Dr Clara

Dr Clara
Episode 67


__ADS_3

Setiap kali kita bertengkar pasti akan selalu berakhir di ranjang. Aku yang sama sekali tidak bisa menolak karena setiap penolakan yang aku lontarkan dan aku lakukan pasti akan berdampak pada ancaman yang selalu dia layangkan kepada kakek ku.


Meski mas David sudah mengatakan bahwa aku harus menjauhi Bagas bahkan sejauh jauhnya tapi aku tidak juga menuruti perkataannya. Aku tidak mendekati kak Bagas, aku juga tidak menjauhinya aku bersikap biasa setiap kali kak Bagas mendekatiku karena semakin aku menghindar darinya semakin dia berusaha mengejar dan itu akan semakin membuatku tersiksa.


Seperti saat ini, meski aku sudah sangat dingin padanya bahkan seperti tidak menganggap keberadaannya disampingku dia tetap menyuarakan apa yang ada di dalam pikirannya.


Bagas: "Racanhai tumben pakai baju tertutup seperti itu" katanya yang berjalan disebelahku hendak menuju kantin Rumah Sakit.


Melliza: "Dingin" sahutku sekenanya.


Ya hari ini aku menggunakan switter rajut berwarna marron yang kerahnya bisa menutupi semua perpotongan leherku.


Percintaan semalam yang didasari oleh kemurkaan mas David karena tidak berhasil mencium bibirku membuat dia memenuhi semua kulit permukaan leherku dengan tanda kepemilikannya.


Bagas: "Rara bohong kan?" tanyanya yang langsung menghentikan langkahku.


Melliza: "Bohong apa?" tanyaku pura pura tak mengetahuinya.


Bagas: "Dileher Rara sebenarnya ada bekas cupang milik kekasih Rara kan? kenapa harus berbohong pada pacar?" katanya terlihat murung.


Pacar


Setelah aku menerimanya menjadi pacar simpanan yang sebenarnya tidak aku inginkan, kak Bagas menyebutkan namanya padaku selalu dengan sebutan pacar.


Bagas: "Rara?" panggilnya lirih.


Aku mendongak melihat kearahnya yang memiliki badan cukup lumayan tinggi.


Bagas: "Jika dia saja boleh menggigit leher Rara, pacar juga ingin. Pacar juga memiliki hak yang sama bukan?"


Melliza: "Apa maksud kak Bagas?" tanyaku yang sedikit terkejut setelah mendengar penuturannya.


Kak Bagas tidak menjawab, dia hanya menatapku dalam tunduknya lalu perlahan melangkah maju kearahku dan berusaha mendekat ketubuhku.


Melliza: "Apa yang mau kak Bagas lakukan?"


Bagas: "Hanya sekilas Rara, pacaran ingin mencium bibirmu sekilas tidak akan lama"


Melliza: "Kamu gila kak?! Ini tempat umum dan lagi ini di Rumah Sakit" kataku sambil melihat kanan dan kiri, sama sekali tidak ada orang dilorong ini kecuali kita berdua.


Bagas: "Hanya sekilas"


Kak Bagas mulai menyudutkanku ke arah dinding lalu ia berusaha menghimpitnya dan mendekatkan wajahnya ke arah wajahku. Sungguh aku sangat berusaha menghindarinya, aku tak ingin dia menyentuhku apalagi menciumku.


Aku terus berusaha menjauhkan wajahku saat melihat kak Bagas mulai memejamkan matanya.


"BRENGSEK!!!"

__ADS_1


BHUUGH


Mataku terbelalak saat kak Bagas jatuh tersungkur karna telah dipukul pipinya.


Bagas: "Apa yang...


BHUUGH


"Kau berniat menciumnya?! KAU MAU MENCIUM CLARA BAGAS!!!" bentaknya yang disertai tangannya yang menarik paksa kerah kemeja kak Bagas.


Melliza: "Mas David" kataku lirih tapi masih bisa didengar olehnya yang langsung menatap mataku tajam.


David: "Berapa kali aku bilang! JAUHI KEPONAKANKU MELLIZA!!!"


Bagas: "Om.. om David ini kenapa? Apa masalahnya kita berciuman?" tanya kak Bagas menahan sakit di pipinya.


BHUUGH


BHUUGH


Mas David memukul perut kak Bagas membuat aku Bagas benar benar tidak bisa bangkit lagi.


David: "Masalahnya kau bilang?! Melliza ini sudah memiliki..


Kata mas David terhenti saat kemudian dia menatapku dan tersenyum menakutkan.


Insiden itu tidak ku tanggapi begitu lama setelah mas David mengatakan perkataan yang begitu mengejutkan ku yang memiliki arti bahwa dia berniat membongkarkan rahasia pernikahan ini pada kepada kak Bagas.


Aku langsung meninggalkan mereka berdua dengan sikap acuh seolah tak peduli akan sampai mana perkelahian mereka. Aku juga tak perduli jika di antara mereka ada yang akan meninggal karena itu bukan kesalahanku.


