
"Nikmatilah keputusanmu sayang"
.
.
.
.
Melliza: "Ok mas David. Ok!" kataku langsung terlontar begitu saja saat rasa takut mulai menjalar ke seluruh tubuhku.
David: "Ok apa sayang? Ok kamu ingin diperkosa? tenang mas akan segera melakukannya jadi kamu jangan menganggu" sahutnya kembali melihat kebawah berusaha menuntun miliknya agar masuk kedalam lubang kenikmatanku.
Melliza: "Bukan! ok ak.. aku.. aku.. aku setuju... aku setuju menikah dengan mas David" jawabku langsung agar mas David menghentikan kegilaannya.
David: "Benarkah?" tanya berbinar binar penuh kebahagian.
David: "Kamu tidak sedang berusaha menipu mas kan Clara?" raut wajahnya kembali datar saat menyampaikan kecurigaanya.
Melliza: "Ti.. tidak tidak, untuk apa aku bohong" kataku ingin meyakinkannya.
David: "Ya agar kamu bisa lolos dari cengkramannya mas hari ini" jawabnya tepat sasaran.
Aku baru saja berfikir mungkin akan lebih baik menuruti perkataannya saja dulu, mengiyakan keinginannya untuk menjadikanku istri keduanya.
Dan jika mas David mulai lengah karna percaya akan ucapanku yang menyetujuinya baru nanti aku kabur dari jeratannya dan akan lebih baik jika aku berlindung dikekuasaan kakek di Malang. Nama kakek di Jakarta belum begitu menyebar luas dan aku tidak tau di titik Rumah Sakit mana saja yang berhubungan baik dengan kakek.
Tapi tanpa aku duga ternyata mas David memiliki pemikiran jauh kesana dan bisa menebak isi otakku.
Melliza: "Dari kemarin maksa pengin nikah sama aku, bagian aku udah setuju malah diragukan. Ya udah kalo ga jadi" kataku berusaha membuat mas David percaya akan ucapanku.
David: "Dari kemarin kamu juga keras kepala nolak nikah sama mas, tapi kenapa sekarang Clara setuju pasti ada niatan lain kan?" sahutnya masih tidak percaya.
Melliza: "Ya sudah aku tarik kembali keputusanku untuk mau menikah denganmu mas David" aku terus berusaha peruntungan agar mas David percaya akan ucapanku.
David: "Tidak bisa begitu tadi kan sudah setuju" jawabnya protes.
Aku mulai senang mas David lebih fokus membalas ucapanku dari pada kegiatan yang tadinya sudah direncanakannya yaitu memperkosaku.
Melliza: "Bodo!" jawabku angkuh meski sebenarnya masih ada rasa takut dalam posisiku sekarang yang masih telanjang dibawah kuasanya.
David: "Mas akan memperkosamu Clara!" ancamnya lagi dengan nada yang sedikit dinaikan.
Melliza: "Perkosa saja, aku tidak takut"
David: "CLARA!!!" bentaknya membahana didalam kamarku.
Melliza: "Apa mas David? aku sudah mengizinkanmu mengambil keperawananku dengan cara memperkosaku apa lagi yang kau tunggu lakukanlah" aku terus berusaha tenang meski jantungku sudah dag dig dug bagai gendang ditabuh karna merasa ketakutan.
David: "Apa kamu tidak takut mas menyakitimu?" katanya melembut sambil terus menatap mataku datar.
__ADS_1
Melliza: "Lebih baik merasakan sakit sekali dari pada harus menanggung malu karna dihina menjadi pelakor" kataku menatap matanya tajam.
David: "Apa maksudmu sekali?"
Melliza: "Karna setelah mas David benar benar melakukannya maka aku akan pergi jauh ketempat dimana mas David tidak akan pernah menemuiku lagi. Dan jika mas David benar benar merenggut paksa mahkotaku maka seumur hidupku akan selalu membencimu David Setya Mayndra" jawabku menatapnya penuh arti kemarahan.
David: "Itu tidak akan pernah terjadi Clara, tidak ada tempat yang tidak bisa mas jangkau apalagi jika ada kamu disana. Dan niatanmu untuk meninggalkan mas akan pupus saat sebuah janin akan bersarang dirahimmu atas kejantanan yang akan mas lakukan" mas David tak kalah menatapku penuh ancamannya.
Melliza: "Aku akan menggugurkannya"
David: "Mas baru sadar ternyata kamu wanita yang sangat jahat Clara" sahutnya menatapku tak suka.
Jahat?
Jahat dia bilang? siapa yang jahat sebenarnya?
Siapa yang suka memaksa kehendak orang lain?
Siapa yang dengan sesukanya mengatur dan mengekang dengan siapa aku harus bergaul?
Siapa yang suka mencak mencak kalau keinginannya tidak dipenuhi?
Dan mas David bilang aku jahat?
David: "Apa kamu lupa akan profesimu Clara?" tanyanya yang membuat aku bingung.
Apa masih perlu ditanya profesiku itu apa batinku masih menatap matanya yang tepat dihadapanku karna mas David masih setia menindih tubuh rampingku.
David: "Kamu ingin menggugurkan kandunganmu jika mas berhasil membuatku hamil? dimana letak kemanusiaanmu Clara?"
