Dr Clara

Dr Clara
Episode 33


__ADS_3

"Kamu ingin siapa menceraikan istrinya Za?"


Aku langsung membeku, langkahku terhenti dan nafasku naik turun tak karuan.


Bagaimana ini?


Apa aku akan ketahuan secepat ini oleh Marsya?


Apa dia akan mencopot paksa gigiku satu persatu?


Matilah kamu Melliza, karna mulutmu tidak bisa di filter.


Apa yang harus aku jelaskan apanya?


Bodoh.


Bodoh.


Bodoh.


Aku merutuki nasibku yang memiliki mulut tidak bisa di filter sampai bisa didengar oleh Marsya.


Marsya: "Elliza?" panggilnya yang berada dibelakangku.


Aku memejamkan mata saat rasa khawatir sekaligus ketakutan menghantam perasaanku yang kalut kali ini.


Marsya: "Za! aku ngomong sama kamu loh bukan sama patung" katanya menarik bahuku agar menghadap padanya.


Melliza: "Hehe... eh Marsya? Apa kabar Sya?" tanyaku tertawa canggung.


Marsya: "Kamu tadi lewat kamar jenazah yah? tumben banget nanya kabar, lagi sesambet dedemit mana?" tanyanya memperhatikanku dari atas sampai bawah.


Dan karna kelakuannya yang menatapku seperti itu membuat aku serasa terintimidasi.


Marsya: "Tadi aku dengar kamu ingin siapa menceraikan istrinya?" tanyanya menyipitkan matanya dalam.


Marsya: "Kamu ga jadi pelakor kan Elliza?!!" tanyanya langsung dengan membulatkan matanya tak percaya.


Melliza: "Ah! itu.. mana, mana ada. Ya! Mana ada cerita dr. Melliza yang cantik ini menjadi pelakor" jawabku masih sedikit canggung yang dipenuhi rasa takut.


Marsya: "Oooh... syukur deh, terus tadi kamu ingin siapa menceraikan istrinya?" tanyanya lagi.


Marsya ini jika pertanyaannya belum dijawab dia akan terus bertanya sampai yang ditanya pusing sendiri.


Kadang aku heran sama Marsya, dia ini kayanya lebih pantas bahkan berbakat jika menjadi reporter dibanding menjadi dokter gigi.

__ADS_1


Harus jawab apa ini aku?


Ayolah Melliza pikirkan jawaban yang bagus agar Marsya ini tidak banyak bertanya lagi.


Marsya: "Woi Ellizaaa... ditanya kok malah diam, jangan jangan kamu sedang tidur sambil berdiri dengan mata terbuka?" Kamu ga gitu kan Za?" tanyanya beruntun sambil menepuk nepuk pipiku.


Melliza: "Eee.. ituuuu.. itu aku tadi..


Marsya: "Jangan bilang kamu korban sinetron?"


Melliza: "Hah? maksudnya?" tanyaku karna bingung.


Marsya: "Ya tadi kamu ngoceh sendiri karna kamu habis nonton sinetron yang kadang tayang tuh salah satu chanel tv swasta yang suka nayangin cerita pelakor iya kan?" katanya menjelaskan.


Hahaha... akhirnya nemu alasan juga, aku sebenarnya heran untuk apa Marsya bertanya jika dia sendiri yang akan memberikan jawabannya padaku. Sorry ya Marsya kali ini temanmu yang cantik nan sexy cetar ini harus berbohong lagi batinku melihat Marsya yang sedang bercuap cuap mengenai sinetron yang pernah dia tonton.


Marsya: "Ternyata kamu korban sinetron ya Za? aku baru tahu kamu suka nonton sinetron juga, aku kira cewe modis kaya kamu pilih pilih nonton ternyata kamu kaya oma aku dirumah suka nonton yang begituan" terangnya lagi.


Mana ada aku suka nonton yang begituan, aku bahkan sangat jarang bahkan hampir tidak pernah menyalakan televisi. Aku lebih suka musik dari pada menonton batinku lagi tapi tak urung aku iya kan saja perkataan Marsya agar tidak terlalu ruwet lagi menghadapi teman beruang ini.


Marsya: "Gimana tuh hubungan kamu sama kak Bagas? udah sampai tahap mana?" tanyanya saat kita sudah mulai melangkah menuju ruangan yang sudah menjadi tujuan kita sedari tadi.


Melliza: "Tahap mana apanya?" tanyaku balik.


