Dr Clara

Dr Clara
Episode 35


__ADS_3

Karna adanya perselisihan dimana mas David dan kak Bagas melamarku dihari yang sama, membuat hari itu menjadi hari paling rumit yang pernah aku lewati seumur hidupku. Bahkan saat aku tengah pusing kala dimana harus tepat mengumpulkan skripsi dulu tidaklah serunyam ini.


Dan karna kak Bagas terus mengajak aku untuk menemui kedua orang tuanya waktu itu tambah membuat aku bingung harus membuat alasan apa agar kak Bagas tidak lagi memaksaku. Alhasil aku putuskan bahwa switter yang aku kenakan menjadi alasan ketidak sediaanku untuk menemui kedua orang tuanya. Aku beralasan bahwa aku tidak ingin memberikan kesan buruk dengan penampilanku yang super sexy itu.


Apa kabar mas David?


Jelas setelah mendengar penuturan kak Bagas yang hendak melamarku dan mengajakku bertemu kedua orang tuanya membuat mas David bahkan sering menyempatkan waktu dijam jam kerjanya untuk mencariku.


Dan aku?


Jelaslah aku kabur dan bersembunyi, kemarin saja kak Bagas hanya sekedar teman dekat yang suka antar jemput dia mencak mencak apalagi sekarang mau ngelamar udah pasti binasa aku karna kemurkaannya.


Bahkan saking kegilaan mas David yang ingin bertemu denganku dia mulai mencariku bahkan keruangan Marsya sampai keruangan kak Bagas yang jelas jelas aku juga sedang menghindarinya.


Karna kegilaan mas David lah membuat aku bahkan kadang bersembunyi di ruangannya pak Arman agar tidak ketahuan meski aku juga harus mengorbankan telingaku karna harus mendengarkan kicauannya.


Melliza: "Ok! tenang Melliza... tenang masih tersisa satu setengah bulan lagi masa magangmu, setelah itu pergilah yang jauh dari paman dan keponakan itu" kataku sambil menarik nafas dan menghembuskannya perlahan saat sedang melangkah di lorong menuju parkiran mobilku.


Melliza: "Ma.. ma..mm mas David?" kataku terbata saat kulihat seorang pria yang berdiri diujung lorong tepat sedang melihat kearahku.


Dengan sigap aku membalikan badan dan lari sekencang kencangnya meninggalkan mas David, sebenarnya aku tidak terlalu takut dengan mas David hanya saja kilatan matanya tadi mengisyaratkan bahwa dia kali ini benar benar tengah dalam mode murka yang sangat menakutkan.


Melliza: "Kayanya mending naik ojek online, mas David pasti sedang menungguku di dekat mobilku hingga mas David bisa siap kapan saja menyergapku" kataku sambil berjalan cepat sembari mengeluarkan ponselku hendak memesan draiver.


"Loh Za! kamu ga pulang?" tanya Marsya yang entah muncul darimana.


Melliza: "Ini mau tapi...


Marsya: "Loh kok malah pesan taksi online? memangnya mobil kamu kenapa?" tanyanya yang mengintip layar ponselku.


Melliza: "Itu anuuu.. akuu


Jawab apa ini aku?


Harus beri alasan yang masuk akal, sedangkan mobilku tidak ada masalah sama sekali batinku pusing memikirkan alasan yang tepat.


Marsya: "Kamu sakit?" tanyanya langsung memandangiku lekat.


Sakit? Apa maksudnya?


Tapi tunggu... sepertinya ini alasan yang masuk akal.


Melliza: "Iya Sha.. Magh aku kambuh lagi" kataku sambil berakting kesakitan sambil memegangi perutku.


Marsya: "Tuh kan apa aku bilang, kamu ga usah jaga pola makan kamu yang kurang ada gizinya gini deh.. jadi sakit kan?" sahutnya sambil memegangi bahuku.


Marsya: "Ayo aku antar ke dr. Kirana supaya kamu mendapatkan penanganan agar tidak semakin memburuk" katanya saat berusaha akan memapahku untuk jalan.


