
Sangat sangat percuma membujuk mas David, keputusannya selalu mutlak tidak ingin diganggu gugat. Maka dari itu sekarang aku pun tinggal dirumah mas David dan menempati kamar depan yang dekat ruang tamu, tapi jangan bayangkan kamar itu akan terisi olehku setiap malamnya karna mas David selalu memboyongku ke kamarnya dan tidak pernah membiarkan ku tidur sendiri atau lebih tepatnya mas David tidak ingin tidur sendiri kalau tidak dikelonin olehku.
Seminggu sudah aku tinggal di rumah suamiku yang harus bersanding dengan istri pertamanya. Tapi mbak Vanessha rasanya tidak menaruh curiga sama sekali padaku perihal aku yang menginap dirumah suaminya itu.
Flashback on
Saat hari pertamaku pindah kerumah mas David yang bertepatan pula dengan hari liburku dan juga mas David, tanpa diduga kita bisa makan malam satu meja. Iya aku, suamiku dan istri pertamanya.
Rasa canggung langsung melumuri diriku, ditambah lagi sifat mas David yang langsung pendiam seperti biasa karna dihadapan orang lain.
Vanessha: "Jadi lo mau nginep disini sementara?" tanyanya disela kegiatan makan kita.
Aku hanya mengangguk dan membenarkan perkataannya.
Vanessha: "Oooh.. semoga betah ya, gue seneng kok ada lo disini jadi besok besok bisa minta masakin bubur jagung lagi kaya kemarin. Bubur lo enak"
Setelah mendengar perkataan mbak Vanessha yang mungkin menurut kalian biasa saja beda halnya dengan aku yang tidak akan berani menatap suamiku yang pasti sekarang sedang menatapku dengan rasa ingin tau.
Ya waktu itu dia melarang keras agar aku tidak memasak siapa sangka bahwa mbak Vanessha akan membocorkan rahasia kecilku ini dihadapan mas David.
Aku yang memang duduk berhadapan dengan mas David tak mau lagi menatapnya, aku selaku menfokuskan pandanganku pada mbak Vanessha yang duduk disebelah kiriku.
Vanessha: "Sini deh" mbak Vanessha menintruksikan agar aku mendekat kearahnya.
Melliza: "Kenapa mbak?"
Mbak Vanessha menarik bahuku dan mendekatkan telingaku kearah bibirnya.
Vanessha: "Pacar lo liar yah?" tanyanya dengan berbisik di telinga kiriku.
Aku langsung menarik diri dan menatapnya heran.
Melliza: "Ma.. maksudnya?" tanyaku lirih.
Mbak Vanessha kembali menarik bahuku agar mendekat.
Vanessha: "Lo jalanya ngangkang banget pasti cowo lo liar kan? ga takut tuh pak David pembimbing lo tau kelakuan lo?"
Aku langsung membulatkan mata tak percaya, sebegitu jelaskah?
Vanessha: "Kenalin gue ke cowo lo dong, siapa tahu gitu lo bosan gue ga masalah ko dapat sisaan asal mainnya menggairahkan"
Aku semakin menggeleng tak percaya akan ucapan mbak Vanessha.
Cowo yang kamu maksud itu mas David, suami kamu juga mbak batinku.
Flashback off
Dan karna waktu itu mbak Vanessha membocorkan perihal aku yang memasak dibelakang mas David membuat malam itu kita hampir berdebat sepanjang malam tapi jangan lupakan jelas mas David juga tidak ingin melewatkan jatahnya. Dia mengajakku ribut sambil mencari kepuasannya sendiri, dan ya pasti aku yang kalah dalam segi hal entah itu dalam berdebat atau kegiatan kita diatas ranjang.
Dan karna malam itu pula aku menjadi tau alasan kenapa mas David tidak membiarkan aku masak lagi. Aku juga akhirnya tahu penyebab mas David dulu membentakku dan menghinaku yang membuat aku menjauhinya.
*David: "Mas tidak mau Clara memasak lagi karna mas tidak ingin Clara kenapa kenapa. Mas tidak terima saat melihat Clara terciprat minyak panas, teriris jarinya hanya demi memuaskan nafsu makan mas"
David: "Mas akui masakan kamu enak sayang, tapi mas juga tidak mau Clara lama lama di dapur hanya demi mas. Apalagi waktu itu Clara bilang bahwa Clara memasak rendang itu sendiri, mas langsung emosi dan membentakmu supaya kamu berhenti melakukan itu tapi sayangnya mas malah membuat kamu menjadi menjauh dari mas*"
__ADS_1
Dan karna malam itu pula aku benar benar sadar bahwa mas David memang mencintaiku.
.
