Dr Clara

Dr Clara
Episode 58


__ADS_3

Bukan hanya karna permasalah sp*rma kita saling bertentangan. Tapi karna sift kita yang saling berbeda dalam seminggu ini membuat mas David murka karna tidak bisa tidur bersamaku.


Dia bahkan marah marah tak jelas padaku karna nafsunya tak tersalurkan.


Melliza: "Memangnya salah aku tidak bisa ngelonin mas David tidur? ini tuntutan kerja mas, apalagi aku masih dalam tahap magang"


Aku tahu sih mas David ini marah pasalnya seminggu ini bahkan kita sama sekali tidak saling menyentuh satu sama lain. Bahkan untuk bertelur sapa saja hanya sebentar saat di Rumah Sakit.


David: "Ya sudah minggu besok sift satu kan?"


Aku langsung diam, bingung harus mengatakan apa pada mas David.


David: "Kenapa diam? Clara sift satu kan minggu depan?"


Aku hanya menggeleng lemah.


David: "Jadi maksud Clara.. minggu depan juga sift dua? Iya?!!"


Mas David langsung bangkit dari duduknya dan memakai kembali pakaiannya hanya saja dia berganti pakaian yang lebih rapih dan formal.


Melliza: "Mas David mau kemana?" tanyaku heran yang masih berada diatas ranjang.


David: "Mau ke Rumah Sakit mengubah jadwalmu" sahutnya tegas.


Melliza: "Mas jangan seperti itu dong mas! itu namanya mas David memaksa. Tidak cukup ya mas David memaksaku?!" aku juga mulai geram dengan tingkah mas David yang seperti anak kecil.


Apa sangat sulit baginya tidur tanpa dikelonin sambil nete sama aku?


Lalu dulu sebelum bersamaku bukannya mas David tidurnya juga terbiasa sendiri? kenapa sekarang ada aku malah jadi super manja gini.


Tidak ingat umurkah mas David ini yang sudah mau mendekati kepala empat.


David: "Memaksamu? mas memaksamu?"


Aku mulai jengah dengan pertanyaan yang bahkan tidak perlu dijawab lagi.


Melliza: "Apa perlu aku sebutkan satu persatu hal apa saja yang mas paksakan terhadap diriku?"


Melliza: "Mas memaksaku agar menikah dengan mas, mas David memaksaku melayani nafsu mas setiap harinya dengan rasa yang tak pernah puas, mas juga sekarang sudah mulai berani ingin memaksaku hamil anak mas, dan mas...


David: "Clara terpaksa?"


David: "Jadi.. Clara selama ini terpaksa menikah dengan mas? Clara juga terpaksa disentuh oleh mas?"


Melliza: "Menurut mas David?"


David: "Apa sampai sekarang Clara pun masih terpaksa melayani mas?"


Melliza: "Masih perlu ditanya?!"

__ADS_1


Mas David tersenyum getir setalah mendengar jawabanku. Dia menutupi tubuh polosku dengan selimut sampai kepalaku saja yang terlihat.


David: "Terpaksa yah?"


Setelah mengatakan itu mas David langsung keluar kamar dan membanting pintu cukup keras hingga memekakkan telingaku.


Dan sejak saat itu balada rumah tanggaku dengan mas David telah dimulai.


Aku yang tidak pernah lagi melihat wajahnya bahkan di Rumah Sakit sekalipun, padahal minggu kemarin setiap harinya dikala pagi pasti kita menyempatkan waktu untuk bertemu. Tapi tidak dihari ketiga minggu ini, mas David sama sekali tidak datang keruanganku seperti biasanya. Bahkan pesanku pun tidak dibalas olehnya, telepon selalu tidak diangkat padahal jelas kita tinggal serumah.


Melliza: "Loh tumben mobilnya mas David belum berangkat" kataku saat baru saja turun dari mamang ojol.


Melliza: "Mungkin memang sengaja tidak membawa mobil kali" gumamku sambil melangkah masuk.


Sepi


Rumah mas David memang selalu sepi, apalagi dengan aku yang berbeda sift dengan mas David seperti sekarang. Mbak Vanessha pulang kerumah biasanya agak siang lalu pergi lagi malam malam dan itu pun jika dirumah dia habiskan waktunya didalam kamar.


Aku pun mengistirahatkan tubuhku dikamar depan, rasanya sangat lelah hingga aku lupa untuk membersihkan diri dan lebih mengutamakan tidurku.


Sudah empat hari berlalu dan sekarang hari kelima tapi aku belum juga melihat wajah suamiku itu.


Apa mungkin mas David marah padaku makanya dia menjauhiku?