Dengan cepat aku melepas tangannya, bisa cepat ketahuan kalau aku selama ini memboyonginya. Sebenarnya aku sama sekali tidak memiliki riwayat sakit magh, aku sehat sehat saja tanpa penyakit sama sekali bahkan aku bersyukur sampai detik ini diusiaku yang sekarang aku belum pernah merasakan yang namanya sakit gigi beda halnya dengan seseorang yang berprofesi sebagai dokter gigi dihadapan ku ini. Dia dokter gigi tapi sudah banyak gigi yang dicabut karna bolong bolong.


Melliza: "Jangan Sha jangan! aku.. akuuu, aku sudah pesan driver tak enak jika sampai membuatnya menunggu. Lihat!" kataku sambil menunjukan layar ponselku yang memperlihatkan bahwa draiver itu akan sampai dalam waktu 6 menit lagi.


Marsya: "Kamu yakin Elliza?" tanyanya ragu tapi dengan penuh percaya dia aku menganggung untuk membuatnya yakin.


Melliza: "Aku nitip mobil ya Sha?" kataku sambil membuka tas ku menjadi kunci mobil.


Marsya: "Lah! besok kan kamu berangkat?" katanya tapi tak urung dia menerima kunci mobil mini cooper ku.


Melliza: "Eeee... ituu aku mau minta izin yah, tolong izinin aku besok sepertinya aku tidak bisa berangkat"


Butuh hari tenang tanpa adanya gangguan mas David yang selalu mengintaiku batinku sambil melihat situasi sekitar.


Marsya: "Separah itu kah? aku yang antar kamu pulang ya Za?" katanya mulai dengan raut wajah gelisah.


Melliza: "Tidak tidak.. kamu harus bekerja sift mu baru dimulai, toh aku sudah pesan.. Loh loh! Za aku diluan ya ini drivernya sudah didepan" kataku sambil berlari.


Setelah izin untuk beberapa hari beralaskan sakit, dan disini aku sekarang...


Duduk bersantai ria dengan kedua kaki naik keatas meja, tangan kanan yang terus memasukan cemilan kedalam mulut dan jangan lupakan layar televisi yang sedang menunjukan film terbaru yaitu Aladin.


Entahlah aku ini sangat menyukai film yang diproduksi oleh disney, selain Aladin aku paling suka menonton beauty and the beast. Tidak hanya itu kadang aku menonton versi fantasinya seperti Tangled, Frozen dan masih banyak lagi.


Tok. Tok. Tok


Suara pintu apartemenku diketok dari luar.


Melliza: "Siapa itu? Apa mas David?" gumamku lirih.


Bagaimana aku tidak memikirkan pria satu ini yang pernah menyandang sebagai kekasih ku jika hampir setiap waktu mas David selalu menerorku dengan ketukannya pada pintu apartemenku yang tak pernah absen sekali pun.


Aku hampir frustasi karna setiap aku mengintip dari lubang pintu, aku pasti selalu melihat dirinya sedang berdiri menghadap ke pintu atau pernah sesekali membelakanginya. Tapi itu tidak sama sekali membuatku tidak mengenalinya, justru karna membelakangiku lah yang membuat aku semakin mengenalinya.


Ting!


Ting!


Ting!


Ponselku yang terletak tak jauh dari cemilanku berbunyi beberapa kali.

__ADS_1


**Racanhai.. Kamu di apartemen kan?


Katanya Marsya kamu sakit yah.


Ini calon pacar didepan pintu apartemen Rara, tolong dibuka pintunya dong lelah abang menunggu**.


Tidak paman tidak keponakan selalu saja mengganggu ketentraman dan kenyamananku bersantai.


Tapi bedanya kak Bagas ini orangnya sweet lihat saja dari pesan dan perhatiannya, lama lama aku bisa jatuh hati juga sama pria macam beginian.


Tak lama setelah membaca pesan whatsappnya aku langsung melenggang berjalan menuju kearah pintu hendak membukakan pintu untuk kak Bagas.


"Racanhaaaiiiiii...." Sapanya sembari menebar senyum disetiap inci di pipinya.


Melliza: "Kak Bagas?" tanyaku ambigu.


Bagas: "Aku ga disuruh masuk nih, lelah kaki abang ini nunggu dibukain pintu" katanya langsung saat aku hanya diam menatapnya yang membawa dua kantong plastik yang aku yakini berisi makanan.


