Dr Clara

Dr Clara
Episode 22


__ADS_3

Vanessha: "Burungnya pak David kikuk"


Bagai dapat petir di siang hari dengan kondisi langit yang begitu cerah.


Aku benar benar terkejut sampai mataku terbelalak karna mendengar bisikan dari mbak Vanessha tadi.


Vanessha: "Jangan menatap gue seperti itu, gue yakin lo terkejut karna gue terlalu berbicara vulgar pada lo tentang rahasia pak David "


Bukan bukan! yang membuat aku terkejut adalah apa benar adek kecil yang semalam aku pegang yang begitu besar kokoh dan penuh menggairahkan itu tidak sama seperti bentukan aslinya batinku menerawang kejadian semalam.


Melliza: "maksudnya kikuk apa yah mbak?" aku pura pura tidak tahu agar mbak Vanessha mau berbagi informasi lagi mengenai mas David.


Vanessha: "Ya ampuuun, lo ini bener bener yah masa iya lo ga tau maksud gue. Maksud gue burung pak David kikuk itu artinya dia ga jago muasin hasrat gue diatas ranjang. Baru sebentar main dimalam pertama kita malah belum kelar ronde pertama udah turun ga bisa dilanjutkan, kan gue nya juga kecewa" terangnya dan aku masih berusaha mendengarkannya.


Vanessha: "Awal melihatnya gue benar benar serasa dapat menang lotre besar besaran, eh ga taunya malah mengecewakan" lanjutnya lagi.


Sial! jadi selama ini aku pacaran sama pria yang 'KIKUK' batinku.


Melliza: "Terus itu jadi penyebab mbak Vanessha sama pak David pisah ranjang?" tanya ku mulai kepo.


Vanessha: "Bisa dibilang begitu sih karna setelah malam pertama itu, gue sama sekali tidak pernah disentuh lagi oleh pak David, pak David itu sepeti cowo kelainan pada birahinya sendiri alias cowo tidak normal. Alhasil gue misah kamar dan mulai mencari kesenangan diluar"


Birahi mas David?


Bahkan semalam aku hampir jebol sama nafsu mas David yang untung masih bisa dikendalikan oleh dirinya.


Melliza: "Jadi selama ini mbak Vanessha menjadi istrinya pak David tidak pernah lagi memuaskan hasrat biologisnya?" tanya gue polos.


Vanessha: "Gimana mau bilang yah, kayanya dia tidak punya hasrat pada wanita deh"


Vanessha: "Tapi lo jangan bilang bilang ke pak David yah, bisa mampus gue didepak dari rumah ini" aku hanya mengangguk cepat memberinya jawaban.


Melliza: "Kenapa mbak Vanessha tidak minta cerai saja?" aku ingin melihat ekspresi seperti apa yang akan ditunjukan mbak Vanessha.


Vanessha: "Niatan awal sih memang sudah ingin bercerai, tapi.." dia menggantungkan kalimat berikutnya membuat aku semakin penasaran.


Melliza: "Tapi apa mbak?"


Vanessha: "Karna pak David masih setia mencukupi kebutuhanku setiap bulannya jadi sayangkan kalau disia siakan"


Vanessha: "Dengan lima juta perbulan belum lagi tempat tinggal gratis tanpa melakukan service bukankah itu sangat menguntungkanku?" terangnya lagi.


Lima juta perbulan?


Aku bahkan yang menyandang sebagai kekasihnya dipegangi kartu kredit unlimited tanpa batas, dan dia istrinya hanya lima juta? apa mas David terlalu sayang sama aku. Ya meski kartu kredit itu sangat jarang aku gunakan karna tidak enak hati pada mas David terlebih aku takut suatu ketika mas David meminta imbalannya dengan keperawanan yang masih ku jaga utuh.


Melliza: "Terus pak David pernah minta cerai tidak sama mbak Vanessha?" aku kepo.

__ADS_1


Vanessha: "Tidak, pak David tidak pernah minta cerai dariku tapi jika dilihat dari gelegatnya sepertinya dia tidak menyukaiku"


Melliza: "Misalkan ini yah mbak, misalkan ko pak David minta cerai mbak Vanessha mau gimana?"


