
David: "Dimana Clara? aku ingin menemuinya sekarang"
Kakek: "Apa yang mau kamu lakukan pada cucuku?!!" suara kakek begitu tinggi hingga benar benar terdengar oleh indra pendengaranku.
David: "Aku akan...
PRANG
"Astaga! neng...
"Sssttth" aku mengisyaratkan pada Jihan agar diam dengan jari telunjukku yang berada didepan bibirku.
Jihan mungkin terkejut saat menaiki tangga lalu melihat aku dibalik pembatas tangga yang sedang duduk sendiri.
Kakek: "Kenapa Ji?!" teriak kakek bertanya pada Jihan.
Jihan: "Tidak tuan ini ada neng Mell..
Aku langsung menyilangkan tangan di depan dada dengan mata melotot dan meminta Jihan agar tidak melanjutkan perkataannya.
Kakek: "Apa kamu sedari tadi disitu Caca?" suara kakek langsung menistrupsikan diriku untuk keluar dari tempat persembunyianku.
Aku berdiri dan menghadap kearah bawah dengan rasa bersalah karna telah kepergok oleh kakek ketahuan menguping.
Dan entah mengapa mataku ini sangat tertarik untuk melihat mas David yang sekarang pun sedang melihat kearahku dengan senyumannya yang ramah seperti biasa.
Kemeja hitam yang lengannya dilipat sampai sebatas siku dengan celana jeans biru muda menjadi daya tarik bagi mataku untuk menyebutnya tampan.
Aku kembali mengalihkan pandangku pada kakek untuk menyadarkan diriku kembali bahwa aku harus melupakannya.
Melliza: "Maaf kek.. Caca akan ke kamar sekarang" aku hendak berbalik dan pergi dari tempatku berada tapi niatanku diurungkan karena suara khas yang biasanya dia gunakan untuk geraman saat kita sedang bercinta.
David: "Tunggu Clara! turunlah, mas sangat merindukanmu sayang"
Aku tetap tidak berbalik dan hendak melangkah lagi, tapi lagi lagi aku harus terhenti dan kali ini aku lebih serius menanggapinya.
David: "Jika Clara tidak mau turun maka jangan salahkan mas jika nanti kamu melihat kakekmu dipenjara!"
Turunkan sedikit ego mu Melliza, demi kakekmu.. hanya demi kakekmu batinku.
Aku selalu melapalkan kalimat itu disetiap anak tangga yang aku turuni dengan menatap tajam mas David. Tatapanku tak henti hentinya melihat pergerakannya termasuk senyumannya yang semakin melebar seiring mendekatnya aku sampai lantai dasar.
David: "Sayaaang.. kemari peluk mas" saat perkataan itu diiringi rentangan tangan yang melebar saat mas David berdiri membuat aku langsung mengalihkan pandanganku pada kakek.
Melliza: "Aku tidak sudi lagi tersentuh olehmu" sahutku yang bertolak arah darinya yang ternyata duduk disisi lain sofa yang kakek dan papah duduki.
David: "Apa yang kau hasutkan pada istriku SURYA!!!"
Melliza: "Jangan bentak kakekku DAVID!!"
Mas David begitu terkejut dengan perkataanku, atau mungkin dia terkejut karna aku memanggil namanya tanpa embel embel mas didepannya.
David: "Sayang.. jangan pernah dengarkan perkatan kakekmu, dia jahat Clara dia hanya ingin memisahkan kita" perkataannya begitu lirih.
__ADS_1
Melliza: "Tanpa kakek berusaha memisahkan kita pun aku ingin terpisah darimu, aku muak dengan semua yang berhubungan denganmu. Semuanya tanpa terkecuali" kataku datar tanpa ekspresi.
Ekspresi sedih nampak diwajahnya yang setelah itu langsung berubah ke ekspresi datar dan penuh kegelapan.