Melliza: "Oh! Ya silahkan masuk kak.. maaf aku terkejut soalnya kak Bagas ga ngabarin dulu mau main kesini" kataku saat menggeser tubuhku memberi jalan padanya untuk masuk.


Bagas: "Rara?"


Melliza: "Yaaa? sahutku saat menutup kembali pintu apartemenku.


Bagas: "Kamu beneran lagi sakit? Ko banyak cemilan... terus itu kamu lagi nonton film yah?" katanya langsung yang sedang berdiri di dekat sofa sembari melihat layar televisi di apartemenku.


Melliza: "Ah! itu.. ituu.. anuu..


Bagas: "Itu anu apaaa? anu kamu bohong sakit kan?" tebaknya tepat sasaran.


Mati deh kenapa ada acara sampai ketahuan segala sih, apalagi ini anak pemilik Rumah Sakit.. wah bisa langsung di depak seketika itu juga.


Bagas: "Udah ketahuan jangan mikirin alasan lagi" katanya langsung menepis pikiranku yang sedang berkeliaran mencari beberapa alasan yang masuk akal.


Bagas: "Huufffft... hampir saja" katanya saat setelah menaruh kantong plastik di meja dan kak Bagas duduk di sofa.


Melliza: "Hampir saja kenapa kak?" sahutku saat berusaha mengambilkan minuman untuk kak Bagas.


Bagas: "Hampir saja tadi aku mau ajak om David kesini"


KLONTANG


Sekaleng minuman yang aku ambil langsung jatuh saat mendengar perkataan kak Bagas barusan.


Bagas: "Jangan ngamuk Racanhai" godanya melihatku yang sedang mengambil kaleng yang jatuh barusan.


Melliza: "Tidak ngamuk ko.. ini tadi kalengnya licin" elakku mencari alasan.


Aku tidak menjawab hanya lebih fokus mengulurkan sebotol kaleng sprite pada kak Bagas dan duduk di sebelahnya menghadap televisi.


Meski hanya berdua saja dengan kak Bagas tapi aku tidak takut sama sekali terhadapnya.


Dia pernah berkata Bahwa seorang pria sejati adalah mereka yang tidak akan merusak kaum wanita, wanita adalah makhluk hidup berharga yang wajib dicintai dan dijaga tanpa menyakitinya apalagi membuatnya terluka. Kata kata itu terus menjadi pedoman kak Bagas dalam memandang kami kaum wanita, dan satu hal yang paling mengejutkan yaitu kata kata bijak itu diturunkan secara langsung dari perkataan Pamannya tercinta yang berarti dari mas David.


Aku heran.. mas David mengajari keponakan tentang cara memperlakukan wanita dengan baik tapi kenapa dirinya sendiri malah sering memaksakan kehendaknya sendiri terhadapku?


Apa dikira aku ini bukan salah satu dari kaum wanita?


Bagas: "Ra? kenapa kamu minta izin palsu?" tanyanya disela sela acara menontonku yang bertambah satu personil tidak diundang ini.


Melliza: "Aku butuh istirahat sebentar kak" sahutku yang memang jujur, jujur bahwa aku ingin istirahat sebentar dari teror mas David yang semakin menggila.


Bagas: "Gara gara kamu ga masuk dua hari, om David nyariin kamu sampai datang langsung keruanganku"


Perkataannya langsung mendapat respon dariku, pandanganku langsung tertuju pada wajahnya yang makin asik memakan cemilanku.


Bagas: "Tau ga? om David sampai mengira kamu dibawa kawin lari sama aku"


Aku membulatkan mataku tak percaya dengan perkataan kak Bagas barusan.


Bagas: "Eeh pas aku ajak kesini untuk membuktikan kalo aku ga bawa Rara kawin lari, om David malah menolak. Katanya untuk apa?"


Bagas: "Kan aneh, dari kemarin nanyain kamu tapi waktu diajak kesini malah nolak. Om David ini lama lama semakin aneh semenjak menikah sama wanita itu"


Aha! mending aku korek informasi dari kak Bagas.


Melliza: "Memangnya sebelum menikah sama mbak Vanessha, pak David tidak seperti ini?" tanyaku pura pura tidak tau.


Bagas: "Mungkin Rara akan jatuh cinta sama om David kalau tahu sifat om David yang dulu" sahutnya menatapku.


