
Jauhi Bagas dan kembalilah berperan menjadi kekasih mas yang penurut.
Kalimat terakhir yang diucapkan mas David saat kegiatan panas kita di toilet umum tadi. Entah berapa kali mas David menggesekan adek kecilnya ke bibir bawahku dengan gaya yang berbeda beda sampai mas David mengalami pelepasannya.
Aku berjalan membelah kerumunan para tamu dengan menggunakan jas milik mas David yang menutupi bagian depanku dan diikuti oleh mas David dibelakangku.
Penampilanku sangat kacau kali ini dengan dress yang basah kuyup karna disiram oleh mas David. Awalnya aku mengira mas David hendak menyiksaku dengan menghukumku karna tidak mendengar perintahnya untuk menjauhi kak Bagas. Tapi nyatanya itu hanya untuk dijadikan alibi untuk menutupi payudaraku yang pastinya akan terekspos dengan dipenuhi karya seni kecupan panas dari bibir mas David tadi.
Bagas: "Ya ampun Raraa.. dari tadi aku mencarimu, kamu ini dari mana? dan kenapa bajumu basah begini?"
Memang pantas kak Bagas menjadi keponakannya mas David, mereka sama sama cerewet bahkan lebih cerewet dari kaum wanita. Tapi menurutku kecerewetan mereka berdua masih normal dibanding dengan kecerewetan Marsya yang bisa membuat telingaku meledak karna tidak kuat akan ocehannya.
Melliza: "Itu akuu.. akuuu..
David: "Tadi om tidak sengaja menyiram air kebadannya dr. Melliza" sahutnya memotong bicaraku.
Aku akui mas David memang jujur dalam hal menyiram tapi jelas jelas dia berbohong soal ketidak sengajaanya.
Bagas: "Om David ini bagaimana? memangnya tidak melihat adanya Rara sampai kesiram begini sampai pakai jas segala"
Aku terpundur saat tangan kak Bagas hendak melepas jas yang sedang aku kenakan. Tamatlah riwayatku jika sampai jas ini terbuka.
David: "Apa yang kamu lakukan Bagas? Apa kamu hendak mempermalukan dr. Melliza didepan semua orang yang berada diruang ini?" katanya menepis dengan cepat tangan kak Bagas.
Bagas: "Tidak.. mana mungkin aku ingin mempermalukan calon pacarku sendiri"
David: "Apa kamu lupa model baju yang sedang dikenakan dr. Melliza ini seperti apa? Jika baju ini terkena air maka lekuk tubuhnya akan semakin jelas bahkan akan menerawang kulitnya"
Bagas: "Oh begitu kah? kalau begitu gunakan jas ku saja Rara jangan milik om David" kata kak Bagas berusaha melepas jas hitamnya.
David: "Jangan bersikap kekanak kanakkan Bagas, apa kamu benar benar ingin melihatkan tubuh dr. Melliza kesemua orang hingga dia nantinya mendapat surat peringatan kedua? dan jika itu terjadi maka akan dipastikan dr. Melliza akan diberhentikan praktek di Rumah Sakit. Apa itu yang kamu mau Bagas?"
Wah mas David kau sungguh pandai lempar batu sembunyi tangan. Kau yang berulah tapi kau malah melemparnya pada keponakanmu, jika memang aku harus mendapat surat peringatan kedua itu pasti karna ulahmu mas bukan orang lain batinku.
Bagas: "Baiklah kalau begitu ayo Rara aku antar kamu pulang"
Mas David langsung menepis tangan kak Bagas yang hendak merengkuh bahuku. Mas David ini lama lama over protektif juga yah.
David: "Kamu ini tamu sekaligus perwakilan ayahmu sebagai pemilik Rumah Sakit, sangat tidak sopan jika kamu meninggalkan acara ini sebelum acara intinya selesai Bagas"
Bagas: "Tapi om David lihat om.. Rara sudah basah seperti ini tidak mungkin kan Rara harus bertahan sampai acara ini selesai? Bagaimana jika dia masuk angin dan jatuh sakit?"
David: "Tapi apa yang akan dipikirkan mereka tentang ayahmu yang akan mempercayakan Rumah Sakit tempat mereka bekerja beralih tangan kepadamu. Orang yang tidak menghargai acara pernikahan dokter yang bekerja di Rumah Sakitnya"
Bagas: "Tapi om David.. bagaimana dengan..
