
"Kamu itu lagi jalan bersebelahan sama aku loooh kalau lupa" kata kata itu berhasil membuyarkan lamunanku tentang kejadian semalam.
Melliza: "Oh! tidak mungkin lupa kok kak Bagas" sahutku sedikit canggung.
Setelah Tasya keluar ruanganku, kak Bagas langung menyelonong masuk kedalam ruanganku tanpa permisi bahkan tanpa basa basi ingin mengajakku makan siang di kantin tanpa membiarkan mulutku menolak dia langsung menarik dan berasumsi bahwa aku akan mengiyakannya.
Bagas: "Racanhai lagi sakit kaki?" tanyanya diselah langkah kita menuju kantin Rumah Sakit.
Melliza: "Tidak kok, memangnya kenapa?"
Bagas: "Kok jalannya ngangkang gitu? Rara mmm... itu yaaa.. "Kak Bagas menggantungkan kalimatnya dengan senyuman menggoda.
Melliza: "A.. apa? itu apa?"
Bagas: "Rara lagi men...
"Bagas!" panggil seseorang yang jelas aku kenali suaranya.
Siapa lagi kalau bukan seorang pria tampan yang semalam berkeluh keringat karna mencapai klimaks berkali kali dalam upayanya menyambut kenikmatan yang katanya dia sangat rindukan dan sangat ia inginkan. Pria yang sudah berstatus suamiku, yang menempati hatiku, hidupku dan pikiranku.
Bagas: "Hai om.. kita mau ke kantin, om David mau ikutan?" tawar kak Bagas saat kita sedang berdiri disebuah ruang rawat inap lantai dasar.
Mas David tidak langsung menjawab, dia lebih tertarik menatapku dengan tajam baru menjawab pertanyaanya.
David: "Iya.. om juga harus mengawasi seseorang" sahutnya yang tak kunjung melepaskan tatapannya.
Bagas: "Om David setidaknya relaks sedikit lah om, jangan terlalu memikirkan pasien. Ada kalanya om juga harus bersantai" kata kak Bagas dengan menepuk bahu mas David.
David: "Pasien om kali ini dia sulit diatur, suka membangkang, tidak pernah mendengar apa larangan yang sudah disebutkan berkali kali tapi tetap saja dia melakukannya bagaimana mungkin om bisa relaks jika memiliki pasien yang harus om jaga pagi siang dan malam ini"
Bagas: "Baiklah baiklah tapi setidaknya sekarang bersantailah sebentar, ayo Rara!"
Melliza: "Aawww... pelan kak jangan ditarik" rengekku karna tanpa aba aba kak Bagas langung menarik tanganku dan berusaha menggandeng tanganku agar berjalan mengikutinya.
Tanpa diduga pula selangkanganku yang mendapat gerakan mendadak langung nyeri dan refleks aku langsung memegangi perut bagian bawahku yang mungkin selengkap lagi terarah pada daerah inti kewanitaanku.
Bagas: "Aduh Racanhai sorry sorry, apanya yang sakit?" kak Bagas langung refleks mendekat kearahku dan menunduk melihat wajahku.
David: "Awas!" mas David langsung menyenggol kak Bagas agar menjauh dariku.
Bagas: "Om David apa apaan!" selanya yang sepertinya tidak terima.
__ADS_1
David: "Om yang akan cek, kamu! diam disitu" mas David menginstruksikan kak Bagas agar tidak membantah perintahnya.
David: "Sebelah mana yang sakit?" tanyanya langsung layaknya seorang dokter profesional.
Aku diam, mana mungkin aku menjabarkan bahwa selangkanganku yang merasakan sakit akibat ulahnya dihadapan kak Bagas.
Bagas: "Ooooh mungki Racanhai nyeri menstruasi kali om" kak Bagas dengan spekulasinya.
David: "Kenapa kamu beranggapan dr. Melliza menstruasi? memangnya dia mengatakannya padamu?" tanya mas David menyelidik.
Bagas: "Tidak.. Hanya saja sedari tadi Rara ini jalannya kaya susah begitu mungkin dia sedang menstruasi kan?"
David: "Susah jalan?!" mas David malah berbalik bertanya.
David: "Sakit?" tanya mas David kearahku tanpa bersuara tapi masih bisa aku baca intonasinya.
Mas David masih bertanya?
Apa aku harus berteriak dihadapannya bahwa semalam dia terus mendobraknya demi memuaskan nafsunya yang sudah tertahan lama.
