Dr Clara

Dr Clara
Episode 69


__ADS_3

Aku langsung meringkuk memeluk bantal guling setelah kepergian mas David.


Melliza: "Tega kamu mas.. tega!"


Pelukanku semakin erat dalam upaya menumpahkan semua rasa perih dan sakit yang kualami hari ini.


Flashback on


"Hai Melliza"


Suara itu mengalihkan perhatianku dari nama pasien yang baru saja aku baca.


Melliza: "Mbak Vanessha?" aku bingung pasalnya baru saja aku memperhatikan nama pasien dengan memiliki marga Mayndra dan diawal nama yaitu Vanessha membuat kecurigaanku ternyata benar adanya.


Dia berjalan mendekat melewati pintu lalu duduk di hadapanku.


Melliza: "Ada perlu apa mbak Vanessha menemuiku?" tanyaku langsung karna sebenarnya hari ini aku memiliki pasien yang cukup banyak mengenai program kehamilan.


Vanessha: "Gue mau cek kesehatan" sahutnya santai sembari memperhatikan sekeliling.


Melliza: "Oooh.. maaf mbak kayanya mbak salah dokter deh, mending mbak tanya dulu resepsionis depan mbak mau periksa apa nanti pasti akan diarahkan" ucapku lembut memberi penjelasan.


Vanessha: "Lo Sp.OG kan?" tanyanya dengan menunjuk kearahku dengan jari telunjuk kanannya.


Melliza: "Iiyaaa"


Vanessha: "Berarti gue ga salah dokter dong"


Vanessha: "Gue kesini mau minta tolong lo periksakan kandungan gue"


Perkataannya berhasil membuat aku membelalakan kedua mataku.


Melliza: "Mba.. mbak Vanessha ha.. hamil?" tanyaku ragu ragu.


Vanessha: "Iya" sahutnya penuh raut wajah gembira.


Vanessha: "Gue ga nyangka akhirnya gue bakal jadi ibu dari anaknya mas David" katanya dengan mengelus lembut perutnya yang masih terlihat rata.


Melliza: "Ma.. Mas David? i.. i.itu anak mas David?" tanyaku masih tak percaya.


Vanessha: "Ya iyalah"


Melliza: "Tapi mbak.. maaf sebelumnya, bukannya mbak Vanessha itu....


Vanessha: "Iya gue tahu apa yang lo pikirin. Gue emang dulu liar tapi setelah ngerasain milik mas David lagi, gue rasanyaaa..


Vanessha: "Ah.. pokoknya gue ga mau keluyuran lagi dan mending jadi istri yang penurut, belum lagi milik mas David itu..


Dia mendekat dan sedikit berbisik.


Vanessha: "Adek kecilnya dahsyat Melliza bikin nagih"


Melliza: "Mbak Vanessha yakin itu anak pak David?" tanyaku masih tak percaya akan berita yang baru saja aku dengar.


Walau waktu itu pernah sekali aku memergokinya keluar dari kamar mas David tapi itu belum bisa disebut bukti dan kenyataan.


Vanessha: "Lo ragu? Lo bisa tanya langsung sama mas David dan jika dia tidak mengakuinya segera lo lapor ke gue biar gue garap mas David diatas ranjang"


Flashback off


Dan tanpa bertanya secara langsung bukankah jawaban mas David yang ingin aku menjaga kandungan mbak Vanessha itu menandakan bahwa janin itu adalah calon anaknya?


Melliza: "Aku harus berusaha melupakannya, harus!"


Aku terus melapalkannya hingga mataku mulai terasa berat hingga terlelap.


.


.


.


Di pagi menjelang yang begitu cerah tapi tak secerah wajahku karna untuk pertama kalinya aku akan tampil dengan mata sembab yang hampir sulit terbuka.


Marsya: "Kamu kenapa sih Za bisa nangis sampai mata kamu sembab kaya digigit serangga gini?" tanyanya yang sedang berusaha mengompres mataku.

__ADS_1


Marsya: "Jangan bilang karna pak David, suami rahasiamu itu?"


Aku diam tak menjawab hanya merasakan kehangatan pada kelopak mataku.


Marsya: "Oh! aku tahu ini pasti karna istrinya pak David kan?" aku tetap diam karna sedang berusaha melupakan semuanya yang berhubungan dengan mas David.


Marsya: "Kamu masih mau diam Za? aku tahu kok kamu pasti semalam sakit hati kan karna suamimu itu menghamili istri pertamanya?" tanyanya tepat sasaran.


Melliza: "Darimana kamu tahu?" tanyaku datar berusaha bersikap biasa.


Marsya: "Aku kemarin berpapasan dengannya waktu dia bilang baru memeriksa kandungannya padamu"


Marsya: "Aku sudah pernah bilang kan Za! jangan dekat dekat dengan api nanti kamu terbakar sendiri. Sekarang apa? mau menyesal juga sudah terlambat kan?"


Marsya: "Hidup kamu itu enak Elliza.. kamu memilki kakek yang berkuasa lalu kenapa tidak meminta bantuannya saja sih, atau kalau tidak kamu kabur gampang kan?


Melliza: "Tidak segampang itu Sya"


Marsya melepas kompresan pada mataku. Dia menatapku dengan rasa marah.


Marsya: "Yang membuat sulit itu iri kamu sendiri Za!" bentaknya dan terus menatapku mengintimidasi.


