
David: "Apa sudah puas bermain diluar sana? Apa keponakan mas telah berhasil membuat tantenya bahagia?"
Setelah kak Bagas mengantarku tapi tidak sampai depan apartemenku, aku langsung disambut oleh suamiku dengan wajah yang tampak sangat tidak suka.
Melliza: "Ya aku bahagia bersamanya, SANGAT bahagia. Denganya aku merasa menjadi satu satunya" sahutku tak kalah pedas.
David: "Ayo buka pintunya, mas akan menginap disini malam ini"
Melliza: "Kenapa menginap?" tanyaku menaikan alis sebelah.
Melliza: "Oh aku tahu! istri pertamamu jajan diluar lagi? maka dari itu kau datang menemui istri kedua?"
Melliza: "Sangat menyenangkan sekali hidupmu Bapak David Setya Mayndra" kataku sinis sambil menatapnya.
David: "Buka pintunya" katanya tak mau menyahut serentetan perkataanku yang terdengar cukup memekakkan telinga.
Saking terkejutnya tadi aku akan keberadaan mas David didepan apartemenku membuat aku tak melihat bahwa dirinya membawa sekantung plastik berwarna putih saat sudah memasuki apartemenku.
Aku sama sekali tak perduli dengan apa yang akan dia lakukan, aku lebih memilih pergi ke dalam kamarku dan membersihkan diriku di dalam kamar mandi lalu berganti baju tidur atau piyama.
Sekilas sangat jelas suara berisik dari arah depan atau ruangan dapur yang menjadi satu dengan ruang tv.
Aku benar benar penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh mas David di dapurku sebenarnya, hingga akhirnya aku pun penasaran dan ingin tahu secara langsung.
Aku melangkah santai dari dalam kamarku berjalan menuju sofa di depan televisi lalu duduk dan menyalakannya.
Beberapa kali hidungku mengendus merasakan aroma harum yang begitu menggoda dan menusuk indra penciuman ku.
Ingin rasanya aku berjalan ke arahnya melihat apa yang dia buat meski sebenarnya aku sudah tahu dari aroma yang aku cium jelas ini adalah nasi goreng.
Sesekali ku curi pandang untuk melihatnya, aku kagum dan terkesima saat melihat seorang pria yang sebenarnya saat ini masih sangat aku cintai sedang menciptakan suatu hasil karyanya dengan usaha dan jerih payahnya sendiri.
Seorang pria berusia matang yang menggunakan kemeja putih polos yang lengannya dilipat sampai sebatas siku lalu di lindungi oleh celemek. Tangan kanannya memegang spatula lalu tangan kirinya memegang sisi wajan dan mengaduk aduknya dengan raut wajah yang seperti biasa yaitu datar tanpa ekspresi.
David: "Apa suamimu ini begitu tampan sayang sampai membuatmu begitu terkesima?"
Aku langsung tersadar akan perkataannya dan membuatku salah tingkah hingga akhirnya ku pusatkan pandanganku pada layar televisi tanpa menghiraukan perkataannya.
David: "Kemari Clara.. makan dulu" katanya yang tengah memindahkan nasi goreng keatas piring.
Aku pura pura tidak mendengarnya dan tetap fokus pada layar televisi seolah aku hanyut akan salah satu siaran Talk Show di suatu channel televisi yang sudah sangat aku kemari karena channel satu ini berbeda dari yang lain.
Mataku langsung menangkap sosok pria yang berjalan melewati depan televisi yang langsung duduk di sebelahku dengan membawa aroma sedap yang sudah sangat mengusik hidungku.
David: "Makan dulu" katanya sambil mengarahkan sesendok nasi kearahku.
David: "Hadap sini Clara dan buka mulutmu"
Melliza: "Aku tidak lapar" kataku dingin tak juga mengalihkan pandanganku dari layar televisi.
David: "Aa...