Aku tidak ingin lagi terkena masalah dan menjadi bahan perbincangan hangat bagi kaum ibu ibu yang menjabat sebagai dokter senior di sini.


Jangan sampai mereka tahu bahwa penyebab pertengkaran antara keponakan dan pman itu didasari akan nama aku yaitu seorang Melliza.


Setelah mendengar kabar bahwa kak Bagas dirawat dikarenakan luka luka yang disebabkan oleh mas David yang membuat dia harus dirawat beberapa hari tidak membuat aku langsung menjenguknya. Aku ingin membuat ketenangan terlebih dahulu karena akhir akhir ini mas David begitu murka bahkan selalu menggedor pintu apartemenku agar diizinkan masuk.


Melliza: "Bagaimana sekarang? Apa sudah sembuh?" tanyaku pada kak Bagas yang sedang duduk bersandar diatas ranjang nya rawatnya.


Bagas: "Hari ini sudah diperbolehkan pulang, meski rasa nyerinya belum hilang tapi dr. Kris telah memberikan resep pada papih untuk segera ditebus"


Bagas: "Kenapa Rara baru menjenguk pacar sekarang?" tanyanya dengan meraih tangan kananku.


Melliza: "Maaf kak.. Aku baru sempat" sahutku bohong.


Bagas: "Pasti karna om David kan?" katanya tepat sasaran.


Ya memang, semenjak kak Bagas dirawat mas David selalu mendampinginya dan menemaninya disetiap waktu tanpa henti membuat aku sulit untuk menemui kak Bagas hanya untuk sekedar menjenguk dan melihat keadaannya.

__ADS_1


Dan hanya di kesempatan ini aku bisa menemui kak Bagas tanpa adanya kehadiran mas David.


Bagas: "Maaf"


Melliza: "Maaf untuk apa?"


Bagas: "Maaf karna waktu itu pacar hampir memaksa Rara berciuman" katanya terlihat sedih dan bersalah.


Melliza: "Sudahlah lupakan kak, seharusnya aku yang minta maaf karna membuat kakak dihajar oleh pak David" hiburku.


Bagas: "Jadi Rara tidak marah pada pacar?" aku hanya menggeleng sambil tersenyum untuk menanggapinya.


Tetapi reaksi yang aku berikan malah membuat kak Bagas salah paham. Dia menarik tanganku dan hendak menciumnnya sebelum tangan kekar itu menghalangi bibir kak Bagas yang hampir tinggal beberapa centi lagi akan tersentuh kulit punggung tanganku.


Aku menengok kearah pemilik tangan itu, dan benar sesuai dugaanku dia adalah mas David.


David: "Apa kamu masih mau dirawat lebih lama disini Bagas?" tanya dengan nada datar yang masih menempelkan tangannya pada bibir kak Bagas.


Lalu tangan mas David menarik paksa tanganku yang masih digenggam oleh kak Bagas. Aku yang duduk di sebuah kursi disebelah ranjang niatnya hendaj bangkit dan pergi namun tangan mas David mencegah dan menahannya dibalik pinggangnya.


Dia duduk diranjang bersebelahan dengan kak Bagas, berusaha menutupiku dari ruang lingkup pandangan kak Bagas.


Dia bahkan masih menggenggam tanganku kuat dibalik badannya.


Bagas: "Om David ini..


David: "Lekas bangun dan bersiap, kita memiliki pasien diruang ICU lantai satu" perintahnya sebelum mendengar perkataan kak Bagas terlebih dulu.


David: "Dan dr. Melliza.. saya ingin berbicara dengan anda sekarang juga diruangan saya tanpa adanya penolakan dan alasan . Ini mengenai kejadian waktu itu" mas David langsung melepas tanganku dan bangkit dari duduknya.


Karena perintah yang tidak bisa dibantah aku pun terpaksa mengikuti keinginannya aku sudah tahu apa yang akan terjadi di dalam ruangan miliknya.


Dan dugaan yang seperti biasa itu pun terjadi.


Sesampainya aku didalam ruangannya, mas David langsung menggiringku menuju toiletnya.


Melliza: "Ini Rumah Sakit jika anda lupa akan perjanjian kita"


Dia tak menjawab, mas David malah langung memelukku dan menenggelamkan wajahnya diperpotongan bahu dan leherku.


David: "Jangan bersikap seperti ini Clara, mas tidak kuat"


Melliza: "Lalu aku harus bersikap seperti apa?"


David: "Bersikaplah seperti biasanya, mencintai mas dan melayani mas sepenuh hati bukan karna keterpaksaan" terdapat nada sendu disetiap kalimat yang dilontarkannya.


David: "Mas tidak marah padamu sayang.. mas yakin kamu tidak semudah itu untuk digoda oleh Bagas"

__ADS_1


David: "Mas percaya padamu jadi mas mohon Clara juga harus percaya pada mas, bahwa memang hanya Clara wanita satu satunya yang berada di hidup mas"


__ADS_2