
Aku diam sambil membalas tatapan matanya. Keseriusan adalah kata yang terpancarkan dari kilat mata hitam lekatnya.
Melliza: "Apa maksudnya yang baru anda katakan pak David?" aku bertanya seolah ingin mendengar sekali lagi untuk memastikan bahwa aku tidak salah dengar tadi.
David: "Apa masih kurang jelas Clara?"
David: "Mas ingin kamu menikah dengan mas, menjadi istri mas dan menjadi wanita satu satunya dalam hidup mas Clara" sambungnya lagi membuat binar dimataku muncul.
Menjadi wanita satu satunya mas David?
Apa mas David benar benar sudah cerai dengan mbak Vanessha?
Melliza: "Bagaimana dengan mbak Vanessha? Apa mas David sudah bercerai dengan mbak Vanessha?" tanyaku dengan mengangkat alis sebelah.
David: "Ituu..
Mas David menggantungkan kalimatnya dan melihat kearah lain tak mau membalas tatapan mataku.
Melliza: "Oh! tidak perlu dilajutkan.. saya sudah tahu jawabannya pak David" kataku langsung membuat mas David melihat kearahku lagi.
David: "Jadi bagaimana? Kamu mau kan menikah dengan mas?" tanyanya terus terang.
Melliza: "Apa masih perlu saya jawab pak David? jawabku dengan nada datar tanpa melihat kearahnya.
David: "Jadi kamu mau menikah dengan mas Clara?" nadanya bicaranya terlihat begitu gembira.
Melliza: "Tidak" jawabku singkat lalu bangkit dari kursiku.
David: "Mas tidak suka ditolak Clara" katanya dengan sedikit meninggikan nada bicaranya.
Melliza: "Dan saya tidak suka dipaksa pak David" jawabku langsung menatap matanya tajam seolah siap berperang dengan mas David tanpa adanya rasa takut.
David: "CLARA!" bentaknya yang mulai tidak bergeming lagi di telingaku karna sudah terbiasa.
Melliza: "Jangan membentak saya lagi pak David, ingat ini ruangan saya bukan ruangan pak David jadi jaga etitut pak David sebagai dokter pembimbing saya" jawabku membuat mas David sepertinya mulai geram denganku.
Mas David kira dia siapa berhak memaksakan kehendakku, ingin menjadikanku istri ke dua?
Maaf Melliza Clara ini tidak tertarik untuk menjadi nomor dua.
David: "Apa alasannya Clara?"
Melliza: "Apa masih kurang jelas alasan saya menolak permintaan konyol anda itu pak David?" tanyaku masih terus bersitatap dengan mas David.
David: "Mas akan memberikan semua yang kamu inginkan Clara.. semuanya tanpa terkecuali tapi jika menyangkut Vanessha....
David: "Mas tidak bisa Clara, mas tidak bisa" sahutnya menunduk.
Melliza: "Dan saya pun tidak bisa menjadi nomer dua dan berbagi suami dengan wanita lain, meski aku datang sesudah wanita itu" kataku masih melihat mas David yang tertunduk.
David: "Kamu bukan nomer dua Clara, dan mas seutuhnya menjadi milik kamu. Mas hanya akan berhubungan denganmu tidak dengannya" jawabnya mulai frustasi.
Melliza: "Haha.. Tapi dimata dunia saya ini nomer dua dan mereka pasti akan selalu beranggapan saya sebagai pengrusak hubungan rumah tangga orang"
David: "Tidak Clara tidak! mas mohon menikahlah dengan mas Clara. Kamu akan menjadi ratunya mas begitu juga menjadi ratu dalam rumah mas, semua yang kamu inginkan atas semua yang mas miliki semua menjadi milik kamu sayang"
Melliza: "Tapi saya tidak tertarik atas apa yang anda miliki pak David" jawabku merendah.
Mas David kira aku ini gila harta apa? aku ini terlahir dari keluarga kaya dan sudah terbiasa dengan kemewahan yang ada tapi bukan dengan menjual diri sebagai istri nomer dua.
Mau ditaruh mana muka keluarga Utomo kalau tahu cucu kesayangan Cipto Utomo menjadi istri kedua dari seorang dokter bedah.
Aku ini sebenarnya sudah berkali kali dikenalkan oleh kakek dengan beberapa deretan pria yang katakanlah sudah berdompet mapan dengan usia yang setara denganku. Tapi aku selalu menolaknya dengan beralasan bahwa aku ingin menjadi wanita karir terlebih dahulu baru memikirkan pernikahan dan sontak itu pun mendapat dukungan positif dari kakek dan papah.
David: "Berikan syarat lain Clara selain menceraikan Vanessha" mas David terus berusaha membujukku agar mau menyetujui keinginannya.