David: "Suruh cucumu itu mendekat padaku atau aku tak akan pikir panjang untuk menjebloskanmu sekarang juga untuk yang kedua kalinya. Aku pastikan untuk bukti yang sekarang bukan hanya seminggu atau sebulan kau akan mendekam dijeruji besi, kau pasti tau bukti nyata itu bisa membuatmu bahkan menghabiskan sisa hidupmu yang sudah berbau tahan itu didalam penjara selama lamanya. Kau tentu tidak ingin kulitmu yang sudah tidak sekuat dulu merasakan kembali penderitaan didalam sel bukan Kakek mertua?" perkataannya itu begitu tajam saling tajamnya aku yang tengah ditatapnya merasa takut.
Kakek: "Aku tidak takut akan ancammu"
David: "Aku tidak sedang mengancammu, aku sedang mengancam istriku lebih tepatnya mengancam kelemahannya"
Papah: "Kamu jangan macam macam David! aku akan telpon polisi untuk menangkapmu karna membuat onar dikediamanku" kata papah setelah sedari tadi hanya menonton dengan raut wajah penuh kebingungan.
David: "Silahkan saja telpon, aku malah berterima kasih pada papah mertua karna repot repot membantuku menangkap pria bejad yang sudah bebas tanpa menanggung kebejatannya dulu"
Kakek yang dipenuhi rasa khawatir langsung melihat kearahku. Menatapku dengan mata hitamnya dibalik kaca mata yang sudah tak sebening dulu.
Ada rasa takut, gelisah dan amarah yang menjadi satu didalam raut wajahnya saat melihat kearahku.
David: "Kemari Clara jika kamu masih ingin melihat kakekmu bahagia disisa hidupnya"
Aku langsung melihat kearah mas David berada yang tak begitu jauh dari tempatku duduk bersebelahan dengan kakek.
Hanya demi kakek Melliza, berkorbanlah demi kakek. Untuk kebahagiaannya, mungkin dengan aku kembali pada mas David dia tidak akan lagi mengganggu kakekku.
Aku berdiri dari dudukku dan hendak melangkah mendekati mas David, tapi pergelangan tanganku dicekal oleh sebuah tangan keriput yang masih begitu kuat menahanku.
Aku menoleh kearahnya menunjukan senyuman penuh keikhlasan dan sebuah anggukan bahwa aku tidak maslah jika harus berkorban asal itu demi kakek aku bahkan sanggup merasa sakit untuk kedua kalinya jika harus menjadi istri simpanan dan menjadi yang kedua.
Aku langsung berjalan mendekat kearah mas David, dia langsung berdiri saat aku mulai sangat dekat dengannya.
Melliza: "Aku membencimu" gumamku didalam pelukannya.
David: "Mas tidak perduli" mas David semakin mengencangkan pelukannya.
David: "Aku akan membawa Clara kembali ke Jakarta hari ini" katanya tanpa ragu yang masih memelukku.
Kakek: "Apa kau sungguh mencintainya? kau sungguh serius pada Caca ku?"
Mas David melonggarkan pelukannya dan menarik daguku agar melihat kearahnya. Saat aku memancarkan tatapan tak suka mas David malah menatapku dengan penuh kasih sayangnya.
CUP
Tanpa rasa malu mas David bahkan mencium bibirku dihadapan kakek dan papahku. Aku berusaha mendorong dadanya tapi punggungku ditahan oleh tangan kirinya.
David: "Aku mencintainya, bahkan sangat mencintainya. Harusnya kamu bersyukur Surya hanya demi Clara aku menahan rasa amarahku padamu. Hanya karna dia istriku aku tidak menindak lanjutkan ini. Semua hanya karna dia" mas David mengatakan itu tapi pandangan matanya malah tertuju padaku.
Kakek: "Bagaimana dengan istrimu yang lain? Apa kau tetap ingin menjadikan cucuku sebagai simpanan David?!"
