Dr Clara

Dr Clara
Episode 62


__ADS_3

Lupakan Jakarta dan semua kenangan yang berada disana, anggap itu hanya mimpi buruk yang tidak akan pernah terulang kembali.


Mimpi buruk?


Apa benar mimpi buruk?


Kata kata kakek rasanya masih mendengung di telingaku.


Bukan hanya nomor mas David yang tidak di save, kakek juga membuang jauh jauh nama kak Bagas dari kontak ponsel baruku.


Sudah dua hari aku berada di Malang, tanpa adanya kabar dari mas David. Apa benar yang terakhir itu aku lihat adalah sebuah kenyataan?


Kenyataan bahwa mas David telah berhubungan dengan mbak Vanessha?


Tok. Tok. Tok.


"Iyaa?!" teriakku yang berada didalam kamar.


"Neng! dipanggil tuan, ada tuan daniel dibawah ingin bertemu neng Melliza" kata seseorang yang aku kenal dengan nama Jihan, dia adalah istri dari Mustofa.


Papah?


Papah ingin bertemu denganku?


Meski merasa heran, tapi itu tetap membuat kakiku melangkah turun dari kamarku dan menuju ruang tengah yang terdapat kakek dan papah sedang berbincang.


Melliza: "Papah?" kataku lirih membuat kedua pria itu langsung mengalihkan pandangan.


Papah: "Melliza?! sini sayang" katanya begitu antusias dan terlihat begitu bahagia saat melihatku.


Aku tidak mendekat kearahnya, aku lebih memilih duduk bersebelahan dengan kakekku dan menghadap kearah papahku yang masih berdiri dengan menatapku dalam diamnya.


Papah: "Kapan pulang? kenapa tidak memberi tahu papah?" katanya setelah duduk dihadapanku dan kakek.


Melliza: "Tumben perduli? langsung saja pada intinya pah"


Aku sudah sangat paham betul dengan sifat papahku ini, dia itu hampir tidak pernah perduli padaku sejak aku dilahirkan. Bahkan saat aku menjadi bulan bulanan kakakku dia seolah menjadi orang luar yang hanya bisa menonton.


Papah tidak langsung menjawab, dia nampak melirik kearah kakek lalu kembali menatapku sebelum angkat bicara kembali.


Papah: "Papah berencana menjodohkanmu dengan...


Melliza: "Aku tidak mau" jawabku langsung sebelum papahku menyelesaikan kalimatnya.


Papah: "Dengarkan dulu Melliza, dia anak teman papah. Dia kaya dan yang pasti tampan, sangat cocok jika berpasangan denganmu dan menjadi suamimu"


Melliza: "Aku tetap tidak mau!" jawabku tak mau terbantahkan.


Papah: "Temui saja dulu siapa tau kalian..


Kakek: "Cucuku tidak mau, jangan memaksanya" kakek mulai angkat bicara.


Di tengah usaha papah berusaha meyakinkan ku dan kakek tentang perjodohan yang diajukannya kita harus terjeda dengan laporan salah satu security penjaga gerbang rumah.


Kakek: "Kenapa Din?" tanya kakek pada security yang memiliki nama Udin.


Udin: "Maaf tuan didepan ada seoarang pria memaksa ingin masuk, dia mengaku sebagai.. sebagai suami neng Melliza" katanya saat begitu ragu diakhir kalimatnya.


Mas David?


Kakek: "Caca ku belum memiliki suami, usir dia!" perintah kakek pada salah satu security rumah ini.


Benarkah itu mas David?


Apa dia sungguh datang kemari?


Mencariku?


Aku yang masih membayangkan mas David harus terkesiap akan perkatan lirih kakek.


Kakek: "Lupakan"

__ADS_1


Lupakan Melliza.. Lupakan!


Papah: "Apa Melliza begitu populer sampai ada ada saja fans fanatik yang mengaku sebagai suamimu?" papah terkekeh setelah kepergian sang security.


Tapi tak seling berapa lama mang Udin datang kembali dengan membawa sebuah amplop coklat berukuran cukup besar.