Bagas: "Ayo Rara aku tuntun kamu" kata kak Bagas yang langung berusaha meraih tanganku.
Melliza: "Tidak perlu kak Bagas, aku bisa jalan sendiri" sahutku menepis tanganya.
Bagas: "Tapi Ra..
David: "Bagas! jangan suka memaksa" mas David memotong perkataan kak Bagas yang langsung mendapat kekehan dariku.
Kamu menyuruh keponakan kesayanganmu ini untuk tidak suka memaksa tapi kamu sendiri apa mas David batinku menatapnya.
Bagas: "Tapi nyeri menstruasi itu sakit loh om, Rara saja sampai jalannya mengangkang gitu" sahut kak Bagas yang mulutnya tidak ada filter nya sama sekali.
David: "Jalannya mengangkang belum tentu karna mestruasi Bagas.. bisa saja dr. Melliza ini sehabis melakukan hal yang menyenangkan dengan kekasihnya"
Loh! Ini kenapa om nya juga ikut ikutan tidak di filter mulutnya batinku terkejut akan jawab mas David.
Bagas: "Hal menyenangkan? kekasih?" kak Bagas nampak bingung akan ucapan mas David.
Bagas: "Kamu.. kamu balikan lagi sama dokter bedah itu Ra?"
Aku hanya menunduk tak menjawab pertanyaannya. Pasalnya aku takut kak Bagas akan mengira bahwa aku hanya mempermainkan perasaannya, padahal jelas sebenarnya aku juga sudah mulai menjauhinya agar kak Bagas juga dapat melupakanku secara perlahan dan menemukan belahan jiwanya.
__ADS_1
David: "Memangnya kenapa jika dr. Melliza kembali lagi pada kekasihnya? itu hak dia Bagas. Bahkan jika dia menikah tanpa memberitahumu terlebih dulu itu pun hak dr. Melliza kamu tidak ada hak melarang keinginannya"
Mas David ini lupa apa ya akan perjanjian pernikahan kita.
Bagas: "Kamu serius sudah balikan sama dokter bedah itu Ra? dan kamu.. kamu sudah melakukannya?"
David: "Kamu tidak berhak bersikap seperti itu Bagas, itu privasinya dr. Melliza terserah dia mau melakuan apapun"
Karna kondisi yang semakin mencekam membuat aku langsung berusaha kabur dari situasi panas antara om dan keponakan itu dengan beralasan pasien.
Aku langsung berjalan menuju ruanganku dan mengurungkan niatku untuk makan siang di kantin bersama dua pria yang sedari tadi hanya berdebat masalah hak hak dan hak.
Aku termenung memikirkan jalan hidupku yang mulai runyam ketika mas David mulai menampakkan namanya didalam hidupku.
Memikirkan akan seperti apa masa depanku.
Akankah hubunganku dengan mas David akan benar benar diresmikan.
Atau bahkan mungkin aku akan berakhir dengan sendiri tanpanya.
Aku tidak tahu sungguh aku benar benar tidak tahu.
Aku bersyukur karna Tuhan menghadirkan seorang pria yang sangat mencintaiku tapi aku juga mengeluh mengapa Tuhan memberikanku seorang pria yang jelas jelas berstatus suami orang.
Hanya satu nama yang selalu menghiasi otakku selepas kepergian Tasya tadi yang memberikan petuah bawasannya aku tidak boleh sembarangan mengumbar tubuhku untuk pria yang belum jelas menjadi masa depanku dan menjadi teman masa tuaku.
Apa yang aku bisa lakukan?
Jika aku menolaknya waktu itu mas David akan mengancam keluargaku.
Tunggu...
Sekelebat nama lain langung muncul bersanding dengan nama mas David yang tak pernah hilang dari pikiran dan hatiku.
Ku raih ponselku yang berada diatas meja dan mencalling satu nama yang sudah sangat aku rindukan sejak lama.
"Hallo cintaku" sapa seseorang pria disebrang sana.
Melliza: "Hallo my lovely" sahutku girang setelah mendengar suaranya.
"Apa Caca sudah melupakan ku? kamu sudah sangat lama tidak menghubungiku honey, aku sangat rindu akan suaramu, hadirmu dan pelukan hangatmu" keluhnya yang begitu mendamba.
__ADS_1
Melliza: "Mana mungkin Caca mu ini melupakan kekasih gelapnya, meski kamu kekasih gelap tapi kamu number one lovely"