
Pesawat yang kita tumpangi telah mendarat dibentangkan aspal kota Malang. Tujuan utama aku dan kak Haris kali ini sudah pasti menuju Rumah Sakit Surya Cipto Utomo yang sekarang dikelola oleh papah.
Semoga dengan kedatanganku akan memperbaik kondisi kakek agar cepat sembuh dan dapat beraktifitas kembali seperti biasa.
Sesampainya dipelataran Rumah Sakit kita berdua langsung menuju sebuah ruangan yang menjadi alasan pokok aku pulang.
Kakek menempati salah satu ruangan ICU berfasilitas nomer satu di rumah sakit ini dengan penanganan para dokter ahli tentunya.
"Hoooo... tenyata biang masalah telah datang juga" aku langsung disambut oleh kakak pertamaku dengan cemoohannya.
"Dasar pelakor! murahan! tidak tahu diri! bikin malu keluarga saja!" sahut kakak kedua ku.
"Jika kalian tidak bisa diam akan aku depak kalian dari nama keluarga Utomo" kata kakek meski terlihat ringkih tapi masih memiliki cukup tenaga untuk membungkam kedua kakakku.
Haris: "Mendekatlah padanya.. kakek Surya sangat merindukanmu" kata kak Haris.
Aku pun melangkah mendekat melewati kedua kakak perempuanku.
Tidak hanya ada kedua kakakku, diruangan yang sangat luas ini ada papah, Mus, Jihan, pengacara kakek dan pamanku yaitu anak pertama atau kakak papahku. Didepan ruangan juga ada beberapa bekerja rumah yang berjaga didepan pintu sambil menunggu.
Kakek: "Caca kecilku" aku langsung memeluknya erat.
Melliza: "Kenapa bisa sampai seperi ini?" tanyaku langsung memperhatikanya.
Kakek: "Kakek hanya merindukan kesayangannya.. apa Caca baik baik saja?"
Melliza: "Maaf kek.. Caca tidak cukup pantas menjadi cucu kesayangan kakek"
"Memang kau tak pantas! Dasar pelakor!" kata kakak kedua.
"Iya benar! pelakor tetap pelakor" timpal kakak pertama.
Aku menunduk merasa malu dihadapan semua orang yang ada disini termasuk pada kak Haris, dia pasti kecewa karna memiliki teman sepertiku.
Kakek: "Ilham usir mereka berdua dan urus pencopotan nama Utomo dari nama marganya.. Aku sudah muak dengan tingkah ke dua anak iblis ini dari dulu yang selalu membuatku pening" perintah kakek yang langsung ditindak lanjuti oleh pak Ilham selaku pengacara kakek.
Apa yang sudah diultimatimkan oleh kakek pasti akan terjadi meski kedua kakakku menangis darah sekalipun tidak akan bisa merubah keputusannya.
Sedikit bercerita akan seluk beluk kenencian kakek pada kedua sodaraku. Jadi sebenarnya kami bertiga lahir dari rahim yang berbeda beda.
Papahku yang bisa dikatakan bejad sangat suka menebar benih dimanapun termasuk mamahku.
Kedua kakakku terlahir dari kedua wanita penghibur yang sering melayani semua pria hidung belang sedangkan mamahku dia terlahir dan terbentuk dari keluarga yang penuh sopan santun dan juga dihormati oleh kakek. Dalam arti hormat bukan berarti status kakek nenek ku itu lebih tinggi dari beliau. Kakek dan nenek dari mamahku hanyalah sepasang suami istri yang penuh kesederhanaan dan juga menghormati kakekku.
Kata kakek dulu mamah diperkosa oleh papah berkali kali hingga jadilah aku didalam rahimnya. Dan hanya akulah yang dianggap cucunya dari darah daging papah.
Kakek: "Haris bisakah kau keluar terlebih dahulu, aku ingin berbicara intim dengan keluargaku"
Haris: "Baik kek saya keluar" pamit kak Haris.
Hening menyertai saat ruangan serba putih ini diisi oleh kakek, aku, papah, paman dan juga Mus dan Jihan.
Mengapa ada Mus dan Jihan?
Karna merekalah kakek dan nenek ku dari mamahku.
Mengapa aku memanggilnya nama?
Itu karna mereka yang memintanya, mereka bilang bahwa waktu meraka bekerja jadikanlah mereka seperti pekerja tapi meraja juga sering menyempatkan waktu menjadikan diri mereka sebagai kakek dan nenek ku.
Aku tak malu sama sekali, bahkan aku senang karna bisa memiliki kakek dan nenek yang bahkan lebih menyayangiku dari dirinya sendiri.
Kakek: "Jadi.. apa Caca tidak memiliki niatan ingin membuangnya?"
Aku sangat tahu akan arah pembicaraan kakek ini tertuju pada apa.
Melliza: "Maaf kek.. Caca tidak bisa" kataku tertunduk dihadapannya.
