
Tawa renyahnya langsung memenuhi telingaku, setelah mengatakan bahwa pria yang sangat teramat aku sayangi ini adalah kekasih gelapku dia tak kuasa lagi menahan tawanya.
"Caca dari dulu bisa saja membuat kakek tertawa dengan tingkah yang tidak berubah dari dulu" katanya setelah merasa puas tertawa.
Ya! my lovely, kekasih gelapku adalah kakekku sendiri. Sikap over protektif kakek terhadapku dari jaman Taman kanak kanak sampai aku kuliah atau mungkin sampai sekarang masih kakek terapkan padaku.
Melliza: "Bagaimana kabar kakek sekarang? kakek masih tidak lupa pesanku kan untuk menjaga kolestrol kakek?"
Kakek: "Kakek tidak lupa kok sayang"
Melliza: "Ingat juga diabetes kakek!" aku terus memperingatinya akan penyakit yang sudah melekat lama pada tubuh kakekku tersayang itu.
Kakek: "Iya iyaaaa Caca ku yang baweeeel" sahutnya nampak pasrah dari nada suaranya.
Aku hanya tersenyum menanggapi perkataannya yang pastinya kakekku tidak akan melihatnya.
Kakek: "Sangat kebetulan sekali Caca menelfon kakek, baru saja kakek ingin menelfon cucu kesayang kakek satu ini"
Melliza: "Kan kita satu hati" sahutku penuh kegirangan.
Kakek adalah orang yang paling aku sayangi dan aku hormati setelah mamah. Meski mamah telah meninggal sebelum aku dapat melihatnya tapi aku sangat menyayanginya dan menghormatinya karna mamah lah yang telah berjuang sekuat tenaga untuk melahirkanmu kedunia ini. Sampai akhirnya mamah harus kembali pada-Nya setelah perjuangannya berusaha melahirkanku.
Bagaimana dengan papah?
Semenjak aku mengetahui sifat terburuk papah aku, aku langsung bersikap biasa saja. Aku yang dulu masih terhitung sebagai anak kecil dengan usia kurang lebih 4th sudah mengetahui sifat buruk papahku yang langung membuat aku tidak lagi menseganinya dan menghormatinya layaknya seorang anak yang seharusnya patuh akan perkataan papahnya.
Aku lebih respect pada kakekku yang selalu ada dan selalu memberikan kasih sayang yang seharusnya aku dapatkan dari mamah dan papahku. Tapi walaupun hanya mendapat kasih sayang dari kakek aku sudah sangat merasa cukup.
Sejak papah secara terang terangan menelantarkanku diusia yang masih 5th, kakek langsung memboyongku dan merawatku sampai aku dewasa. Dia mendidikku, mengajariku akan hal baik dan buruk. Bagiku dia adalah motivator, selalu menuntunku dan membawaku kejalan yang penuh dengan kesuksesan. Kakek tidak pernah perhitungan sama sekali akan semua kemauanku yang kadang termasuk dapat menjebol kantongnya sebagai seorang pengusaha.
Maka dari itu, aku selaku menomor satukan dirinya sebelum aku memikirkan diriku sendiri. Aku ingin dia bangga karna telah memiliki cucu sepertiku.
Melliza: "Kakek memangnya mau membicarakan apa sama Caca?"
Caca...
Nama yang tidak sangat disengaja saat kakek mengucapkannya dulu.
Kala itu kita sedang bermain di taman depan rumah kakekku yang berada di komplek elit dikota Malang.
Kakek yang sedang berusaha mengejar Melliza kecil tidak sengaja tersandung dan mengakibatkan dia yang sedang berusaha mengejar dan memanggil namaku langung meleset dan salah menyebutkan nama.
'Aduh.. Mellica.. ca.. caca' katanya kala itu yang langung membuat Melliza kecil ikut menirukannya karna merasa lucu.
__ADS_1
Dan karna itu kakek memutuskan ingin memanggil namaku dengan sebutan Caca. Dia ingin beda dari yang lain katanya dulu.
Kakek: "Kakek sedang mengurus proses masa magangmu agar cepat diakhiri" sahutnya yang masih disebrang sana.
Melliza: "Kenapa diakhiri kek?" tanyaku heran.
Kakek: "Kakek tidak mau kamu berada di Rumah Sakit itu"
Melliza: "Memangnya kenapa dengan Rumah Sakit tempat Caca magang?" tanyaku terheran heran.
