Dr Clara

Dr Clara
Episode 28


__ADS_3

Untuk mengantisipasi kemurkaan mas David yang akan meluap siap menyembur bagaikan larva gunung meletus yang siap merusak sekelilingnya.


Aku putuskan semua akses yang bisa membuat aku terhubung dengan mas David mulai dengan kontak whatsapp nya yang aku blokir sampai aku yang selalu mengendap endap menghindari tatapan muka dengannya.


Karna mas David yang memiliki kegiatan hampir sama seperti kak Bagas membuat aku semakin mudah memperkirakan kesibukan mas David dan berusaha menghindarinya saat jam kosongnya.


Pernah sekali saat aku sengaja berangkat sepagi mungkin untuk menghindarinya diparkiran Rumah Sakit dan langsung ingin bersembunyi di ruanganku, tapi yang ku lihat mas David malah baru saja masuk kedalam ruanganku sebelum aku sampai disana. Terdapat rasa syukur karna aku belum memasuki ruanganku kala itu dan sejak saat itu aku putuskan untuk meminta diantar jemput selalu oleh kak Bagas agar mas David tidak berani mendekatiku.


Bagas: "Kapan Racanhai?"


Melliza: "Hah? kapan apanya kak?" tanyaku balik saat kita sedang berjalan beriringan menuju ruanganku.


Bagas: "Kapan kita pacaran secara resmi?" tanyanya melihat kearahku.


Melliza: "Ah! itu.. ituu.. Aku belum bisa kak" jawabku tidak enak hati.


Bagas: "Kenapa? apa kamu berniat balikan dengan dokter bedah itu?"


Melliza: "Mana ada! Ga! aku ga mau balikkan sama cowo mesum dan suka memaksa seperti dia. Dia terlalu possessive selalu melarangku dekat dengan pria lain" jawabku jujur.


Bagas: "Tapi memang setiap pria yang benar benar mencintai wanitanya pasti akan bersikap seperti itu Rara, termasuk aku"


Melliza: "Tapi dia terlalu membatasi pergerakanku dan... Ah! aku lupa ada pasien yang harus ku kunjungi" jawabku mulai gerogi dan buru buru.


Bagas: "Baiklah.. nanti pulang aku jemput diruanganmu ok?"


Melliza: "Kak Bagas?" panggilku sebelum pergi.


Bagas: "Kenapa Rara cantikku?" sahutnya membuat pipiku merona.


Melliza: "Boleh minta cium disini?" kataku menunjuk keningku.


Bagas: "Tentu saja boleh, meminta lebih pun boleh"


Mendengar kata lebih aku langsung teringat mas David, kata lebih dalam arti mas David sangatlah tidak baik.


Melliza: "Tidak perlu lebih, hanya disini" jawabku masih menunjuk keningku.


Lalu kak Bagas pun melakukan yang aku inginkan yaitu mencium keningku, cukup lama bibirnya menempel dikeningku sampai aku benar benar merasa puas akan perilakunya.


Melliza: "Terima kasih untuk penyemangat paginya ya kak" kataku penuh senyuman bertaburan diwajahku.


Bagas: "Your welcome sweety" jawabnya mencubit pipiku.


Aku bergegas meninggalkannya

__ADS_1


menuju ruang rawat pasienku, sebenarnya ini tidaklah penting karna pasienku hari ini sudah diperbolehkan untuk pulang. Tapi untuk menjadi alasanku menghindarinya ini sangatlah penting.


Melliza: "Hahaha... rasakanlah sakitnya mas David, rasakan itu sampai kamu lupa bahwa kemarin kemarin kamu sangat mencintaiku" aku berujar sendiri.


Membayangkan wajah mas David yang tadi sedang memperhatikan interaksiku dengan kak Bagas dari balik dinding.


Wajah merah padamnya dari kejauhan berhasil membuatku puas akan hari ini.


Aku bukan wanita murahan yang dengan gampangnya minta dicium apalagi didepan umum, itu semua karna aku melihat keberadaan mas David yang mengawasiku dengan kak Bagas. Kapan lagi aku punya kesempatan membuat mas David emosi meledak tingkat tinggi seperti ini.


Sebenarnya teror mas David bukan hanya dengan dia yang selalu mengawasiku tapi dia juga selalu meninggalkan post it bertuliskan berbagai ancaman ..


**Jangan menghindar dari mas Clara


Jauhi Bagas Clara atau mas tidak akan mengampunimu saat masa itu tiba


Temui mas sepulang kerja di mobil mas yang terparkir ditempat biasa Clara, jangan menolak**


Dan masih banyak lagi ancaman yang dikeluarkannya


Ya kali aku bakal menuruti setiap post it yang tergeletak setiap hari diatas mejaku, dikira Melliza ini bodoh apa mau menurutinya sama saja aku masuk kedalam kandang singa yang sedang kelaparan siap menerkam mangsanya.


Aku selalu membuang post it itu malah kadang aku sengaja membuangnya saat mas David mengikutiku ketika aku bersama kak Bagas.


