Dr Clara

Dr Clara
Episode 23


__ADS_3

Pagi hari diawal minggu, Senin satu kata yang sering digadang gadang hari paling menjenuhkan, yang katanya memiliki waktu lebih lama dari hari hari yang lain.


Tapi beda halnya denganku yang sangat kegirangan di pagi ini. Meski tak dijemput oleh mas David tadi karna dia harus datang ke Rumah Sakit lebih awal mengenai pasiennya yang kemarin baru saja menjalankan operasi.


Clara sayang.. datanglah lebih pagi, mas butuh penyemangat sebelum beraktifitas. Jangan gunakan baju yang sulit dibuka karna mas orangnya tidak sabaran


Setiap pagi bagaikan mendapat notifikasi dari operator, karna bayi mesumku selalu minta jatah nete mulu setiap paginya. Dan kalau ga dituruti mulutnya akan manyun dan berpuluh puluh pesan akan mengganggu ketentraman ponselku.


Aku juga mulai merasa bersikap acuh tentang hubungan mas David dan mbak Vanessha. Toh mereka tidak saling mencintai jadi sah sah saja kan kalo aku menjalin kasih sama mas David asal masih melakukan hal yang wajar.


Karna mulai serasa punya bayi yang memiliki kewajiban netein jadi aku selalu memutuskan untuk menggunakan baju baju yang mudah dibuka olehnya. Seperti kemeja panjang kotak kotak yang sekarang aku kenakan, tapi jangan kira seorang Melliza akan terlihat biasa saja hanya menggunakan kemeja karna kancing kemeja yang aku pakai aku buka dua kancing teratas dan bagian lengan sebelah kiri aku jatuhkan agar masih menampakkan kesexyan ku.


Aku tidak pernah menggunakan jas dokterku selagi tidak dalam praktek atau bertemu pasienku. Karna dari itu sering berpasang pasang mata mengira aku ini hanya seorang penjenguk maka tak kurang kurang aku selalu mendapat gombalan gombalan receh yang menurut aku tidak bermutu.


BRUKKK


Melliza: "Aww sakiiit" pekikku terjatuh karna tertabrak seseorang berbadan besar.


"Maaf maaf anda tidak apa apa? apa ada yang terluka? coba saya periksa terle..


Melliza: "Kauuu" ku tepis tangan yang berani beraninya memegang bahkan meraba raba bahu kiriku yang secara langsung terkena kulit.


"Kenapa dr. Melliza? saya hanya ingin membantu anda berdiri" elaknya padahal jelas jelas aku tau maksud terselebungnya dasar tua bangka berotak mesum.


Melliza: "Tidak terima kasih saya bisa sendiri" jawabku dan berjalan secepat kilat meninggalkannya yang masih berjongkok di tempat kejadian.


Kan semalam aku berdoa semoga mendapat pria yang mampu meluluhkan hatiku dan membantuku melupakan mas David, tapi kenapa ini dikasihnya malah si tua bangka berotak mesum itu. Demi apapun aku akan jauh memilih mas David dari pada pak Kris itu.


"Kamu kenapa Clara? kok bengong gitu" kata mas David yang berdiri di hadapanku tapi jangan lupakan tanyanya yang dengan liarnya menjamah semua lekuk tubuhku.


Melliza: "Ah tidak, hanya merasa tidak nyaman" sahutku langsung memeluk tubuhnya.


Entah mengapa kejadian tadi membuat aku ngilu sendiri,merasa tidak nyaman mendapat sentuhan tangan secara langsung dari pria lain kecuali mas David. Seolah tubuhku ini hanya mau di sentuh oleh tangannya mas David.


David: "Tidak nyaman dibagian mana? Apa tadi mas menyakitimu?" aku hanya menggeleng, rasanya seperti telah ternodai padahal jelas jelas aku lebih ternodai sama mas David.


Mas David melepas pelukanku dan menatap mataku seolah menginginkan sebuah jawaban.


