Dr Clara

Dr Clara
Episode 61


__ADS_3

Karna letih menangis disetiap jalan menuju bandara, aku akhirnya tertidur didalam pesawat hingga tanpa sadar aku sudah berada disebuah kamar yang sangat betul betul aku kenali.


Melliza: "Aku dirumah?" gumamku mengamati setiap barang yang ada didalam kamar itu.


Dan aku terhenti saat pandanganku menatap sebuah figura foto berukuran cukup besar yang menampakkan seorang gadis cantik yang memakai kebaya super minim bahan dengan sekarang pria paruh baya yang rambutnya sudah mulai memutih banyak.


Aku tersenyum saat melihat pria itu, dia lah satu satunya yang selalu melindungiku dari dulu sampai sekarang. Dialah yang memberikan semua kebahagian yang aku inginkan. Dia yang berjuang untuk tetap mengasah otaknya memaksa tubuhnya agar tetap kuat sampai nantinya aku bisa berdiri sendiri.


"Caca kecilku sudah bangun rupanya"


Suara dari arah pintu kamarku mengalihkan perhatianku dari foto wisuda S2 ku.


Melliza: "Kakek?!!"


Aku langsung bangkit dari tempat tidurku dan berlari kearahnya. Ku peluk tubuhnya erat menyalurkan rasa rindu karna sudah tidak bertemu cukup lama.


Kakek: "Pria tua ini kira gadis kecilnya sudah lupa untuk pulang" katanya dengan membalas pelukanku dan membelai rambutku lembut.


Melliza: "Maaf kek, Caca disanakan sibuk kerja jadi tidak sempat menjenguk kakek disini" kataku berbohong padanya.


Kakek: "Oh benarkah? kakek kira kamu sudah memiliki seseorang hingga lupa pada kakekmu ini"


Mas David?


Aku baru tersadar, aku harus tau apa yang sebenarnya terjadi semalam waktu aku berada di Rumah Sakit. Atau jangan jangan semenjak aku sift dua mas David memang selalu sekamar dengan mbak Vanessha?


Kakek: "Caca sekarang mandi, lalu habis itu turun yah kita makan siang bersama. Tadi pagi Caca belum sarapan nanti bisa sakit kalau lama tidak diisi perutnya"


Melliza: "Baik kek nanti Caca turun kalau sudah selesai"


Sepeninggalnya kakek dari kamarku, aku mencari ponselku seperti orang kesetanan.


Melliza: "Dimana ponselku?"


Aku mengobrak abrik tasku yang tadi ku gunakan saat pulang kemari.


Aku menarik selimut dan bantal tapi diatas ranjang pun tidak ada.


Aku berlari keluar kamar mencari keberadaan Mus untuk menanyakan perihal ponselku siapa tau dia mengetahuinya.


"Mus! Muuuus!" teriakku diiringi langkah cepatku menuruni anak tangga.


Kakek: "Pelan Caca! nanti jatuh"


Melliza: "Dimana Mus kek?" kataku mendekati kakek yang sedang duduk disofa dengan pandangan yang menyapu sekeliling mencari keberadaan Mustofa.

__ADS_1


Kakek: "Kenapa Caca mencari Mustofa? dan kenapa belum mandi juga"


Melliza: "Ponselku kek.. ponselku tidak ada"


Kakek: "Ooh ponsel toh.. Siti tolong ambilkan bingkisan di meja kamar saya" perintah kakek pada salah satu pelayan rumah.


Tak lama mbak Siti pun datang dengan membawa paper bag berwarna putih.


Siti: "Ini tuan" katanua dengan menyerahkan paper bag putih itu.


Kakek: "Berikan pada Caca"


Mbak Siti pun menyerahkan paper bag itu padaku.


Melliza: "Ini apa kek?" tanyaku penasaran dan sedikit mengintip isinya yang berbentuk kotak berukuran lumayan kecil.


Kakek: "Itu milikmu Caca"


Melliza: "Ponsel?" aku heran saat ku dapati isi paper bag itu ternyata adalah ponsel pengeluaran terbaru tahun ini yang memiliki ciri khusus bergambar apel keroak.


Kakek: "Itu ponsel barumu.. waktu itu kakek sudah berjanji kan kalau Caca berhasil menyelesaikan masa magang maka kakek akan memberikan ponsel yang waktu itu Caca inginkan? dan itu sekarang menjadi milik Caca"


Aku tidak butuh ponsel baru, yang aku butuhkan ponsel lamaku dan kabar dari mas David. Bagaimana reaksinya kalau tahu aku pulang tapi tidak berpamitan secara langsung dengannya.


