
Mas David masih diam dalam berfikir mencari solusi yang mungkin saja menguntungkan baginya.
Melliza: "Hiks.. hiks.. mas Daviiid.. Aku pengin nasi goreng sea food kesukaanku sekarang hu..hu..hu.." tangisku semakin menjadi karna mas David tak kunjung mengambil keputusannya.
David: "Eh? jangan nangis sayang.. cup cup cup" katanya berusaha menenangkanku.
Melliza: "Aku udah lapeeeer, pengin nasi goreng itu mas! ayoooo" bujukku menggoyangkan lengannya agar melakukan mobilnya kembali.
David: "Tapi..
Melliza: "Tapi apa?!!!" bentakku sambil terus menangis di hadapannya.
David: "Clara bisa tidak kamu menurut apa kata mas"
Melliza: "Hu.. hu.. hu.. kenapa sih hiks.. punya suami cuma satu tapi ga bisa bahagian gini, katanya cinta banget tapi malah bikin nangis. Cintanya cuma bohongan!"
David: "Loh! ini beda ceritanya Clara, jangan sambungkan perasaan mas dengan larangannya mas"
Melliza: "Bodo! mas emang ga bisa bahagian aku, kalau gini mending aku nikah lagi cari cowo yang bisa bahagiain aku terus" sahutku langsung hendak membuka pintu mobil yang akan keluar.
David: "Mau kemana kamu Clara? jangan keluar" mas David langsung mengunci otomatis pintu yang berada disebelahku.
Melliza: "Aku mau cari suami yang lebih baik, mungkin kak Bagas pilihan yang bagus"
David: "Jangan macam macam kamu Clara! dia sekarang sudah menjadi keponakan kamu" kata mas David tidak terima akan ucapanku.
Melliza: "Memangnya kenapa kalau sekarang kak Bagas adalah keponakanku? kalau dia bisa membahagiakanku dan tidak melarang semua keinginanku, aku mau mau saja"
David: "CLARA!!!" bentaknya sambil memukul stir mobil dengan wajah garang yang sedang melihat kearahku.
Melliza: "Hu.. hu.. hu.. tuh kaan, mas David saja masih suka bentak bentak aku. Mas David ga cinta kan sama aku? mas David cuma mau ambil keperawananku saja kan?"
Mas David menarik nafas dan membuangnya kasar sambil mengatur ekspresi wajahnya mas David memejamkan matanya kemudian menatap wajahku dengan penuh kelembutan.
David: "Sayaaang... Mas cinta sama Clara sangat mengekangku malahan, jadi stop jangan nangis lagi ok?" bujuknya dengan lembut.
__ADS_1
Melliza: "Tapi kalo mas David cinta kenapa mas David selalu bentak bentak aku, maksa aku dan selalu melarang semua keinginanku?"
David: "Mulai sekarang mas janji ga akan bentak bentak Clara lagi" katanya sembari mengelap pipiku yang basah menggunakan tisu.
Melliza: "Tapi aku juga ga suka dipaksa terlebih kalau mas David mengekangku"
David: "Mas tidak akan memaksamu dan mengekangmu lagi apa sekarang Clara puas?"
Melliza: "Benarkah? Janji?!!" jawabku antusias.
David: "Iya.. tapi ingat asal Clara masih dalam aturan mas menuruti keinginan mas maka mas tidak akan melarang Clara lagi"
Melliza: "Makasiih" sahutku lalu memeluknya karna merasa kegirangan luar biasa.
David: "Tapi jangan harap mas mengizinkanmu bergaul sembarangan dengan banyak pria terlebih jika kamu masih berhubungan dekat dengan Bagas maka saat itu juga mas akan menghamili mu Clara, mas tidak akan perduli lagi entah pernikahan kita sudah diresmikan atau belum. Kamu dengar mas?" aku hanya mengangguk di dadanya yang terasa begitu hangat saat dipeluk.
Ck. kena juga kan kamu mas David, salah sendiri keras kepala maka jangan salahkan kepintaranku yang pandai mengeluarkan air mata buaya untuk mengelabuhimu.
Untuk masalah kak Bagas tidaklah penting karna pada dasarnya aku juga tidak memiliki perasaan padanya.