Melliza: "Tadi pak Kris grepe grepe tubuh aku lagi, aku merasa risih dan tidak nyaman sampai sekarang" ku lontarkan unek unekku padanya.


David: "Pak Kris grepe kamu?!!" dia bertanya dengan sedikit nada kesal dan aku hanya mengangguk pelan.


David: "Dibagian mana disentuh kamu Clara?" aku menunjuk bahu kiriku dan...


CUP


CUP


CUP


CUP

__ADS_1


Setiap inci dibagian bahuku di kecup olehnya dengan lembut.


Melliza: "Ahhh mas gelii" aku menahan tawaku agar tidak pecah saat lidah panas mas David menjilati setiap permukaan kulit bahuku.


Karna mendapat aliran aneh yang entah disebut apa, aku langsung mendorong bahunya dan menyerang bibir panasnya yang sudah mengeluarkan nafas memburu yang dipenuhi gairah.


Sebenarnya ada rasa ingin mencoba adek kecilnya mas David, apalagi setiap kali kita berciuman dalam posisi berdiri seperti ini mas David selalu mensejajarkan pinggulnya dengan pinggulku lalu menempelkan miliknya ke daerah istimewaku dan menggosok gosok pelan membuat aku jadi merasa keenakan.


Melliza: "Apa dia sudah bangun?" tanyaku saat kita saling mengambil nafas setelah ciuman lama yang baru saja berlangsung.


David: "Siapa sayang?" tanya mas David lalu mencecap putingku yang sudah nampak sedari tadi.


Melliza: "Emmmmmhh, ituuhhh ya.ng diba.waaahh punya mashh" mendengar perkataanku yang dipenuhi lenguhan mas David menghentikan aktifitasnya menghisap payudaraku.


David: "Sudah dari tadi sayang, kenapa? kamu mau menjenguknya"


Melliza: "Aku hanya.. ingin menyentuhnya, boleh tidak?"


David: "Ini milikmu sayang apapun boleh kamu lakukan padanya tapi dalam hal memuaskannya bukan memotongnya" mas David mengarahkan tangan kananku menuju permukaan celana di bagian adek kecilnya.


Benar benar sudah bangun, ini bahkan sudah sangat keras. Apa benar mas David memiliki masalah pada birahinya tapi kenapa ini sudah sangat kokoh bahwa siap menusuk sepertinya batiku masih mengelus elus permukaan celana itu.


Aku mulai berani bertindak lebih dengan melepaskan pengait celana mas David dan menurukan retsleting celananya.


Anget, besar, kokoh, tinggi menjual benar benar menggairahkan apa kabar dibawah sana yang udah becek minta diobrak abrik? tapi sayangnya akal sehatku masih bekerja.


Kayanya bakal merem melek deh kalau sampai ini masuk memenuhi vaginaku.


Melliza: "Mas nanti sore main ke apartemenku sebentar yah"


Melliza: "Iiiiiiih" langsung saja aku remas adek kecilnya mas David kencang kencang.


David: "Aduh.. aw Clara sakit Clara, lepas sayang aw sakit"


Melliza: "Makanya! punyaku juga kan pengin ditengokin bukan cuma punya mas David" rengekku masih meremas dan menarik adek kecilnya.


David: "Hah?! Aduh remasnya pelan pelan sayang ini sakit loh"


Melliza: "Bodo" akupun makin kencan meremasnya tanpa peduli dengan suara mas David yang sedang menahan rasa sakit.


David: "Aw iya Clara.. aduh pelan sayang ini kamu menyiksa namanya"


Melliza: "Pokoknya pulang nanti mampir ke apartemen titik" aku melepas tanganku dari miliknya.


David: "Iya nanti mas usahain" jawabnya mulai membenarkan celananya.


Melliza: "Janjii?" aku menatapnya penuh intimidasi.


David: "Mas tidak bisa janji sayang"


Melliza: "JANJI?!!!" aku membentaknya entah mengapa aku begitu ingin dimanjakan oleh mas David nanti setelah pulang.

