Dr Clara

Dr Clara
Episode 46


__ADS_3

Melliza: "Apa senyum senyum?!" kataku keluar begitu saja saat melihat mas David masih berada diatas ku dengan tampang sumringah.


CUP


David: "Kamu cantik" dia mengecup keningku.


CUP


David: "Kamu sexy" dia mengecup pipi kiriku.


CUP


David: "Kamu sempurna" dia mengecup pipi kananku


CUP


David: "... dan kamu milik mas" terakhir dia mengecup lembut bibirku.


Dari perkataannya barusan berhasil membuat aku salah tingkah sendiri.


Melliza: "Mas aku risih, badan aku juga kotor" kataku mengalihkan pembicaraan.


David: "Jangan bangun.. tunggu disini" sahut mas David lalu bangkit dari atas tubuhku.


Melliza: "Tapi aku mau bersihin badan mas, ini lengket spermanya" ocehku lalu berusia bangkit.


Melliza: "Aawhhh.. kok sakit" rintihku memegangi perutku.


David: "Mas kan sudah bilang.. jangan bangun" katanya yang tiba tiba sudah membawa tisu dan handuk.


Melliza: "Katanya tidak akan sakit, kok ini sakit? Mas tadi melakukannya kasar sih.. mana yang katanya lembut? orang sakit begini" omelku terus pada pria yang sedang berusaha membersihkan semburan kenikmatannya pada permukaan vaginaku dan perutku.


David: "Mas tadi sudah sangat lembut sayang.. Clara nya saja yang tegang terus banyak gerak kan jadi sakit"


Loh kok malah jadi aku yang disalahkan? mas David ini bener bener yah batinku terus memperhatikannya yang dengan telaten mengelap bagian bagian tertentu.


Melliza: "Loh kok ada darah?! aku.. aku menstruasi? perasaan belum waktunya" kataku terkejut melihat bercak darah diseprei.


David: "Itu darah keperawananmu sayang masa kamu tidak tau kalau wanita masih perawan akan mengeluarkan darah saat selaput kewanitaannya dirobek oleh benda yang begitu menyenangkan dan mengasyikkan yang bisa membuat kaum wanita kelojotan"


Penuturannya berhasil membuatku sedikit memutar kejadian tadi dimana aku sampai merem melek karna tusukan tusukan yang dipenuhi dengan rasa nikmat yang belum pernah aku rasakan.


Melliza: "Apa setiap melakukannya akan merasakan sakit seperti ini?" tanyaku lirih karna merasa malu.


Mas David tersenyum lalu memposisikan tubuhku untuk berbaring kembali dibawah kungkungannya.


David: "Tidak akan sakit lagi sayang.. asal melakukannya rutin dan waktunya cukup lama. Mungkin 4 sampai 5 ronde cukup untuk membuat syurga duniaku ini terbiasa akan kehadiran adek kecilnya mas disetiap malamnya"


Melliza: "Kamu lagi ngarang cerita kan mas" sahutku dengan menatap matanya tajam.


David: "Tidak sayang sungguh, apa Clara mau mencobanya lagi? kita lakukan ronde kedua bagaimana?"


Melliza: "Tidak!" jawabku singkat.


David: "Kita lakukan gaya yang lain bagaimana?" tawarnya lagi berusaha menggodaku dengan menggesek gesekkan batangnya pelan.


Melliza: "Tidak mas David, selangkanganku rasanya sakit" aku masih menolaknya.


David: "Mas akan pelan.. sungguh"


Melliza: "Aku bilang tidak mas David, mas David ini dengar tidak sih?"


David: "Tapi mas masih pengin Clara, adek kecilnya mas masih kurang. Sekali lagi ya cuma sampai crott abis itu udah" bujuknya masih dengan menggesek gesekkan nya


Melliza: "Kan tadi udah mas David" aku terus berusaha menolaknya.


David: "Masih kurang sayang.. dia belum mau tidur lihat" kata mas David dengan memposisikan dirinya berdiri bertumpuan pada dua lututnya diatas tubuhku.


Aku pun melihatnya, masih tegak bahkan sepertinya lebih tegang dari yang tadi.

