
Melliza: "Ah, sakit mas" rengekku merasakan sakit yang tak tertahankan.
David: "Apanya yang sakit?" tanya mas David begitu khawatir dengan keluhku.
Melliza: "Iniii" kataku dengan menunjuk bagian tubuhku.
David: "Ya ampun kok bisa sampai bengkak begini"
Melliza: "Ya ini gara gara mas David"
David: "Loh kok mas? kamu yang keras kepala Clara tidak mau nurut apa kata mas" sangkalnya tidak mau kalah padahal jelas jelas ini perbuatannya.
Melliza: "Adu..du. duh ko sakit banget sih, ga suka deh aku" aku terus terusan merengek saat aku hendak duduk.
David: "Sini sini mas liat" katanya dengan meniupinya pelan.
Melliza: "Mas David ini tu bengkak bukan luka, tidak akan ngaruh jika ditiup" jelasku.
David: "Trus Clara maunya gimana?"
Melliza: "Ya mas David tanggung jawablah, ini kan karna ulah mas David. Kalo aja mas David ga kasih hukuman ke aku untuk nulis sebanyak kemarin mana ada tangan aku bengkak sampai kaya gini"
(Yaaah, pada kecewa deh.. otaknya jangan terlalu ngeres readers banyak banyak disapu dari debu debu kemesuman😆)
David: "Lah salah kamu sendiri kenapa memilih hukuman yang itu, mas ga maksa kamu yah. Mas paksa kamu buat jadi kekasih mas tapi tanpa dipaksa kamu nya datang sendiri mau jadi kekasihnya mas" jelasnya masih mengelus tangan kananku yang bengkak.
Melliza: "Iya kenapa aku milih hukuman itu jika akhirnya aku jadi kekasihnya mas. Huh! nyesel deh"
David: "Ya sudah ga apa dengan begitu kan kamu juga punya laporan ke pak Budiman kalau kamu sudah melaksanakan hukumannya"
Melliza: "Tapi tetap aja aku nyesel mas"
David:"Tapi kamu ga nyesel kan jadi pacarnya mas" katanya dengan senyuman menggoda yang masih tiduran di kasur.
Melliza: "Kalo itu semalam aku khilaf" kataku dengan mengidikan kedua bahu.
David: "Apa?! awas ya kamu" mas David terkejut dengan apa yang barusan aku katakan, dan dia memelukku yang sedang duduk di kasur.
Melliza: "Mas?" panggilku tidak menghiraukan perkataannya tadi.
David: "Hmm" dia hanya berdehem dengan memeluku.
Melliza: "Aku laper" entah mengapa aku menjadi manja begini, mungkin faktor jomblo yang terlalu lama hingga membuatku ingin dimanja manja sama pacar baruku.
David: "Mandi gih" katanya lalu melepaskan pelukannya pada tubuhku.
Melliza: "Aku laper mas, bukan gerah ko disuruh mandi" ocehku atas perkataan mas David barusan.
David: "Iya kamu mandi dulu" dia mencubit pipi tirusku gemas.
Melliza: "Emangnya mas David udah mandi?" tanyaku polos padahal jelas jelas mas David ini belum mandi.
David: "Belum. Kenapa? mau ngajak mandi bareng?" godanya membuat pipiku menjadi panas.
Melliza: "Ya udah awas minggir aku mau mandi" kataku dan berusaha berdiri.
David: "Kamu mau sarapan sama apa Clara?" tanyanya yang melihatku hendak memasuki kamar mandi.
__ADS_1
Melliza: "Emmmmm.. telor ceplok setengah matang sama roti panggang 2" kataku menyebutkan menu sarapanku pagi ini.
David: "Udah itu aja?" tanyanya meyakinkan jawabanku.
Melliza: "Kalau ada pisang aku mau"
David: "Tidak ada pisang Clara. Gimana? Mau mas beliin dulu?"
Melliza: "Ga perlu kali mas David, kan aku bilangnya kalau ada aja kalau ga ada ya sudah" terangku lalu memasuki kamar mandi.
Saat aku berada didalam kamar mandi betapa senangnya hatiku mendapatkan perhatian dari pak David eh maksudku mas David yang sudah menjadi kekasih ku.
Aku memang selalu membayangkan bagaimana jika aku menjadi kekasihnya, tidur seranjang dengannya tapi tak pernah terbayangkan jika aku akan menggunakan bajunya dan sekarang, sekarang aku akan mandi di kamar mandi pribadinya menggunakan sabunnya.
Sebuah sabun cair berhasil membuat tubuhku wangi seketika setelah aku mengguyurkan air dari shower.
"Ya ampun ini aku mau memakai handuknya mas David? Ga salah?" kataku memegangi handuk yang tergantung disebuah jemuran kecil.
Karna tidak ada pilihan lain alhasil aku pun mengenakannya dan melilitkannya menutupi tubuh putih bersih yang sudah wangi.
Dan aku baru ingat jika baju gantiku berada didalam mobil. Ya karna setiap kali aku keluar pasti aku membawa baju ganti untuk jaga jaga didalam mobil ku.
"Mas David, mas.. mas.. MAS DAVIIIID" teriakku dari dalam kamar mandi, tapi tidak ada respon suara sedikitpun.
Ku buka sedikit pintu kamar mandi dan ku lirik tidak ada mas David dalam kamar hingga aku putuskan untuk keluar kamar.
"Mungkin mas David lagi membuat sarapan untukku"
Ku buka pintu kamarnya yang langsung menampakkan mas David yang sedang menggoreng telor di dapur walaupun jaraknya cukup lumayan jauh.