Vanessha: "Aku tidak akan pernah mau"


JEDERRR


Begitu sakit mendengar jawaban yang keluar secara langsung dari mulutnya mbak Vanessha. Jika dia tidak mau diceraikan berarti selamanya hubunganku dengan mas David hanya akan sebatas sepasang kekasih gelap karna bagaimanapun aku tidak mau menjadi istri ke dua.


Vanessha: "Gue memang ga tahu diri mungkin dimata lo karna numpang hidup sama pak David tanpa melakukan kewajiban gue padanya. Tapi itu bukan salah gue kan? kalo aja burungnya engsreng gue tanpa diminta juga pasti bakal melayaninya setiap malam" aku hanya diam mencerna setiap perkataan yang keluar dari mulut mbak Vanessha.


Vanessha: "Kalo aja gue masih punya tempat bernaung, memiliki kerabat atau saudara yang mau menampung gue, gue pasti pergi tidak ingin tinggal disini" bisa aku lihat ada kesedihan tersendiri didalam pandangan mata mbak Vanessha.


Itulah kalimat terakhir yang diucapkan mbak Vanessha sebelum ia memutuskan untuk masuk ke kamarnya.


Aku terus berfikir keras didepan TV yang sedang menyala memikirkan begitu rumitnya hubungan mas David dan mbak Vanessha.


Kata Marsya mas David sudah menikah selama dua tahun, tapi yang barusan aku dengar bahwa mbak Vanessha dan mas David tidak pernah menghabiskan malam bersama setelah malam pertama yang bahkan belum terselesaikan.


Aku terus memikirkannya sampai lupa waktu, jam di dinding diatas TV telah menunjukan angka tiga sore dan mas David belum juga pulang dari Rumah Sakit.


"Aku tidak mungkin menunggu mas David lebih lama lagi kan? bagaimana jika nanti mbak Vanessha keluar kamar dan mendapati aku yang masih berada di rumahnya, dia pasti langsung mencurigaiku" kataku bergumam pada diriku sendiri.


Aku putuskan untuk berkemas dan hendak pulang keapartemenku. Makanan yang mas David delivery pun tidak tersentuh sama sekali olehku karna niatan hendak makan bersama tapi mas David tak kunjung pulang juga. Tapi sebelum pulang aku putuskan untuk mengirim pesan padanya memberitahunya bahwa aku akan pulang ke apartemen.


Saat malam mulai menyapa kegelapan ikut menyelimuti, aku berbaring di kasur apartemenku menatap atap yang berwarna putih dengan satu lampu penerang.


"Benar benar tidak menyangka kemarin aku berada diranjangnya mas David bahkan hendak melakukan hubungan intim"


"Aku bersyukur ternyata mas David masih mampu menahan nafsunya untuk tidak merusakku"


Ku baca kembali pesan yang dikirim mas David tadi sewaktu aku sedang mandi.


"***Maafkan mas Clara, tanpa diduga operasinya tidak sesuai dengan apa yang sudah mas perkirakan sampai menyita waktu lama"


"Jangan marah sama mas yah, jika kamu menginginkan sesuatu gunakan saja kartu kredit yang mas berikan untukmu kamu boleh membeli semua yang kamu inginkan tanpa terkecuali"


"Mas mencintaimu Clara, sangat mencintaimu sayang***"


"Aku juga mencintaimu mas, dan aku bahagia menjadi kekasihmu. Tapi..


"Tapi kebahagian ini akan sampai kapan?" aku berbicara sendiri dengan menatap pesan whatsapp mas David.


"Rasa bahagia ini mulai terkalahkan dengan rasa takut akan kehilanganmu, kehilangan sosok yang sangat perhatian padaku selain kakek" tanpa terasa kelopak mataku mengalirkan sebening air yang keluar dari mataku.


Aku menangis?

__ADS_1


Menangis untuk seorang pria yang telah beristri?


Kau sungguh memprihatinkan Melliza, kau cantik dan menjadi pujaan bagi kaum pria tapi kau malah memilih melibatkan diri apa hubungan suami istri seseorang.


Jikalau Tuhan melihat dan mendengar suaraku, aku meminta hadirkan seorang pria yang mampu membuatku suka padanya dan mulai berusaha terlepas dari mas David.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


BRUKKK


Melliza: "awww sakiiit"


"Maaf maaf anda tidak apa apa? apa ada yang terluka? coba saya periksa terle..


Melliza: "Kauuuu..

__ADS_1


__ADS_2