
Melliza: "Ah.. maaashh huh.. huh.. huh" pelepasan yang baru saja aku rasakan saat mendapat amarah dari mas David karna aku terus berusaha menolaknya.
Dadaku naik turun seiring cairan yang aku rasakan mulai mengalir dibawah sana. Cukup dengan jari tengah mas David saja sudah membuat aku kelimpungan merasakan nikmat atas permainan jarinya apalagi jika memang benar mas David akan memasukannya kali ini.
Saat kurasakan kedua kakiku dibuka lebar dengan mas David yang berada di antaranya membuat aku merasa bergidik ngeri melihatnya.
Melliza: "Mas?" panggilku lirih saat masih tersisa kenikmatan yang belum keluar sepenuhnya.
David: "Kenapa sayang? enak? ini mas akan memberikan yang lebih nikmat dari hanya sekedar jari" katanya mulai memposisikan diri.
Melliza: "Mas.. aku.. aku haus mas"
Awalnya mas David diam nampak berfikir tapi tetap mas David bangkit dan memberikan aku segelas air putih.
Melliza: "Mas tunggu!" tanganku reflek menahan pahanya yang hendak mendekat kearahku.
Mas David meresponnya dengan tatapan mata dan alis kiri yang terangkat seolah bertanya ada apa.
Melliza: "Aku sudah mengantuk mas, lihat sudah jam 10 malam besok aku juga sudah mulai harus praktek.. bisa kita lakukan lain kali saja?"
David: "Beritahu mas alasan yang sebenarnya Clara, jangan membuat mas emosi dan membentakmu lagi"
Ok mas David ini memang sangat pintar, dia tidak bisa dibohongi dengan semudah itu.
David: "Jawab Clara.. apa alasan penolakanmu ini" tanyanya lagi dengan wajah yang sudah sangat menakutkan.
Melliza: "Aku takut mas" jawabku jujur.
David: "Takut apa?" masih dengan wajah datarnya.
Melliza: "Aku takut itunya kamu mas" jawabku melihat kearah lain.
David: "Clara takut ini?" eh mas David malah memegang miliknya sambil mengarahkannya kepadaku.
David: "Apa yang harus ditakutkan Clara? kamu hanya akan merasakan nikmat" terangnya membuat aku semakin malu tak mau menatapnya.
Melliza: "Pasienku banyak yang berkata bahwa jika wanita baru pertama melakukan hubungan intim dengan seorang pria maka akan sangat terasa sakit"
David: "Apa pasienmu tidak mengatakan setelah merasakan sakit sebentar mereka akan merasakan kenikmatan?" tanyanya yang langsung mendapat gelengan kepala dariku.
Ya hampir semua pasienku selalu bercerita akan malam pertamanya terlebih karna aku ini belum menikah jadi mereka ingin berbagi pengalaman tentang malam pertamanya atau malam malam yang sebenarnya tidak perlu diceritakan. Mereka selalu berkata bahwa rasanya sangat sakit tapi mereka tidak mengatakan bahwa ada rasa nikmat setelahnya.
David: "Kamu perlu mencobanya Clara, agar kamu tahu sendiri rasanya"
Melliza: "Jangan mas David aku mohooon.. Aku takut" aku berusaha menampilkan ekspresi super memelas agar mas David luluh dan tidak melakukannya.
David: "Jangan takut sayang.. Mas tidak akan menyakitimu, mas akan pelan mainnya" bujuknya kembali menarik kakiku agar terbuka.
Melliza: "Ga mau mas.. besok bagaimana kalau aku tidak bisa jalan?" tanyaku polos karna setiap pasienku selalu berkata setelah melakukannya akan sangat sulit untuk berjalan.
David: "Itu jika mas melakukannya secara brutal sedangkan mas akan melakukannya secara lembut Clara tidak akan sampai membuatmu sangat merasakan sakit"
Melliza: "Tapi bukankah dari tadi mas David selalu mengancamku akan memperkosaku dan melakukannya sesuka mas tanpa memperdulikan aku jika akan merasakan sakit akibat ulah mas?"
David: "Itu kan jika kamu tidak mau menikah dengan mas, sedangkan sekarang kamu sudah menjadi istri mas jadi mas akan melakukan dengan lembut"
David: "Mas janji sayang.. hanya dengan kelembutan tidak akan menyakitimu"
Melliza: "Tapi kamu tidak menggunakan pelind..
David: "Mas akan mengeluarkannya diluar Clara"
Sepertinya memang tidak ada jalan keluar lagi selain menyerahkannya pada pria yang sudah berstatus sebagai suamiku ini.