Aku terdiam, sesaat pikiranku berkelana. Jelas aku tidak akan mungkin melakukan itu, itu hanyalah sebuah ancaman agar mas David gentar tapi nyatanya mas David malah mengira bahwa aku adalah wanita kejam yang akan membunuh janin yang bahkan tidak bersalah.
David: "Kamu selalu berjuang dengan sekuat tenaga agar bisa menyelamatkan pasienmu dan bayinya. Tapi kamu sendiri? kamu malah ingin melenyapkan calon bayi hanya karna itu adalah benih dari mas. Sebenci itukah kamu Clara sama mas sampai kamu memiliki pemikiran yang tega seperti itu?"
Aku benar benar mematung mendengar semua penuturan mas David yang nampak begitu menyudutkanku hanya karna kata menggugurkan yang tidak sengaja terlontar dari mulut manisku.
Melliza: "Kalo aku memang jahat, aku memang sangat membencimu apa yang akan mas David lakuankan?" aku balik bertanya padanya.
David: "Mas akan tetap menikahimu" jawabnya mantap tanpa adanya keraguan disepasang matanya.
Dasar keras kepala batinku.
David: "Seminggu lagi kita akan menikah"
Diam tanpa kata.
Satu kalimat itu yang sekarang sedang mendeskripsikan kondisiku yang masih berada dibawah tubuhnya.
David: "Bersiaplah.. bawa mas ketemu mamah papahmu untuk meminta restu dari mereka" lanjutnya yang semakin membuatku kelabakan.
What?
__ADS_1
Ok mamah memang sudah wafat tapi papah? papah jelas tidak akan merestuinya apalagi dengan kakek. Mereka pasti melarang keras dengan status mas David yang masih suami orang, tidak mungkin juga aku membawa mas David kehadapan keluargaku pasti aku akan dijatuhkan nama baiknya karna dikira merebut suami orang.
David: "Ayo!" kata mas David yang mengulurkan tangannya saat sudah bangkit dari atas tubuhku.
Melliza: "Seminggu lagi apa tidak terlalu cepat mas?" tanyaku canggung.
David: "Tidak, mas malah inginya lebih cepat supaya kamu tidak berniat untuk kabur lagi dari dekapannya mas"
Aku heran kenapa mas David selalu bisa satu langkah pemikirannya didepanku. Menggagalkan rencanaku yang baru saja akan dimulai.
Melliza: "Mas.. nikah ga semudah itu loh mas" aku berusaha terus mencari alasan apalagi dengan niatan mas David yang tadi ingin menemui papah.
David: "Kata siapa? kan mas sudah mengalaminya" sahutnya tak mau kalah.
Melliza: "Aku ga mau pernikahan yang biasa biasa saja loh yah" kataku terus mencari alasan.
CUP
David: "Untukmu tidak ada kata biasa sayang, semuanya harus sempurna" sahutnya setelah mengecup keningku lembut.
Melliza: "Mas David paling tidak prosesnya itu minimal satu bulan atau bahkan lebih" terangku berusaha mengingatnya.
David: "Kenapa mas merasa kamu sedang terus mencari alasan"
Melliza: "Tidak tidak" jawabku cepat dengan menggelengkan kepala.
Melliza: "Kan kalau mau nikah harus daftar ke KUA terus persiapannya seperti foto prewedding, bikin undangan, fitting baju, belum lagi gedung, ketring dan masih banyak lagi pokoknya" kataku sambil menghitungnya satu satu dengan jariku.
David: "Clara ini ga tau yang namanya Wedding Organizer yah? kita serahkan semua pada mereka. Tenang mas pasti akan memberikan yang terbaik untukmu Clara"
Astaga! begitu keras kepalanya orang di hadapanku ini batinku memperhatikan mas David yang berdiri didepanku masih dengan kondisi tubuhnya yang tanpa sehelai kain.
David: "Bukankah kamu bilang waktu kita sedikit? ayo malam ini juga ajak mas kerumah orang tuamu untuk meminta restu"
Melliza: "Ituu... biar aku saja, mas tidak usah ikut aku sendiri yang akan mengatakannya pada mereka"
Ini adalah kesempatan bagus untuk kabur dari mas David, disaat aku berpura pura meminta restu sesungguhnya aku akan pulang dan tidak akan pernah lagi datang ke kota ini. Aku akan meminta bantuan kakek untuk menutup masa magangku tanpa adanya kerugian nantinya.
David: "Apa kamu kira mas ini bodoh Clara?"
David: "Kamu berniat ingin pergi dari mas bukan? lebih baik kamu buang jauh jauh niatanmu itu karna mas akan mengawasimu 7x24jam tanpa lengan sedetikpun" katanya tak luput dari tatapan mata tajamnya.
Melliza: "Ma.. maksud. maksud mas David apa?" tanyaku terbata tak percaya akan yang barusan terucap olehnya.
David: "Mas akan membawamu menginap dirumah mas, tak akan mas biarkan sedetikpun kamu lolos dari sepasang mata ini sampai nanti kamu sah menjadi istri mas Clara" katanya diiringi dengan menunjuk mata kanannya dengan tangan kanannya.
Astaga ya Tuhan kami..
Mengapa Kau hadirkan sesosok manusia seposessive mas David dalam hidupku?
Dan mengapa aku juga harus sangat mencintainya?
__ADS_1
Alasan apa lagi yang harus aku lontarkan untuk bisa lolos dari seorang pria yang telanjang dihadapnku ini