Dr Clara

Dr Clara
Episode 70


__ADS_3

Setelah berbelanja semua kebutuhan ku dan juga kebutuhan pangan ku aku langsung kembali ke apartemenku yang sudah disambut oleh Marsha dengan tangan yang terlipat di depan dada.


Dia menunjukkan ekspresi marah karena telah menungguku selama hampir 2 jam di depan apartemenku.


Tetapi setelah melihat 3 kantong plastik yang berada di kedua tanganku dia langsung tersenyum dan menunjukkan ekspresi riangnya.


Marsya: "Kenapa tidak mengajakku tadi" katanya yang membantu ambil alih dua kantong yang aku bawa.


Melliza: "Jika aku mengajakmu kantong ini buka penuh dengan kebutuhanku tapi dengan kebutuhanmu" jawabku sekenanya lalu mulai masuk kedalam apartemen bersama Marsya.


Dua minggu sudah Masha menginap di apartemenku dan dalam waktu dua minggu itu juga mas David tak henti hentinya datang dan mencoba ingin bertemu denganku tapi Marsha selalu datang menghalau terlebih dahulu dan mengusirnya secara terang terangan bahkan di hadapanku sekalipun.


Hingga akhirnya dia tak datang selama dua malam dan juga aku tak melihatnya di rumah sakit selama dua hari.


aku selalu menyemangati diriku sendiri dengan ucapan kakek yang akan menolongku dari cengkraman mas David.


Dia berkata bahwa Mas David menikahiku hanya untuk membalaskan dendamnya pada kakekku.


kakek juga berkata...


"Bertahanlah sebentar lagi kakek akan menolong Caca"


Meski awalnya aku takut karena bisa saja mas David mengancam kakekku kembali tapi dengan yakin dan percaya kakek berusaha meyakinkan ku.


Hari ini Marsha pergi ke Bandung untuk menemui keluarganya yang katanya sedang mengalami musibah dia juga berpesan padaku untuk tidak membuka pintu sama sekali terhadap Mas David apapun alasan yang mas David berikan Marsha menekankan JANGAN pernah membuka pintu untuknya.


Dan sekarang aku benar benar menyesal karena tidak mendengarkan perkataan Marsha.


Flashback on


"Lo disini juga Melliza?"


Suara seorang wanita yang mulai aku kenali sebagai salah satu pasienku.


Melliza: "Iya mbak Vanessha" kataku dengan senyum canggung karna melihat mas David berdiri disebelahnya.


Vanessha: "Lo nge mall sendirian?"


Aku hanya tersenyum penuh kepura puraan lalu mengangguk.


Dia juga manggut manggut sambil memperhatikan beberapa paper bag yang aku bawa.


Vanessha: "Loh gue kira muka kinyis kinyis lo itu pake salah satu prodak New York ternyata pakai produk lokal yah?"


Melliza: "Iya aku pakai yang lokal ini juga kualitasnya bagus kok tidak kalah dari produk luar negri"


Vanessha: "Tapikan itu kualitas nomer dua Melliza emang lo ga tahu yah? masih bagus yang dari New York itu produk nomer satu"


Melliza: "Iya memang kadang posisi itu lebih diutamakan meski kualitas nomer dua jauh lebih baik bahkan bisa mengalahkan kualitas nomer satu tetap saja dimata dunia dia nomor dua. Nomor dua tetaplah nomor dua iya kak pak David?"


Mas David yang sedari tadi berusaha cuek akan interaksi kedua istrinya ini langsung menatapku saat ku lontarkan kenyataan yang mungkin telah menamparnya.


"Belum tentu juga" suara dari arah belakangku membuat aku memutar tubuhku menghadapnya.


Melliza: "Kak Bagas?" kataku lirih menyadari kedatangannya.


Bagas: "Mungkin dimata wanita nomer dua itu tidak ada artinya tapi bagi kami para pria, adanya nomor dua berarti karna nomer satu itu tidak ada gunanya makanya kita kaum pria lebih tertarik akan nomer dua" kata kak Bagas dengan memeluk pinggangku.


Bagas: "Hai om hai tante" sapa kak Bagas dengan senyumnya pada dua manusia dihadapan kita.


Setelah berbasa basi dengan kedatangan kak Bagas akhirnya kak Bagas dan mbak Vanessa memutuskan untuk makan siang disalah satu restoran Jepang yang ada ada di mall ini.


Vanessha: "Kalian pacaran?" tanya mbak Vanessha yang sudah duduk berhadapan denganku.


Bagas: "Iya" tanya kak Bagas dengan memeluk pundakku.


David: "Sejak kapan?" tanyanya yang sedari tadi tak terdengar suaranya.


Bagas: "Sejak Racanhai pulang dari Malang"


Vanessha: "Racanhai?"


