
Keheningan langung membentang di sekujur ruanganku. Hanya jam yang berdenting disetiap detiknya menghitung maju hari yang akan terlewati.
Aku masih berhadapan dengan Tasya, dia diam setelah mendengar pertanyaanku yang mungkin sedikit vulgar. Tapi rasa ingin tahuku lebih besar dari pada rasa maluku.
Melliza: "Syaaa?" aku memanggilnya yang masih menatapku tanpa berkedip dan tanpa ekspresi.
Tiba tiba tanpa diduga...
Hahahahahahahhaahahha...
Tawanya langung menggelegar kesetiap penjuru ruangnya yang kita tempati.
Aku yang masih heran bahkan seperti merasa ketakutan saat melihat Tasya yang untuk pertama kalinya melihat dia ketawa bahkan sekeras ini membuat aku bergidik ngeri pasalnya aku berfikir bahwa Tasya ini sedang kerasukan setan penunggu Rumah Sakit ini yang katanya banyak penunggunya.
Dia tertawa bahkan sampai menangis dan memegangi perutnya karna tak kuat menahan tawanya.
Tasya: "Jadi.. jadi dari tadi kamu merasa ragu itu hanya ingin bertanya malam pertamaku?" tanyanya masih menahan tawanya.
Aku yang sedari tadi menjadi bahan tertawanya hanya tersipu malu.
Tasya: "Melliza Melliza.. ternyata kamu masih sama ya seperti dulu, sama sama masih polos tanpa pengetahuan. Jangan bilang kamu sampai sekarang belum juga pernah berciuman dengan seorang pria?" tanyanya langsung menunjukku dengan jari telunjuk kanannya.
Melliza: "Enak saja! aku sudah pernah yaaah" jawabku tidak terima karna merasa direndahkan.
Tasya: "Sama siapa?! jangan bilang sama kakek kamu" sahutnya asal bicara yang langung mendapat toyolan jidat dariku.
Melliza: "Aku masih waras Tasyaaa! jangan asal bicara mana mungkin aku berciuman dengan kakekku sendiri"
Tasya: "Terus sama siapa?" tanyanya menyelidik.
Melliza: "Ya sama pacar aku lah" jawabku penuh percaya diri.
Tasya: "Kamu punya pacar? serius?! siapa? orang mana" tanyanya langung beruntun.
__ADS_1
Melliza: "Ah? ituuu dia orang sini ko" sahutku sedikit ragu.
Tasya: "Hah?! orang sini? dia dokter juga?" tanyanya yang hanya mendapat anggukan dariku.
Tasya: "Dokter apa? dokter bedah?"
Mataku langsung melotot saat tebakan Tasya tepat sasaran.
Tasya: "Ooooh jadi rumor yang dikatakan Marsya bener, kamu pacaran sama kak Bagas cowo yang ngejar ngejar kamu dulu?"
Mataku semakin melebar perihal dugaan Tasya yang sangat meleset itu.
Melliza: "Bukan bukan.. aku tidak ada hubungan apapun sama kak Bagas, kita hanya teman" sahutku dengan menyilangkan tanganku didepan dada.
Tasya: "Terus sama siapa kalau bukan sama kak Bagas?"
Sama om nya kak Bagas! batinku pastinya.
Melliza: "Ituuu...
Tasya: "Ya ampuuun Mellizaaa! Ini punya siapa Za banyak banget?"
Aku terkejut karna tiba tiba Tasya bangkit dari duduknya lalu menarik bajuku dan membuka kancing teratas kemejaku yang langung menampakan semua kiss mark mas David yang bertebaran disetiap sudut kulit dada teratasku.
Mungkin Tasya akan lebih terkejut jika dia lebih membukanya sampai dadaku karna disitu bahkan tidak akan nampak lagi kulit putih mulus dikarenakan payudaraku yang diselimuti warna merah bekas gigitan mas David yang semalam merasa gemas tak henti hentinya menggigit dan memainkannya.
Aku langsung menepis tanganya yang masih bertengger dikemejaku dan aku pun mengancing kembali bajuku untuk menutupinya lagi.