Sifat possessive dan mengekangnya saja aku sudah jatuh cinta batinku.


Melliza: "Memangnya pernikahan pak David sama mbak Vanessha ada masalah yah sampai merubah kepribadiannya pak David?" tanyaku coba peruntungannya.


Bagas: "Ya! semuanya serba karna kesalahan dan om David mengambil keputusan yang akhirnya menjadi masalah untuk dirinya sendiri"


Perkataan kak Bagas semakin membuatku bingung.


Kesalahan?

__ADS_1


Keputusan?


Masalah?


Bagas: "Apa kamu ingin mengetahui sedikit kisah tentang om David?" dengan segera aku anggukan kepala tanpa pikir panjang lebar kali tinggi kaya rumus balok.


Aku posisikan kedua kakiku duduk menyila menghadap kearahnya. Memasang benar benar telinga agar tidak ada satupun informasi tentang mas David yang aku lewati.


Bagas: "David Setya Mayndra.. putra kedua Mayor TNI AD RI Jendral Junaidi Mayndra adik kakekku. Rara ingat tragedi Trisakti? itulah awal perpisahan keluarga kecil yang diselimuti kehangatan antar sesama"


Bagas: "Karna tragedi mengerikan itu telah menyebabkan nenek Desi yaitu ibu kandung om David meninggal karna mendapat serangan dan tidak sempat melarikan diri. Karna kematian nenek Desi lah membuat Om David tidak ada yang mengurus dan mengawasi karna kakek Juna harus tetap menjalankan tugasnya dan tidak ingin melibatkan lagi keluarganya apabila terjadi kejadian yang sama maka dari itu om David dititipkan di tempat kakekku Juniadi seorang dokter bedah yang bekerja sama dengan Kapolda Metro Jaya untuk mengotopsi mayat mayat seperti teroris atau bunuh diri yang tidak wajar yang masih belum jelas penyebab kematiannya"


Bagas: "Om David yang terbiasa dengan lingkungan kesehatan, peralatan bedah, sampai obat obatan dan sering dibawa ikut dinas oleh kakek membuat Om David bertekad ingin seperti kakek Juni yaitu dokter bedah. Bahkan niatannya mendapat dukungan secara langsung oleh kakek Juna"


Bagas: "Om David selalu belajar bahkan sangat bersungguh sungguh untuk dapat menggapai cita citanya, tidak jarang om David juga ikut ambil alih saat menemani kakek padahal jelas jelas om David masih menjadi mahasiswa fakultas kedokteran dan itu masih semester 3. Sering kakek Juni mendapat teguran secara langsung karna dikira main main dalam melaksanakan tugasnya dengan membiarkan om David mengotopsi mayat dan kakek hanya memperhatikannya"


Bagas: "Hingga akhirnya... akhirnya kakek meninggal dan menyarankan Kapolda Metro Jaya untuk mengemban tugasnya kepada om David yang kala itu juga sedang bekerja di Rumah Sakit ini untuk memperbanyak pengalamannya"


Bagas: " Semuanya lancar lancar saja, om David selalu melakukan tugasnya dengan sempurna tanpa cacat apalagi merusak mayat melebihi apa yang harus dikerjakannya"


Bagas: "Sampai datanglah hari kesialan untuk om David, hari yang merubah David Setya Mayndra menjadi seorang pria yang tidak percaya diri, selalu merasa bersalah dan menutup dirinya rapat rapat tanpa ada yang berniat membukanya karna sikap dingin dan cueknya membuat semua orang perlahan menjauhinya kecuali aku"


Melliza: "Pak David kenapa?" tanyaku langsung menodong karna sudah mulai pada cerita inti.


Bagas: "Udah ah ga jadi" sahutnya malah yang membuat aku semakin penasaran.


Melliza: "Cerita dong kak.. jantung banget sih" omelku karna terlalu kepo.


Bagas: "Makanya jangan dipotong kalo orang belum selesai cerita"


Langsung saja aku membekap mulutku sendiri sambil mengangguk anggukan kepala pertanda bahwa aku tidak akan memotong pembicaraannya lagi.


