Dr Clara

Dr Clara
Episode 71


__ADS_3

Tidur lelapku terusik karna tubuhku seperti tertimpa sesuatu membuat aku mulai sesak nafas dan tak bisa bergerak.


Posisiku yang sedang tidur dalam kondisi tengkurap ternyata tertimpa oleh tubuh mas David yang juga sedang tidur dengan memeluk perutku erat dan mengunci kedua kakiku.


Perlahan ku buka pelukannya dan berusaha melepaskan diri darinya setelah pergulatan hebat tadi yang tidak mengizinkanku bangkit sama sekali bahkan hanya untuk sekedar ke kamar mandi tak boleh alih alih mas David takut aku nekat meminum pil pencegah kehamilan.


Melliza: "Sudah jam 13:00 WIB?"


"Ssshhhh aduuh" rintihku saat berusaha berdiri dengan tangan yang memegangi perut bagian bawahku yang terasa sangat sakit.


Bahkan saat aku berusaha berjalan untuk menormalkan langkahku rasanya sangat sulit membuat aku harus tertatih tatih dalam melangkah.


Melliza: "Kak Bagas?" kataku lirih saat baru saja kulihat layar ponselku yang menunjukan notifikasi 24 panggilan dan 11 pesan dari kak Bagas.


Sekilas aku lihat mas David yang masih tidur dalam posisi yang sama, kemudian aku berjalan perlahan menjauh hendak meminta maaf pasalnya aku tidak menepati janjimu untuk pergi bersama kak Bagas ke kediaman orang tuanya yang berada di Anyer.


Bagas: "Hallo Rara? Rara dari mana saja kenapa dari tadi dihubungin sangat susah sekali dan sekarang Rara ada dimana? kenapa tadi pacar ketuk pintu tidak ada sahutan sama sekali dari dalam apartemen Rara? Rara baik baik saja kan?" tanyanya beruntun langsung saat aku menelponnya.


Melliza: "Aku baik baik saja kok kak, maaf aku ada urusan mendadak jadi tidak bisa menemani kak Bagas, dan maaf karna tak memberitahu sebelumnya" kataku lirih.


Bagas: "Baiklah tapi lain kali jadi ya?"


Telpon kita pun terputus dengan aku yang mengenal nafas penuh tekanan.


"Apa yang tadi pagi masih kurang sayang?"


Aku langsung tertegun diam tak mau membalikan tubuhku saat telpon itu baru saja terputus sambungannya.


David: "Masih kurang? hmm?" katanya yang sudah membalikkan tubuhku menghadapnya.


Melliza: "Ga mas! Ga!" aku mencoba berontak saat kedua tanganku dicengkeram oleh tangan kirinya dan dinaikan keatas kepalaku saat diriku sudah didorong olehnya membentur dinding.


David: "Tapi sepertinya Clara tidak ada kapok kapoknya jadi mas harus menghukummu lebih dari tadi pagi sayang" mas David mengarahkan miliknya hingga mulai ku rasakan milikku kembali dimasukinya.


Aku menarik paksa tangan yang berada diatas kepalaku lalu dengan erat aku memeluknya, sangat erat.


Melliza: "Aku mohon mas.. ini masih sakit mas, masih sangat sakit" kataku memeluknya.


David: "Jika tahu sakit kenapa masih nekat mendekati Bagas? Hmm?" sahutnya membelai kepala.


Melliza: "Aku tidak mendekatinya mas.. Aku tidak mendekatinya!" aku mendongak melihat kerah wajahnya.


Dia tersenyum seketika dalam tangisku, dengan lembut dia membelai pipiku dan menyambar bibirku dengan lihai. Menciumnya penuh rasa ingin memiliki.


David: "Mas sudah minta izin kepada pihak Rumah Sakit untuk memberikan cuti selama dua hari untuk kita, dan selama itu mas akan memanfaatkannya untuk memenuhi rahimmu. Jadi Clara harus mulai mempersiapkan diri menjadi wanita hamil karna mas tidak akan melepaskanmu sebelum benih yang mas tabur menjadi sebuah janin"


Honeymoon yang dikatakan oleh masa David hanyalah omong kosong belaka pada kenyataannya honeymoon yang kita lakukan hanyalah melakukan aktivitas di atas ranjang selama berjam jam bahkan Mas David hanya melepaskanku di saat jam jam makan atau dikala dia ingin tubuhku beristirahat terlebih dahulu mengisi amunisi kembali sebelum nantinya akan diserang lagi oleh.