Entah apa yang akan terjadi dimasa depan tapi masa yang sekarang harus aku lewati terlebih dahulu. Dari pada menentang keinginannya dan akan membuat aku tersiksa mungkin lebih baik menurut dan mendapat kasih sayang darinya. Agar mas David juga mulai menjauhkan hubungan keluargaku dalam urusan kita berdua.
"Eemhhhh"
Lenguhku langsung keluar saat kulit panas itu mulai menggesek gesek dibagian tersensitifku.
__ADS_1
Melliza: "Uuhhhh sshhhh haaah" mas David semakin menggesekan miliknya hingga aku mulai merasakan nikmat di sekujur tubuhku.
Mas David terus menggeseknya kadang menekan nekannya membuat aku menengadah dalam upaya menahan rangsangan yang diberikan olehnya.
Melliza: "Maasssh akuuhh...
David: "Keluarin sayang, keluarin yang banyak"
Mataku terpejam sempurna, mulutku terbuka dan kedua tanganku meremas seprei berwarna flaminggo saat kenikmatan itu muncul kembali untuk yang kedua kalinya.
David: "Mas masukin ya sayang" katanya langsung saat sesudah pelepasan yang baru aku dapatkan.
Saat mas David sedang menuntun miliknya agar terarah kelubang labia penuh kenikmatan yang aku miliki, tangan aku reflek menahannya.
Aku menggeleng masih terbaring lemas akan pelepasan yang baru saja aku alami.
David: "Mas akan melakukannya pelan sayang, mas janji"
Setalah itu mas David tetap berusaha menuntun adek kecilnya sampai mulai kurasakan sebuah benda tumpul mulai menempel pada bagian tubuh yang sering aku tutupi itu.
David: "Mas akan pelan jadi kamu rileks ya sayang jangan tegang" aku hanya manggut manggut sambil meremas bantal yang aku pakai saat mas David mulai mendorong miliknya masuk.
Melliza: "A... sa sakit mas.. sakiit" pekikku saat mas David terus berusaha mendorongnya.
Tangan kananku masih meremas bantal sedangkan tangan kiriku berusaha menahan pahanya agar tidak berusaha mendorongnya lagi.
David: "Buka mata kamu sayang"
Aku pun membuka mataku menurut apa katanya. Mas David langsung mencium bibirku, mengecupnya lalu mulai melumatnya. Aku membuka mulutku agar mas David bisa melakukan hal lebih.
Ciuman kita mulai memanas saat aku juga ikut membalas ciumannya, ku lumat bibir tebalnya secara bergantian. Tangan kiriku dituntun olehnya untuk melingkar di lehernya.
Tangan kiri mas David digunakan untuk menopang tubuhnya agar tidak terlalu menindihi tubuhku sedangkan tangan kanannya masih berada dipinggangku.
"Mmmmmm"
Aku berusaha meronta dari ciuman yang sedang berlangsung karna lagi lagi mas David berusaha mendorong miliknya agar lebih masuk lagi. Memaksannya lebih dalam upaya menjebol keperawananku.
Melliza: "Sakit mas.. sakit, udah mas.. ini.. sakit mas" rengekku saat mas David melepas ciumannya.
David: "Setelah ini tidak akan sakit lagi, Clara tahan ya"
Aku melihat kebawah dicelah antara tubuhku dan mas David, bisa kulihat miliknya belum sepenuhnya masuk kedalam diriku.
Melliza: "Uhh" aku tersentak saat mas David mendorongnya dengan sekali sentak disisa sisa miliknya yang belum masuk sepenuhnya.
Tanganku meraba raba seprei mencari tempat ternyaman untukku meremasnya, rasa sakit akibat ulah mas David membuat air mata yang sama sekali tidak berniat untuk kujatuhkan tiba tiba saja mengalir begitu saja.
Milikku berkedut berasakan keberadaan benda asing didalam tubuhku.
Saat tidak ada sama sekali pergerakan dibawah sana meski milik mas David sepertinya sudah masuk seutuhnya membuat aku membuka mata.
Mataku langsung menangkap wajahnya yang menatapku dalam diamnya memperhatikanku.
Melliza: "Kenapa?" tanyaku lirih.
David: "Maaf"
Satu kata yang meluncur begitu saja yang membuat aku langsung terdiam karna penuturan mas David.
David: "Apa sangat sakit sampai Clara menangis?" tanyanya penuh khawatir.
Melliza: "Apa jika aku mengatakan ini sangat sakit mas David akan menghentikannya?