Kakek: "Sudah kakek duga kau sama persis dengan mamahmu. Tidak akan tega membunuh sebuah janin yang tak bersalah karna kebejatan seorang pria"
Kakek: "Lalu apa yang akan Caca lakukan? Apa hendaj kembali lagi padanya setalah mengandung anaknya" aku hanya menggeleng lemah dalam memberikan jawaban.
Kakek: "Apa Caca ingin pergi darinya dan menghilang?" aku mengangguk membenarkan pertanyaanya.
Kakek: "Kalau begitu ikuti intruksi kakek"
Melliza: "Intruksi apa kek?"
Kakek: "Caca sungguh ingin menjauh dari David kan?" aku mengangguk.
Kakek: "Maka turuti semua perintah kakek"
Kakek: "Setelah ini pergilah Caca ke Surabaya, Caca akan ditemani dengan Mus, Jihan dan beberapa pelayan yang sudah kakek percaya akan melindungi Caca nanti. Untuk urusan David biar kakek dan Ilham yang urus disini"
Kakek: "Kakek jamin setelah mendengar kepergianmu dia akan langsung menemui kakek dan melontarkan segala ancamannya jika dia benar benar mencintai Caca"
Melliza: "Kakek tidak ikut ke Surabaya dengan Caca?"
Kakek: "Tidak sayang... Jika kakek ikut psikopat gila itu pasti akan menemukan Caca lagi"
__ADS_1
Melliza: "Psikopat gila? maksud kakek?"
Paman: "Mungkin sudah seharusnya diceritakan yah jika memang ayah tidak yakin akan bertahan lama"
Melliza: "Apa maksud paman tidak bertahan lama?" tanyaku heran menatap kakek dan paman bergantian.
Kakek: "Kakek ini sudah tua Caca, kakek sudah tidak yakin akan sembuh lagi"
Melliza: "Kakek jangan bicara seperti itu, kakek pasti sembuh Caca akan merawat kakek"
Kakek: "Kakek tidak ingin mengorbankan Caca kecil kakek lagi jika nanti ditemukan oleh David"
Aku langsung menitikan air mata setalah mendengar perkataan kakek yang begitu menyayat hati terdalamku.
Kakek: "Apa Caca masih ingat luka ini?" tunjuk kakek pada perutnya bagian atas sebelah kanan.
Ya aku sangat ingat, dulu aku selalu memakan bekas goresan mengerikan apa itu hingga membekas begitu lama bahkan sampai sekarang.
Kakek: "Ini adalah ulah ayah dari anak yang Caca kandung"
Melliza: "Mas David?" gumamku tak percaya.
Kakek: "Menurut Caca Kakek ini seperti apa?"
Melliza: "Kakek ini baik, penyayang, bijak, sopan dan memiliki etika" sahutku penuh senyum membayangkan hari hariku dulu berama kakek.
Kakek: "Benarkah? tapi tanpa Caca tahu kakek yang sepeti ini juga dulu pernah melakukan kesalahan"
Melliza: "Kesalahan? kesalahan apa?" tanyaku heran.
Kakek: "Sebuah kesalahan yang membuat kakek pernah merasakan penderitaan didalam sel selama sebulan dengan penyiksaan yang diluar nalar sebuah hukuman"
Kakek: "David Setya Mayndra dengan lihainya dia menjadikan kakek bahan percobaanya dengan sembarangan menyuntikkan jarum, sembarangan membelah kulit dan sembarangan menaruh gunting kecil didalam tubuh kakek dengan alasan tidak sengaja tapi dengan senyuman yang sangat mengerikan"
Kakek: "Kakek frustasi bahkan hampir gila saat dimana disetiap harinya dia menaikan tubuh kakek seperti seogok mayat yang harus diotopsi"
Kakek: "Hal terparahnya David pernah memaksa mencopot salah satu ginjal kakek hingga mengakibatkan kakek sakit keras dan membutuhkan donor secepatnya"
Aku masih tak percaya akan ucapan kakek.
Benarkah mas David seperti itu dulu?
Tapi jika dilihat dari perselisihan antara keduanya memang terlihat ada dendam masa lalu.
Kakek: "Berkali kali dr. Juni menyadarkan David bahwa tindakannya salah tapi tetap dia berpesta pora setiap melihat darah mengalir dari tubuh kakek"
Melliza: "Apa kesalahan kakek sampai membuat mas David seperti itu?
Kakek: "Kakek memperkosa ibu angkatnya yaitu istri dr. Junaidi Daynitra hingga wanita itu frustasi dan melukai alat vitalnya hingga meninggal dalam kondisi mengenaskan"
Kakek: "Dan karna kejadian kehamilanmu pula kakek yakin dia ini ingin membalas dengannya yang belum terselesaikan dengan menghamilimu agar kau depresi dan juga bunuh diri seperti ibu angkatnya"
Kakek: "Maka dari itu sebelum dia menemukanmu lekas pergi ke Surabaya dengan identitas baru"
Melliza: "Identitas baru?"
Paman: "Melliza akan menggunakan identitas Verna anak om"
Melliza: "Mbak Verna?"