Melliza: "Tapi ponsel lamaku kek... semua kontak teman temanku ada di ponsel itu"


Melliza: "Benarkah?"


Aku langsung mengeceknya, memang benar semua kontak yang ada di ponsel lamaku telah tersimpan disini tapi tunggu..


Dimana?


Dimana nama mas David?


Kenapa nomornya sama sekali tidak ada


Aku trus mencarinya dengan teliti, membacanya satu persatu agar tidak terlewatkan. Tapi aku tetap tidak menemukannya. Tidak menemukan kontak bernama mamas itu.


Kakek: "Jika Caca mencari kontak yang bernama mamas maka maafkan kakek karna tidak menyimpannya" penuturan kakek berhasil mengalihkan pandanganku dari ponselku.


Kakek: "Kakek ingin mulai sekarang Caca menjauhinya, melupakannya dan membuang jauh jauh pikiran tentang dia"


Kakek: "Dia bukan pria baik untukmu Caca, lupakan dia! Lupakan David"


Aku tertegun, setelah mendengar perkataan kakek. Kakek tau kontak itu milik mas David? tapi kenapa bisa tahu aku bahkan selalu menghapus pesannya agar tidak membuat Marsya curiga saat mengotak atik ponselku.

__ADS_1


Lalu kakek tahu dari mana?


Melliza: "Kakek tahu itu milik pak David?"


Kakek: "Kakek tahu.. Kakek tahu semuanya Caca, semuanya!"


Aku menelan susah payah salivaku, rasanya begitu kering tenggorokanku setelah mendengar pernyataan bahwa kakek sudah mengetahui semuanya.


Melliza: "Apa.. apa yang kakek ketahui?" tanyaku ragu ragu.


Kakek: "Semuanya kakek tahu.. hubunganmu denganya dan juga..


Kalimat kakek terhenti sejenak.


Kakek: "Dan juga perihal pernikahan rahasia kalian"


Jantungku rasanya berhenti berdetak saat mengetahui kakek benar benar mengetahui tentang pernikahanku.


Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa, mungkin kali ini kakek akan sangat kecewa padaku karna pasti dia akan berpikiran bahwa aku ini adalah wanita murahan karna mau saja dinikahi secara diam diam dan lebih parahnya lagi aku mau saja dijadikan istri kedua.


Melliza: "Maaf kek, maafkan Caca"


Aku berdiri tertunduk dihadapannya karna merasa malu padanya. Pada orang yang sudah bersusah payah merawatku dan membesarkanku dengan penuh kasih sayangnya. Orang yang memaksakan fisiknya yang sebenarnya sudah tidak kuat lagi untuk bekerja hanya demi aku cucunya yang rendahan ini.


Kakek: "Lupakan dia dan kakek akan memaafkanmu"


Aku masih tertunduk, bahkan setelah mendengar kata kata bahwa aku harus melupakan mas David rasanya begitu perih dan menyakitkan hingga akhirnya aku pun menangis.


Kakek: "Caca menangis karna membuat kakek kecewa atau karna kakek menyuruh Caca melupakannya?"


Aku tidak tahu


Aku sungguh tidak tahu kali ini aku menangis karna apa, aku memang sedih telah membuat kakek kecewa tapi kenapa setelah mendengar bahwa aku harus melupakan mas David mataku tak tahan lagi dan ingin menangis.


Kakek: "Apa Caca mencintainya?"


Aku mendongak dan melihat kearah kakekku yang masih duduk dihadapnku.


Kakek: "Kakek tidak menyalahkan perasaanmu terhadapnya, tapi apa sebelum menikah dengannya Caca tidak memikirkan akibatnya? Apa Caca tidak memikirkan Kakek? Apa Caca juga tega menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain? Apa kakek mendidik Caca seperti itu dulu?"


Aku menggeleng lemah setelah mendapat pertanyaan bertubi tubi yang langsung menusuk relung hati terdalamku.


Melliza: "Aku memikirkannya kek, aku memikirkannya! Tapi mas David dia...


Aku terseka oleh isak tangisku.

__ADS_1


Kakek: "Apa dia mengancam Caca?!" kakek berdiri dari duduknya dengan nada suara yang dinaikan setelah menebak apa yang berada dikepalaku.


Kakek: "DAVID!! Beraninya kau mengancam cucuku dan menghancurkan masa depannya hanya demi dendammu. Aku tidak akan memaafkanmu kali ini David. TIDAK AKAN!!!"


__ADS_2