Bagas: "Rara cantik nan aduhai" sahut kak Bagas semakin mendekatkan tubuhku padanya.


Aku tak menolaknya sedikitpun karena semakin kak Bagas memelukku maka semakin melotot lah sepasang mata yang duduk di hadapan kak Bagas.


Vanessha: "Enaknya pesan apa ya mas?" tanya mbak Vanessha meminta saran pada orang disebelahnya.


Bagas: "Pacar pesanin Sushi ya Ra?"


David: "Jangan memakan makanan yang mengandung salmon" kata mas David tapi pandangannya pada buku menu yang berada ditangan mbak Vanessha.


Vanessha: "Memangnya kenapa mas?"


Melliza: "Aku mau ini saja kak" tunjukku pada salah satu menu yang ada.


Bagas: "Ramen?" tanya kak Bagas heran.


David: "Tidak ada gizinya jangan memakan itu"


Vanessha: "Tidak ada gizinya bagaimana Mas? ikan itu kan bagus untuk pertumbuhan otak calon bayi juga"


Bagas: "Jadi Rara mau Ramen saja?" tanya kak Bagas dengan memperhatikanku.


Melliza: "Iya! yang pedes" pintaku padanya agar menyampaikannya pada salah satu pelayan yang ada.


David: "Keras kepala!" kata mas David langsung menutup buku menunya cepat.


Vanessha: "Ya sudah, mas David mau aku makan apa malam ini"


David: "Terserah.. sesukamu"


Setelah pesanan kami datang dengan aku yang langsung berhadapan dengan Ramen yang super terlihat sangat menggoda.


Aku melahapnya dengan sangat menikmati, kuahnya begitu terasa di lidah ku yang bervariasi karena rempah rempah dan juga kaldu yang membuat aku terbuai karena rasanya.


Untuk pertama kalinya aku bisa memakan makanan yang dulu sangat aku gemari dihadapan suami yang dulu sangat sangat teramat posesif.


Aku tak perduli lagi dengan tatapannya yang aku pedulikan adalah sekarang aku ingin memiliki hidupku sendiri merasakan kebebasan untuk sekarang nanti dan selamanya.


Vanessha: "Jadi kalian ada rencana kedepannya tidak dengan hubungan kalian saat ini" tanya mbak Vanessha disela usahanya mengunyah makannya.


Bagas: "Ya rencananya besok aku hendak mengajak Rara berlibur sekalian bertemu kedua orang tuaku baru setelah itu aku akan datang secara langsung kekediaman kakeknya Rara untuk meminta izin meminangnya.

__ADS_1


Flashback of


Melliza: "Mas David?" gumamku sambil menengok kanan kiri.


Mas David langsung mendorong tubuhku masuk kedalam apartemen dan dia menguncinya.


David: "Kenapa? kecewa karna yang datang suami bukan selingkuhan?"


Ya kejadian semalam membuat aku mengiyakan keinginannya kak Bagas untuk berkunjung ketempat orang tua kak Bagas yang sekarang berada di Anyer.


Melliza: "Mending sekarang mas David pulang, istri pertamamu mungkin sedang membutuhkan suami siaga untuk menjaga calon anaknya" sindirku mengusirnya langsung.


David: "Tapi kali ini mas membutuhkan kamu sayang" dia berusaha mendekat kearahku.


Melliza: "Pulang mas" kataku dingin.


Mas David langsung meraih tubuhku yang hanya menggunakan handuk, yang memang pasalnya aku ini baru kelar mandi.


Niatan awal aku dan kak Bagas janjian akan pergi jam 9 dengan kak Bagas yang menjemputku, tapi saat aku mendengar ketukan pada pintu apartemenku aku sama sekali tidak memilki rasa curiga sama sekali meski jam masih menunjukan pukul 06:15 WIB.


Melliza: "Lepas mas David" aku berusaha memberontak.


David: "Apa Clara lupa ini hari apa? ini hari ulang tahun mas yang ke 38th sayang" ucapnya yang mendengus ditengkukku yang masih lembab.


Melliza: "Lalu apa urusannya denganku?"


David: "Apa Clara tidak memiliki keinginan untuk mengucapkan selamat pada mas?" dia mendongak dari tengkukku melihat kearah wajahku.


Melliza: "Selamat ulang tahun" kataku singkat mengalihkan pandangan darinya.


David: "Doanya?"


Melliza: "Semoga kau diberi jalan agar tidak menyakiti hati wanita lagi, dan semoga calon anakmu diberkahi Tuhan agar tidak memiliki sifat yang sama seperti ayahnya"


David: "Clara benar.. calon anak"


David: "Sekarang mas akan memintanya padamu"


Melliza: "Meminta apa?" tanyaku langsung menyelidik begitu mas David melepaskan pelukannya.