David: "Om yang akan mengantarnya pulang"
Bagas: "Bagaimana jika om David saja yang menggantikanku disini dan aku yang mengantar Rara pulang sendiri ke apartemennya"
Karna kak Bagas yang tak gentar mengalah membuat mas David melirikkan matanya kepadaku seolah memintaku menolaknya secara langsung dari mulutku sendiri.
Melliza: "Yang dikatan pak David benar kak Bagas.!kakak harus tetap berada disini, nanti aku gampang pulang naik taksi atau...
David: "Om yang akan mengantarnya pulang Bagas, jadi kamu tetaplah disini dan jangan bertingkah aneh aneh" timpalnya memotong bicaraku
Kak Bagas mendekat kearahku dan berdiri tepat di hadapanku.
Bagas: "Ok.. ok.. Rara maafkan calon pacar yah tidak bisa mengantarmu pulang" katanya lalu hendak mencium keningku.
Tapi secepat kilat mas David menghadangnya dengan keningku yang dihalangi oleh telapak tangannya.
David: "Banyak orang yang berada diruang ini Bagas kalau kamu lupa"
Bagas: "Hehe... maaf om David"
Aku heran om dan keponakan dihadapan ku ini, om nya sangat pandai bersilat lidah eh keponakannya gampang banget dikibulin.
Melliza: "Ya sudah aku pamit ya kak, sampaikan permohonan maaf ku pada pak Eric karna tidak berpamitan secara langsung"
Bagas: "Iya iya nanti aku sampaikan.. Tapi Rara jangan lupa yah kalau sudah sampai apartemen langsung kabari aku jangan sampai tidak kalau tidak aku akan gelisah semalam karna memikirkanmu"
Bagas: Jangan lupa pula minum air hanya supaya badannya tetap hangat tidak masuk angin"
Bagas: "Jangan lupa yah kabari aku ya Racanhai"
Kak Bagas terus berteriak sepanjang mas David telah menarik tanganku keluar kerumunan menuju pintu keluar hotel.
Sepanjang perjalanan dari hotel sampai apartemenku sama sekali tidak ada perbincangan didalam mobilnya. Kita sama sama diam dalam pikiran kita masing sampai akhirnya mobil mas David terparkir di basmen apartemen.
Melliza: "Terima kasih" dua kata yang aku ucapkan sebelum turun dari mobilnya lalu berjalan menuju lift di area basmen apartemen.
Saat aku baru saja memencet tombol naik tiba tiba saja tangan yang sudah sangat aku kenali merengkuh tubuhku dalam dekapannya.
David: "Mas antara sampai kamu masuk apartemen" katanya sebelum kita memasuki lift yang akan bergerak naik menaiki lantai 20 tempat apartemenku berada.
Melliza: "Sudah mas David.. Mas David boleh pulang sekarang" kataku saat sampai didepan pintu apartemenku.
David: "Buka pintunya" jawabnya dengan nada datar.
David: "Segeralah mandi dulu dengan air hangat, jangan terlalu lama asal bersih saja" instruksinya langsung setelah memasuki apartemenku.
Aku tidak banyak bertanya langsung saja aku mandi karna sudah merasakan badanku yang kian menggigil sedari tadi.
__ADS_1
Aku langsung menggunakan piyama tidurku lalu keluar dari dalam kamar mandi.
Memang benar menjadi cantik itu menyiksa batinku menyesalinya.
"Clara?!"
Mas David belum pulang ternyata?
Tapi...
Bau apa ini? sangat menyengat sekali batinku mengendus endus mencari sumber bau yang tak sedap.
David: "Clara? Kemarilah" perintahnya yang sedang berkutik didapur.
Aku mendekat kearahnya tapi bau menyengat itu semakin menusuk kedalam lubang hidungku membuatku merasa tidak nyaman.
David: "Minum ini agar tubuhmu hangat" mas David menyodorkan segelas air yang aku yakini itu adalah sumber bau yang tak sedap itu.
Melliza: "Apa ini?" tanyaku belum menyentuh gelas yang masih berada di tangan mas David.
David: "Minumlah"
Melliza: "Tidak mau!" jawabku lalu memalingkan tubuhku hendak berlalu.
David: "CLARA!!!" bentaknya menghentikan langkahku.
David: "Berbalik!" perintahnya yang langsung aku turuti.
David: "Duduk!" aku pun duduk sesuai keinginannya.
David: "Minum ini" katanya mulai melembut lagi.
Melliza: "Aku tidak mau... itu tidak enak" kataku dengan menggelengkan kepala.
David: "Minumlah sedikit agar kamu tidak masuk angin"
Akhirnya aku menyerah, ku cecap sedikit pada bibir gelas itu.