Bahkan honeymoon yang kita tempati hanyalah sebuah apartemen yang jaraknya tidak jauh dari apartemenku dia hanya tidak ingin mendapat gangguan entah itu dari siapapun yang akan datang mengganggu di kala dia sedang menikmati tubuh yang sudah menjadi candu baginya.


Hampir dua bulan telah berlalu dengan mas David yang selalu menggauliku tanpa hentinya di setiap malamku membuat aku benar benar takut karena pasalnya sampai saat ini aku belum juga mengalami menstruasi.


Aku mulai merasakan tubuhku tidak sekuat waktu itu pinggulku terasa nyeri dan yang paling aneh adalah perutku terasa sangat aneh tidak seperti biasanya.


Rasa takut itu langsung merayapi sekujur tubuhku saat di mana aku sedang menantikan detik detik hasil dari sebuah benda kecil yang akan menunjukkan sebuah kenyataan yang akan mempengaruhi masa depanku.


Mataku melebar, mulutku terbuka, tubuhku terpundur hingga mentok sampai salah satu dinding kamar mandi dan terjatuh kelantai.


"A.. aku, aku hamil? ha.. hamil?"


Tangan kananku secara refleks menyentuh permukaan kulit perut bawahku.


Melliza: "Kenapa? kenapa kau harus hadir?"


Melliza: "Banyak orang yang tidak mengharapkan keberadaanmu termasuk aku"


Melliza: "Aku memang tidak mengharapkan kehadiranmu tapi aku juga bukan wanita jahat yang mengambil hak hidup seseorang"


Aku meringkuk memeluk kedua lututku dan menangis meratapi kenyataan yang akan semakin membuat aku tersiksa kedepannya.


Melliza: "Mas David.. Mas David tidak boleh tahu tentang kehamilanku, jika dia samapai tau sikap possessive dan over protektifnya akan semakin meningkat dan aku tidak akan bisa terlepas lagi dari jeratannya"


Melliza: "Bagaimana? bagaimana cara aku menyembunyikannya?"


Rasa khawatir itu langsung benar benar terjadi setelah lima hari aku mengetahui kehamilanku.


David: "Sudah hampir tiga bulan kenapa Clara belum menstruasi juga? mungkinkah dia sudah berada disini?" tanyanya mengelus perutku.


Jelas mas David paham jika aku belum menstruasi karna hampir disetiap malamku, aku selalu ditidurinya melayani nafsunya yang tak ada hentinya.


David: "Ayo!" ajaknya bangkit dari sofa depan tv.


Melliza: "Kemana?" aku menahan tanganku yang ditarik olehnya.


David: "Memeriksanya agar mas tahu sudah ada janin atau belum di rahim kamu sayang"


Aku berjalan mengikutinya dari belakang dengan tangan yang selalu dia gandeng disetiap langkahnya.


David: "Ini" mas David menyerahkan benda yang disebut tespek.


Melliza: "Tunggu disini"


David: "Mas akan memastikannya langsung dengan melihatnya sendiri.

__ADS_1


Aku menelan ludahku susah payah saat mas David ikut kedalam bahkan memperhatikan dengan jeli saat aku menyimpan air maniku disebuah gelas kecil.


David: "Masukan" katanya penuh nada memerintah.


Perlahan aku pun mencelupka tespek pemberian mas David kedalam gelas kecil.


Untuk pertama kalinya mas David tidak memperhatikanku disaat kami hanya berdua, dia lebih fokus melihat gelas itu.


"Aaawhh" rintihku memegangi perutku.


David: "Kenapa Clara?!" mas David langsung memegang bahuku dan raut wajah khawatir mulai nampak dimukannya.


Melliza: "Entah.. mungkin karna telat makan"


David: "Sekali lagi mas dengar Clara telat makan, mas yang akan memakanmu sampai habis"


Aku hanya tertunduk dengan rasa gelisah.


David: "Minggir dulu mas mau ambil tespeknya"


Ya Tuhan ku mohon bantu aku batinku.


Mas David mengambilnya dan seketika itu pula mas David langsung menarik tatapannya dari tespek kemudian kearah wajahku.


Melliza: "Ke.. kenapa?" tanyaku ragu.


Alis mas David terangkat sebelah dan wajahnya tak menunjukan ekspresi sama sekali.


