
'Maaf mas tidak bisa melakukannya'
Ku sunggingkan senyuman mencela betapa rendahnya diriku terperangkap dalam hubungan yang sama sekali tidak menguntungkan bagiku.
Mendengar jawabannya membuat aku langsung menepis tangannya yang masih mencengkeram lenganku kuat.
Melliza: "Kalau begitu... kita akhiri disini" kataku melangkah mundur memberi jarak diantara aku dan dirinya.
David: "Apa maksudmu Clara?" katanya berusaha mendekat kearahku.
Melliza: "STOP!!! jangan mendekat" aku mengangkat tangan kedepan berusaha menghalang langkahnya.
Melliza: "Apa cara halusku mengungkapkannya masih kurang jelas Bapak David Setya Mayndra? kita putus! anda dengar? P.U.T.U.S"
Setelah mendengar penuturanku mas David langsung meraih tanganku dan menariknya.
David: "Apa yang kamu katakan Clara? PUTUS? Kamu memutuskan hubungan dengan mas? Iya Clara?!" bentaknya menggenggam pergelangan tanganku kuat.
David: "Tidak ada kata putus diantara kita Clara.. sekarang, nanti atau kapanpun itu tidak akan pernah ada. TIDAK AKAN! Kau dengar itu?!" mas David semakin kencang menggenggam pergelangan tanganku yang tak sebanding dengan tanganya.
Melliza: "Hahaha... kau lucu sekali pak David" sahutku berusaha menahan rasa sakit di pergelangan tanganku.
David: "Jangan sebut aku dengan panggilan itu lagi Clara! Kau masih kekasih ku dan selamanya akan seperti itu"
Melliza: "Kekasih pak David? selamanya?... Huh! indah sekali hidup anda pak David" sahutku dengan menyunggingkan senyuman menghina.
Melliza: "Terserah anda mau terima atau tidak.. Tapi keputusanku sudah jelas, aku mau kita putus! Dan mulai sekarang menjauhlah dariku"
David: "Mas tidak akan menjauh darimu Clara apalagi putus denganmu"
Melliza: "TERSERAH! Bukan perkara sulit bagiku untuk menjauh dari anda dr. David Setya Mayndra"
David: "Sudah mas katakan kamu milik mas jangan macam macam untuk menjauh dari mas Clara, atau kamu terima akibatnya jika mencoba melakukannya" ancamnya tepat didepan mataku.
Melliza: "Aku tidak perduli" jawabku berlaga sok cuek akan ucapanya.
David: "CLARA!!! KAM...
Tok. Tok. Tok.
"Raraaaa.... Kamu didalam? ini calon pacar didepan pintu Racanhai"
Kata seseorang berhasil menghentikan mas David yang hendak mendorong tubuhku kedinding.
Aku menatap mas David sekilas lalu merapikan penampilanku agar tidak mengundang kecurigaan dimata pria yang bukan lain adalah kak Bagas. Lalu aku melangkah menjauh dari tempat mas David berada.
"Raraaaa? kau dengar tidak?"
Melliza: "Masuk saja kak" sahutku memepersilahka kak Bagas masuk.
__ADS_1
Pintu terbuka seiringan dengan masuknya kak Bagas dalam ruanganku.
Entah mengapa hari ini aku tidak ada jam praktek terlebih tidak ada pasien yang hendak pemeriksaan kandungan, tapi jam santaiku harus mendapat beberapa tamu yang benar benar tidak aku harapkan sebelumnya termasuk kedatangan mas David yang tadi dipenuhi amarah meluap luap.
Bagas: "Haduh Ra kok kam.. Loh! ada om David juga disini?" Kak Bagas melihat keberadaan mas David yang masih berdiri di dekat dinding.
Mas David tidak menjawabnya hanya melihat kak Bagas lalu melirik kearahku, aku tahu apa yang sekarang berada di pikirannya.
Bagas: "Om sedang apa diruangan calon wanitaku?" tanyanya tanpa rasa malu.
David: "Berhenti menyebutnya wanitamu Bagas.. dr. Melliza buka milikmu dia sudah memiliki kekasih apa kamu lupa itu?!" bantahnya.