Udin: "Maaf tuan, pria itu menyerahkan ini katanya untuk tuan"


Kakek: "Apa itu?" tanya kakek tapi tak kunjung mengambilnya dari tangan mang Udin.


Udin: "Saya tidak tahu tuan, tapi kata pria itu tuan akan menyesal jika tidak membukanya dan membiarkan pria itu masuk"


Aku memperhatikan setiap gerakan kakek yang sedikit ragu ragu membuka amplop itu. Nampak rasa gelisah menghiasi raut wajah yang mulai dibanyaki keriput dimana mana.


Keterkejutan kakek nampak jelas, kakek langsung menutup amplop itu lalu mengontrol nafasnya yang mulai tersenggal.


Papah: "Kenapa yah?" pertanyaan papah langsung meluncur begitu saja sebelum aku hendak bertanya.


Melliza: "Kakek! kakek kenapa?!" aku sangat terkejut saat kakek mulai memegangi dadanya.


Kakek: "Kakek tidak apa apa Caca, jangan khawatir"


Kakek: "Suruh pria brengsek itu masuk!" perintah kakek dilayangkan pada mang Udin yang masih berdiri disebelah kakek.


Setelah mengiyakan perintah kakek, mang Udin pun langsung melesat keluar melalu pintu utama rumah ini.


Kakek: "Caca kembali kamar"


Melliza: "Tapi kenapa kek?"


Kakek: "MENURUTLAH!!!"


Kakek membentakku?


Ini sangat jarang terjadi atau mungkin belum pernah terjadi sebelumnya. Kakek selalu bersikap lembut padaku tak pernah sekalipun membentakku tapi kali ini?


Sebenarnya apa isi amplop itu?


Apa ini ada hubungannya dengan ancaman mas David kala itu?


Dia mengatakan bahwa jika aku pergi darinya maka dia tidak akan segan segan mengancam kakekku.


Aku mulai bangkit dari dudukku dan berjalan pelan dengan masih digelayuti rasa penasan akan apa yang sedang terjadi.


Aku harus mencari cara agar aku mengetahui sebenarnya ada apa antara kakek dan mas David. Kenapa kakek begitu membenci mas David dan mati matian memintaku agar melupaknya?


Aku yang pura pura masuk kamar dengan sengaja membuat suara pintu seperti tertutup padahal jelas aku masih berada diluar kamar. Aku sengaja melakukannya agar aku bisa mendengar percakapan antara kakek dan mas David dibawah sana.


Tak lama aku berdiam diri yang sedang duduk dilantai dengan bersandar pada pembatas tangga mulai mendengar suara ketukan suara sepatu dan langkah kaki yang semakin mendekat.


"Selamat siang tuan Surya Cipto Utomo"


Suara ini?


Mas David?


Sungguh? pria dibawah sana benar benar mas David?


Dia datang kemari?


Aku rasanya ingin berteriak dan berlari kearahnya lalu memeluknya tapi seketika niatan itu aku buang jauh jauh setelah kelibatan tubuh mbak Vanessha yang hanya menggunakan handukku tiba tiba terlintas begitu saja.


"Lupakan Melliza lupakan" gumamku berusaha menyadarkanku kembali.


Papah: "Da.. da..David? kau.. kau David Mayndra?" dari suara papah nampak terlihat begitu terkejut terlebih dengan nada suaranya yang begitu ragu akan apa yang dia lihat.


David: "Benar.. anda masih mengingatku.. ayah mertua?"


Papah: "A.. a.. ayah mertua? si. siapa yang kau sebut ayah mertua?"


Kakek: "Ada urusan apa sampai kamu berani menginjakkan kaki busukmu kelantai rumahku"

__ADS_1


David: "Bersikaplah sedikit lebih bersahabat Surya, apa kamu belum melihat isi amplop itu sampai masih mau melawanku?"


David: "Aku sebenarnya sangat tidak sudi datang kerumah pria bajingan seperti anda, tapi mau bagaimana lagi istriku berada disini dan aku datang bermaksud untuk menjemputnya pulang bersamaku"


Kakek: "Dia Cucuku bukan istrimu!" kakek nampak begitu marah.