Melliza: "Mas David dari tadi aku panggil kok ga nyahut sih, tenggorokanku sampai serak karna teriak teriak" omelku dari ambang pintu.
Melliza: "MAS!" panggilku sedikit berteriak.
David: "Hah? iya kenapa Clara?"
Melliza: "Tolongin akuuu" jawabku dengan sedikit nada manja.
Dia mematikan kompor listrik yang berada di hadapannya dan berjalan kearahku.
David: "Kenapa?"
Melliza: "Tolong ambilkan bajuku di mobil yang tergantung di pintu belakang samaaa..
David: "Sama apa?" tanyanya heran.
Melliza: "Eemmm.. ituuu....
David: "Itu apaaa?" dia semakin heran.
Melliza: "Celana dalam sama bra yang ada di paper bag jok belakang" kataku lirih karna merasa malu.
Mas David pun menyunggingkan senyumannya, dan karna itu pula membuat aku semakin malu.
Setelah beberapa menit mas David kembali lagi memasuki kamar dan membawa apa yang aku pesankan.
Melliza: "Makasih" kataku yang melihat mas David sedang berjalan menuju lemari bajunya.
__ADS_1
Melliza: "Loh kok ini ga sepasang sih mas?" tanyaku yang heran karna CD dan bra ku tidak senada warnanya. Kebiasaanku adalah selalu menggunakan CD dan bra yang sepasang dan dengan warna yang senada.
David: "Memangnya kenapa kalo tidak sepasang?"
Melliza: "Aku ga suka, aku udah biasa pake yang senada warnanya" jelasku tanpa sadar bahwa sebenarnya ini adalah hal yang privasi.
Melliza: "Tolong ambilkan CD pasangannya ini yaaah?" bujukku pada mas David agar mau mengambilkan CD yang berwarna hitam.
David: "Tidak ada" jawabnya singkat dan berjalan kearahku.
Melliza: "Loh kok bisa tidak ada, perasaan kemarin aku cek masih ada deh" kataku lirih mengingat kembali saat aku memasukkannya kedalam paper bag.
David: "Iya karna sekarang itu menjadi milik mas" jawabnya membuat mataku terbelalak.
Melliza: "Ih itukan punya aku, balikin ga! mau buat apa sama mas David?" kataku sedikit mengancam agar mas David mau mengembalikannya.
David: "Buat disimpan aja, kenapa ga boleh?"
Melliza: "Itukan punya aku mas, lagian kalo mau ambil itu minta dulu sama yang punya jangan main ambil ambil aja. Aku ga suka pakai kalau ga senada mas David" jelasku berusaha agar mas David mau mengembalikannya.
David: "Ya sudah sini bra nya sekalian disimpan sama mas biar kamu tidak usah pusing mikirinya" mas David berusaha mengambil bra hitam yang berada ditangan ku sedari tadi.
Melliza: "Ga! awas, aku ga mau! Mas David minggir" kataku terus berusaha menghindarinya.
David: "Clara, kamu sadar tidak kamu ini hanya menggunakan handuk. Semakin kamu kaya gini semakin mas panas melihatnya"
Aku baru tersadar, ternyata dari tadi aku hanya menggunakan handuk dihadapan mas David. Sontak aku langsung ingin melarikan diri menuju kamar mandi tapi sayang..
David: "sudah terlambat bagimu untuk melarikan diri Clara" katanya dan menarik tanganku hingga ditempelkannya disalah satu dinding kamar.
Melliza: "Mas aku mau pake baju" aku mencoba melarikan diri tapi tidak bisa.
David: "Nanti dulu" jawabnya dengan menahan kedua bahuku.
Melliza: "Kenapa maaaashh" lagi lagi payudaraku diremas olehnya.
David: "Harus sering diremas sama cowo nya biar cepet gede" katanya sedikit menggodaku.
Melliza: "Modus! bilang sajahh pingin meremas pakai banyak alasan"
David: "Beneran Clara, mas tidak bohong. Apalagi kalau remesnya langsung terkena kulit tanpa ada sehelai bahan pun yang menghalangi pasti lebih cepat gedenya"
David: "Kamu wangi Clara, mas suka"
Mas David semakin menggila melihat tubuhku yang hanya menggunakan sehelai handuk berwarna cream miliknya.
Dia mencium setiap inci kulit rahang serta leherku tanpa henti. Mengecupnya dan terus hingga turun tepat diatas batas handuk yang sedang aku kenakan. Mas David berhenti sesaat dan hendak melepaskan tanganku yang sedari tadi memegangi handuk yang takut terlepas.
David: "Mas ingin melihatnya Clara" katanya dengan menciumi payudaraku dari balik handuk.
Melliza: "TIDAK BOLEH!!!" jawabku lantang mendorongnya dengan sebelah tangan.
David: "Kenapa? kamu tau kan sifat mas ini tidak suka ditolak?"
Iya benar sifat terburuknya mas David adalah tidak suka ditolak keinginannya. Tapi aku punya hak dong untuk menolaknya secara ini tubuhku milikku sendiri aku yang menjaga dan merawatnya.
Melliza: "Mas David lihat tuh jam berapa, udah kesiangan mas nanti terlambat. Aku belum sarapan mas juga belum mandi, kapan kapan lagi bisa kan?" tawarku setelah mencari alasan yang masuk akal.
__ADS_1
David: "Baiklah lain kali kasih ya?" katanya kemudian melepaskanku dari kungkungannya.