Melliza: "Kamu tidak tau rasanya jadi aku Sya"


Perkataanku berhasil membuat dia berubah menjadi iba dan sedih.


Marsya: "Mulai nanti malam aku akan menginap diapartemenmu agar suami brengsek mu itu tidak mengganggu kamu lagi"


Karna kondisiku yang tidak memungkinkan untuk bertemu pasien akhirnya aku putuskan untuk melepaskan tanggung jawabku pada rekan kerjaku yang lain hingga jam pulang praktek selesai.


TING


David: "Mas tunggu diparkiran"


Pesannya yang baru saja masuk.


Melliza: "Tidak aku akan pulang sendiri" send.


Aku membereskan tas dan barang bawaanku.


TING


Aku hembuskan nafas perlahan menghadapi sikap mas David yang terlalu membuat aku tersiksa antara melupakan atau bertahan.


Melliza: "Tidak perlu aku akan turun sekarang" send.


Aku pun bergerak keluar dari ruanganku yang berada dilantai dasar menuju arah parkiran mobil.


Aku langsung masuk kedalam mobil yang sudah sangat sangat aku kenali itu.


David: "Sayaang?" aku tidak merespon panggilan yang dulu sangat aku sukai dikala dia memanggilku dengan sebutan sayang.


Karena tak mendapat respon dari ku mas David langsung menarik kepalaku dan mencium pelipis mata kanan ku lembut dan membisikkan kalimat yang selalu diulang ulang di saat kita awal bertemu atau kalau di akhir kita akan berpisah.


Mas mencintaimu Clara


David: "Mas antar pulang sekalian kita...


Melliza: "Tidak! aku harus mampir kesuatu tempat" potongku tahu akan arah pembicaraannya.


David: "Kemana?" tanyanya yang mulai memasuki jalan raya.


Melliza: "Aku mau beli kebutuhanku dan isi kulkas" sahutku dingin tak mau melihat kearahnya.


David: "Ok! mas temani istri mas yang cantik ini berbelanja"


Aku menengok kearahnya saat mendengar kalimatnya.


Mas David sungguh hendak menemaniku berbelanja?


Ini bahkan belum pernah tejadi sebelumnya.


David: "Jadi.. kesayangan mas mau shopping dimana?" tanyanya mengarah padaku saat kita berada di lampu merah.


Melliza: "MOI" (Mall Of Indonesia)

__ADS_1


David: "Baiklah mas akan menjadi supir yang budiman untuk seorang ratu yang cantik jelita tiada tara" gombalnya untuk pertama kali setelah aku mengenal mas David selama ini.


Aku tidak menanggapi gombalannya sama sekali, aku lebih fokus pada kendaraan lain yang ikut meramaikan jalanan Kota Jakarta di jam pulang kerja ini.


Mas David menggenggam erat tangan kananku kadang ia mengelus elusnya menaruhnya di depan dadanya kadang ia juga mengecupnya beberapa kali meski tindakannya itu tidak sama sekali membuat aku tertarik untuk melihatnya atau menanggapi apa yang dia lakukan terhadap ku.


Tindakannya terhenti seketika ketika ponsel miliknya berdering.


David: "Hallo? ada apa?" tanyanya langsung pada lawan bicaranya.


David: "Tidak bisakah besok?"


David: "Baiklah aku akan segera pulang.. kau tunggu saja"


Telepon itu langsung di akhirnya. Aku tidak tahu pasti siapa lawan bicaranya itu tapi jika didengar dari kata dia akan pulang itu menandakan bawa lawan bicaranya itu adalah istri pertamanya yaitu mbak Vanessa wanita yang tengah mengandung anaknya.


David: "Clara sayang.. Mas tidak bisa menemanimu hari ini"


Melliza: "Aku tahu" sahutku singkat.


David: "Mas akan antar Clara pulang"


Melliza: "Tidak perlu! turunkan saja didepan" nada dingin masih melekat dari suaraku.


David: "Tapi Clara..


Melliza: "KIRI!!!" bentakku begitu saja.


Mas David langsung menepikan mobilnya disebelah kiri jalan.


David: "Maaf Clara" katanya dan hendak meraih tanganku tapi dengan cepat aku menghindar.


Melliza: "Buka kuncinya"


David: "Clara harus tetap percaya kalau mas hanya mencintai Clara sampai kapanpun itu"


Melliza: "BUKA!"


Aku pun langsung turun dari mobilnya dan membanting kuat kuat pintu mobil itu. Rasanya dada ini lama kelamaan semakin sesak dan lebih menyiksa.


Melliza: "Jangan menangis Melliza.. jangan mengais hanya demi pria brengsek seperti mas David"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Nih ya gaes gue minta maaf kalau ga bisa janji up tiap hari.


Ada dua kemungkinan gue tidak bisa up


Pertama mungkin gue sibuk, ya ini hanya kemungkinan.


Yang kedua ini pasti sangat pasti yaitu penyakit gue yang mendarah daging mulai kumat yaitu Males.


Jadi mohon dimengerti,


Dan untuk mereka yang telah menerka nerka alur cerita dari novel ini sayangnya tidak ada yang benar padahal sudah diiming iming 10 episode loh.

__ADS_1


Happy reading gaes and...


I love you all😘


__ADS_2