Bagas: "Dua tahun lalu seorang laki laki paruh baya mendapat tembakan tepat di dadanya bahkan mungkin sudah menggores mengenai jantungnya. Dia dilarikan ke rumah sakit ini karna memang lokasi kejadian penembakan sangat dekat dengan Rumah Sakit papahku"


Bagas: "Segala upaya telah dilakukan semua dokter bedah termasuk om David, tapi kesialan datang menghampirinya. Pak Bambang memerintahkan om David untuk mengambil alih jalannya operasi meski kecil kemungkinan tapi semua dokter hampir percaya bahwa kedua tangan om David adalah sebuah keberuntungan kehidupan karna om David tidak pernah gagal sekalipun dalam menjalankan semua operasinya"


Bagas: "Dan kebodohan om David adalah menerima perintah itu yang beralasan bahwa itu adalah tanggung jawabnya dan sebisa mungkin akan menyelamatkannya meski kecil kemungkinan"


Bagas: "Dia terus berusaha hingga akhirnya... akhirnya.. akhirnya pria itu meninggal dunia dikarenakan jantungnya yang bocor akibat kesalah om David yang tak sengaja salah mengarahkan penjepit untuk mengambil peluru didalam tubuhnya"


Bagas: "Sebenarnya menurutku tanpa om David turun tangan pria itu juga pasti akan tetap mati karna sangat mustahil bahkan tidak mungkin jika jantungnya sudah terkena peluru. Tapi kedua wanita licik itu memprovokasi om David dan meminta pertanggung jawaban tanpa rasa malu"


Melliza: "Dua?" tanyaku heran.


Bagas: "Istri dan anak perempuannya pria itu menuntut om David karna lalai dalam bekerja"


Bagas: "Karna merasa pertama kali mengalami kegagalan membuat Om David terpuruk dan merasa bersalah pada keluarganya. Hingga kebodohan om David kedua adalah memberikan tawaran apa yang harus om David lakukan untuk menebus kesalahannya"


Bagas: "Dan wanita tua yang licik itu meminta om David menikahi anak perempuannya yaitu Vanessha beralaskan tidak ada lagi yang mampu menghidupi mereka karna sang suami telah meninggal"


Bagas: "Awalnya itu dibantah keras oleh papahku karna kau tau? Pria yang telah meninggal itu adalah seorang teroris. Tapi tak kalah mengejutkannya jawaban om David yang mengiyakan permintaan itu dengan tenang"


Bagas: "Aku yang mendengar akan pernikahan konyol itu langsung menemui om David dan mempertanyakan keyakinannya. Tapi jawabannya apa...


Cinta akan tumbuh karna terbiasa, biarkan om menjalani tanggung jawab akan kesalahan om pada keluarga mereka.


Bagas: " Saat semua sudah setuju akan pernikahan itu termasuk kakek Juna, om David mendapat masalah karna di resign dari Kapolda Metro Jaya karna menikahi seorang putri dari teroris. Tapi lagi lagi om David menerimanya dengan tenang seakan tidak ada masalah"


Bagas: "Dua hari setelah pernikahan mereka ibu Vanessha meninggal karena terus memikirkan almarhum suaminya. Hingga membuat Vanessha benar benar sendiri didunia ini dan hanya om David lah sandaran hidupnya"


Bagas: "Aku kira semua sudah baik baik saja dan om David sudah bahagia dengan hidup barunya, tapi nyatanya pernikahan itu malah membuat sisi kepribadian om David yang lain. Kepribadian yang aku pun tidak dapat menembusnya dan mengenalinya"


Bagas: "Aku tidak tau permasalahan dimana.. yang aku tahu waktu mereka menikah semua baik baik saja dan aku baru mengetahuinya setelah seminggu aku datang kerumahnya, om David dan Vanessha sudah pisah ranjang"


Bagas: "Satu hal yang aku yakini yaitu om David paling tidak suka dibohongi apalagi tidak dihormati sebagai seorang pria, jadi kemungkinan Vanessha itu sudah bohong atau mungkin tidak menghormati om David sebagai suaminya"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Salah satu kartu As gue udah keluar, tapi tenang meski sudah terkuak masalah pernikahan dr. David gue selaku author masih punya beberapa kartu As yang membuat novel ini tidak bisa disebut BIASA

__ADS_1


Jadiiii....


TERUS PANTENGIN


__ADS_2