak percaya pada diriku sendiri sambil mengerjap ngerjapkan mata beberapa kali.
Aku ini sangat menjaga image kalo pun aku kentut sangat jarang bahkan hampir tidak pernah ketut sampai mengeluarkan suara sekeras tadi semenjak aku merubah penampilanku.
Melliza: "Ternyata aku masuk angin semalam, pantas rasanya tidak nyaman di perut, tapi...
Kataku terhenti saat tangan kananku menyentuh perutku yang masih tertutupi oleh piyama tidurku.
Masih teringat saat mas David dengan telatennya memijit perutku. Tangannya yang begitu kekar tidak kusangka begitu terampil semalam menyentuh hampir semua permukaan kulit perutku.
Melliza: "Betapa berentungnya aku mas jika kamu hanya menjadi milikku" aku tersenyum ironi membayangkan mas David semalam.
Melliza: "Kamu sebenarnya pria yang penuh perhatian, lembut dan sangat penyayang tapi kalo lagi kesetanan kaya semalam kamu berubah menjadi rubah dan mengamuk menghancurkan semua yang ingin kamu hancurkan"
Sekilas bayangan mas David yang semalam penuh perhatian membana didalam pikiranku. Dia, perhatiannya serta kasih sayangnya membuat aku seketika lupa bahwa aku sedang berusaha menjaga jarak dengannya.
Melliza: "Aduuuh.. kenapa harus diingat ingat sih? lupakan Melliza, lupakan! jangan sampai terjerat lagi oleh pesona mas David nanti kamu akan semakin sulit untuk terlepas darinya" kataku dengan menggelengkan kepala cepat berusaha menyingkirkan bayangan wajah mas David yang memenuhi isi pikiranku saat ini.
Ting!
Sebuah pesan yang baru masuk kedalam ponselku memberhentikan kegiatan gilaku yang sedang mengusir bayang mas David.
Melliza: "Sedang berusaha menyingkirkan om nya eh ini malah keponakannya ikut ikut muncul" kataku saat melihat isi pesan dari kak Bagas
Apa kamu sudah keluar apartement Rara? calon pacar sudah lelah menunggu.
__ADS_1
Isi pesan itu berhasil membuat aku terkesiap saat mendapati jam sudah menunjukkan pukul 06:45 WIB yang pertanda sudah tidak ada waktu lagi untuk bersantai santai.
Melliza: "Gara gara mas David. Iya semua yang menimpaku semua karna mas David, dia yang paling pantas disalahkan. Karna memikirkan dia terus membuatku jadi terlambat seperti ini" kataku sambil mencuci mukaku di wastafel.
Melliza: "Sudah jam segini pasti terlambat jika aku mandi dulu" kataku ragu ragu saat melepaskan pakaianku.
Melliza: "Sudahlah sekali kali ga usah mandi.. toh mandi ga mandi tetap terlihat cantik ko" aku terus berbicara sendiri sambil mengobrak abrik lemari pakaianku hendak memakai baju seperti apa.
Melliza: "Kaaan tetap cantik aku, mana ada yang tau dibalik kecantikanku hari ini ada rahasia tersembunyi bahwa Melliza Clara yang cantik nan sexy cetar ini tidak mandi" kataku bergaya seperti model didepan cermin yang menampakkan seluruh tubuhku dari atas sampai bawah.
Setelah memastikan semua sudah sempurna aku segera berjalan cepat keluar apartemenku hendak menemui kak Bagas yang sudah menungguku di basmen apartemen ini.
Bagas: "Apa kamu belum mandi Rara?" sapanya langsung setelah aku baru saja mendaratkan pantatku di kursi depan sebelah pengemudi yang diduduki olehnya.
Seketika itu pula aku langsung membantu mendengar perkataan kak Bagas yang tepat adanya.
Apa begitu terlihat aku belum mandi sampai kak Bagas bisa menembaknya dengan benar batinku masih dalam diam.
Ternyata hanya gombalan, sial tadi ku kira sudah ketahuan batinku menatapnya.
Bagas: "Baiklah Rara cantik nan aduhai biarkan pangeran buruk rupa ini mengantarmu sampai tujuan tanpa lecet sedikitpun" katanya sembari menyalakan mesin mobilnya.
Aku selalu tersenyum dengan semua gombalan gombalan receh dari kak Bagas yang berhasil membuatku melupakan mas David untuk sementar waktu.