Bagas: "Om David kenapa sih? kan aku bilangnya calon om, masih ada kesempatan bagiku selagi belum ada hubungan serius diantara mereka bisa saja kan mereka putus" sangkal kak Bagas.
David: "Bagas kamu..
Melliza: "Kamu memiliki kesempatan itu kak Bagas, kesempatan menjadi kekasih ku dan menjadikanku sebagai wanitamu" aku memotong cara bicara mas David yang langsung mendapat lirikan tajam yang mematikannya atas ucapanku.
Bagas: "Benarkan Ra?" dia bertanya seantusias mungkin.
Melliza: "Tentu saja, peluangmu sangat besar" jawabku dengan melirik balik mas David.
Bagas: "Bagaimana dengan dokter bedah itu? apa kamu berusaha berselingkuh denganku Rara?"
Melliza: "Apa aku ini terlihat tipe tipe wanita yang suka menduakan kekasihku?" tanyaku pada kak Bagas yang langsung ditanggapi dengan gelengan kepala.
Melliza: "Aku ini tipe wanita yang setia pada satu pria jadi mana mungkin aku berselingkuh meski yang menyukaiku banyak seperti antri pengambilan sembako"
Melliza: "Aku baru saja putus dengannya" jawabku santai tanpa memperdulikan keadan mas David.
Bagas: "Benarkah? kau sudah putus dengannya? berarti aku benar benar miliki peluang menjadi kekasihmu"
Melliza: "Kamu mendapat peluang besar itu kak Bagas, manfaatkanlah selagi aku masih sendiri"
Aku dan mas David selalu beradu lirikan seolah sedang berperang dalam diam.
Bagas: "Kamu dengar itu om? akhirnya setelah sekian lama aku hanya mengeluh padamu dan selalu meminta saran, tanpa berbuat banyak kesempatan itu datang padaku" dia menatap mas David seolah mengajak berkomunikasi, sedangkan yang diajak mengobrol fokus melihatku yang hanya diam melihatnya.
David: "Jangan terlalu melambung tinggi Bagas, kamu belum tahu pastinya bukan dr. Melliza ini beneran putus dari kekasihnya atau belum bisa saja dia hanya berasumsi sendiri tanpa meminta persetujuan dari cowonya.. bukankah itu sama saja nanti kamu hanya menjadi selingkuhnya" sahutnya masih menatap mataku tajam.
Bagas: "Aku tidak perduli, mungkin menjadi selingkuhannya tidak buruk. Aku akan berjuang sampai hanya ada aku dihatinya" jawaban menohok yang berhasil membuat mas David melotot dan membuat aku tersenyum puas setelah mendengarnya.
Melliza: "Anda jangan terlalu khawatir pak David, aku tidak akan menyelingkuhi keponakan anda yang tampan ini. Aku sudah pastikan bahwa aku telah putus dengan kekasih ku sebelumnya" aku menyahut perkataan Bagas yang semakin membuat raut wajah mas David semakin merah padam.
Bagas: "Benarkah Ra! Jadi kamu mau menjadi wanitaku?" katanya lalu mendekatiku.
Melliza: "Tentu saja kenapa tidak, kau tampan dan aku cantik kita akan menjadi pasangan yang diirikan semua pasang mata yang melihat kita. Benarkan pak David Setya Mayndra?" kataku lalu menoleh melihat kearahnya menunjukan rasa perlawananku bahwa aku tidak takut akan ancamannya.
Bagas: "Jadi.. mulai sekarang kita jadian?" tanyanya dengan senyum sumringah.
__ADS_1
Melliza: "Tidak secepat itu juga kak Bagas, bagaimana jika nanti mantan kekasih ku mengira bahwa aku memutuskannya karna berselingkuh darinya?"
Bagas: "Kamu benar juga Ra... baiklah aku akan menunggu sebentar lagi untuk menjadi kekasihmu, dan saat itu tiba aku akan menjadi pria yang beruntung telah mendapatkan kasih sayang darimu" lalu kak Bagas memelukku.