David: "Mas ingin meminta kado darimu sayang, kado ulang tahun mas yang akan kamu rawat dan kamu jaga selama sembilan bulan. Disini" mas David langsung menunjuk perut rataku.


Melliza: "Aku tidak mau!" aku menepis tangannya.


David: "Mau tidak mau, suka tidak suka mas akan tetap melakukannya pagi ini"


Melliza: "Ingat perjanjian kita mas!" aku berusaha menyadarkannya dari niatannya.


David: "Untuk apa memikirkan perjanjian jika kamu saja selalu melanggarnya" mas David mulai mendekat dengan membuka kaos yang dia kenakan.


David: "Pertama Clara tidak mendengarkan perintah mas untuk menjauhi bagas" mas David mulai melepas gesper celana dan terus bergerak maju seiring aku yang terpundur.


David: "Kedua Clara menjadi pembangkang dan tidak penurut lagi" mas David melepas pengait celana dan menurunkan retsletingnya.


David: "Dan yang ketiga.. Clara masih memiliki niatan untuk kabur dari mas, maka dari itu mas juga tidak ingin menepati janji mas untuk tidak menghamilimu sayang"


Tidak jangan sekarang Tuhan ku mohon, aku baru kemarin selesai menstruasi dan diperkirakan ini adalah masa kesuburanku, akan banyak kemungkinan besar aku hamil jika mas David menaruh spermanya sekarang batinku.


Melliza: "Jangan mas.. Aku mohon" kataku berusaha memelas saat mas David hendak melepas handukku.


Melliza: "Aaah.. jangan mas, aku mau melayanimu tapi jangan hamilii aku"


Kedua tangan mas David terus berusaha *** payudaraku dan tidak mendengarkan perkataanku, bibirnya menelisik setiap inci kulit leher serta wajah.


Paha mas David berada disela sela selangkanganku yang tak tertutupi kain, dia menggeseknya memberikan sensasi padaku.


CUP


David: "Kamu hanya boleh berada disekitar mas tidak boleh pergi jauh apalagi menghilang"


Ciuman mas David langsung turun kebawah, mencium payudaraku dan sekiranya turun terus keperut hingga berakhir di surga dunianya.


Tak lama dia bermain dibawah sana, mas David langsung berdiri dan membopongku menuju ranjang.


David: "Langsung ke inti"


Mas David meletakkanku diatas ranjang yang telah mengalami klimaks dua kali hanya karna jari dan lidahnya tadi.


Melliza: "Itu apa yang mas David pakai" tanyaku was was saat melihat mas David yang baru saja meraih celana diluar dan tiba tiba datang dengan mengelap adek kecilnya menggunakan benda yang berupa tisu.


David: "Ini hanya agar kita bermain lebih lama dari biasanya"


Melliza: "Mas kamu sungguh ingin menghamiliku?"


David: "Kenapa tidak sayang"


Melliza: "Ga! lepas mas David aku tidak mau, LEPAS!" teriakku frustasi saat mas David memaksa tubuhku agar berbaring dibawahnya.


David: "Aaaahh.. sudah saat tegang Claraah" rancaunya saat miliknya menyentuh vaginaku.


Melliza: "Ga mas! jangan lakukan itu, aku mohon"


"Aaahhhh"


Dadaku membusung, kedua tanganku yang diapit olehnya disisi kanan dan kiri menggenggam kuat, kakiku bergetar saat mas David memasukkannya secara paksa dengan sekali hentak.


David: "Kamu harus hamil sayang, HARUS!" katanya setelah melepas kedua tanganku.


Aku berusaha melawannya yang mulai menggerakkan pinggulnya perlahan.


Melliza: "Ga mas hiks.. jangan mas..hiks hiks" aku menangis berharap mas David iba setelah melihat air mataku.


Tapi sayangnya bukanya iba mas David malah mulai mempercepat ritme genjotanya.


Melliza: "Aahhh sakit mas.. pelan mas, pelan"


Bukan pelan yang ia lakukan, mas David malahan semakin mempercepatnya.


Aku menggeleng tak kuat saat milik mas David keluar masuk dengan kuatnya bahkan tubuhku ikut terhentak seiring dorongannya.


Bahkan rasa sakit saat pertama kali melakukannya tidaklah seperti ini. Ini lebih menyakitkan dari diambil keperawanannya kala itu.


Aku langsung menggeleng cepat dan berusaha memberontak saat kurasakan miliknya bergetar dibawah sana.

__ADS_1


Mendapati aku yang selalu berusaha melepaskan diri saat hendak dibuahi mas David langsung memegangi kedua sisi pinggulku dan menekannya dalam agar miliknya semakin masuk menekan diding rahimku.