David: "Jadi.. Clara belum hamil juga?" tanyanya dengan tatapan tajam tanpa ekspresi.


David: "Baiklah.. Mas akan terus berusaha"


Melliza: "Tapi malam ini aku tidak mau melakukannya"


Aku tidak ingin menyakiti janin yang aku kandung, bagaimanapun ini sudah terjadi, kehamilan di bulan bulan pertama sangat memiliki resiko tinggi mengalami keguguran terlebih jika melakuan hubungan suami istri yang tidak benar dan terlalu sering itu juga dapat menjadi pemicu terbesarnya.


David: "Baiklah mas hanya ingin tidur sambil memelukmu sayang" belainya lembut.


CUP


David: "Kita bobok sekarang yah" katanya lembut setalah mencium keningku.


Kurasakan kenyaman saat mas David menyibakan bajuku lalu menciumi perutku.


David: "Kapan kau akan hadir kedunia ini untuk melengkapi hubungan daddy dan mommy sayang?" katanya dengan mendusel dusel diperutku.


Mas David mulai terlelap setelah rancaunya diperutku, dia memeluk erat tubuhku dengan wajah yang masih menempel diperutku.


Maaf karna aku menyembunyikannya darimu.


Sebenarnya tadi sewaktu aku mengaduh kesakitan, aku berusaha keras mengalihkan pandangannya agar aku bisa menukar tespek yang aku sediakan dengan hasil negatif. Dan itu sepertinya berhasil mengelabuhinya untuk sementara waktu.


.


.


.


Hari berlalu dengan mas David yang masih ingin membuatku hamil, tapi aku selalu menolaknya dengan beribu ribu alasan yang tidak bisa ia paksakan.


Dan sudah selama ini semenjak kejadian mas David nekad ingin menghamiliku hubunganku dengan kak Bagas lumayan renggang karna aku yang juga menjauhinya dan dia juga yang mulai tak mengusikku.


Hingga akhirnya aku tahu alasan dia mulai tak mengusikku lagi saat aku tak sengaja melihatnya disalah satu kafe dekat Rumah Sakit.


Aku berdiri dihadapannya yang sedang duduk berdua dengan seorang wanita yang mungkin lebih muda sedikit dariku.


Bagas: "Ra.. Rara?"


"Ooooh jadi ini Rara si dr. Melliza itu beb?" kata sang wanita itu bertanya pada Bagas dengan sebutan beb.


Melliza: "Kamu kenal aku?" tanyaku heran.


"Kenal dong.. kenalin nama aku Mita pacarnya ayang beb Bagas"


Melliza: "Pa.. pacar?"


Bagas: "Aku bisa jelasin Ra! kamu jangan salah paham dulu" kak Bagas nampak kelimpungan.


Mita: "Mending dr. Melliza duduk sini supaya enak waktu nangkap penjelasan pacar Mita" serunya yang menunjuk kursi dihadapan mereka.


Kak Bagas nampak mengambil nafas dengan memejamkan matanya.


Melliza: "Jadi.. apa yang mau dijelaskan?" tanyaku langsung yang melihat sepasang kekasih ini malah saling lempar pandangan.


Aku tidak cemburu sama sekali, karna pada dasarnya aku tidak memiliki perasaan apapun terhadap kak Bagas.


Bagas: "Harus mulai dari mana ini yah?" kak Bagas malah bingung akan penjelasan yang ingin dia sampaikan.


Melliza: "Langsung keintinya saja jangan berbelit" sahutku tak mau membuang waktu istirahat jam praktekku.


Bagas: "Intinya?" aku mengangguk akan pertanyaannya.


Bagas: "Ok! intinya aku tahu tentang hubungan Rara dengan om David"

__ADS_1


WHAT


Melliza: "Hah? Apa apa? hubungan aku dengan pak David? memangnya ada hubungan apa antara aku sama pak David? dulu iya aku ini dokter magang yang dia bimbing tapi sekarang kita tidak memiliki hubungan apa...


Bagas: "Hubungan suami istri" potongnya.


Bagas: "Jangan mengelak Rara, aku tahu semuanya"


Melliza: "Apa yang kak Bagas tau"


Bagas: "Jangan memanggilku kak lagi karna kenyataanya sekarang aku sudah menjadi keponakan Rara, seorang tante yang aku idam idamkan"


Mita: "Beeeb!" kak Bagas hanya tersenyum menanggapi sang pacar yang sepertinya tidak suka akan ucapannya.