.
.
"Claraaaa"
Melliza: "Di dapuuuur" sahutku sambil mengaduk tumis buncis.
David: "Loh kok masak lagi? jadi ngelunjak yah mentang mentang waktu itu diizinin sekali"
Aku hanya cengengesan menanggapi perkataannya.
Ya setalah perdebatan malam yang begitu panjang aku meminta mas David untuk mengizinkanku memasak dengan beralaskan kewajiban seorang istri. Awalnya dia menolak tapi setelah aku merajuk dan tidak sukarela akan sentuhannya barulah dia menyetujuinya.
David: "Clara kok belum siap siap?" tanyanya yang sudah duduk disalah satu kursi meja makan.
Melliza: "Aku sift dua" sahutku masih fokus pada buncisku.
David: "Sift dua?!"
Melliza: "Iya!"
David: "Berarti...
Melliza: "Berarti mas David nanti malam puasa"
Tidak ada sahutan lagi dari mas David, tapi hanya lingkaran tangan yang memeluk perutku dari belakang.
Melliza: "Aku lagi masak mas, lagian mas David harus berangkat sekarang"
David: "Hanya sebentar sayang"
Melliza: "Sebentarnya mas David itu berapa jam? 2 jam atau 3 jam?"
Aku sangat hapal betul akan kelakuan mas David yang selalu tak merasa puas itu.
Mas David menelusupkan tangan kanannya kekaosku lewat bawah depan sedangkan tangan kirinya menyibak rok miniku dan berusaha masuk kedalam CD ku.
Melliza: "Maaas.. kamu sudah rapih loh mas" aku berusaha mengingatkannya tapi mas David sepertinya tidak perduli.
Melliza: "Mas! aku lagi masak"
Bukanya berhenti melakukannya mas David malah mematikan kompor nya dan melanjutkan kegiatannya.
David: "Kamu sexy sayang, kamu montok, kamu menggairahkan dan mas sangat suka"
Mas David menurunkan CD ku dan melepas kaosku dan menaruhnya sembarang dilantai hingga menunjukan gundukan yang semakin lama sudah semakin membesar dibaik bra peach itu.
Dengan gelisah mas David melepas pengait celananya dan menurunkan retsleting celananya.
Mas David menuntunku agar menungging dihadapannya dan membuka kedua kakiku sedikit agar memberi akses mudah bagi adek kecilnya masuk kedalam tubuhku sepenuhnya.
__ADS_1
"Aahhhh" desahan kenikmatan itu keluar lagi seperti semalam.
David: "Enak?" bisiknya saat sedang berusaha menggerakkannya.
Melliza: "Hmm.. main cepet yah mas"
Mas David terus menusuk sesuai keinginanku yaitu main cepat, selain karna mas David sudah harus cepat berangkat aku juga belum pernah merasakan mode fasternya. Mas David selalu melakukannya perlahan berusaha agar tidak menyakitiku dan tetap mengutamakan kenyamananku.
Melliza: "Ahh.. ah. ah. aaah sssshh ah"
Mas David benar benar membuat tubuhku berguncang hebat karna tusukannya.
Melliza: "Ah?!! mas.. kamu!"
Aku buru buru melepaskan miliknya saat kurasakan milik mas David menyemburkan sp*rmanya didalam tubuhku.
Aku langung lari ke kamar mandi berusaha agar ini belum terlambat dan aku dapat membersihkannya.
Aku mencucinya berkali kali.
Ya Tuhan ku mohon jangan dulu batinku menatap takut pada tubuhku yang setengah telanjang di cermin kamar mandi.
Bagaimana jika aku hamil?
Ini masih terlalu cepat.
David: "Clara? kamu tidak apa apa?" mas David langsung datang dengan celana yang sudah dirapikan kembali.
Melliza: "Kamu sengaja kan mas?!"
Mas David tidak menjawab.
Melliza: "Mas! kamu sudah janji tidak akan membuat aku hamil dulu kan? bagaiman jika nanti aku hamil?"
David: "Mas akan bertanggung jawab sayang, mas akan meresmikan pernikahan kita"
Melliza: "Itu akan terjadi jika hubunganmu dengan mbak Vanessha sudah jelas mas"
Dia diam lagi.
Melliza: "Jika setelah ini mas ingin melakukannya kembali, gunakan pelindung jika tidak mau aku meminum pil dan menunda kehamilan. Kalau mas masih nekat tidak menggunakannya jangan harap aku mau melayani mas David"
.
.
.
.
Nama: David Setya Mayndra
Usia: 37th
__ADS_1
Profesi: Dokter bedah
Wanita Yang dicintai: Hanya Melliza Clara Utomo