Melliza: "Pedas" kataku yang disertai dengan juluran lidah.
David: "Minum lagi"
Melliza: "Ini tidak enak dan pedas mas, aku tidak suka" rengekku berusaha membuatnya luluh.
David: "Ingin meminumnya secara langsung dari gelas atau dari mulutnya mas?"
Langsung tanpa pikir panjang aku minum air yang entah namanya apa tapi sepertinya ini rasa jahe.
Aku telah meminum setengah gelas dan itu rasanya tidak nyaman dilidahku.
Melliza: "Tapi ini sudah setengah gelas loh mas, tadi mas David bilang sedikit juga ga apa apa" aku masih terus merengek padanya.
David: "Mas berubah pikiran, mas ingin kamu menghabiskan semuanya" titahnya bagai sang raja yang tak terelakkan.
Baru saja bibir gelas hendak tersentuh oleh bibirku tapi rasa mual itu datang menghantam tenggorokanku.
HUEKK
HUEKK
HUEKK
Aku berlari kearah wastafel dapur dan memuntahkan semua isi perutku termasuk makanan yang tadi aku santap di acara resepsi pernikahannya pak Eric.
David: "Apa sudah mendingan?" tanyanya polos tanpa rasa bersalah.
Melliza: "Ini semua itu gara gara mas David.. kalo aja mas David tidak merobek dressku tidak menyiramku dengan air dan tidak memberiku minuman pedas itu aku pasti akan baik baik saja" keluar sudah keluh kesahku.
David: "Apa sudah puas? kalau sudah kemarilah" ajaknya lembut.
Melliza: "Aku tidak mau! aku tidak mau lagi berurusan dengan mas David. Mas David hanya ingin menyiksaku" pekikku.
Tanpa banyak berbicara lagi mas David menarik pergelangan tangan kananku untuk mendekat kearahnya.
Lalu mas David menyibakkan baju tidurku keatas sampai terlihat kulit perutku.
Melliza: "Apa yang mas David lakukan? aku tidak mau lagi melayani kemesuman mas David"
Mas David tidak menjawab, dia malah mendekatkan telinganya kearah perutku lalu menepuk nepuk pelan perutku dengan tangan kanannya.
David: "Dimana tempat minyak telon atau sejenisnya apapun itu"
Melliza: "Di laci meja dekat kamar tidur paling atas biasanya dipojok belang sendiri" instruksiku memberikan arahan.
Setelah mendapat apa yang mas David cara dia mendekatiku kembali dan menarikku agar duduk di sofa depan tv.
David: "Buka bajumu" perintahnya lagi.
Melliza: "Aku tidak mau!"
David: "Menurutlah Clara sebelum semakin memburuk" terangnya lembut.
Melliza: "Aku tetap tidak mau! jawabku kekeh.
__ADS_1
Dia nampak menarik nafasnya pelan lalu membuangnya. Melihat kearahku dengan tatapan mata yang lembut seperti dulu sewaktu kita masih menjadi sepasang kekasih.
David: "Ok mas minta maaf jika kamu berasumsi semua ini kesalahan mas"
Melliza: "Ya memang kesalahan mas David kok!" jawabku ketus.
David: "Tapi mas tidak akan berbuat sepeti itu apalagi memaksamu jika kamu tidak mengundang kemarahan mas Clara"
David: "Mas sudah bilang jauhi Bagas tapi kamu terus menempel padanya dan menghindari mas"
David: "Mas sakit Clara melihat kamu bersama pria lain meski itu keponakan mas sendiri. Dan mas lebih sakit saat kamu disentuh oleh pria lain kecuali mas"
Melliza: "Masih sakit hati mana mas David sama aku yang harus jadi wanita simpanan?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hai Hai Hai...
Sorry ya gaes ndk.id nya baru update soalnya kemarin ada masalah sama naskah jadi harus diralat dulu. Sorry ya yang udah rindu berat seberat setoran motor sama dr. Clara
Disini author mau menjawab berbagai pertanyaan yang mungkin sangat mengganjal dipikirkan reader sekalian.
•Sebenarnya status pernikahan dr. David dengan mbak Vanessha itu seperti apa?
•Kenapa tidak diceritakan sudut pandangnya dr. David atau pemeran lainnya?
•Apa alasan dr. David tidak mau menceraikan istrinya?
Jawabannya adalah...
JENG
JENG
JENG
JENG
JENG
JENG
JENG
__ADS_1
Pantengin Terus.