Dr Clara

Dr Clara
Episode 6


__ADS_3

Tok. Tok. Tok


"Masuk"


Ku buka pintu itu dan perlahan ku langkahkan kakiku masuk ke dalam ruangan seseorang yang sudah aku rindukan sejak terakhir bertemu.


"Selamat pagi pak David"


Sapaku pada pria tampan yang sedang berdiri dengan sebuah buku di tangan kirinya. Dia melihat ke arahku dengan sepasang mata hitam bening yang membuat aku terpesona dan dia pun menutup bukunya.


David: "Ada urusan apa anda datang ke ruangan saya?" tanyanya dan mulai duduk di kursinya.


Aku tersenyum kepadanya, dan berjalan mendekati mejanya. Ku taruh kotak makan itu di atas meja yang lebih tepatnya di hadapannya.


David: "Apa itu?" tanyanya penuh dengan menyelidik.


Melliza: "Saya bawakan semur ayam untuk pak David, pak David suka semur ayam kan?" tanya ku dengan senyuman yang tak pernah pudar dari wajahku apalagi jika harus berhadapan dengannya maka aku akan terus berusaha agar senyuman ini tidak akan pernah pudar.


David: "Dari mana anda tahu?" tanyanya balik dengan tatapan tajamnya.


Melliza: "Karna waktu malam itu saya perhatikan pak David begitu lahap memakan semur ayam hingga memakan tiga potong ayam. Jadi menurut saya bapak pasti suka" jawabku dengan penuh percaya diri.


Dia hanya menatapku dengan tatapan tajam yang menjadi ciri khasnya.


Melliza: "Tolong dimakan ya pak, ini saya masak sendiri"


Tidak juga ada jawaban akhirnya aku pun berniat untuk pamit. Dia terus menatapku sampai aku lenyap di balik pintu ruangan itu.


Rasa kecewa terus terpancar dari raut wajahku.


Dasar Melliza, mengapa juga kamu harus banyak menaruh harapan pada pria tampan yang memiliki ekspresi datar seperti pak David.


Maka tanggunglah akibatnya sendiri, batinku disetiap langkah beratku menuju ruanganku.


Dengan berat hati, aku buka pintu ruanganku dan betapa terkejutnya aku dengan penampakan wanita dengan tatapan matanya yang berbinar binar dan senyuman menyeringai yang menampakkan giginya yang rapih putih itu.


"Bagaimana bagaimana?" tanya Marsya dengan penuh antusias.

__ADS_1


Melliza: "Bagaimana apanya?" jawabku yang malah balik bertanya kepadanya.


Marsya: "Aduh Elliza,, ya tadi bagaimana sama pak David, apa dia terkesan? Wah selamat ya pagi pagi begini kamu sudah dapat senyumannya pak David" dia memelukku dengan senyuman yang membuat aku ingin membuang teman satuku ini ke antartika.


Melliza: "Terkesan apanya? Jangankan senyuman, mengucapkan terima kasih saja berat bagi mulutnya" jawabku melepaskan pelukan yang membuatku sesak bernafas.


Marsya: "Masa sih?" tanyanya terheran heran.


Melliza: "Yeee tidak percaya, memang tampang aku ada tanda tanda kebohongan?" tanyaku balik dengan menunjuk wajah cantikku dengan jari telunjuk kananku.


Dia hanya menggeleng dengan wajah polosya yang membuat aku semakin emosi ingin rasanya menampol wajah polos yang penuh dosa itu.


Melliza: "Kayaknya percuma deh aku berusaha mendekati pak David, karna pada kenyataannya dia tidak akan pernah luluh dengan apa yang aku lakukan untuknya" kataku dengan ekspresi sedih yang diselimuti rasa putus asa.


