
Bagas: "Bagaimana? Rara sudah bunting?" tanyanya dengan mata berbinar binar.
Melliza: "Bunting?"
Bagas: "Hamil Ra! Hamil!"
Aku menggeleng cepat memberikan jawaban, aku tak ingin ada yang tahu tentang kehamilan ini temasuk kak Bagas.
BRAAK
Kak Bagas menggebrak meja membuat aku dan Mita pacar kak Bagas terkejut akan tindakannya.
Bagas: "Aduuh.. om David ini payah banget sih! perasaan tiap malam digembor tapi tidak tekdung juga" decaknya sebal.
Melliza: "Jadi selama ini kamu bekerja sama dengan mas David?"
Bagas: "Tidak.. tidak" kak Bagas menggeleng.
Mita: "Yang tahu akan misi ini hanya kita berdua itu pun usulan dariku" Mita mulai angkat bicara.
Melliza: "Misi?"
Bagas: "Ya Misi dari membuat kalian menikah sampai ingin membuat Rara hamil"
Aku mulai emosi saat mendengar perkataan kak Bagas.
Jadi selama ini aku hanya dijadikan umpan olehnya untuk menjadi mainan pamannya?
Melliza: "Tega kalian!"
Mita: "Maafkan kami dr. Melliza, aku hanya kasian pada calon pamanku jika hidupnya tak memiliki warna"
Bagas: "Lagian kalian saling mencintaikan?"
Aku langsung diam karna pertanyaannya itu benar adanya.
Bagas: "Mungkin kalau aku tidak hadir diantara kalian, paman kesayanganku itu masih menjadikanmu kekasihnya"
Mita: "Iya maka dari itu bebeb berperan sebagai orang ketiga diantara kalian dan membuat om David murka agar bertindak cepat mengikat dr. Melliza dalam sebuah ikatan pernikahan"
Bagas: "Tapi sayangnya om tololku itu malah membuat Rara menjadi istri simpanan dan tak kunjung menceraikan Vanessha kan jadi semakin belibet aku berperan"
Melliza: "Jadi selama ini?"
Bagas: "Ya! semua dalam kendaliku, berperan menjadi pemanas agar sang kompor bisa menyalakan apinya, tapi tak disangka om David malah meledak karna pancinganku karna tak ingin miliknya dimiliki oleh pria lain"
Melliza: "Andai kak Bagas tahu setiap kak Bagas berulah sikap seperti apa yang akan ditunjukan oleh mas David padaku"
Bagas: "Aku tahu! aku mengenalinya sejak aku masih kecil kita sering bersama maka dari itu aku sangat paham betul dengan sifatnya"
Bagas: "Bahkan aku sebenarnya kadang sangat ingin tertawa setiap melihat raut wajah datarnya dikala aku menemplok pada tubuh Rara"
__ADS_1
Ternyata selama ini aku salah besar menilai bahwa kak Bagas adalah pionku untuk memanasi mas David. Nyatanya aku lah menjadi pion dalam rencananya yang mengakibatkan aku yang sekarang sedang mengandung.
Ingin rasanya aku mencakar wajahnya dan menenggelamkannya di samudra Hindia karna perbuatannya telah merugikanku.
Mas David pun mulai terus menginap dengan misi ingin menghamiliku, aku mau saja asal dia berbuat lembut dan tak terlalu memaksa tubuhku.
David: "Sayaaang?"
Melliza: "Apa?" sahut yang masih memejamkan mata.
David: "Kenapa mas merasa Clara sekarang gendutan yah" katanya semakin mendusel diperutku.
Melliza: "Ya kan disumpelin makanan terus sama mas David"
David: "Terus ini kenapa tutunya semakin besar yah?" ledeknya dengan menyundulnya.
Melliza: "Gimana ga besar kalau tiap hari diremas sama disedot terus" jawabku terus berusaha mencari alasan yang masuk akal.
Mas David semakin erat memelukku dan membenamkan wajahnya diperutku.
David: "Mas kira nafsu makan Clara yang meningkat sama perubahan fisik ini adalah ciri ciri wanita hamil"
Melliza: "Mau diperiksa lagi? Tidak lihat tadi aku mengganti pembalut?"
Karna merasa belum aman akan kebohonganku yang kemarin, akhirnya aku memutuskan untuk memanipulasinya dengan pura pura mentruasi.
David: "Iya mas tadi lihat, mas harus cuti dulu kan?"