David: "Iya kau benar Clara memang cucumu tapi dia sekarang sudah menjadi istriku kakek mertua" nada bicara mas David nampak begitu santai beda halnya dengan kakek yang sudah mulai menyulut emosi.


Kakek: "Jangan panggil aku kakek mertua, kau bukan cucu menantuku!"


Papah: "Apa?! apa yang sebenarnya terjadi? kau? kau menikah dengan Melliza? kapan itu terjadi? kenapa.. Kenapa aku papanya sama sekali tidak mengetahui akan hal itu?"


Kau itu tidak pernah perduli padaku pah, lalu kenapa sekarang seolah kau begitu risau dan gelisah? batinku masih berusaha mendengarkan perbincangan dilantai bawah.


David: "Jelas aku adalah cucu menantumu, cucu menantu dari cucu tersayangmu malahan"


Kakek: "Kau memaksanya David! kau memaksanya agar mau menikah denganmu dan melayani nafsu bejadmu! tak cukupkah kau dulu menyiksaku?!! jangan bawa dia diantara kita, jangan hancurkan masa depannya bukankah permasalah kita sudah selesai"


Apa?


Apa sebayanya yang meraka bicarakan?


Kenapa aku masih belum menemukan titik permasalahannya?


David: "Selesai itu antara kamu dengan papah Junaidi dan Deni tidak denganku"


Kakek: "Tapi perselisihan ini antara kita tidak ada hubungannya dengan Caca"


Kakek: "Apapun! apapun yang kamu inginkan aku akan memberikannya tapi aku minta tolong jangan ganggu lagi cucuku"


Hatiku terenyuh mendengar penuturan kakek.


David: "Anda dari dulu tidak pernah berubah kakek mertua, selalu menyombongkan diri dengan harta yang anda miliki sekarang. Pantas saja istriku menjadi pribadi yang begitu angkuh dan sulit dijinakkan"


David: "Aku tidak pernah menginginkan hartamu, sepeserpun aku tidak sudi menerimanya. Aku sekarang hanya ingin Claraku kembali padaku dan menjadi istriku"


Papah: "Jangan macam macam kamu David! Melliza sudah aku jodohkan dengan pilihanku selaku papanya"


David: "Papah? papah yang tidak pernah perduli akan hidupnya iya?!"


David: "Dan lagi.. sebelum papah mertua menjodohkannya aku pastikan calon yang anda tunjukan untuk Clara itu akan mati mengenaskan tanpa kepala jika sampai anda benar benar melakukannya"


Kakek: "Urusanmu hanya denganku David, jangan bawa Caca didalamnya"


David: "Jika bukan karna Clara cucumu mungkin aku sudah membuat anda teringat kembali akan dinginnya jeruji besi"


David: "Sangat disayangkan aku harus mencintai wanita yang berasal dari keluarga yang paling aku benci. Aku sungguh mencintai cucumu terlepas dari dia yang memiliki keterikatan dengan darahmu"


David: "Aku mencintainya sebelum aku mengetahui seluk beluk keluarganya. Dia dengan daya tariknya membuat aku ingin memilikinya seutuhnya hingga tidak ada cara lain selain memaksanya dengan mengancam kelemahannya yaitu anda. Anda adalah kelemahannya, jadi jangan salahkan saya salahkanlah diri anda sendiri yang membuat cucu kesayangan anda terpaksa memenuhi keinginan saya hanya demi melindungi anda dan keluarga anda kakek mertua"


.


.


.


.


.


.


Sedikit keluh kesah author..


Gue emang ga pernah balas komentar positif sama sekali, tapi gue selalu berusaha agar bisa update tiap hari meski sebenarnya gue harus begadang.


Gue selalu memaksakan tubuh gue agar mau bekerja sama untuk memuaskan para readers sekalian.


Tapi nyatanya udah gue kasih jantung eh malah pada ngelunjak minta ampela


Harusnya lo pada bersyukur gue ga egois dan ga mementingkan jam tidur gue. Udah syukur gue up tiap hari tanpa kendor kadang kalo ada waktu lebih gue kasih dua. Lah ini malah pada ngelunjak!

__ADS_1


Gue mogok up seminggu baru tau rasa! bisa mati penasaran lo pada.


__ADS_2