
"Maaf pak David, saya benar benar tidak bisa"
Itulah kalimat terakhir yang menjadi penutup adegan pangku dipangku.
Sekeluarnya dari ruangan pak David pun aku langsung diinterogasi seperti penjahat oleh Marsya.
Hukuman apa yang diberikan pak David?
Kamu bisa melaksanakannya tidak?
Hukumannya sulit atau tidak?
Pak David kelihatannya memaafkanmu atau tidak?
Apa kamu butuh bantuanku untuk membujuknya?
Dan masih banyak lagi sampai gendang telingaku hampir pecah karna ocehannya disetiap langkah kami menuju ruangan masing masing.
Saat aku duduk sendiri diruanganku, ku sentuh bibirku dan ku pejamkan kedua mataku. Aku tersenyum membayangkan kejadian tadi diruangan pak David tentang betapa hangatnya bibir miliknya.
Aku merasa terbuai olehnya, perlakuannya yang lembut meski memelukku dengan erat tapi pak David tidak membuatku sesak nafas.
"Andai pak David, andai saja anda belum beristri jangankan untuk menjadi kekasih anda menjadi istri anda pun saya siap" kataku lirih.
Setelah kejadian di hari itu, aku benar benar menjauh bahkan menghindar dari pak David. Ibarat di ilmu kedokteran pak David adalah virus yang belum ditemukan obatnya. Jadi aku pun harus menjaga jarak agar tidak terjangkit olehnya.
Berpuluh puluh pesan dan panggilan yang masuk ke ponselku dari nomor yang sama yaitu pak David. Aku hanya membiarkannya saja tidak meresponnya sedikitpun.
Hingga akhirnya aku dipanggil oleh pak Budiman untuk datang keruangannya karena laporan dari pak David setelah satu minggu rapat yang waktu itu.
Budiman: "dr. Melliza sebenarnya mau anda itu apa?" tanya pak Budiman padaku.
Melliza: "Mau saya? maksud pak Budiman apa yah?" tanyaku balik karna merasa bingung.
Budiman: "dr. David melapor pada saya bahwa katanya anda tidak mau melaksanakan hukuman yang dr. David berikan, apa betul dr. Melliza?"
Melliza: "Iya pak, karna bagi saya itu tidak wajar disebut sebagai hukuman" kataku berusaha membela diri.
Budiman: "Tidak wajar apanya?"
__ADS_1
Ya jelas tidak wajar lah, masa iya aku disuruh menjadi kekasihnya ya walaupun aku sebenarnya menginginkannya batinku.
Budiman: "Anda hanya dihukum mencopy kembali peraturan Rumah Sakit ini sebanyak 3 kali, bagi saya itu wajar disebut hukuman. Ya meskipun Rumah Sakit ini memiliki peraturan yang lumayan banyak tapi menurut saya itu akan membantu dr. Melliza dengan mudah agar dapat mengingat semua peraturan yang ada dan tidak mengulangi kesalahan anda dr. Melliza" terangnya.
Apa?
Pak David mengganti hukumannya?
Aku tidak salah dengar kan?
Mencopy peraturan Rumah Sakit?
Tiga?
Oh astaga peraturan Rumah Sakit ini kan banyaknya minta ampun jika di copy pun pasti akan membentuk sebuah kamus bahasa Indonesia.
Setelah mendapat teguran dari pak Budiman, aku ingin memastikan apa benar hukumanku telah diganti. Ku langkahkan kakiku yang baru keluar dari ruangan pak Budiman menuju ruangan pak David.
"Tapi tunggu.. kalau aku datang keruangannya apa mungkin aku ga diterjang lagi?" kataku dengan memberhentikan langkahku saat itu juga.
Jangan Melliza, itu sangat berbahaya bisa bisa kamu diterkam oleh pak David batinku.
Akhirnya ku urungkan niatku yang tadinya hendak keruangannya. Dan aku putuskan untuk menelponnya saja.
David: "Kenapa Clara? Apa kamu sudah setuju untuk menjadi kekasih ku?"
Melliza: "Tidak, saya hanya ingin bertanya apa anda beneran merubah hukuman untuk saya?"
David: "Tidak hukumannya tetap sama, kamu harus menjadi kekasih ku Clara" jelasnya.
Melliza: "Lalu apa maksud anda berbicara pada pak Budiman mengenai mencopy peraturan ulang?"