__ADS_1


Melliza: "Ko bisa belum mau tidur sih? tadi kan mainnya juga sudah lama" omelku sambil memegang miliknya.


David: "Ya karna suamimu ini perkasa sayang.. satu ronde saja belum bisa membuat kejantanan suamimu ini langsung loyo" katanya dengan penuh percaya diri sambil menggerakkan tanganku supaya mengocok miliknya yang sudah menegang hebat.


Tunggu


Perkasa?


Melliza: "Mas David?" panggilku saat melihat mas David yang sedang merasakan nikmat akibat ulah tangan kananku.


David: "Iyahh sayaaangh" jawanya masih menengadah melihat keatas sembari mulutnya terbuka.


Melliza: "Mas David.. mas David sudah sembuh?" tanyaku ragu ragu.


David: "Hah?"


Melliza: "Anuu... itunya mas David sudah sembuh?" kataku langsung melepaskan tanganku dari miliknya.


David: "Sshhhh.. sayang ko dilepas?" tanyanya dengan pandangan mata yang sudah mulai berkabut penuh gairah.


Melliza: "Jawab dulu pertanyaanku"


David: "Clara mau tanya apa?" mas David balik bertanya dengan berusaha menuntun tanganku lagi akar memainkan miliknya.


Melliza: "Ininya mas David sudah sembuh?!" bentakku dengan meremas miliknya kuat kuat.


David: "Aduh sakit sayang.. jangan diremas seperti itu" rintihnya tapi tetap membiarkanku meremasnya.


Melliza: "Jawab mas David! ininya mas David sudah sembuh?


David: "Apa yang sudah sembuh?" mas David malah balik bertanya.


Melliza: "Ini yang aku pegang" sahutk dengan menggerak gerakan miliknya kekiri dan kekanan.


David: "Maksudnya Clara adek kecilnya mas?"


Melliza: "Hm! sejak kapan ini sembuh?"


Ini kenapa mas David menjadi semakin mesum sih batinku menatapnya yang lagi mesam mesem.


Melliza: "Hhuuffftt.. cuma sebentar tapi ya" terpaksa ngalah karna memang sedari tadi mas David meminta terus menerus kalau sampai tidak dikasih mungkin waktu tidurku akan terganggu oleh ocehannya.


David: "Boleh?" ekspresi mas David langsung berubah girang.


Melliza: "Pelan tapi loh mas.. ini masih sakit"


David: "Iya mas pelan.. Clara nungging coba"


Melliza: "Nungging gimana?"


Saking senangnya mas David mendapat ronde kedua sampai dia dengan sabar mengajariku gaya yang akan dia praktekkan.


David: "Aaaaahh.. anget sayang, adek kecilnya mas kaya di pijit pijit didalam" gumamnya saat baru saja miliknya masuk lagi kedalam lubang kenikmatanku sepenuhnya.


Melliza: "Eemmmhh.. Jawab mas, sejak kapan ahh adek kecilnya mas sem..buuhhh"


David: "Eh.. eh.. ehh.. ahh.. bicaranya nanti sayang, emhh jangan ganggu ehh mas"


Memang curang mas David ini, awas saja kalau selesai ini mas David malah tutup mulut tidak mau menjawab pertanyaanku batinku.


Sodokan demi sodokan terus mas David lakukan demi mencapai puncaknya. Aku yang sudah mencapai klimaks beberapa kali sudah cukup lunglai karna terus mendapat serangan dari kejantanan mas David.


Segala bentuk geraman keluar bebas dari mulut mas David. Mulai dari mengatai..


**enak


anget


sempit**

__ADS_1


Sampai sekarang dia sedang mengerang saat klimaks mulai akan menghantam dirinya. Mas David membalikkan tubuhku agar terlentang menghadap kearahnya. Dia semakin mempercepat ritme permainannya sampai akhirnya mas David mencabutnya paksa.


David: "Claraah buka mulutmu sayang"


David: "Aaa.. cepat sayang mas tidak kuat lagi"


Saat aku baru saja membuka mulut, mas David langsung memasukkan adek kecilnya dan menumpahkan semua jari payahnya dalam mulutku.