Verna adalah anak perempuan satu satunya om Doni yang telah meninggal akibat kecelakaan pesawat saat hendak pulang ke tanah air dari studinya yang baru ia selesaikan kan di Dubai. Kematiannya ditutup rapat oleh om Doni dari awak media sehingga semua orang masih mengira bahwa Verna Adi Utomo masih hidup dan akan melanjutkan bisnis papanya yang berada di Surabaya.
Kakek: "Iya.. kita akan membuat rekayasa dengan kepergianmu keluar negri supaya David tidak bisa menemui Caca di Surabaya"
Kakek: "Nanti Caca dan Haris juga akan...
Melliza: "Jangan kek Caca mohon" selaku.
Kakek: "Kenapa? kamu tidak akan bisa menjadi single parent sayang"
Melliza: "Bukankah ada Mus dan Jihan? mereka juga akan menjadi orang tua bayi ini"
Kakek: "Tapi Caca juga butuh pendamping hidup, Haris tidak ada masalah dengan kehamilanmu dia sudah kakek ceritakan semuanya tidak ada yang kakek tutup tutupi. Dia welcome ke kamu sayang karna dia juga memiliki perasaan terhadap Caca"
Melliza: "Caca mohon kek, Caca tidak mau kak Haris harus ikut ambil alih dalam anak yang bukan miliknya. Biarkan Caca merawatnya sendiri"
Kakek: "Baiklah.. tapi itu tidak menutup kemungkinan jika nanti kalian akan menikah"
Aku hanya diam tak menjawabnya lagi.
Dulu memang aku menyukainya, tapi itu sepertinya tidak bisa dikatakan cinta karna setelah mengenal mas David selama ini aku baru sadar akan rasa cinta itu sebenarnya.
Setelah perundingan yang cukup lama antara kakek, om Doni, papah dan pak Ilham alhasil aku akan mulai menjalani hidup baru dikota Surabaya dengan identitas baru yaitu Verna Adi Utomo pemegang saham tertinggi dan juga pewaris perusahan Utomo group yang bergerak dibidang teknologi kedokteran dan menjadi pusat pembuatan obat obat penawar racun dan virus yang termasuk kedalam golongan penyakit serius atau memiliki kadar obat yang langka.
Utomo group adalah perusahaan terbesar kakek yang dipercayakan dipegang kendali oleh om Doni selama ini.
Kakek: "David pasti akan menyadari bahwa Caca menemui kakek, lekas pergi dan jalani hidup Caca yang baru. Jika sudah mulai terasa aman jangan lupa untuk menjenguk kakek suatu hari nanti yah"
Kakek: "Kakek mencintai Caca kecil dan akan terus melindungi Caca sampai nantinya kakek tidak bisa lagi bernafas"
__ADS_1
Aku menangis mendengar penuturan yang terdengar seperti perpisahan yang tidak akan pernah bertemu kembali.
Kenapa serumit ini hidupku Tuhan.
Kau menyiksaku melalui orang orang yang aku sayangi.
Jihan: "Ayo Neng Verna kita harus pergi sekarang"
Aku semakin menangis, ingin rasanya tidak melepas genggaman tangan yang sudah semakin menyeruput itu tapi apa daya jika itu yang diinginkannya.
Melliza: "Ingat satu hal kek.. Kakek selalu menjadi nomer satu didalam hati dan hidup Caca, kakek tidak akan pernah berganti, hiks.. Caca sayang kakek sekarang dan selamanya"
Ku peluk erat tubuhnya yang mulai semakin lemah. Rasanya tak ingin melepaskannya terlebih dalam kondisinya yang seperti ini.
Kakek: "Kekasih gelapku tidak boleh cengeng, harus kuat dan jaga Caca kecil junior didalam sana. Kakek berharap kakek masih bisa melihat Caca kecil junior seperti dulu Kakek bahagia karna kelahiran Caca kedunia ini"
Kakek: "Apapun yang terjadi.. jangan pernah balik ke Malang lagi dalam masa dekat dekat ini meski sesuatu terjadi pada kakek"
Kakek: "Kakek mencintai Caca"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Waaaah Waaaah terbuka lagi deh kartu As gue.
Senin mellow ya gaes.. sorry menguras air mata, episode ini gue ngetiknya sambil nangis penuh haru karna gue sendiri memiliki kakek yang menjadikan gue cucu kesayangannya.
Nah ada berita super super bagus nih buat reader yang abis mewek baca dua episode hari ini karna apaa...
JENG
JENG
JENG
JENG
JENG
JENG
Bentar...
JHahahhahahha...
ketawa bentar dulu karna ngakak tiap baca komentar yang pro dan kontra sama dr. David
ok lanjut..
JENG
JENG
JENG
JENG
....
Besok episode yang paling ditunggu tunggu yaituuuuuu...
Part Prov David Setya Mayndra
Tapiiiiii.....
Itu pun kalau penyakit mendarah daging gue kaga kumat ya gaes.
__ADS_1
Happy reading๐๐๐
ndk.id