__ADS_1


David: "Tapi mas beneran tidak bisa janji Clara" elaknya lagi.


Melliza: "Ya sudah kalau mas David tidak mau datang biar nanti aku minta tolong dipuaskan sama pak Arman atau mungkin pak Kris sekalian paling nanti aku jebol sama dia" ancamku.


David: "Eh apa apaan, tidak boleh!"


Melliza: "Makanya nanti keapartemen yaaah?"


David: "Gimana kalau nanti sepulang kamu selesai kita lakukan di dalam mobil saja" sarannya.


Melliza: "Ga mau! didalam mobil sempit aku ga leluasa geraknya, lagian lihat aku pakai celana mas"


David: "Huuffffftt,, mulai besok pake rok terus yah biar mas juga tidak kesulitan gini kalau kamu minta dimanja manja"


Melliza: "Berarti nanti ke apartemen kaaan?" aku bertanya kembali ingin mendapatkan jawaban finaly.


David: "Iya Claraku... berarti kalau ngelakuinnya di apartemen boleh minta lebih ga?"


Melliza: "Minta lebih? GA ADA!"


Ternyata yang dikatakan teman sekelas ku dulu dibangku SMA benar bahwa hari senin adalah hari yang memiliki waktu lebih panjang dan melelahkan.


Tidak ada pasien, mas David di chatt tidak ada balasan aku cuma diam diruangan sangat membosankan.


Dan saat waktu jam pulang kerja sudah menunjukan jam setengah lima sore dengan tergesa gesa yang dipenuhi kegirangan aku langkahkan kakiku menuju ruangan mas David dengan menenteng tas jinjingku.


Saat aku hendak menarik hendel pintu dan mendorongnya tapi aku tidak menduka bahwa dari dalam pun hendak membuka pintu, alhasil aku jatuh karna tidak menjaga keseimbangan.


Melliza: "Iiiih, sial banget sih hari ini bisa jatuh dua kali" gerutuku yang masih jatuh tengkurap dilantai.


Aku berusaha bangkit dan dibantu oleh seseorang di hadapanku yang belum aku ketahui itu siapa karna dia memakai sepatu snekers cowo model terbaru yang pasti bukan milik mas David.


Aku tertegun sesaat karna tangan pria itu memegang bahuku yang terbuka dan tangan yang satunya bertengger kekeh di paha putih mulusku.


Jangan jangan ini si tua bangka itu lagi, dasar modus harus aku kasih pelajaran ini mah batinku.


Melliza: "Dasar mesum, tidak tau umur singkirkan tanganmu tua bangka.. mesum.. mesum.. mesum rasain ini.. Dasar" aku menutup mata dan terus memukuli kepalanya dengan tasku yang isinya penuh dengan alat make up, aku tidak perduli lagi dengan alat make up ku yang pastinya akan rusak. Yang aku pikirkan hanya ingin menghajarnya sampai habis agar si tua bangka ini jera.


"Aduh.. stop woi, sakit ini.. adu. du..duuuh sakit"


Loh ko suaranya bukan kaya milik si tua bangka mesum itu, ini suaranya kayaaaa Afgan.


Wah kalau ini Afgan beneran aku langsung peluk aja sebagai tanda permintaan maaf batinku.


David: "dr.Melliza apa yang anda lakukan?"


Mendengar suara pria yang telah menjadi suara idaman bagi telingaku membuat mataku refleks membuka lebar.


Melliza: "Kamu?!!" aku syok mendapati sesorang yang aku kenal tapi bukan pak Kris yang tadinya aku perkirakan.


"Rara?" dia juga sama terkejutnya denganku.

__ADS_1


David: "Kalian saling kenal?" tanya mas David dengan memperhatikan kami yang masih berdiam duduk dilantai.


"Ini loh om cewe yang aku maksud, cinta pertamaku. Melliza Clara Utomo"


__ADS_2