
Melliza: "Mas David sungguh mencintaiku?" tanyaku super polos dengan menatap kedua matanya.
David: "Sangat sayang.. sangat mencintaimu, bukan hanya karna kamu masih perawan tapi kamu memiliki daya tarik tersendiri untuk mas"
Aku langsung tersenyum bahagia dan membalas pelukannya. Entah dimana rasa empatiku terhadap mbak Vanessha yang jelas sekarang mas David adalah suamiku, dia milikku dan aku miliknya. Hanya aku.. Ya hanya aku yang berhak atas dirinya.
Melliza: "Apa mungkin karna aku salah satu anggota keluarga Utomo jadi mas David ngebet ingin menikahiku?" tanyaku dengan mengendus aroma tubuh mas David yang cukup menenangkan.
David: "Mas malah berharap kamu terlahir dari keluarga biasa bukan dari bagian Utomo, terlebih menjadi cucu kesayangan Surya Cipto Utomo mas sangat tidak mengharapkan itu darimu sayang.. tapi mungkin sikap mu yang tangguh angkuh dan keras kepala seperti ini adalah bentukan dari cara mendidik Surya kepadamu" jawabnya dengan nada datar sembari mengelus rambutku lembut.
Melliza: "Memangnya kenapa jika aku bagian dari keluarga Utomo? dan kenapa mas David mempermasalahkan jika aku cucu kesayangan kakek?"
Melliza: "Mas.. Mas David tidak menyukai kakekku?" lanjutku lalu melihat kearahnya.
Mas David tidak menjawab saat aku melihat kearahnya, dia malah menatapku lalu dengan perlahan mas David mencium bibirku lembut.
Ciuman itu berubah menjadi lumatan lembut hingga aku pun mulai terbawa arus permainannya.
David: "Demi kamu mungkin mas akan melupakan semuanya" katanya setelah melepaskan panggutanya.
Melliza: "Apa yang harus dilupakan?" tanyaku langsung merasa pemasaran.
David: "Clara tidak perlu tau.. tugas Clara cukup mencintai mas dan selalu berada disisi mas, jangan sampai memiliki niatan untuk pergi dari hidup mas sedikitpun atau mas akan menggila karna ditinggal olehmu sayang" sahutnya yang semakin membuat tanda tanya besar dikepalaku.
Mas David masih memperhatikanku, melihatku dengan senyumnya yang tak pernah luntur juga dari semalam. Dia menangkup kedua pipiku lalu..
CUP
"Mas..
CUP
"Sudah ja..
CUP
"Kita bisa ter..
CUP
"MAAASS!!!"
Bentakku langung saat aku berusaha mengingatkannya bahwa sekarang sudah jam 7 yang artinya sebentar lagi jam praktek di sift satu akan segera dimulai.
Tapi mas David malah asik terus mencium bibirku dan tidak mau mendengarkan perkataanku.
CUP
__ADS_1
David: "Kenapaa?"
Melliza: "Ini sudah jam 7 mas!" aku berusaha mengingatkannya.
CUP
David: "Lalu?"
Melliza: "Mas! aku ada pasien sudah janji siang ini dan..
CUP
Melliza: "STOP MAS DAVIIIID!!!"
Aku mulai geram dengan tingkahnya yang terus mengciumi bibirku.
Bukannya berhenti mas David malah semakin menjadi.
CUP
CUP
CUP
CUP
David: "Ga" jawabnya singkat lalu terus menyerangku.
CUP CUP CUP CUP CUP CUP CUP CUP CUP
Melliza: "MAS DAVIID!!! nih! rasain nih"
David: "Aaw.. sakit sayang"
Melliza: "Biar tahu rasa! nih! nih!" aku terus mencakar cakar mulutnya dengan kuku hasil olah tangan salon yang bisa dibilang dengan harga tak wajar bagi seorang dokter.
Sebenarnya aku sering mendapat teguran karna memelihara kuku super cantik dengan profesiku sebagai dokter kandungan yang selalu membantu proses persalinan. Tapi apa daya aku yang keras kepala ini selalu memiliki beribu cara untuk membungkam lelambean yang selalu berkicau.
David: "KDRT ini namanya Clara" katanya langsung menahan kedua tanganku.
Melliza: "Ya habis mas David nyium aku mulu.. lihat tuh jam!" sahutku dengan menunjukan arah wajahku pada jam yang tergeletak diatas meja nakas.
David: "Soalnya bibir Clara lembut terus kenyal membuat mas gemas sendiri. Sinih mas cium lagi"
Melliza: "GA MAU! Aku mau mandi..