Melliza: "Saya tidak membuat syarat untuk pak David menceraikan mbak Vanessha.. saya malah berharap hubungan pak David dengan mbak Vanessha membaik dan dapat melanjutkan pernikahan yang normal. Dan saya? saya akan berusaha melupakan kenangan kita perlahan" jawabku agar membuatnya mengerti.
Jujur kala itu kenapa aku mengatakan mas David menceraikan mbak Vanessha itu karna aku ingin tahu seberapa besar cinta mas David terhadapku.
Aku sama sekali tidak bermaksud ingin menjadikan itu syarat agar hubungan kita terus berlanjut, sebenarnya jawaban mas David yang tidak ingin menceraikan mbak Vanessha itu adalah alasan untukku memutuskan hubungan yang sudah mulai rumit. Aku ingin terlepas darinya dan ingin membuat mbak Vanessha seutuhnya menjadi istri mas David tanpa adanya aku yang berada disisi mas David.
Aku sudah terbiasa memberikan kebahagiaanku untuk orang lain. Dulu sewaktu kecil aku selalu ditindas oleh kedua kakak perempuanku, mereka selalu mengambil mainan yang aku miliki yang diberikan oleh kakek. Kedua kakak ku juga merebut kasih sayang papah membuat aku hanya memiliki seorang kakek karna mamah meninggal tepat empat hari setelah ulang tahunku yang ke tiga tahun.
Aku juga belajar merelakan Krisna cinta pertama ku untuk wanita lain yang telah merebutnya dariku. Dan sekarang? aku juga harus belajar merelakan mas David untuk mbak Vanessha karna bagaimanapun mbak Vanessha lebih berhak atas mas David apalagi mbak Vanessha tidak memiliki sanak saudara, dia hanya memiliki mas David dalam hidupnya. Aku mana tega merebut tiang penyanggah hidupnya dan mengambil posisinya.
David: "Tidak Clara... Mas hanya ingin dirimu, tidak Vanessha atau wanita lain" mas David berusaha mendekat kearahku tapi aku terus menjauh darinya berusaha agar tidak terjangkau oleh tangannya.
Melliza: "Jangan bersikap seperti ini pak David.. menjauhlah anda harus menjaga jarak dari saya" jawabku datar berusaha membuat mas David mengerti bahwa hubungan ini tidak bisa dilanjutkan lagi.
Mas David terus berjalan mendekat kearahku tanpa memperdulikan setiap perkataanku yang bahkan mungkin sedikit menyakiti perasaannya.
Aku mulai ngeri melihat tatapan mas David yang datar tapi menyirat tajam bagai sebuah ancaman.
Bagaimana ini?
Kenapa selalu tertindas oleh mas David?
Ayo Melliza kamu harus bisa keluar dari ruangan ini dan kabur dari singa buas yang sedang kelaparan ini.
__ADS_1
Tapi bagaimana caranya kabur sedangkan pintu berada tepat dibelakang mas David, yang secara otomatis aku harus melewatinya.
CEKLEK.
"Racanhai, calon pacar da.. Om David?" datanglah malaikat penyelamatku.
Memang sangat beruntung pamannya membuat aku tersudut tapi malah keponakannya sendiri yang menyelamatkanku. Sungguh kebetulan yang sangat menyenangkan batinku melihat keberadaan kak Bagas yang baru saja datang.
Untung dia datang saat aku dan mas David sedang tidak bertengkar hebat atau sedang bercinta. Lah coba kalo sampai ketahuan olehnya? tidak tahu lagi aku harus berbuat apa.
Bagas: Om David disini juga?" kata kak Bagas mulai berjalan mendekat.
Mas David hanya diam tidak menjawab, dia lebih fokus melihat kearahku dengan tatapan tajamnya.
Melliza: "Kak Bagas mau ajak aku pulang bareng yah?" tanyaku mengalihkannya agar tidak curiga.
Bagas: "Iya tapi sebelum itu aku mau mengajak Rara kesuatu tempat" jawabnya dengan senyuman manisnya.
Melliza: "Suatu tempat? kemana?" tanyaku ingin mencari tahu pasti.
Bagas: "Rahasia dong" jawabnya semakin membuatku penasaran.
Melliza: "Ok tunggu sebentar yah aku ganti baju dulu" kataku lalu berjalan menuju kamar mandi tanpa menghiraukan tatapan tajam mas David yang sedari tadi menatapku tanpa henti.
Aku yang memang hari ini hanya menggunakan kaos t shirt berlengan panjang tapi membentuk lekuk tubuh sempurnaku rasanya tidak afdol jika diajak kencan menggunakan kaos.
Aku yang memang memiliki loker bajuku sendiri di kamar mandi ruanganku mempermudah diriku jika hari hari seperti ini datang menghampiri.
Melliza: "Sepertinya tadi kak Bagas menggunakan switter hitam polos, akan lebih serasi jika aku juga menggunakan switter supaya mas David makin panas melihatnya" gumamku mengganti bajuku.