Marsya: "Akhir akhir ini aku jarang lihat kamu Za, dicari diruanganmu juga ga pernah ada. Kamu sibuk banget yah lagi banyak pasien apa gimana?" tanya Marsya saat kita sedang duduk berdua di kantin.


Marsya: "Oh iya! kamu tahu tidak?..


Melliza: "Tidak!" timpalku sebelum Marsya selesai berbicara.


Marsya: "Aku belum selesai bicara Ellizaaaa" protesnya.


Melliza: "Sorry sorry.. kenapa?" tanyaku dengan menyatukan telapak tangan menandakan meminta maaf.


Marsya: "Dengar dengar akhir akhir ini katanya ada dokter baru" katanya antusias.


Melliza: "Terus?" tanyaku heran.


Marsya: "Dia dokter cowo Elliza, kemarin aku melihatnya dia sangat tampan menawan, badannya tinggi lalu tangannya.. tanganya dia begitu kekar Za" terangnya sambil menatap keatas seolah sedang membayangkannya.


Melliza: "Lalu?" tanyaku polos.


Marsya: "Kamu ini kaya udah bosen dengar kata tampan ya Elliza, dia ini tampan Elliza. T.A.M.P.A.N!"


Melliza: "Ya terus kalau di tampan berpengaruh gitu buat aku?" tanyaku cuek dengan meminum jus alpukatku.

__ADS_1


Marsya: "Bener bener yah kamu Za, males deh cerita sama kamu juga. Tapi ada bagusnya juga kamu tidak minat sama dokter itu, setidaknya lawan terberat aku hilang satu" katanya lalu melahap kembali mie ayamnya.


Melliza: "Pak Jonathan mau dibuang kemana? main pindah hati sesukanya sendiri" sahutku heran terhadap teman satuku ini.


Marsya: "Males ah bahas cowo lelet kaya dia, ga ada gercepnya sama sekali. Mending cari yang.... ee. eeeh itu Za! Za! Elliza! itu dokternya Za!"


Melliza: "Kamu heboh banget sih Marsya, seganteng apa sih cowo itu" kataku lalu menoleh melihat kearah belakang.


Oooh pantas saja ternyata kak Bagas, ya memang kak Bagas ini tampannya diatas rata rata terlebih dimata Marsya yang selalu haus akan cowo tampan jelas kak Bagas ini cowo idamannya.


Melliza: "Oooh dia" kataku lalu membalikkan tubuhku lagi.


Marsya: "Ya ampun Elliza... dia kesini Za! Za demi apa ini dia mendekat kearah gue" katanya excited dengan memegangi dadanya.


Ya ampun temenku satu ini, aku takut membuatnya kecewa karna sebenarnya kak Bagas kearah sini pasti ingin menemuiku tapi ya sudah lah batinku merasa kasian pada sahabatku yang pasti akan merasa kecewa.


Marsya: "Katanya dokter baru ini keponakannya pak David loh Za" Udah tau! batinku menjawab.


Marsya: "Za! dia kesini Za"


Bagas: "Hai Rara cantik nan aduhai, calon pacar boleh ikutan gabung disini?" kata kak Bagas menepuk punggungku yang membuat Marsya menjadi melongo kaku.


Marsya: "Ra.. Rara? ca.. ccc.. calon pacar?" tanyanya terbata bata.


Bagas: "Iya.. Rara adalah calon pacarku. Hai Marsya lama tidak berjumpa" sapa kak Bagas lalu duduk di kursi sisi kiriku.


Marsya: "Kau kenal aku?" tanyanya.


Bagas: "Jelas aku mengenalmu, kamu adalah teman sekampus Rara sewaktu di UnPad. Apa kamu lupa denganku?"


Marsya tidak menjawab dia malah melihat kearahku dengan wajah penuh tanda tanya yang ingin mendapat jawaban dariku.


Marsya: "Dia kak Bagas Marsya.. kakak kampus yang dulu selalu ngintilin kita setiap keluar kelas itu loh masa kamu lupa" terangku dan ditanggapi dengan wajah semakin melongo.


Marsya: "Kak Bagas cowo culun nan cupu itu maksudmu Za?" tanyanya dan mendapat anggukan keras dariku.


Bagas: "Itu dulu ya.. sekarang ga cupu dan culun lagi" sahutnya tidak terima.


Marsya: "Wah kak Bagas Marsya sampai ga bisa kenalin kak Bagas karna penampilan kakak yang sekarang loh" Marsya menopang dagunya dengan kedua tangannya yang bertumpu pada sikunya dimeja.


Bagas: "Benarkah? apa sekarang aku sudah menjadi cowo ganteng dan keren?" tanyanya eksis.


Marsya: "Jempol kak" sahutnya memberi dua jempol tangannya.


Bagas: "Berarti sekarang sudah layak jadi.. Loh! Om kenapa berdiri terus dibelakangnya Rara? ga mau duduk?"

__ADS_1


Om? maksudnya mas David?


Dia disini? Dibelakangku?


__ADS_2