
Tak pernah terbayangkan sedetikpun aku akan melangsungkan pernikahan yang sangat super duper sederhana yang hanya ada pendeta sebagai saksi janji suci baru saja aku dan mas David ucapkan.
Dulu sewaktu aku masih kecil belum tau apa itu ikatan pernikahan aku selalu bermimpi ingin menikah bak layaknya seorang putri yang mendapat seorang pangeran sempurna yang akan sangat mencintaiku hingga akhir hayatnya.
Tapi sekarang?
Aku yakin mas David sanggup bila aku memintanya tapi anehnya ini aku malah minta sendiri dinikahi secara rahasia tanpa adanya orang lain yang tahu.
"Istrinya mas" perkataan itu keluar begitu saja membuyarkan lamunan ku.
Melliza: "Siapa?" tanyaku polos menghadapnya yang sedang menyetir mobilnya.
Aku baru sadar mas David ini sangat pandai berbohong. Pertama dia berbohong jika mas David sudah memesan draiver tapi kenyataanya itu hanyalah sebuah screen shot dan tadi dengan santainya mas David bilang bahwa sebenarnya mobilnya sudah terparkir di basmen gedung apartemenku sejak pagi. Entah rencana apa yang telah dibuatnya sampai mas David benar benar yakin bahwa Marsya tidak akan datang lagi keapartemen untuk hari ini.
David: "Kamu lah sayaaang" sahutnya mengelus punggung tanganku.
Melliza: "Lah kan masih ada istri pertama" kataku melepaskan tanganku darinya.
David: "Harus berapa kali mas bilang padamu Clara, jangan bawa orang ketiga keempat kelima atau keberapa pun disaat kita sedang berdua"
Melliza: "Aku hanya mengingatkan bahwa mas masih memiliki istri lain" sahutku tak mau kalah.
David: "Tapi kesayangannya mas cuma satu yaitu kamu Clara" katanya berusaha meraih telapak tanganku untuk bisa digenggam olehnya.
Kesayangan dia bilang?
Kalo sayang mah udah pasti diceraikan mbak Vanessha.
Aku heran jika memang mas David ingin memenuhi kebutuhan mbak Vanessha kenapa tidak menjatahnya perbulan tidak perlu repot repot menikahinya tapi masih mengharap dapat memiliki diriku seutuhnya.
Dia kira menjadi nomer dua itu enak apa?
Melliza: "Aku laper mas" kataku berusaha menarik tangan kananku yang tak henti hentinya di kecup olehnya.
__ADS_1
David: "Ok! istri mas yang cantik mau makan apa?"
Istri?
Kok dipanggil dengan sebutan seperti itu berhasil membuatku terbang melayang karna merasakan senang.
Melliza: "Aku mau nasi goreng sea food di persimpangan depan pinggir jalan sebelah kanan" jawabku melihat kearah lain berusaha menutupi rasa senangku karna dipanggil istri oleh mas David.
David: "Pinggir jalan?" tanyanya heran.
Melliza: "Iya disebelah kanan jalan" jawabku meyakinkan.
David: "Kita cari restoran yang menyediakan menu yang kamu inginkan"
Melliza: "Aku maunya yang di persimpangan depan mas" terangku menyeruakan keinginanku.
David: "Tidak! kita cari restoran yang menyediakan nasi goreng sea food mas tidak mau kamu memakan makanan pinggiran seperti itu" mulai titahnya keluar bagai sang raja yang tak mau terbantahkan.
David: "Mas akan pastikan nasi goreng itu masuk kedalam mulutmu Clara"
Untuk beberapa saat aku terdiam dan tertunduk melihat rok putih yang menutup sempurna kedua paha mulusku.
Melliza: "Kenapa mas? kenapa setelah aku menjadi istrimu pun aku tetap tidak bisa bebas mendapatkan apa yang aku mau" kataku masih tertunduk.
Melliza: "Apa selamanya kamu akan bersikap seperti ini padaku? melarangku dan hanya ingin aku mendengarkan perkataanmu, apa aku tidak boleh memilih sesuatu yang aku..
Kataku terseka saat hidungku mulai tersumbat karna ingus yang disebabkan oleh tangisan tanpa suara.
David: "Clara?" mas David langsung menepikan mobilnya setelah melihat air mata berhasil turun sedikit demi sedikit dari pipiku yang jatuh membasahi dressku.
Melliza: "Apa aku tidak boleh mendapatkan apa yang aku mau?" tanyaku langsung menghadap kearahnya dengan derai air mata.
David: "Sayang.. jangan menangis ok? mas akan berikan semua yang Clara mau tapi tidak dengan makanan pinggir jalan sayang" terangnya lembut menyeka air mata ku.
__ADS_1
Melliza: "Makanan pinggir jalan belum tentu tidak higienis mas, lagian aku hanya suka yang disana kalau mas melarangnya maka lebih baik malam ini aku tidak usah makan" kataku menepis kedua tangannya pada pipiku.
Mas David nampak berfikir.
Melliza: "Mas?" panggilku lirih karna suaraku mulai berubah.
David: "Hmm?"
Melliza: "Boleh tidak aku meminta satu syarat untuk memberikan keperawananku secara suka rela?"
David: "Syarat lagi?" tanya bingung dengan mengerutkan kening.
David: "Apa?"
Melliza: "Aku ingin mas jangan melarang semua keinginanku, jangan memaksaku dan jangan mengatur dengan siapa aku dekat atau berteman" sahutku mengeluarkan keinginanku.
David: "Mas tidak bisa" katanya langsung tanpa pikir panjang.
Melliza: "Ya sudah berarti jangan pernah meminta keperawananku apalagi tidur denganku" ancamku.
David: "Jangan lupa tadi mas sudah transfer ke rekeningmu 100 juta Clara" katanya mengingatkan.
Melliza: "Aku tetap tidak ingin memberikannya"
David: "Kalau begitu mas akan mengambilnya paksa karna itu adalah hak mas sebagai suamimu dan sudah tugasmu membuat mas puas karna kamu adalah istri mas"
Melliza: "Ambil saja sesukamu mas, kamu hanya akan merasakan kejengkelan disaat aku tidak pernah ada niat untuk disentuh olehmu. Dan aku hanya akan selalu menganggap bahwa kamu memperkosaku bukan sebuah hubungan intim antara suami dan istri"
David: "Kamu mulai pandai mengancam Clara?" tanyanya dengan menaikan alis sebelah kiri.
Melliza: "Aku banyak belajar dari suami baruku" sahutku menatap matanya.
Aku yakin mas David akan menyetujuinya, karna bagaimanapun juga seorang pria pasti memilih ingin bercinta dengan pasangannya karna adanya keterkaitan suka sama suka. Terlebih ini mas David sangat teramat cinta sama aku jadi mau mas David melakukannya dengan aku yang cuek saat tubuhku dijamah olehnya nanti.
__ADS_1