Dr Clara

Dr Clara
Episode 76


__ADS_3

Surabaya


Satu kata sebuah nama kota yang akan menjadi dinding pelindung bagiku dari mas David.


Kakek tak tanggung tanggung memberikan semua orang kepercayaannya untuk ikut menjagaku. Bukan hanya Jihan dan Mus saja tapi mulai dari supir, tukang kebun, 3 pembantu rumah tangga dan juga beberapa bodyguard yang akan menjadi pengawas rumah yang akan aku tempati.


Jihan: "Ini adalah rimah baru neng Verna" katanya setelah sampai di sebuah pelataran Rumah yang lumayan besar.


Melliza: "Bisakah nenek jangan memanggilku Verna?"


Jihan: "Tidak bisa neng Verna karna itu amanah dan lagi ini untuk jaga jaga siapa tahu ada penyusup suruhannya David"


Melliza: "Nenek benar, tidak ada yang tahu tentang apa yang akan direncanakannya. Apalagi mas David sudah tau kalau aku hamil, entah dia sungguh mencintaiku atau hanya ingin balas dendam tujuannya tetap sama ingin menemukanku kembali" kataku dengan mengelus perutku yang sudah terlihat sedikit membuncit.


Mustofa: "Neng.. akan lebih baik neng Verna memanggil kami seperti biasa Mus dan Ji jangan nenek atau kakek agar tidak mengundang kecurigaan pihak luar"


Jihan: "Iya neng untuk mengantisipasi" sahut Jihan menyetujui usulan Mus.


Aku mulai melangkah masuk melewati pintu utama yang cukup besar. Meski tidak seluas rumah kakek tapi funitur yang ada sudah sangat cukup bagiku.


Melliza: "Sayang.. mulai saat ini kita akan tinggal disini, ini rumah kita sekarang" kataku dengan terus mengelus perutku.


Jihan: "Kamar neng Verna ada diatas, mari saya bantu menaiki tangga"


Aku pun dituntun melewati setiap anak tangga yang ada.


Tidak seperti lantai satu yang hanya kedapatan satu kamar, ruang tamu dan ruang tengah yang cukup lumayan besar yang bersebelahan dengan dapur mini.


Lantai dua ini memiliki empat kamar, terdapat meja makan bundar dapur dan ruang tv.


Dibelakang juga masih terdapat ruang khusus pekerja seperti beberapa kamar yang sudah dilengkapi kamar mandi disebelah kamar masing masing dan terdapat pula dapur dilantai bawah untuk para pekerja.


Jihan: "Nah yang ini kamar neng Verna, ini kamar utama" kata Jihan setelah kita memasuki kamar yang ukurannya mungkin dua atau tiga kali lipat dari kamarku yang berada dirumah kakek.


Melliza: "Apa ini tidak terlalu besar untukku?"


Pasalnya terdapat satu ranjang besar disatu ruangan yang difasilitasi dengan tv yang memiliki layar bahkan bisa untuk bercermin satu badan dan hampir semua sisi dinding itu adalah cermin.


Lalu diruangan sebelahnya terdapat beberapa lemari berjejer jejer yang cukup memenuhi sisi dinding, meja rias dan ada juga rak rak buku yang mengelilingi meja komputer. Terdapat juga satu set sofa berwarna hitam untuk bersantai ditengah tengah antara meja rias dan meja komputer.


Disisi lain ada juga kamar mandi lengkap dengan perlengkapannya.


Jihan: "Ini sangat cocok untuk neng Verna yang cantik ini, terlebih lagi kira kira enam bulan lagi akan ada baby kecil yang akan hadir dan memenuhi semua ruangan ini dengan perabotannya. Iya kan?" Jihan mengelus sambil mengajak obrol janin yang berada dalam rahimku.


Melliza: "Lalu Ji dan Mus tidur dimana?"

__ADS_1


Jihan: "Kami akan tidur dikamar belakang yang sudah disiapkan"


Melliza: "Tidak boleh! kalian harus dekat denganku, tidurlah dikamar sebelah agar aku mudah jika ingin memanggil kalian"


Mus nampak diam dan menatap sang istri Jihan.


Melliza: "Aku ini cucu kalian dan aku sedang mengandung cucu buyut kalian, apa kalian tidak takut kami nanti kenapa kenapa?" kataku sedikit memelas.


Mus: "Baiklah.. kami akan tidur dikamar sebelah, jika nanti neng Verna butuh sesuatu panggil saja.


Aku pun memberesi semua pakaianku kedalam lemari pakaian.


Hampir tidak banyak yang aku bawa karna kakek telah menyiapkan semuanya.


Aku dibantu oleh Jihan dan dua pelayan wanita untuk ikut membenahi isi kamar baruku.


Tak selang berapa lama Mus datang dengan nafas naik turun.


Melliza: "Ada apa Mus? kenapa terlihat begitu panik?" tanyaku yang menghentikan aktifitasku.