David: "Ehh.. eh. eh. eh shhh aaaaahhh"


Mas David semakin menekan milikku agar sperma yang baru saja dia keluaran tertanam semua didalam diriku.


Terlambat


Sakit hati rasanya saat mas David egois seperti ini. Dia selalu mengklaim bahwa aku miliknya dan sekarang dia juga ingin memaksaku untuk mengandung anaknya.


Mas David tak diam sampai disitu setelah rasanya telah puas mengambil nafas mas David memulai kembali aksinya dengan melakukannya sambil berdiri.


David: "Aaah.. tidak kuat sayaaaang"


Entah apa yang tadi mas David pakai, meski adek kecilnya tetap tegang tapi begitu mudahnya mengeluarkan sperma saat baru memulai permainan baru.


Sudah berkali kali miliknya menimpa rahimku dengan spermanya, sudah berkali kali pula dia membolak balikkan badanku sesuai keinginannya tapi adek kecilnya belum juga mau beristirahat.


David: "Naik Clara" pintanya yang baru terbaring dengan nafas memburu.


Aku masih diam dalam tangisku tak mau menanggapinya karna rasa kecewa.


Karna tak ada pergerakan dari tubuhku mas David langsung menarik tubuhku berada diatasnya.


David: "Masukan" katanya dingin.


David: "Masukan Clara!" bentaknya yang langsung membuat aku semakin menangis.


Aku memasukannya perlahan meski rasanya masih sangat sakit.


David: "Genjot milik mas" katanya dengan menyibakan rambutku kearah kiri bahuku.


David: "GENJOT CLARA!!!"


Melliza: "Hiks.. hiks.. sakit mas. ini ku sakit hiks. sakiit" rengekku yang sudah tertunduk diatas wajahnya.


Melihat aku yang menangis bahkan menitikan air mata di pipinya tidak membuat mas berhenti.


Kedua tanganya terus memandu pinggulku agar terus naik turun memompa miliknya.


Melliza: "Ah.. ahh.. sakit.. ahhh"


Mas David kemudian membalikkan tubuhku dan meletakan bantal dibawah pinggulku.


Entah apa yang dia lakukan tapi kemudian mas David memasukan miliknya kembali dan langsung mempercepat gerakannya.


Hanya tangis dalam diam yang aku lakukan saat berkali kali mas David menumpahkan spermanya.


David: "Aaaaaaahhh.. jadilah ah jadilah"


Tubuhnya langsung meluruh diatas tubuhku dengan keringat yang sudah membanjirinya dipagi ini.


CUP


Mas David mengecup keningku kemudia dia melepaskan penyatuan kami.


Dia bergerak turun sejajar dengan perutku.


David: "Cepat hadirlah diantara kami nak, berkembanganlah kamu agar usaha daddy tidak sia sia. Daddy menunggumu"


Katanya yang sama sekali tak aku hiraukan.


Mas David kembali naik merangkak sejajar dengan wajahku yang cuek akan keberadaan tak mau melihatnya.


CUP


David: "Maaf sayang.. tapi mas sungguh harus membuatmu hamil"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Dari kemarin banyak banget yang menerka nerka tentang alur cerita novel ini, tapi sayangnya tidak ada satupun dari mereka yang memiliki imajinasi yang sama dengan gue.


Dan untuk beberapa pihak yang mengatakan bahwa sebenarnya gue selaku author tidak mau up 10 Episode dan mengubah alur cerita yang tidak sesuai dengan apa yang disebutkan oleh readers sekalian itu adalah salah besar.


Gue sudah mengatakannya di awal bahwa gue ini adalah tipe penulis atau author yang sudah menyiapkan semua alur cerita dari awal hingga ending bahkan gue sudah menentukan ending seperti apa yang akan mengakhiri cerita ini.


Ingat satu hal meski gue ini bukan penulis penuh dengan pengalaman tapi gue selaku penulis pemula gue ingin memberikan suguhan terbaik gue meski kosakata gue itu jauh dari kata sempurna.


Gue nggak pernah ngeles atau menghindar jika memang ada readers yang bisa menebak yang bisa menerka alur seperti apa yang akan selanjutnya aku suguhkan dalam episode berikutnya.


Bahkan aku berani jamin untuk episode berikutnya tidak akan ada yang bisa memikirkan sampai sejauh itu karena ini adalah salah satu episode yang memiliki kartu As terbesar gue.


Dan untuk kalian yang sangat menunggu nunggu penjelasan dari dr.David tentang anak siapa yang dikandung oleh Vanessa ?


Tentang apa alasan dr.David mengininkan dr.Clara hamil


Tentang semua rahasia dr.David akan terkuak dalam satu episode yang dikhususkan dalam part Prov David Setya Mahendra.


Jadiiiiii....

__ADS_1


TERUS PANTENGIN


ndk.id


__ADS_2