
Kulihat adanya pergerakan dari kursi sisi kananku yang ditarik, dengan susah payah aku terus berusaha agar tidak menengok kearahnya. Tidak melihat wajahnya apalagi menatap matanya pasti akan terlihat sangat mengintimidasi.
"Hai dr. Melliza.. lama tidak bertemu" sapa seseorang dengan nada dingin yang membuat jantungku berdetak ngeri mendengarnya.
Aku hanya menunduk tidak menjawabnya tidak juga berniat untuk melihat kearahnya.
Bagas: "Ayolah om.. jangan takuti Rara dengan suara yang memebekukan seperti itu"
David: "Memangnya kenapa? om rasa dr. Melliza sudah terbiasa dengan suara om bukan begitu dr. Melliza CLARA" mas David menekan kata clara dipenghujung kalimat.
Aku hanya terus menyedot jus ku berusaha menepis keberadaan mas David.
"Ahh!" aku tersentak saat pahaku tersentuh oleh telapak tangan yang begitu panas.
Bagas: "Kamu kenapa Ra?"
Melliza: "Tidak tidak.. tidak kenapa kenapa" jawabku lalu menggeser kursiku kearah kiri menjauh dari jangkauan.
Marsya: "Apa kak Bagas belum mengetahui kalau dr. David ini adalah dokter pembimbingnya Elliza selama menjadi dokter magang disini"
Bagas: "Benarkah? waaah kita memang jodoh ya Rancanhai. Kamu dibimbing sedangkan aku didampingi sama orang yang sama benar benar kebetulan yang sangat menyenangkan, iya kan om?"
Entah ekspresi seperti apa yang ditanggapi oleh mas David intinya aku tidak ingin melihat kearahnya.
David: "Om juga heran, dr. Melliza ini bisa dekat dengan om sekaligus keponakannya secara bersamaan"
Marsya: "Elliza! tumben kamu ga ada suara gerogi ya ada kak Bagas disamping kamu?" kata Marsya berusaha meledkku.
Bagas: "Sepertinya seperti itu" sahut kak Bagas memegang tangan kiriku.
David: "Atau mungkin karna keberadaan saya, apa benar seperti itu dr. Melliza?" sontak aku langsung melihat kearahnya.
Sudah tiga hari aku tidak melihatnya sedekat ini, wajah yang akhir akhir ini muncul menghiasi mimpi indahku. Sebenarnya ada rasa rindu kepadanya dan ingin dekat lagi dengannya tapi jika seperti itu maka usahaku untuk menjauhinya selama tiga hari ini akan gagal.
Bagas: "Om David jangan kepedean deh, masa Rara gerogi sama om"
David: "Karna akhir akhir ini dr. Melliza tidak medengarkan arahan om, atau mungkin dr. Melliza ini masih butuh surat peringatan kedua"
Apa mas David akan berbuat hal yang sama seperti dulu lagi? tidak bisa dibiarkan batinku menatap matanya tajam.
Bagas: "Om jangan menatapnya seperti itu, bagaimana kalau om David tiba tiba suka sama Rara? Om tega mau nikung keponakan sendiri?"
David: "Bagaimana jika sang keponakan yang telah menikung om nya?" tanyanya balik tapi pandangan matanya terarah padaku.
__ADS_1
Gawat! jangan sampai ada yang tau, mas David ini nekat yah orangnya.
Melliza: "Oh iya... Sya! kamu dapat undangan pernikahannya pak Eric tidak?" tanyaku mengalihkan pembicaraan yang tadi.
Marsya: "Jelaslah.. semua dokter, perawat sampai para staff diundang semua Elliza"
Marsya: "Pekan ini kan di ballroom hotel dikawasan Ancol, kamu datang sama aku ya Za"
Bagas: "No.. no.. no.. Rara akan datang bersama prianya" timpal kak Bagas dengan menggerakkan jari telunjuknya pertanda dia tidak setuju.
Marsya: "Prianya? maksudnya kakak?" tanya Marsya masih bingung.
Bagas: "Jelaslah aku.. masa prianya om David ya ga mungkinlah iya kan Ra?" tanya kak Bagas melihat kearahku.
Melliza: "Hah?!.. i.. iya iya ga, ga mungkin pak David" jawabku mulai gugup.
Ya ampun kenapa ini kak Bagas selalu menyangkut nyakungkan nama mas David sih, ga tau ya ini sebelah kananku meski menampakkan ekspresi biasa tapi aku tahu didalamnya ada kemarahan yang terpendam.
Setelah perbincangan kami waktu itu di meja kantin Rumah Sakit, akhirnya hari sabtu pun tiba dimana malamnya aku harus menghadiri acara resepsi pernikahan dr. Erik dengan sang istri bersama kak Bagas.
Aku putuskan untuk mengunakan dress tanpa lengan sepanjang diatas lutut tapi jangan bayangkan ini dress hitam biasa karna dibalik kesempurnaan Melliza Clara tidak akan ada yang namanya biasa.
Dress hitam lekat yang memiliki bordir dibagian belahan dada yang langsung tembus ke kulit juga terdapat bordir pula dibagian belakang tubuhku yang langsung menerawang kepunggungku sampai sebatas pinggul dilengkapi dengan high hels hitam polos setinggi 7cm dengan tali kecil yang melilit pergelangan kakiku menjadi penyempurna penampilanku malam ini.