David: "Itu untuk hukuman sementara karna kamu belum juga mau menjalankan hukuman yang ketiga"
Melliza: "Apa?! saya tidak setuju dan saya tidak akan melakukan hukuman yang anda berikan" jelasku menolaknya.
David: "Baiklah jika kamu bisa menyelesaikan mencopy 3 peraturan itu saya akan bebaskan kamu dari hukumanku sebelumnya" terangnya.
Melliza: "Benarkah?" tanyaku berbunga bunga.
__ADS_1
David: "Tapi jangan senang dulu, kamu harus menyelesaikannya dalam waktu 3 hari ditulis sendiri olehmu bukan ketikan dan tidak boleh meminta bantuan orang lain. Apa kamu setuju?"
Melliza: "Apa anda sedang menyiksaku pak David? Bagaimana mungkin, apalagi dengan pekerjaanku" bantahku mencoba menyadarkannya.
David: "Itu terserah kamu Clara, kamu memilih menyiksa tangan mu sendiri dengan mencopy peraturan itu atau memilih menjadi kekasih ku"
Sial aku paling benci dengan menulis, apalagi bila harus menulis sebanyak itu. Mungkin nanti lama kelamaan tangan kananku bisa lepas sendiri karena terlalu lelah untuk menulis.
Karna keinginan besarku untuk tidak menjadi kekasih pak David akhirnya aku iya kan kemauannya untuk mencopy ulang peraturan Rumah Sakit itu sebanyak 3 kali dalam waktu 3 hari.
Ku korbankan setiap waktu istirahatku untuk menulis bahkan kadang jeda antara pasien satu dengan pasien yang berikutnya aku manfaatkan untuk menulis.
Tiga hariku berturut turut yang selalu begadang hanya untuk menulis cuma menghasilkan 2 copy an. Aku benar benar frustasi dibuatnya.
Apakah aku akan berakhir menjadi kekasih pak David dan menjadi orang ketiga dalam rumah tangganya?
"Kamu belum selesai juga mengenai hukuman dari pak David? Sini aku bantu menulis ya walaupun hanya bisa membantu sedikit tapi itu lebih baik dari pada menghadapinya sendiri" kata Marsya yang tiba tiba berada diruanganku, karna aku yang terlalu fokus menulis hinggga tidak menyadari kedatangannya.
Melliza: "Tidak Sya! Jika pak David tau dia akan menambah hukumannya lagi padaku" jelasku atas niatan baik Marsya yang aku tolak meskipun sebenarnya aku ingin sekali dibantu.
Marsya: "Aku akan berusaha menulis sama persis dengan tulisanmu Elliza, aku tidak tega melihatmu seperti ini terus menerus"
Melliza: "Apa kamu lupa bahwa pak David adalah orang yang sangat teliti? Bukankah kamu sendiri yang memberi tahuku tentang kepribadian pak David yang pendiam dan dingin" kataku masih terus menggerakkan tangan kananku untuk menulis.
Marsya: "Kamu benar Elliza, dia sangat teliti sangat sulit untuk ditipu ataupun dibohongi"
Melliza: "Sudahlah Sya lebih baik kamu istirahat dan makan siang saja sana, aku ingin segera menyelesaikan hukuman ini" kataku masih fokus menulis.
Marsya: "Kamu tidak makan siang lagi Elliza?"
Aku hanya menggelengkan kepalaku dan terus menulis. Kemarin aku telah menyelesaikan 2 copy an peraturan Rumah Sakit dan dengan ini sudah membuatku sedikit hafal sehingga dapat mempercepat cara menulisku yang ketiga ini.
Ting!
"Waktunya sudah habis Clara! Apa kamu akan menerima hukumanmu yang ketiga untuk menjadi kekasih ku?"
Pesan whatsapp dari pak David yang baru saja masuk ke ponselku.
Melliza: "Belum pak! Bukankah ada bilang tiga hari? Ini masih siang itu berarti saya masih memiliki waktu 11 jam 52 menit lagi" send.
__ADS_1
David: "Baiklah kita lihat nanti. Tapi jika tidak bisa maka jadilah kekasih ku"
Aku tidak menghiraukannya lagi pesan darinya, aku lebih fokus untuk menulis terlebih aku sudah tidak ada praktek lagi. Jadi bisa aku memanfaatkannya untuk menyelesaikan ini.