Melliza: "Sekarang sudah puas?" tanyaku langsung yang sehabis menjilat habis sp*rmanya yang masih berceceran di batangnya.


Aku merangkak naik mensejajarkan wajahku dengan wajah mas David yang masih terengah engah.


Melliza: "Enaaak?" tanyaku padanya yang masih memejamkan mata dan mengatur nafasnya.


David: "Banget sayang, kamu enak banget" sahutnya lalu memeluk tubuhku.


David: "Makasih ya sudah memberikannya untuk mas"


Melliza: "Kan mas David yang maksa.. kalau aku tidak dipaksa menikah dengan mas David juga aku ga akan mau diperawanin sama mas David"


David: "Terus maunya Clara sama siapa? sama Bagas? IYA?!"


Bisa gawat kalau singa satu ini mengamuk, pasti akan ada ronde ketiga dan itu tentunya dengan paksaan bukan karna kemauanku.


Melliza: "Eh mas David sudah janji loh kalau aku kasih ronde kedua mas David bakal jawab pertanyaanku" kataku mengalihkan pembicaraan dengan ndusel ndusel di dadanya supaya amarahnya tidak jadi berkobar.


David: "Kesayangan mas ini mau nanya apaan sih?"


Kan benar.. asal aku bersikap manja manja dan menuruti apa perkataannya mas David langsung luluh dan melupakan masalah sebelumnya.


Melliza: "Adek kecilnya mas sejak kapan sembuh?" tanyaku langsung blak blakan.


David: "Hah? sejak kapan apanya?" dia malah balik bertanya.


Melliza: "Iya bukankah dia mengalamiii.. kelainan?" tanyaku ragu ragu takut menyinggungnya.


David: "Kelainan? adek kecilnya mas kamu bilang kelainan?!"


Ko malah dia yang syok sendiri batinku sambil mendoangk melihat kearahnya.


Melliza: "Maksudnya dulu, bukan.. bukan sekarang" kataku terbata.


David: "Dari dulu sampai sekarang dia tangguh Clara.. mana ada yang namanya kelainan, kamu jangan ngaco sayang kalau tidak mau mas garap lagi"


Melliza: "Terus.. terus yang dibilang mbak Vanessha itu maksudnya apa?"


David: "Dia mengatakan apa ke kamu?" wajahnya langsung berubah tak sedap seakan menahan amarah.


Melliza: "Mbak Vanessha diaaa.. dia..


David: "Jujur Clara! dia mengatakan apa padamu" mas David semakin mendesak ingin mengetahuinya.


Melliza: "Mbak Vanessha bilang.. adek kecilnya mas bermasalah katanya saat berhubungan dengannya mas David tidak bisa menuntaskannya"


David: "Jadi dia berfikiran seperti itu?" gumamnya yang masih bisa aku dengar.


Melliza: "Kalau boleh tau mas David berhubungan sama mbak Vanessha berapa kali?" tanyaku pura pura tidak tau.


David: "Hanya satu kali.. itu pun mas tidak menuntaskannya" mas David semakin mempererat pelukannya pada tubuhku tidak membiarkan ada celah sedikitpun diantara tubuh polos kami.


Melliza: "Kenapa? kenapa tidak dituntaskan?"


Melliza: "Mbak Vanessha cantik, lebih sexy dari aku bahkan tubuhnya lebih montok. Dadanya besar pasti sangat enak tidak seperti...


David: "Percuma bentukan tubuhnya bagus jika hasil ulah tangan pria lain" potongnya saat aku memuji bentuk fisik mbak Vanessha.


David: "Mas lebih suka kaya kamu sayang.. belum terjamah oleh tangan pria manapun" lanjutnya.


David: "Ingat satu hal sayang.. kamu sudah menjadi istri mas, jadi semua yang berada di tubuhmu itu hanya mas yang berhak menyentuhnya. Jangan sampai kamu tergoda oleh pria lain apalagi berusaha menggoda pria diluar sana terutama Bagas"

__ADS_1


David: "Dan lagi.. jangan bahas wanita yang sudah mengangkang disetiap tempat dihadapan pria saat kamu sedang bersama mas"


__ADS_2