Andai mas.. andai kamu bisa sehumoris keponakanmu ini dan yang lebih penting kamu itu lajang mungkin aku akan mau terikat hubungan denganmu selamanya. Karna pada hakekatnya aku masih sangat mencintaimu batinku.
Mobil itu terus menembus jalanan kota hinggga sampai di pelataran Rumah Sakit karna memang jarak antara apartemen dengan Rumah Sakit tidak begitu jauh jadi hanya membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit untuk sampai di Rumah Sakit menggunakan mobil yang kini sedang aku naiki bersama kak Bagas.
Bagas: "Mari princess Rara beri suatu penghormatan bagi pria rendahan ini untuk membuka pintu untuk anda" katanya membukakanku pintu sambil sedikit membungkuk mengulurkan tangannya padaku.
Melliza: "Kak Bagas apa apaan sih, aku ga suka diperilaku seperti itu. Bagaimana jika ada yang melihatnya?" kataku malu malu belum mau keluar dari dalam mobil.
Bagas: "Tidak apa tuan putri.. Jika sampai ada yang berani menghakimimu maka beri tahu pria rendahan ini, saya akan menghajarnya dan memberikan perhitungan agar dia tidak merendahkan anda lagi" katanya masih dengan posisi semula dengan sedikit tertawa.
__ADS_1
Melliza: "Bagaimana jika yang menghakimiku adalah om David kesayangan kak Bagas itu? Apa kak Bagas juga akan memberikan perhitungan padanya?" tanyaku menerima uluran tangannya.
Bagas: "Oh! kalau yang itu beda lagi.. Aku tidak berani pada om David" sahutnya langsung mengangkat kedua tangannya keatas.
Dasar! yang menghakimiku itu pamanmu yang pinginnya menang sendiri batinku lagi.
Aku terus bergurau dengan kak Bagas disetiap langkah kami menuju ruangan kami masing masing, tertawa bahkan tak tanggung tanggung aku kadang menepuk punggungnya keras karna tak kuat menahan tawa setiap kali kak Bagas berusaha membuat lawakan yang pecah.
"Apa ucapan mas semalam masih kurang jelas Clara?"
Kalimat yang begitu datar berhasil menghentikan tanganku yang hendak membuka pintu ruanganku.
Sejenak aku menarik nafas perlahan untuk menyiapkan mental agar aku dapat menghadapinya dan tidak terintimidasi lagi seperti semalam. Aku balikan tubuhku langsung kebelakang melihat tubuh seorang pria yang sudah sangat aku kenali luar dan dalamnya.
Melliza: "Maaf pak David.. maksud ucapan pak David itu apa yah?" kataku seolah bingung.
David: "Jauhi Bagas Clara.. dia sama saja dengan keponakanmu" sahutnya dengan nada datar.
Melliza: "Keponakan saya? anda jangan bercanda Bapak David Setya Mayndra, memangnya saya memiliki hubungan apa dengan pamanya kak Bagas sampai saya harus menganggap kak Bagas sebagai keponakan saya?" kataku dipenuhi nada mencela.
Saat mas David hendak mengeluarkan suaranya, aku langsung dengan cepat menodongnya dengan perkataanku.
Melliza: "Jangan lupa pak David kita berada dilingkungan terbuka.. anda tidak berniat memberitahukan kesemua orang bukan bahwa saya pernah menjadi kekasih gelap anda" kataku lirih berusaha agar tidak terdengar oleh orang lain.
Melliza: "Jangan mendekat!" kataku dengan cepat menghalau pergerakan mas David yang maju mendekat kepadaku.
Melliza: "Jaga jarak pak David.. Bagaimana jika calon pacar saya melihat pak David selaku om nya sedang berusaha mendekati calon pacarnya? Nanti kak Bagas bisa salah paham terhadapku" kataku ingin terus memancing kecemburuannya.
Ekspresi mas David mulai masam, wajahnya merah padam siap berkoar tapi dengan sigap aku melarikan diri dari hadapannya.
Melliza: "Enak saja ingin aku terus menjadi miliknya.. dia kira pria tampan cuma dia apa? ceraikan dulu istrinya baru aku mau menjadi kekasihnya" aku terus bercuap cuap disetiap langkah menuju ruang operasi dilantai tiga.
"Kamu ingin siapa menceraikan istrinya Za?"
__ADS_1