David: "Tidak juga"
Dasar lalu apa perdulimu mas David menanyakan sakit atau tidaknya batinku.
"Uuuuhhh"
__ADS_1
Dadaku mengusung keatas saat mas David menarik miliknya perlahan.
Belum lama kemudian dia menekannya kembali terus menerus seperti itu sampai ritmenya mulai stabil.
Melliza: "Aahhh.. ah.. ahh.. uuhhh ah. ahhh" desahku seiring dorongannya.
Ku remas bantalku dan ku gigit bibir bawahku seiring dengan tusukan tusukan yang mas David berikan secara perlahan.
Melliza: "Eemmmh.. sshhh aahhh.. aaah uh ah"
Saat rasa sakit tadi hilang memang hanya ada rasa nikmat yang aku rasakan saat ini atas permainan mas David yang begitu menyenangkan.
Jari jari kakiku menekuk menekan seprei saat rangsangan demi rangsangan mas David suguhkan lagi kepadaku.
Decitan antara adek kecilnya mas David yang berpadu dengan lendir kenikmatanku menimbulkan suara yang berpadu padankan dengan desahan yang keluar dari mulutku.
David: "Ah.. ahh.. ah.. ah Claraaah ah.. ah"
Aku membuka mataku melihatnya yang tengah terengah engah dalam usahanya yang berusaha menjamah tubuhku.
David: "Sayaaanghhh.. uuuh.. ah. aah.. enaaak.. ah ah" mas David menengadah sambil terus menyodokan miliknya terus perlahan.
Aku menarik kepalanya agar mendekat kearah wajahku, ku lumat bibirnya yang mengeluarkan geraman geraman yang terdengar sangat menggugah nafsuku.
"Eemmhhhh"
Kita saling memadu kasih dalam ciuman yang terus memanas seiring milik mas David yang mulai bergerak cepat dalam menusuknya.
Kamu milikku mas.. kamu milikku hanya milikku batinku memeluk erat lehernya saat kenikmatan itu menjalar kembali dalam tubuhku.
Aku melepas ciuman kita saat hantaman kenikmatan itu datang untuk ketiga kalinya.
Aahhhhh
Sangat lega
Melliza: "Aahhhh pelan maashhhh" pekikku saat mas David mulai mempercepat hentakannya yang semakin menimbulkan suara decakan dibawah sana.
David: "Ah. ah tahaan.. ah. ah. seben... tar ah ah" mas David terus mempercepat membuat tubuhku ikut terhentak bersamaan dengan setiap hentakannya.
David: "Uuuuuuhh sempit Claraaah.. ah. ah. ah. ah"
Melliza: "Iiiih.. aaaah sakiit mashh, uh aahhh pelan mas ahhh pelaaanhhh shhhh ah ah"
Desahanku terus bersaut dengan geramannya yang diiringi dengan suara decakan hebat dibawah sana yang sudah sangat becek karna lendir kenikmatanku yang entah sudah berapa kali kelar atas kejantanan mas David.
David: "Ta.. haan ya sayang sebentar lagi"
Setalah mengatakan itu mas David langsung memposisikan tubuhnya yang bertumpuan pada kedua tangannya disamping kepalaku.
David: "Ah. ah. ah. ah. Claraaaaah...
Melliza: "Uhh" aku langsung menengadah saat milik mas David dicabut dari lubang labiaku secara cepat dan menumpahkan semua sp*rmanya diatas kewanitaanku yang dihiasi bulu bulu halus.
Mas David terus mendorongnya berusaha mengeluarkan semua kenikmatan yang masih tersisa didalamnya.
Hah hah hah hah
Nafas kita sama sama terengah, dada kita sama sama naik turun seraya mengambil oksigen banyak banyak.
Aku sudah tidak perawan lagi
Satu kalimat itu yang terlintas saat melihat mas David masih berusaha mengeluarkan semua sisa sisa kenikmatannya.
Aku tidak salah kan bercinta dengan suami wanita lain?
Dia juga suamiku sekarang, dan aku berhak juga atas dirinya.
Aku juga memiliki hak untuk bermanja manja padanya.
__ADS_1
Kenikmatan, perhatian dan kasih sayang yang kamu berikan padaku mas akan aku terima mulai sekarang. Karna aku sudah terlanjur tercebur dalam duniamu maka biarkan aku basah sekalian karna ulahmu.
Mulai sekarang kamu milikku mas.. David Setya Mayndra hanya milikku bukan wanita lain apalagi mbak Vanessha hanya milikku Melliza Clara Utomo