Kakek: "Kakek hanya ingin kamu berada dilingkungan terbaik, jadi kakek memutuskan akan memindahkanmu"
Melliza: "Tapi Caca nyaman kok kek berada disini, toh masa magang Caca tinggal sebulan lagi kan"
Kakek: "Kalau begitu Caca stop saja sampai disini, lalu pulang dan menjadi dokter di Rumah Sakit kita sendiri saja"
Melliza: "Caca tidak mau diremehkan sama kedua kaka Caca kek, Caca ingin membuktikan bahwa Caca mampu tanpa embel embel nama kakek dibelaka Caca"
Kakek: "Kakek akan menegur kedua kakakmu agar tidak lagi mengusikmu"
Melliza: "Itu tidak akan merubah pandangannya terhadapku kek, bahkan mungkin mereka akan semakin merendahkanku nantinya" aku terus berusaha menyadarkan kakekku yang berniat menyudahi masa magangku yang tinggal satu bulan lagi.
Helaan nafas kakek sangat jelas terdengar ditelingaku.
Bagaimana mungkin aku bisa berjanji padanya. Jika kondisinya aku masih sendiri mungkin aku akan langsung mengiyakan permintaannya, tapi disini ceritanya sudah berbeda. Mas David jelas sudah mengikatku, tidak akan mudah untuk terlepas darinya belum lagi dengan ancamannya yang belum aku ketahui.
Melliza: "Kakek Caca mau bertanya boleh?" tanyaku meminta izin.
Kakek: "Kenapa harus meminta izin untuk bertanya honey? tanyakan saja semua yang kamu ingin ketahui, kakek akan berusaha menjawab jika kakek tahu jawabnya" sahutnya yang sedikit menahan tawa.
Melliza: "Begini.. apa kakek mengenal David Setya Mayndra?" tanyaku karna sangat penasan akan hubungan apa yang telah terjalin antara kakek dan mas David.
Kakek sudah tua, dia sudah berumur 72th sekarang tidak mungkin kan dulu mas David dan kakek berteman?
Kakek: "Siapa?! Da.. David Mayndra? David?!!" kakek nampak terkejut setelah aku mengucapkan nama suamiku itu.
Melliza: "Iyaa" sahutku santai.
Kakek: "Apa Caca bertemu dengannya? Apa dia menyakitimu? Apa dia mengatakan sesuatu padamu? Apa dia..
Melliza: "Kakek satu satu" selaku.
Kakek tidak langsung menjawab, keheningan mulai membentang diponselku tanpa adanya suaranya lagi.
__ADS_1
Kakek: "Caca mengenalnya?" tanyanya tiba tiba setelah hening sekian lama.
Melliza: "Iya, dia.. Dia dokter pembimbingku"
Tidak mungkin kan aku menjawab mas David adalah suamiku batinku.
Kakek: "Keluar dari Rmah Sakit itu sekarang Caca" perkataannya datar sangat berbeda dengan nada suara yang tadi.
Melliza: "Memangnya kenapa kek?"
Kakek: "Pokoknya keluar dari Rumah Sakit itu Caca" sahutnya tak menjawab pertanyaanku.
Melliza: "Berikan alasan pastinya kek, apa ini berhubungan dengan pak David?"
Kakek tidak menjawab dia langsung diam begitu saja.
Melliza: "Kek Caca disini tidak kenapa kenapa kok, Caca sehat dan tidak terluka sama sekali jadi kakek jangan khawatir, dan pak Daviiid.. dia baik orangnya tidak menyulitkanku sama sekali"
Kakek: "Benarkah?" kakek mulai angkat bicara.
Melliza: "Jika aku merasa kesulitan aku pasti akan langung mengeluh pada kakek kaaan, dan meminta kakek untuk membantuku menyelesaikan masalah disini. Tapi buktinya aku hampir enam bulan disini tanpa mengeluh sama sekali kan sama kakek berarti itu tandanya aku nyaman berada disini" terangku berusaha meyakinkannya.
Aku tidak bisa main pergi begitu saja, terlebih dengan sikap mas David yang suka nekat semuanya.
Kakek: "Baiklah kakek percaya padamu, tapi dengarkan pesan kakek ini Caca..
Kakek: "Sebisa mungkin jauhi semua orang yang berharga Mayndra dan Daynitra. Jauhi semuanya tanpa terkecuali baik itu wanita maupun laki laki"
Mayndra adalah marga mas David.
Tapi Daynitra?
Daynitra adalah marga kak Bagas.
Sebenarnya ada apa ini?
Ada maslah apa antara kakek dan kedua marga ini.
Apa kakek bersaing dengan keluarga Mayndra dan Daynitra dalam bidang usaha kesehatan?
Tapi kakek memiliki banyak usaha, bukan hanya bergerak dibidang kesehatan.
Dan Mayndra?
__ADS_1
Bukankah papah mas David seorang TNI? lalu apa hubungannya dengan kakek.