Sebenarnya aku ingin menolak pelukannya, tapi setelah melihat mas David mengepalkan tangannya hingga urat urat tangannya nampak jelas membuat aku harus bertahan pada posisi seperti ini.
Melliza: "Menunggulah kak, sampai hari itu tiba aku tidak akan membuatmu menunggu lama lagi" sahutku lalu melingkarkan tanganku pada tubuhnya untuk membalas pelukannya.
Aku dan kak Bagas hanyut dalam pelukan kami, aku yang memejamkan mata mencoba merasakan aroma tubuhnya dan memejamkan mataku.
David: "Apa yang kalian lakukan? ini Rumah Sakit Bagas, meski ini Rumah Sakit milik ayahmu tetap kamu tidak boleh bertingkah seperti itu terlebih masih ada om disini, apa kamu tidak memiliki rasa sungkan lagi padaku?" kata datar itu berhasil membuat kak Bagas melepaskan pelukannya.
Hanya berpelukan menjadi masalah? kau bahkan melakukan lebih dari sekedar pelukan mas David yang penuh dengan kelicikan batinku menatapnya.
Bagas: "Maaf om, aku terlalu hanyut dengan perasan senangku" jawabnya menunduk.
Sepertinya kak Bagas ini sangat menghormati mas David sebagai pamanya.
Melliza: "Kak Bagas bisakah nanti kamu mengantarku pulang? aku tidak membawa mobilku"
Bagas: "Tapi pasienku masih koma Rara, aku harus mengawasinya bersama om David" sahutnya mengelus pipiku.
Panaskan? rasakan itu mas David, kau berhak merasakan sakit hati itu batinku melirik kearahnya.
Melliza: "Hanya sebentar tidak lama, cukup mengantarkan saja. Katanya kak Bagas mau CLBK lagi sama aku, aku serius mengawali hubungan ini dan berniat memberitahukan tempat apartemenku agar kak Bagas tidak usah menungguku di lobby jika akan menjemputku lain waktu"
Melliza: "Bukannya tadi kak Bagas bilang menjaganya bersama pak David, kenapa tidak menitipnya sementara waktu saja. Aku mohon kakak tahu kan aku ini wanita yang suka di manja oleh kekasihnya" aku terus bercuap cuap agar kak Bagas setuju akan keinginanku.
Bagas: "Baiklah baiklah.. nanti aku antar kamu pulang"
David: "BAGAS!" bentaknya tidak menyetujui.
Bagas: "Hanya sebentar om.. setelah mengantar Rara aku akan langsung kembali lagi kesini" aku kegirangan karna telah berhasil membujuknya kemudian aku memeluk lengannya.
Ku tengok jam tanganku menujukkan waktu bahwa aku harus memeriksa keadaan pasienku yang kemarin berhasil melakukan operasi caesar.
Melliza: "Kak seperti aku harus pergi dulu" kataku mendongak melihat kearahnya yang cukup tinggi bahkan lebih tinggi dari mas David.
Bagas: "Baiklah.. lakukan tugasmu terlebih dulu Rara, nanti aku tunggu kamu di loby" jawabnya tersenyum manis padaku.
Karna rasa yang belum puas membuat jantung mas David mencuat aku putuskan untuk menarik lengannya mendekat kearah wajahku dan...
CUP
Ku kecup pipi kanannya yang berhasil membuat kak Bagas mematung tak bergerak. Ku lontarkan senyuman semanis mungkin kearahnya agar kak Bagas semakin terpikat olehku.
Melliza: "Setelah ini jangan dicuci wajahnya ya kak, agar kecupanku tetap bersemayam di pipi kak Bagas" kataku cekikikan kemudian berjalan kearah keluar pintu, tapi sebelum itu untuk terakhir kalinya aku ingin menyapa mantan kekasih ku yang sudah menahan amarah karna wajah merah padam dan kepalan tangannya yang kuat.
Melliza: "Saya pamit dulu pak David eh maksud saya calon paman" kataku lalu undur diri dengan sejuta senyuman yang bertebaran diraut wajahku dengan rasa puas yang luar biasa.
__ADS_1
Rasakan dan nikmatilah mas David, agar kamu tahu bagaimana rasanya diduakan.