Melliza: "Aku sudah kenyang"
David: "Bagaimana mungkin bisa kenyang jika Clara sendiri belum makan, ayo buka mulut dan makan ini"
Melliza: "Aku sudah makan tadi diluar bersama kak Bagas"
David: "Makan? Clara harus bedakan antara makan dan minum. Jus itu termasuk minuman bukan makanan"
Mendengar perkataannya membuat aku langsung menoleh ke arahnya dan menatap matanya.
David: "Jangan dikira mas tidak tahu bahwa tadi Clara dan Bagas pergi ke restoran Jepang, dan kamu disana sama sekali tidak memakan apapun selain jus alpukat karna Clara alergi ikan salmon yang dipesan keponakan bodoh itu"
__ADS_1
Mas David tahu aku alergi ikan salmon padahal jelas jelas aku tidak mengatakan apapun tentang makanan makanan yang membuat aku alergi.
Berarti dugaanku selama ini benar adanya batinku memperhatikanya.
Apa yang aku pikirkan tentang mas David ternyata salah besar. Meski dia nampak cuek dan tidak pernah lagi perduli padaku tapi entah mengapa setiap kali aku bersama kak Bagas apalagi jika sudah terlalu dekat mas David pasti akan datang memisahkan.
Seperti hari pertama kak Bagas mengajakku jalan sehabis pulang jam kerja.
Flashback on
Bagas: "Kita makan bakso yu Racanhai" tawarnya saat mengemudi mobilnya yang niatannya akan mengantarku pulang.
Melliza: "Bakso?" tanyaku heran.
Bagas: "Iya.. pacarmu ini tahu tempat tukang bakso enak loh. Rara harus mencobanya ok?"
Belum sempat merespon tawarannya, kak Bagas langsung mengarahkan mobilnya menuju tempat tujuannya.
Sesampainya disana aku masih tidak percaya akan yang dikatan kak Bagas.
Semangkuk bakso telah berada dihadapanku, aku pandangi lekat lekat lalu beralih melihat kak Bagas yang sedang meracik pelengkapnya seperti saus, sambal dan kecap.
Melliza: "Bakso ba.. babat?" tanyaku ragu.
Babat?
Semua dokter harusnya tahu kandungan yang dimiliki babat atau jeroan sapi ini.
Babat memilik kandungan Vitamin A yang berlebih selain itu jeroan jika memilki lemak jenuh dab kolestrol tinggi belum lagi babat sapi ini dapat mengakibatkan penyakit asam urat.
Bagas: "Iya! Ini enak Rara, ayo dicoba" katanya yang mulai mengaduk miliknya.
Melliza: "Tapi ini..
Bagas: "Pacar tau apa yang Rara pikirkan, tapi bukankah sesekali mengkonsumsinya juga bagus asal jangan terlalu sering. Jadi tidak maslah malah bagus kan untuk tubuh jika Rara jarang memakannya"
"Permisi"
Aku dan kak Bagas mendongak melihat kerah samping meja kami yang lesehan. Betapa terkejutnya aku melihat suami yang dulu sangat begitu possessive terhadapku.
Bagas: "Om David disini juga om?" tanya kak Bagas.
David: "Iya dan sangat kebetulan sekali bisa bertemu dr. Melliza disini, ditempat seperti ini" sahutnya tapi pandangan matanya pada bakso yang berada dihadapanku.
David: "Saya boleh ikut bergabung kan dr. Melliza?"
Bagas: "Kenapa bertanya pada Rara? kenapa tidak padaku om?"
David: "Karna om takut dr. Melliza terganggu jika ada keberadaan orang ketiga" sindirnya jelas terarah.
Melliza: "Tentu saja anda boleh bergabung pak David" kataku dengan senyum canggung.
David: "Kalau begitu anda boleh bergeser? saya ingin duduk berhadapan dengan keponakan saya"
Aku pun menggeser dudukku dan sedikit memberi jarak agar kak Bagas tidak curiga.
Bagas: "Om David ini sangat hobi menggangu usahaku untuk lebih dekat dengan Rara yah" gumam kak Bagas yang masih dapat aku dengar.