Melliza: "Dan mas David jangan mengikutiku" langsung mematung mas David saat aku sudah tau akan niatannya yang sudah sedang bangkit dari duduknya.
__ADS_1
David: "Mandi bareng sayang agar menyingkat waktu"
Melliza: "Ga akan pernah ada yang namanya menyingkat waktu kalau mandi berdua sama mas David. Yang ada aku semakin terlambat, hari ini aku sungguh memiliki pasien mas dia sudah membuat jadwal jauh jauh hari aku tidak enak hati jika aku terlambat menemuinya"
Aku berjalan kearah kamar mandi membersihkan diriku dari sisa sisa semalam yang masih menempel pada tubuhku karna mas David semalam sungguh menyemburkannya kesembarang tempat bukan hanya pada tubuhku bahkan cipratan kenikmatannya berceceran di lantai saat mas David ingin melakukannya dengan berdiri.
David: "Baiklah.. tapi nanti jam istirahat beri mas jatah makan siang ya" mas David mengekoriku sampai dalam kamar mandi dan menyandarkan dirinya pada salah satu dinding kamar mandi yang langsung bisa menampakan tubuhku seutuhnya yang tersiram air shower.
Aku sangat paham akan kata jatah makan yang dimaksud mas David. Sudah pasti maksudnya adalah meminta jatah untuk memakanku.
Melliza: "Mas kamu jangan nekad begini dong mas.. bagaimana jika nanti kita ketahuan?" sanggahku tak menyetujuinya.
David: "Ya kalau ketahuan kita cukup resmikan hubungan kita" jawabnya enteng.
Melliza: "Dan membiarkan aku menjadi bahan bullyan semua orang?!"
Aku langsung mematikan shower lalu melilitkan handuk pada tubuhku yang sudah basah sepenuhnya dengan aroma sabun yang memiliki khas wangi susu dan apel menjadi satu.
Melliza: "Apa tidak cukup mas memintanya malam hari? aku mohon mas jangan lakukan itu dilingkungan Rumah Sakit. Bagaimana dengan nama baik mas David bagaimanan dengan keluargaku? kamu jangan hanya memikirkan nafsumu saja mas pikirkan juga tentang aku"
Mas David diam dan melangkah mendekat saat aku mulai memilih baju yang akan aku kenakan.
CUP
David: "Kalau begitu mulai malam ini Clara harus pindah kerumah mas" katanya langsung saat memeluk tubuhku dari belakang dan mengecup sekilas tengkukku.
Melliza: "Aku tidak mau! untuk apa pindah kerumah mas? aku lebih nyaman tinggal disini, diapartemenku sendiri"
David: "Biar mas saja" katanya yang ingin memasangkan CD dan bra ku.
David: "Ya sudah berarti mas yang akan tinggak disini"
Melliza: "Loh! ga bisa seperti itu dong mas"
Bisa gawat kalau Marsya tau mas David tinggal disini, bukan hanya dicabut paksa gigiku ini tapi mungkin aku akan dicincang cincang olehnya. Dia juga kan sering menginap disini karna permintaanku.
David: "Kamu tidak mau tinggal dirumah mas, mas juga tidak boleh tinggal di sini lalu bagaimana jika dia tiba tiba ingin melakukannya sayang? mas tidak ingin melepaskannya dengan cara lain selain memasukkannya kedalam tubuhmu"
Melliza: "Mas bisa memintanya kapan saja asal disini bukan di Rumah Sakit"
David: "Clara serius kapan saja?"
Ah entahlah.. sepertinya keputusanku akan membuat aku tersiksa sendiri, tapi sepertinya itu lebih baik dari pada aku harus tinggal di rumahnya atau lebih parahnya lagi mas David tinggal diapartemenku.
Karna bagaimanapun.. jujur aku sangat menyukai sentuhannya, belaiannya, kasih sayangnya dan tusukan tusukannya yang membuat aku mendesah kenikmatan atas permainannya yang begitu lembut.
Mas David yang semalam bisa sangat aku dengar dengan jelas akan geramannya akan usahanya yang terus menerus ingin mencapai puncaknya membuat aku ingin membuat mas David terus merasakan haus akan tubuhku hingga dia tidak akan pernah berniat untuk bermain dengan wanita lain.
__ADS_1
Katakanlah aku mulai serakah, tapi entah menganggap jika berhubungan dengan mas David aku hanya ingin dia menjadi milikku seorang.