Yang terpenting mas David sudah tidak akan lagi memaksaku dan mengekangku itu sudah anugrah terbesar bagiku untuk menghadapi mas David.
Disini aku sekrang duduk terdiam dengan mata tanpa berkedip dan dagu yang disanggah kedua telapak tanganku.
Aku sekarang memang sedang duduk disalah satu bangku penjual kaki lima di persimpangan jalan yang aku inginkan tapi tidak dengan mas David yang duduk menemani disampingku, Karna apa?
Jawabannya karna sifat over protektif mas David yang tak tertandingi itu.
Aku yang duduk dekat dengan tempat memasak sedang heran menatap pria yang berstatus suamiku dengan sifat possessive dan over protektifnya yang berlebihan. Apa kalian tau?
Mas David turun secara langsung memasakkan nasi goreng untukku, dia bahkan sangat bawel saat meminta bumbu bumbu dan udang yang masih segar. Dia berkata bahwa mas David sanggup membayar biaya lebih mahal asal semua yang dia butuhkan terpenuhi termasuk bahan bahan yang masih fresh.
Awas saja nanti kalau rasanya ngalor ngidul, aku bakal maksa mas David memakannya sampai habis tanpa ampun batinku masih melihat mas David yang dengan lihainya memasukkan bahannya satu persatu kedalam wajan yang tadi dicuci kurang lebih sebanyak 4 sampai 5 kali.
Bahkan saat penjual itu menyiapkan tempat sterofom mas David dengan cepat menolaknya beralasan menggunakan tempat itu tidak bagus untuk kesehatan apalagi yang akan dimasukan kedalam sterofom itu adalah makanan panas pasti akan menimbulkan endapan dan jelas akan mempengaruhi makanannya.
__ADS_1
Tapi tak kalah herannya aku saat mas David memasukkan nasi goreng yang sudah dia masak kedalam kotak bekal berwarna biru tua yang sangat aku kenal itu.
Bukankah itu kotak bekalku?
Jadi selama ini mas David masih menyimpannya? aku kira dia sudah membuangnya batinku masih memperhatikannya.
David: "Sudah... ayo pulang" katanya denah membawa kantong ditangan kirinya.
Melliza: "Huh dasar over protektif" sahutku melengos begitu saja meninggalkannya menuju mobil.
David: "Kamu ini kenapa sih Clara? tadi minta nasi goreng sea food, kenapa sekarang malah ngambek ga jelas begitu" perkaranya setelah berhasil masuk kedalam mobil dan duduk disebelahku yang masih manyun.
Ngambek ga jelas dia bilang? Dasar muka tembok batinku.
Melliza: "Mas David rese! kan aku mintanya masakan mamangnya bukan masakan mas David. Nanti bagaimana jika tidak enak?"
David: "Kamu saja belum mencobanya bagaimana bisa mengira masakan mas tidak enak" timpalnya tidak terima.
Melliza: "Gimana mau enak kalau ga pake penyedap" gumamku melihat kerah jendela.
David: "Apa?!!! jadi selama ini kamu makan pakai micin hah?! kamu tau bukan Clara efek sampingnya untuk tubuh manusia jika terlalu sering mengonsumsi bahan makanan yang memiliki pengawet berlebih?"
Melliza: "Mana yang janjinya ga akan bentak bentak lagi?" kataku lirih berusaha mengingatkannya.
Mas David langsung diam karna ucapanku barusan.
Dan diamnya mas David ikut mengiringi sisa perjalan kami menuju apartemenku menggunakan mobilnya.
Melliza: "Sudah cukup sampai disini, mas David langsung pulang saja" kataku saat mobil mas David berusaha masuk kedalam portal gedung apartemen.
Tapi mas David tetap diam tak menjawab hanya terus melajukan mobilnya melewati portal dan melaju kearah basmen apartemen.
Saat mesin mobil dimatikan karna mas David sudah memposisikan mobilnya benar dalam memarkirkannya, mas David langsung turun dan membawa kantong plastik yang tadi dia taruh di kursi penumpang.
Mas David ini aneh sekali, kadang mencak mencak main maksa suka mengatur seenaknya melarang ini itu anu nah sekarang?
__ADS_1
Dia malah bersikap seolah cuek padaku.
Entah sifat apalagi yang berada di dirinya mas David yang belum aku ketahui.