Tasya: "Ternyata temanku yang satu ini sudah tidak sepolos sepeti dulu lagi, aku kira Melliza yang modis ini masih belum tersentuh ternyata sudah ekhmm" Tasya berdehem diakhir kalimatnya yang sengaja dia gantung dengan senyuman menggodanya.
Aku yang merasa diledek hanya salah tingkah karna merasa ketahuan.
Tasya: "Itu punya kekasihmu Za? pacarmu itu doyan apa keenakan sampai kasih cupang buuuanyaknya gitu?"
__ADS_1
Tasya: "Wah wah.. hati hati loh Melliza jangan sampai kamu terbuai oleh sentuhannya lalu kamu menyerahkan harga dirimu dengan percuma" lanjutnya dengan memberikan petuah.
Tidak percuma kok, keperawananku dibandrol 100 juta belum lagi nanti perbulannya. Meski terlihat seperti wanita bayaran yang harus siap menjadi penghangat ranjang mas David tapi pada dasarnya hubungan ini didasari pernikahan meski tidak resmi secara negara tapi hubungan kami sudah sah dimata agama batinku.
Tasya: "Sudah sampai tahap mana kamu? cowo kamu sudah emut emut atau jangan jangan sudah main celup celup?"
Melliza: "Kalau sudah main celup celup mana mungkin aku bertanya perihal malam pertamamu Tasya kalau aku sendiri sudah merasakannya" sahutku datar berusaha menutupi kenyataanya bahwa sebenarnya bukan hanya celup celup yang mas David lakukan. Dia bahkan berhasil membuat aku keenakan dan ingin melakukannya lagi.
Tasya: "Oooh jadi kamu belum melakukannya makanya kamu bertanya padaku?" aku hanya tersenyum masam untuk menanggapi pertanyaanya.
Tasya: "Gimana ya ceritainnya.. soalnya malam pertamaku itu the best banget Za" katanya yang tiba tiba senyum senyum sendiri.
Tasya: "Jen ituuuu.. ah pokoknya dia perkasa banget deh Za, sampai aku kualahan menghadapi nafsunya malam itu"
Melliza: "Terus apa yang kamu rasain?" tanyaku polos pura pura tidak tahu.
Tasya: "Yang aku rasakan?" tanyanya balik.
Tasya: "Enaaaaak banget" sahutnya lagi dengan penuh senyuman yang bertebaran.
Melliza: "Tidak sakit sama sekali?" tanyaku masih heran, karna yang aku rasakan sekarang rasanya selangkanganku masih kaku untuk berjalan.
Tasya: "Rasa sakitnya tertutupi oleh rasa nikmat yang mendominan Za, kita bahkan sampai lupa waktu melakukannya sampai pagi"
Melliza: "HAH?! sampai pagi?!"
Gila! aku saja yang melakukannya hanya empat jam rasanya badanku remuk semua apalagi ini sampai pagi Tasya bilang batinku masih tidak percaya dengan perkataan teman lamaku ini.
Tasya: "Iya Mellizaaa.. tau tidak aku sampai tidak bisa berjalan, jadilah aku seharian didalam kamar dan diatas ranjang. Dan karna itu pula Jen pun menjadi super romantis gitu" terangnya penuh bunga bunga.
Kalau mas David sampai nekat melakukannya sampai pagi dan membuat aku tidak bisa berjalan akan langsung aku potong senjata pamungkasnya batinku.
Tapi jauh didalam lubuk hati terdalamku aku bersyukur karna mas David tidak nekat melakukannya semalam, dia masih tahu akan batasannya dan memahami kondisiku yang tidak ingin dipaksakan lagi.
__ADS_1
Seperti yang diucapkannya bahwa dia hanya akan melakukannya lembut, tidak akan menyakitiku meski dia menusuknya berkali kali bahkan dengan gaya yang mas David inginkan. Aku yakin beribu ribu persen entah sudah berapa video porno yang mas David tonton sampai dia lihai membolak balikan tubuhku sesuai arahannya.
Mulai sekarang aku harus bisa memahami mas David dengan sikap mesum, over protektif dan possessivenya agar hubungan ini tidak ada lagi pemaksaan atau bentakannya yang akan selalu membuat nyaliku menciut olehnya.