Mustofa: "Tuan.. Tuan Surya neng.. Tuan Surya telah meninggal"


Jantungku rasanya lepas begitu saja mendengar penuturan dari Mus.


Bahkan di detik detik kematiannya aku tak berada disampingnya dan mengantarkannya pada Sang Maha Kuasa.


Mustofa: "Ini neng.. pak Ilham ingin bicara pada neng Verna" Mus memberikan ponselnya padaku dan aku pun menerimanya.


Melliza: "Hallo pak Ilham?" sapaku padanya disebrang sana.


Ilham: "Melliza! apapun yang terjadi kamu jangan pulang ke Malang, termasuk kematian tuan Surya aku mohon kamu jangan balik ke Malang" suaranya begitu tegas.


Melliza: "Memangnya kenapa? dia kakekku, aku ingin mengantarkannya sampai tempat peristirahatan terakhirnya" sahutku dengan air mata yang mulai menderai.


Ilham: "Jangan pokoknya! David masih mengawasi rumah berduka dan diperkirakan dia akan tetap mengawasi sampai jalannya pemakaman tuan Surya"


Melliza: "Mas David? dia disana? Apa penyebab kematian kakek ada hubungannya dengan mas David?"


Semoga apa yang aku pikirkan tidak sesuai dengan kenyataan batinku.


Ilham: "Ya! David bisa dikatakan sebagai penyebabnya"


Tubuhku langsung lemas dan hendak jatuh jika tidak diperangi oleh Jihan yang berada disebelahku.


Ilham: "Setelah David datang dan terus menanyakan keberadaanmu, tuan Surya dan David berdebat tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Mungkin itu juga yang menjadi penyebab jantung tuan Surya kembali naik karna terlalu tegang dan emosi. Setelah kepergian David yang dengan tekadnya akan menemukanmu, tuan Surya langsung mendapat serangan jantung susulan dan lebih parah dari sebelumnya"

__ADS_1


Ilham: "Dan akhirnya tuan Surya meninggal dunia"


Ilham: "Jadi aku mohon, Melliza tetap lah disitu sampai kondisi reda. Barulah nanti Melliza dapat mengunjungi makam tuan Surya"


Ilham: "Kau faham kan?"


Melliza: "Iya aku mengerti" jawabku masih menangis sesegukan.


Ilham: "Dan untuk mengecoh David, sebelumnya aku dan almarhum tuan Surya telah membuat rekayasa penerbangan palsu tentang Melliza dan Haris menuju Swiss. Paling tidak kita bisa membuatnya sibuk mencari untuk beberapa saat"


Sebenarnya kau sungguh mencintaiku atau karna ingin balas dendam mas?


Jika dendam yang kau tanamkan maka disini yang paling tersakiti bukan aku, tapi anak yang aku kandung.


Betapa malangnya dirimu jika ayahmu tak mengharapkan kehadiranmu.


Jihan: "Kita doakan saja yang terbaik untuk tuan Surya semoga beliau bahagia di sisi-Nya" katanya setelah sambungan telpon itu terputus.


Melliza: "Aku tak menyangka jika mas David akan berbuat seperti itu, aku kira dia sungguh mencintaiku tapi kenapa.. kenapa..


Perkataanku terseka oleh air mata yang selalu mengalir dengan deras.


Masih berada diambang ketidak percayaan bahwa mas David melakuan itu.


Mustofa: "Cinta kadang membutakan semuanya neng, termasuk bisa membuat seseorang menjadi jahat, curang, pembohong hanya demi mendapatkan cinta yang diinginkannya"


Mustofa: "Kita tidak dapat menilai dari satu sisi saja, kita belum tahu apa yang sudah terjadi dibelakang kita"


Jihan: "Yang dikatakan Mus benar neng.. yang terpenting sekarang neng Verna harus tenang dan kuat. Kasihan jabang bayinya kalau terguncang terus" kata kata Jihan berhasil membuat aku reflek memegangi perutku.


Maafkan mommy sayang.. Setelah ini mommy janji hanya akan memberikanmu kebahagian


Melliza: "Tapi aku takut mas David benar benar dapat menemukanku disini"


Jihan: "Mungkin lebih baik neng Verna mengubah penampilan saja" usulnya yang terdengar aneh.


Melliza: "Mengubah penampilan? maksudnya aku harus memakai kaca mata atau aksesoris lainnya yang membuat aku nanti seperti orang culun begitu?" kataku terlihat jijik saat membayangkannya.


Jihan: "Tidak tidak.. maksudku, rambut neng Verna ini kan terlalu mencolok bagi semua mata terutama David itu bisa mengenali. Bagaimana jika neng Verna mengubahnya saja lagi pula warna rambut almarhum neng Verna kan hitam bukan pirang seperti neng Melliza"


Sepertinya usulan Jihan boleh juga, daripada harus memakai kaca mata culun aku lebih tertarik mengubah warna rambutku.


Semoga dengan ini hidup baruku akan lebih membahagiakan dari sebelumnya.


__ADS_1


__ADS_2