Ini serius kak Bagas tahu tentang hubungan aku sama mas David pamannya?


Melliza: "Sejak kapan kak Bagas..


Bagas: "Panggilnya Bagas tante Rara" intrupsinya.


Melliza: "Lupakan! sejak kapan kau tahu tentang hubunganku dengan.. dengan pak David?"


Bagas: "Maksud Rara mas David?"


Aku langsung diam membisu pasalnya keponakan mas David ini ternyata mengetahui tentang hubungan terlarang kami.


Bagas: "Aku tahu sejak belum ikut praktek Rumah Sakit, sebenarnya alasan terbesarku ikut jadi dokter di RS papih juga karna hubungan kalian"


Bagas: "Jadiiii.. semenjak om David berubah karna menikahi wanita busuk itu om David menjadi pribadi yang tertutup dan tak mau menunjukan ekspresinya sama sekali. Bahkan ekspresi marah pun tidak pernah, lempeng lempeng saja" katanya mulai menerangkan.


Bagas: "Lalu ada suatu hari om David marah padaku karna menggantungkan perasaan wanita, dia berkata bahwa wanita tak cuma cukup dengan hubungan meraka juga menginginkan status yang pasti untuk mendasari sebuah hubungan"


Bagas: "Dan disitu aku merasa om David mulai berubah, dia lebih cenderung marah emosi dan tidak bisa mengontrol ucapanya jika sudah marah meluap luap"


Bagas: "Aku hanya bisa memprediksi jika seorang pria dewasa seperti om David sampai bersikap sepeti itu, itu pasti karna ada sosok perempuan yang mendasari sikapnya"


Bagas: "Aku mulai mencari tahu karna aku yakin bukan wanita itu yang mengubah kepribadian om David yang menjadi pemarah, pasti om David memiliki wanita lain dihidupnya"


Bagas: "Aku memulainya dari ponselnya, disitu aku heran karna untuk pertama kalinya dalam hidupku aku menemukan ponsel om David menggunakan sebuah kunci sandi menggunakan kata. Dan aku semakin yakin jika didalam ponsel itu pasti ada sesuatu hingga om David tak ingin orang lain bahkan keponakan tersayannya ini tahu"


Bagas: "Aku memulai dari namanya, nama kakekku yang menjadi panutannya dan berbagai nama yang menjadi landasan hidup om David"


Bagas: "Entah keberuntungan dari mana, kamu malah membantuku memecahkan sandinya"


Melliza: "Aku? kenapa bisa aku?"


Bagas: "Karna saat aku mulai penat akan teka teki wanita rahasia om David, aku mulai mendapat titik terang saat ponsel itu berdering yang menunjukan nama Clara dilayarnya"


Bagas: "Aku mencoba peruntungan terakhir kalinya sebelum om David keluar dari kamar mandi"


Bagas: " Dan aku benar benar terkejut tenyata dugaanku benar bahwa sandi itu menggunakan sandi berkata Clara"


Bagas: "Tapi keterkejutanku tidak sampai disitu saja, aku lebih terkejut saat melihat wallpaper layar depan om David yang menampakan wajahmu sedang.. sedang..


Melliza: "Sedang apa?" tanyaku penasan.


Kak Bagas malah tersipu malu dan mengalihkan pandangannya.


Bagas: "Rara bisa mengeceknya sendiri di ponsel om David, aku tak mau membayangkannya lagi"


Bagas: "Dan tenang.. Aku belum sempat sampai membuka galeri fotonya kok jadi Rara bisa bernafas lega sedikit karna waktu itu niatanku terhalang oleh om David yang keluar dari kamar mandi"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sebenarnya tidak hanya ini kartu As yang gue miliki masih ada beberapa lagi hanya saja ini yang menurut gue paling BOOM


Dan untuk kalian yang masih menerka nerka akan jalur cerita ini mohon sedikit bijak dalam memberikan analisis jangan kalian menodong Gue untuk memberikan up 10 episode sedangkan kalian menerka analisis itu dengan cerita yang sudah gue jabarkan yang secara otomatis kalian bukan menerka tetapi menjiplak apa yang sudah gue suguhkan.


Dan kalau masih ada yang berkomentar part ini terlalu pendek dan kurang panjang gue ikat mulut lo lo pada ya! ini salah satu part terpanjang yang menguras otak gue sehingga menghasilkan 2000 kata lebih.


Happy reading gaes😊

__ADS_1


__ADS_2