Sebuah pesan berhasil menghentikan aksiku didepan cermin yang menampakkan kesempurnaan seorang wanita.
Cepatlah keluar bidadari ku, pangeranmu mulai lelah menunggu
Pesan yang tak lain dari kak Bagas membuat aku cekikikan sendiri membacanya.
Melliza: "Baiklah bidadari ayo keluar dan tebarkan pesonamu pada kaum pria diluar sana" kataku melihat bayanganku sendiri didepan cermin.
Saat pertama kali kubuka pintu apartemen ku jelas orang pertama yang ku lihat adalah kak Bagas, karna kita memang sudah janjian sejak di kantin Rumah Sakit waktu itu.
Bagas: "Cantik" katanya tanpa berkedip.
Melliza: "Sexy?" tanyaku mengalihkan.
Bagas: "Cukup cantik saja, sexy nya nanti setelah kita menikah" katanya menebarkan senyum.
Perkataannya berhasil meruntuhkan hatiku, memang kak Bagas ini dari dulu tidak pernah setuju jika aku ini menjadi wanita sexy dan menarik perhatian banyak pria. Dia lebih suka aku yang dulu sebelum putus dengan Krisna tapi apa daya ini adalah keinginanku dia tidak berhak melarangnya.
Sesampainya kita ditempat lokasi banyak sekali bahkan hampir semua pasang mata melihat kearah kami terutama kearahku.
__ADS_1
Aku tidak heran karna aku sudah terbiasa menjadi pusat perhatian kaum pria dan menjadi bahan cercaan para kaum wanita yang tak terima karna kesempurnaanku.
Aku selalu bersikap acuh tak perduli seolah cercaan itu malah kujadiakan sebagai menyemangatku agar terus tampil sesexy mungkin.
"Elliza! sini sini" seseorang melambaikan tangannya memanggilku agar mendekat kearahnya.
Melliza: "Wow.. kau datang dengan pak Jonathan?" bisikku setelah sampai ditempat Marsya berada.
Marsya tidak menjawab dia malah cengar cengir menatapku.
Karna acara belum dimulai kira berempat hanya sibuk dengan obrolan obrolan yang menurutku tidak perlu dibahas karna tidak penting sama sekali.
Dirumah sakit bahas pasien, ditempat seperti ini pun bahas pasien. Oh astaga begini ya nasib dikeliling para dokter? Bisa tidak melupakan pekerjaan untuk sementara waktu batiku mulai bosan.
Mataku menyapu ke sekeliling melihat semua orang yang sedang sibuk dengan bercengkrama mereka masing masing. Mataku mencari satu sosok yang akan menjadi daya tarik mataku siapa lagi kalau bukan mantan kekasih ku David Setya Mayndra meski sepertinya mas David masih berharap padaku.
Bagas: "Kamu cari siapa Ra? ko celingukan gitu" kaga kak Bagas sepertinya memperhatikan tingkah lakuku.
Melliza: "Tidak ada hanya memperhatikan sekeliling" jawabku tanpa melihat kearahnya.
"Apa anda mencari saya dr. Melliza?"
Suara yang sangat aku kenal dan aku rindukan berada dibelakang tubuhku.
Bagas: "Om David ini suka sekali membuat Rara tidak nyaman. Bagaimana jika dia menjauhiku karna sikap om David yang seperti ini" dari perkataan kak Bagas berhasil membalikkan tubuhku untuk melihat kearah dua lelaki yang berstatus paman dan keponakan itu.
David: "Jika dr. Melliza nantinya menjauhimu mungkin karna dia merasa bersalah terhadap kekasihnya bukan karna sikap Om Bagas" dia menatapku atau lebih tepatnya menatap cara berpakaianku.
David: "Anda berpakaian terlalu terbuka seperti ini apa tidak membuat kekasih anda marah dr. Melliza?"
Apa mas David sedang mengungkapkan perkataannya melalui pertanyaannya?
Melliza: "Tidak.. untuk apa saya khawatir tentang kemarahannya, toh kita sudah putus dia tidak berhak lagi memarahi saya" jawabku tanpa rasa takut.
David: "Oh benarkah? saya berharap kekasih anda berbaik hati memaafkan perilaku anda yang seperti ini" jawabnya dengan tampang datar seperti biasa.
David: "Apa anda tidak memiliki pria lain selain keponakan saya? saya takut kekasih anda itu bertekad menghancurkan keponakan saya. Dia masih terlalu muda untuk dihancurkan masa mudanya"
Melliza: "Dia tidak akan berani pak David, anda tenang saja. Bukankah kak Bagas ini keponakan anda? saya jamin mantan kekasih saya tidak akan setega itu menghancurkan keponakan tersayang anda" sindirku gelak membungkam perkataannya.
Bagas: "Om David kenapa sih om selalu bersikap seperti itu ke Rara? Rara kan sudah bilang dia sudah putus dengan kekasihnya kenapa om selalu beranggapan seakan Rara ini belum putus darinya"
David: "Karna mereka memang belum putus, dan lagi.. mungkin pria itu akan datang untuk mengambil apa yang menjadi miliknya. Sepertinya dia bukan pria yang dengan suka rela memberikan miliknya yang masih sangat dia sukai"
__ADS_1
Kalimat terakhir itu menjadi sebuah peringatan untukku bahwa aku harus lebih waspada dan berhati hati karna sepertinya mas David sudah mulai memikirkan cara yang mungkin akan merugikanku lagi seperi waktu itu.