Melliza: "Jangan jangan apa?" tanyaku dengan mengerutkan kening.


Marsya: "Jangan jangan pria yang menggigitmu waktu itu kak Bagas yah Za?" tanyanya menyelidik.


Melliza: "Kamu ngaco? waktu itu kan belum ada kak Bagas" jawabku lalu kembali berjalan.


Marsya: "Terus siapa dong kalo bukan kak Bagas?" dia masih setia bertanya hingga akhirnya dia mulai berbeda lorong denganku.


Dia.. mas David, David Setya Mayndra batinku menjawab pertanyaan Marsya yang masih mengandung.


Hampir setiap hari aku berkutat dengan cairan yang disebut ketuban, membantu persalianan seorang ibu yang berusaha memberikan kehidupan bagi sang buah hati tercintanya.


Tidak jarang kadang aku berfikir kapan aku akan seperti ibu ibu yang pernah aku bantu persalinannya.


Kapan aku akan merasakan sebuah kehidupan didalam perutku yang lama lama akan membuncit seiring perkembangannya didalam rahimku?


Kapan aku akan merasakan perjuangan seorang ibu yang dulu pernah mamah lakukan untukku?


Kapan itu akan terjadi dan dengan siapa?


Siapa yang akan menjadi suamiku kelak?

__ADS_1


Menjagaku, melindungiku dan mendampingiku saat aku berjuang untuk buah hati kami nantinya.


Semenjak menginjak umur 24 tahun atau lebih tepatnya setelah menjadi dokter kandungan dan sering membantu proses persalinan. Jiwa kewanitaanku menyeruak keluar, ingin memiliki keluarga sendiri yang bahagia. Memiliki suami yang baik, pengertian dan sangat mencintaiku hingga tak terpikirkan untuk mencari wanita lain. Aku juga ingin memiliki beberapa anak dengannya untuk menjadi pelengkap kebahagiaan keluargaku nantinya.


SIAPA?


Setelah proses persalian yang panjang yang mengakibatkan aku melewatkan jam makan siangku akhirnya di akhir akhir jam kerja ini membuat aku benar benar bersantai ria didalam ruanganku sendiri tanpa adanya gangguan.


"Clara?"


Satu kata berhasil membuat mataku membuka lebar menyadarkanku kembali saat nyawanya hendak melayang menuju alam mimpi diatas kursiku.


Tampak seorang pria yang kini menatapku dengan tatapan sayu penuh dengan kelembutan tidak seperti biasanya.


Melliza: "Ada urusan apa lagi pak David menemui saya?" tanyaku datar seolah tidak pernah terjadi apa apa diantara kita.


David: "Mas mohon Clara.. jangan bersikap seperti ini terus terhadap mas. Mas tidak kuat jauh dari kamu sayang" katanya mulai melangkah maju mendekati meja.


Melliza: "Lalu pak David ingin saya bersikap seperti apa? bukankah sikap dokter yang dibimbing akan selalu seperti ini?" aku terus berusaha menepis keberadaan mas David yang dulu sempat mejadi penyemangat disetiap hariku.


David: "Clara.. kembalilah kepada mas, jangan siksa mas dengan sikap cuekmu itu" katanya terus berusaha meluluhkan hatiku.


Melliza: "Maaf pak David hubungan kita saat ini hanya dokter magang dengan dokter pembimbing. Jika pembicaraan ini tidak menyangkut akan hal itu saya kira obrolan kita cukup sampai disini" sahutku berusaha menunjukan ekspresi datarku.


David: "Menikahlah dengan mas Clara"


Satu kalimat yang meluncur bebas dari mulut mas David berhasil membuat semua perasaanku membuncah. Senang, bahagia, terharu, girang segala bentuk hal yang menyenangkan langsung terukir dihatiku mendapat kalimat seperti itu.


Tapi...


Disisi lain.. perasaan sedih, kecewa, sakit, gundah dan hal hal yang membuat sakit hatiku bahkan lebih terpatri sempurna dan menutupi semua rasa bahagiaku.


Ku amati terus wajah mas David yang menunjukan keseriusan dalam perkataannya tadi.


Apa mas David benar benar serius dengan ucapannya?


Lalu bagaimana dengan mbak Vanessha?


Apa mas David sudah menceraikannya?


Apa mas David sungguh telah menceraikan mbak Vanessha kala itu waktu aku memintanya?


Apa jawaban pertanyaanku tentang SIAPA itu adalah mas David?


David Setya Mayndra?

__ADS_1


__ADS_2