Marsya: "Jangan menyerah seperti itu dong, baru juga pertama ya wajar. Mungkin pak David masih terkejut dengan apa yang kamu lakukan, nanti lama kelamaan dia juga akan terbiasa dan akan mulai menerima perlakuan manismu. Dan akhirnya dia pun luluh dan akan membantumu menyelesaikan masa magangmu dengan mudah, iya kan? Jadi harus tetap positif dan optimis" kata Marsya menyemangati aku lagi.


Melliza: "Baiklah baiklah aku akan terus mencobanya lagi"


Setelah mendapat penyemangat dari teman baikku, aku semakin gencar setiap harinya mengantar makanan untuk pak David.


Mulai dari sayuran, daging dagingan, cake dan makanan ringan lainnya yang bisa aku buat sendiri.


Tapi dengan alasan apa aku datang ke rumahnya?


batinku dan mulai mencari cari alasan.


Setelah sekian lama berpikir tentang sebuah jalan akhirnya aku menemukan sebuah titik terang.


Dan disini aku sekarang sedang berdiri di hadapan seorang pria yang sudah aku rindukan dengan sekantong plastik berisi bahan bahan masakan.


"Permisi pak, saya mau masak disini bolehkan?" tanyaku pada pria tampan di hadapanku dengan aku yang masih berdiri di luar pintu.


Lagi lagi dan lagi dia tidak menjawab atau mengekpesikannya dalam bentuk lain selain wajah datarnya. Dia berbalik dan meninggalkan ku di luar.


"Dia tidak menutup pintunya, artinya aku boleh masuk kan yah?" tanyaku pada diriku sendiri.


Aku pun berjalan masuk dengan menenteng sekantong plastik itu.

__ADS_1


David: "Anda tahu dapurnya kan? Saya mau istirahat, jadi tolong jangan berisik" katanya tanpa menoleh ke arahku dan terus berjalan ke arah sebuah kamar yang aku yakini itu adalah kamarnya dan juga istrinya.


Melliza: "Istri pak David dimana? Saya tidak melihatnya?" tanyaku celingak celinguk pada diriku sendiri, oh astaga jangan jangan dia sedang di kamar hendak melakukan hal yang emh apa yah disebutnya kalau berdua bersama suaminya batinku dengan sedikit iri.


David: "Dia tidak di rumah" jawabnya dan hilang di balik pintu itu.


Seketika senyumku merekah, ah biarkan saya menggantikan peran istri anda pak David batinku yang mulai menggila.


Semangat Melliza, demi memenangkan hatinya. Jika memang tidak bisa menjadi kekasihnya setidaknya kamu harus jadi dokter pertama yang membuat dia tersenyum kembali batinku untuk menyemangati diriku sendiri.


Aku memutuskan untuk memasak semur ayam kesukaannya, tumis buncis udang dan sambal goreng cabai hijau.


Dua jam aku bergelut dengan dapur untuk menghasilkan masakan yang dapat menyenangkan perut juga hatinya.


Kadang sesekali aku terkena cipratan minyak di beberapa bagian tubuhku yang terbuka.


"Akhirnya selesai juga"


Ku hembuskan nafas perlahan dan ada sedikit harapan semoga pak David menyukainya.


"Masak sudah, cuci peralatan masak juga sudah, makanan juga sudah disiapkan di atas meja makan" ucapku pada diriku sendiri dengan menghitung beberapa pekerjaan rumah yang harus aku selesaikan.


"Tapi orang yang akan memakannya belum ada"


"Kenapa pak David tak kunjung keluar juga?"


"Apa dia belum bangun?"


Aku yang berjalan ke arah pintu kamarnya yang hendak mengetuk pintu harus terhenti karna sebuah panggilan.


Dan benar saja di hari liburku aku harus kembali ke rumah sakit karna keadaan mendesak.


"Huuhfff... tidak bisa melihat ekspresi pak David makan masakan aku lagi dong" aku hanya mendengus kesal.


Maaf pak David, saya pergi dulu karna urusan mendadak.


Maaf pula karna tidak berpamitan secara langsung.

__ADS_1


Melliza C.


__ADS_2