Tapi apa yang salah?


Sebenarnya aku sudah tidak masalah lagi untuk melayani nafsunya dan aku sudah tidak terpaksa lagi seperti waktu pertama. Yang kemarin aku katakan aku hanya ingin dia tidak lagi memaksakan kehendak orang hanya demi dirinya sendiri. Aku ingin dia bisa memahami diriku dan tidak memaksa aku lagi.


Melliza: "Aduh.. hati hati dong kalau jalan, jangan meleng begitu" omelku pada seseorang yang jalanya sempoyongan seperti orang mabuk.


Melliza: "Kak Bagas?"


Ternyata setelah aku lihat pria yang tak sengaja menabrakku itu adalah kak Bagas atau mungkin lebih tepatnya keponakanku.


Bagas: "Racanhai... maaf ya maaf aku lagi migrain" katanya dengan memegangi kepalanya.


Melliza: "Hah?! kak Bagas kena migrain?"


Melliza: "Buru buru diobatin kak nanti keburu parah loh" kataku memberi saran padanya.


Bagas: "Obatnya cuma om David"


Bagas: "Om David itu kenapa sih pake acara tidak berangkat segala kan jadi semua aku yang..


Melliza: "APA?!" aku terkejut.


Bagas: "Apa?" kak Bagas malah balik bertanya.


Melliza: "Mas.. oh maksudnya pak David tidak berangkat?"

__ADS_1


Melliza: "Kenapa pak David tidak berangkat? sudah berapa lama? dan alasanya pak David izin itu karna apa?" tanyaku beruntun.


Bagas: "Tanyanya satu satu Racan...


Melliza: "Sudah jawab saja!" potongku karna merasa pemasaran.


Mas David tidak berangkat? dia kenapa apa sebegitu tidak inginnya mas David melihatku dan menghindariku sampai mas David minta izin seperti itu?


Bagas: "Sudah dua hari om David izin, dia sakit..


Melliza: "SAKIT?!!"


Pikiranku langsung melayang membayangkan mas David yang kini tengah kesakitan seorang diri.


Pulang


Ya hanya itu yang harus aku lakukan sekarang.


Bagas: "Racanhai mau kemanaaaa?" teriaknya saat aku sedang berjalan cepat hendak pulang kerumah mas David.


Aku tidak lagi menggubris sapaan atau bahkan godaan godaan yang ditujukan padaku. Yang aku pikirkan saat ini adalah suamiku sedang sakit dan dia butuh aku sekarang.


Melliza: "Mas David sakit tapi kenapa tidak ngomong sama aku sih? sudah dua hari pula kenapa aku juga tidak menemuinya saat dirumah" gumamku saat menunggu mamang ojol yang tak kunjung datang.


Melliza: "Haduuuuh.. ini kenapa drivernya lama banget sih! tinggal belok kanan terus lurus lalu ngebut udah samapai kenapa pakai acara berhenti segala sih" omelku yang mulai geram pada si mamang ojol.


Sepanjang perjalanan menuju rumah, aku selalu telepon mas David tapi nyatanya mas David sama sekali tidak mengangkat panggilanku. Pesan whatsapp pun tidak ada yang dibalas bahkan tidak dibaca olehnya padahal jelas jelas dia sedang online.


Saat motor matic yang aku tumpangi mulai terparkir di halaman rumah mas David, aku langsung membayarnya dan berlari menuju rumah.


Mbak Vanessha sudah pergi? tumben padahal ini masih sore biasanya kan pergi agak malaman dikit. Tapi ya syukurlah setidaknya aku tidak perlu berakting pura pura jadi orang luar batinku.


Aku tarik hendel pintu kamar mas David, tapi terkunci dari dalam.


Tok. Tok. Tok.


Melliza: "Buka pintunya mas!" teriakku agar mas David dapat mendengarnya


Mungkinkah mas David dapat mendengarnya? ruangnya kedap suara tapi setidaknya ketokan pada pintu pasti dia dengar kan?


Melliza: "MAAASSS.. BUKA PINTUNYAAA! INI AKU CLARA MAS ISTRI KAMUU!!!" dengan susah payah aku menggedor pintunya sambil berteriak teriak tapi pintu itu tetap tidak bergeming.


Hanya ada satu cara.


Melliza: "BUKA PINTUNYA ATAU AKU PERGI NINGGALIN KAMU SELAMANYA!"


Aku tersenyum saat perlahan pintu itu mulai terbuka dan menampakkan seseorang yang sedari tadi sangat aku khawatirkan.


__ADS_1


__ADS_2