Kadang aku merasa bahwa mas David ini seperti sudah mengetahui akan kehamilanku, dia selalu bermain lebih lama didepan perutku. Selalu berbicara berharap ada kehidupan didalamnya, dulu setiap mas David tidur selalu nete kali ini mas David lebih tertarik mendusel dusel diperutku dan menciumnya berkali kali.
Bahkan mas David selalu menyebut dirinya sebagai seorang daddy. Tapi jika mas David sudah tau? dia tahu dari mana? jelas jelas tespek yang menunjukan tanda positif telah aku buang.
Sekilas perkatan kak Bagas teringat oleh otakku.
Melliza: "Mas?" panggilku melihatnya yang masih mendusel diperutku.
David: "Yes Mommy?"
Aku tertegun mendengar panggilan mas David yang terasa masih begitu asing di telingaku.
Melliza: "Dimana ponselnya mas David?"
David: "Ponsel daddy? itu di meja sebelahnya mommy"
Aku pun meraihnya karna memang jarak antara aku yang tengah berbaring cukup dekat untuk menjangkaunya.
David: "Mau buat apa?" tanyanya melihat kearahku.
Tapi aku tidak menggubrisnya, aku sungguh penasaran dengan wallpaper yang dikatakan kak Bagas.
Untuk pertama kalinya aku memegang ponselnya mas David selama aku memiliki hubungan denganya.
__ADS_1
Memang ponselnya itu menggunakan kata sandi sebagai pengamannya.
Aku mulai mengerikan kata Clara untuk membukanya.
Dan ternyata memamg itu sandinya. Aku benar benar terkejut dengan wallpaper yang dimaksud kak Bagas itu.
Aku?
Ya di layar ponselnya itu adalah aku.
Aku yang sedang terlelap tidur dengan memeluknya dan menaruh wajahku didadanya yang polos dibalik selimut. Belahan dadaku begitu terlihat karna aku juga tidak memakai sehelai kainpun waktu itu.
Tanganya kirinya memeluk punggung polosku sehingga tak terlalu terlihat kulit putih bersihku.
David: "Mom?" panggilnya tapi aku tetap fokus pada layar ponselnya mencari aplikasi yang menyimpan semua foto.
Melliza: "Astaga! MAS DAVIIID!!!" pekiku setelah melihat serentetan foto yang berjejer memenuhi layar ponselnya.
David: "Kenapa sayang?!" mas David langsung bangun dan merangkak.
Aku syok, terkejut bahkan rasanya tak percaya dengan apa yang aku lihat.
Aku langsung memposisikan diriku agar duduk dan lebih memperhatikan ponselnya.
Melliza: "Ini apa apaan mas David?!" tanyaku sedikit lantang dengan menunjukan layarnya kearahnya.
David: "Apa salahnya, Clara istrinya mas. Jadi mas berhak dong menyimpan foto Clara walau tanpa busanapun"
Foto yang berjejer rapi itu kebanyakan adalah aku yang bug*il sedang menikmati tidur pasca selesai digarap oleh mas David.
Bahkan ada satu video yang menunjukan aku tengah tidur tapi mas David mengusikku dengan memasukan jarinya kedalam vaginaku.
Dan reaksi tubuhku malah keenakan dalam mata yang masih tertutup dan tubuh yang menggeliat kesana kemari. Bahkan seakan akan meminta lebih dengan pinggulku yang ikut terangkat.
Melliza: "Jangan lakukan ini lagi! mending dihapus saja" saat aku hendak menandai semau foto itu mas David dengan cepat meraihnya dari genggaman tanganku.
Melliza: "Hapus mas David!"
David: "Tidak akan! Ini bukti setelah percintaan kita, mas tidak akan menghapusnya"
Melliza: "HAPUS!!!" bentakku.
David: "Tidak!" sahutnya kekeh.
Melliza: "Hapus mas! bagaimana jika ada yang melihatnya"
David: "Mas menggunakan kata sandi bagaimana mungkin...
David: "Tunggu.. bagaimana bisa Clara tahu kata sandi mas?"
Melliza: "Hanya menerka nerka"
__ADS_1
Jika aku sebut nama kak Bagas mungkin kak Bagas hanya akan tinggal nama jika pamanya ini tahu tubuh molek istri kesayangannya telah dilihat oleh pria lain terlebih ini keponakannya yang sering dia anggap sebagai saingannya.