Papah: "Simpanan?! Melliza menjadi istri simpanan?! nada penuh keterkejutan begitu kental didalam perkataan papah.
David: "Aku akan menikahinya dan menjadikannya satu satunya tapi tidak diwaktu sekarang"
Entah mengapa bayang mbak Vanessha kembali menghiasi pikiranku, membuat aku kembali muak dengan tingkah mas David yang sekarang.
__ADS_1
Melliza: "Lepaskan aku"
David: "Tidak akan" dia semakin mempererat kembali.
Melliza: "Lepaskan atau aku tidak ingin kembali lagi denganmu"
David: "Tidak kembali maka penjara menyapa kakekmu"
Aku hembuskan nafasku perlahan, mengatur semuanya agar masih bisa terkontrol olehku. Jangan sampai mas David nekat melakukan itu pada kakekku.
Melliza: Sebenarnya ada masalah apa antara kau dan kakekku?"
Pertanyaanku berhasil membuat mas David melepaskan pelukannya yang begitu menyiksaku tadi.
David: "Apa perlu bantuanku untuk menceritakannya pada cucu tersayangmu ini kakek mertua?"
Kakek: "Jangan macam macam kamu David!"
Mas David langsung menangkup kedua pipiku dan mengelusnya.
David: "Maaf sayang, lebih baik kau bertanya langsung pada kakekmu. Karna mas tidak ingin kamu mengira mas ini mengarang cerita tentang tidak baik bahkan bejadnya kakek yang amat kau banggakan itu"
Aku langsung melepaskan diri dari mas David dan menatap kakek dengan rasa ingin tahu yang begitu dalam.
Sebenarnya apa yang terjadi dimasa lalu yang tidak aku ketahui?
Kakek: "Itu hanya masa lalu Caca jangan dipikirkan" kata kakek yang sepertinya bisa menebak isi pemikiranku.
David: "Kau takut image baikmu tercoreng dihadapan cucumu tercinta Surya?"
Setelah dipikirkan baik baik sepertinya memang harus kembali lagi pada mas David, agar mas David benar benar menggangu ketentraman kakekku dimasa tuanya.
Mungkin hanya ini yang bisa aku perbuat untuk membalikan budi baik kakek selama ini.
Melliza: "Aku akan ikut denganmu kembali ke Jakarta" kataku begitu datar tanpa ekspresi sama sekali.
Papah: "Melliza!"
Papah: "Tidak! kamu tidak boleh menjadi istrinya apalagi menjadi yang kedua"
Papah: "Ayah tidak boleh mengorbankan anakku untuk kepentingan ayah sendiri".
David: " Apa bedanya dengan anda Papa mertua? bukankah anda berniat memanfaatkan Clara ku untuk kepentingan anda sendiri dengan menjual Clara kepada teman Anda untuk menjadikan istri dari anaknya yang memiliki kelainan jiwa? Papa mertua bahkan lebih hina dari kakek mertua. Aku sangat kasihan pada istriku kenapa dia harus memiliki keluarga yang begitu menyedihkan"
David: "Sayangku akan ikut pulang kan?"
Melliza: "Aku akan kembali ke Jakarta, tapi tidak sekarang. Kau kembalilah terlebih dulu besok aku akan menyusul" aku melepaskan diri darinya dan berjalan menjauh.
David: "Mas tidak sebodoh itu sayang, mas akan kembali besok bersamamu"
Melliza: "Terserah" kataku singkat lalu berjalan menuju tangga hendak pergi ke kamar.
David: "Karna istriku tercinta belum mau pulang maka aku terpaksa malam ini harus menginap disini, kau tentu tidak keberatan bukan Kakek mertua memberikan kehangatan rumah pada cucu menantu tersayangmu ini"
__ADS_1
Kakek: "Kau bisa menempati salah satu kamar tamu, nanti pela..
David: "Aku ingin satu kamar dengan istriku, dikamarnya dan tidur seranjang denganya"