Melliza: "Apa ini tidak terlalu sexy yah untuk jalan sama kak Bagas? Rasanya kok bakal canggung nanti yah?" kataku pada diri sendiri saat bercermin menampilkan bayangan wanita cantik yang menggunakan rok levis sebatas paha dengan switter putih yang menggantung dibagian perut membuat perut rataku terlihat dengan jelas.
Melliza: "Ah! sudahlah.. semakin sexy malah akan membuat mas David semakin berkoar api kecemburuannya" kataku lalu memutuskan untuk keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang sudah ditetapkan.
Tapi langkahku terhenti saat baru membuka pintu kamar mandi karna suara mas David yang menggema didalam ruanganku.
David: "Apa kamu sudah tidak waras Bagas?!!" bentaknya pada ponakannya.
Bagas: "Aku waras kok om, sangat waras malah.. maka dari itu aku ingin serius menjalin hubungan dengan Rara" katanya membuat aku bingung, sebenarnya ini sedang membahas masalah apa kenapa namaku disangkut pautin?
Bagas: "Aku rasa umurku yang sudah hampir berkepala tiga sudah cukup matang untuk menjalin hubungan yang lebih serius yaitu pernikahan dan aku ingin Rara menjadi mempelai wanitanya"
JEDDERRR
Mendengar penuturan kak Bagas barusan membuat aku bagaikan tersambar petir disiang bolong dengan cuaca yang terang benderang ini.
David: "Kamu ini jangan bercanda Bagas, kalian bahkan belum saling mengenal satu sama lain"
Melliza: "Apa maksudnya ini kak Bagas?" selaku diantara dua pria di hadapanku.
Bagas: "Oh hai Ra... kamu sudah mendengarnya? baguslah jadi aku tidak perlu lagi merahasiakan tujuan kita kali ini" sahut kak Bagas.
Tapi tidak dengan mas David yang menatap tajam tanda kemurkaan jelas nampak dari matanya.
Pasti ini karna penampilanku yang lebih terbuka dari yang tadi.
Melliza: "Memangnya kita mau kemana kak Bagas?" tanyaku mendekat kearah kak Bagas berusaha menepis tatapan mas David yang menakutkan.
Bagas: "Ya ampun Racanhai.. Aku kira kamu sudah tau. Aku ingin mengenalkanmu pada mamah dan papahku, mereka baru pulang dari New zealand kemarin. Dan aku... Aku ingin membahas hubungan kita dengan mereka" katanya sedikit malu malu.
Bagas: "Rara kamu mau kan menikah denganku? menjadi wanita satu satunya dalam hidupku. Aku memberikan garansi jaminan cinta seumur hidup untukmu" katanya mulai tanpa rasa malu yang membuat aku menahan senyum karna mas David mulai naik pitam karna ulah keponakan kesayangannya ini.
David: "Bagas! jangan macam macam KAMU!" bentaknya membuat kak Bagas tersentak.
Bagas: "Om David kenapa? Rara cantik, pintar dan aku sangat menyukainya apa yang salah?"
Yang salah itu karna kamu berusaha mengambil wanita kesayangan om David mu ini kak Bagas batinku melihat raut wajah mas David yang merah padam.
Dua pria sekaligus melamarku dihari yang sama dan ditempat yang sama.
Dan yang lebih menarik meraka adalah paman dan keponakan yang saling menyangi.
Wah Melliza sebuah ekspektasi kamu bisa dilamar oleh dua pria dihadapanmu ini.
Pikirkan solusi Melliza agar ruanganmu ini tidak menjadi saksi perang diantara paman dan keponakannya ini.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Boom Boom Boom...
Author udah nyiapin bom atom buat para readers setia dr. Clara.
Apakah itu????
JENG
JENG
JENG
JENG
JENG
JENG
JENG
JENG
JENG
JENG
JENG
JENG
JENG
JENG
JENG
...
dr. Melliza yang sering disapa Melliza dipanggil Clara oleh kekasihnya, Rara oleh pria yang mengaguminya, Elliza oleh teman dekatnya................
AKAN MENIKAH
Tapi dengan siapa?
Apa dengan dr. David pria mesum yang suka memaksa kehendaknya?
dr. Bagas yang selalu membuat gombalan receh untuknya?
Atau mungkin dengan pria lain?
Bagi readers yang bisa menebak jawabnya siapa yang akan menikah dengan dr. Clara, author besok up 10 episode sekaligus kusus.
Tapi jangan terlalu senang dulu karna tidak semudah itu pertanyaanya. Ya kali gue kasih pertanyaan yang bocah TK aja bisa jawab.
Siapa yang bisa menjawab dr. Clara akan menikah dengan siapa dan alasan mengapa dr. Clara mau menikahinya maka baru gue selaku author mau berjuang ngetik 10 episode sekaligus.
__ADS_1
Semangat ya gaes, intinya Terus Pantengin.