Saat mas David hendak bergeser duduk menempati tempat didudukku sebelumnya tiba tiba...
PRAANGG
Baksoku yang dipesankan oleh kak Bagas tumpah dan mengakibatkan mangkuk itu pecah karna jatuh kelantai keramik.
__ADS_1
David: "Maaf dr. Melliza, tadi lengan saya tidak sengaja menyenggolnya"
Bagas: "Om David rusuh banget sih om"
David: "Apa anda mau saya pesankan kembali?" tawarannya sambil menatap mataku tajam.
Aku tak menjawab, hanya memperhatikan sang mamang pembantu tukang bakso yang sedang membereskan tumpahan tadi.
Bagas: "Mas! tolong semangkuk lagi ya untuk pac.. maksudku wanita cantik itu" kata kak Bagas pada mamang yang sedang membersihkan.
Bagas: "Om David mau pesan juga sekalian?"
David: "Nanti saja om pesan sendiri setelah pesanan dr. Melliza datang"
Tak lama semangkuk bakso yang berjenis sama pun datang menghampiri meja kami.
Mas David yang duduk berada dipinggir ikut membantu menerima semangkuk bakso pesanan kak Bagas untukku.
Tapi lagi lagi..
PRAANGG
Mangkuk itu lolos begitu saja dari pegangannya.
Aku hanya meringis mendengar pecahan beling untuk yang kedua kalinya oleh orang yang sama.
Bagas: "Ya ampuuun om David! kau bisa membuat tukang baksonya rugi kalau terus terusan dipecahin mangkuknya" omel kak Bagas.
David: "Saya akan mengganti bakso yang tumpah termasuk mangkuknya yang pecah bahkan tumpahan tumpahan berikutnya saya akan bertanggung jawab membayar kerugiannya jika dr. Melliza masih ingin memesannya"
David: "Apa anda ingin memesannya kembali dr. Melliza? saya sangat tidak keberatan membayar pesanan anda"
Melliza: "Tidak perlu pak David saya lebih baik pulang saja" tolakku.
Flashback off
David: "Kenapa?" tanyanya membuyarkan lamunanku akan hari itu.
Aku hanya menggeleng lalu meminum air yang disodorkan olehnya.
Mas David meletakan piring yang telah kosong itu diatas meja depan sofa lalu kembali duduk menghadap kearahku.
David: "Jauhi Bagas Clara" katanya lembut dengan membelai pipiku.
Melliza: "Kamu saja tidak menepati janjimu lalu kenapa aku harus menepati janjiku?" sahutku menyingkirkan tangannya.
David: "Mas tidak pernah mengingkari janji mas sama sekali sayang" bantahnya.
Melliza: "Kamu sendiri yang berjanji tidak akan menyentuh wanita lain selain aku, lalu kenapa sekarang malah tertarik pada mbak Vanessha? mana janji yang katanya menjadikanku satu satunya? mana Mas?!!"
David: "Kamu satu satunya sayang"
Melliza: "Lalu malam itu kenapa mbak Vanessha bisa keluar dari kamarmu dan tidak menggunakan baju? tidak mungkin kau beralasan mbak Vanessha meminjam kamar mandi kan?"
Mas David diam dan memejamkan mata, menarik nafas lalu membuangnya perlahan. Saat membuka mata dia langsung menatapku dan mengelus rambutku.
David: "Kita lupakan malam itu untuk saat ini"
Aku masih tak percaya akan perkataan mas David.
Melupakan?
Jadi malam itu meraka benar benar melakukannya?
__ADS_1
Melliza: "Jangan mencium bibirku setelah kau mencium wanita lain meski dia datang lebih awal dihidupmu" kataku setelah menolak ciumannya.
Melliza: "Dan jangan larang aku untuk dekat dengan kak Bagas karna kamu sendiri saja bisa melanggar janjimu kenapa aku tidak? itu semua agar adil dan sama. Kau bisa bersenang senang dengan mbak Vanessha dibelakangku aku juga bisa bersenang senang dengan kak Bagas dibelakangmu"