
Entah mengapa setelah menginap dirumah mbak Nada aku semakin terus memimpikan mas David.
Bahkan setelah kembali ke rumah pun aku selalu memimpikannya.
Mimpi mimpi aneh itu terus datang disetiap malamku. Dia yang dengan lembutnya mengelus perutku, berusaha menenangankan sang baby dikala rasa nyeri itu datang menghampiri.
Dia tak pernah mengatakan sekata katapun dalam mimpiku hanya tersenyum dengan menggunakan baju dan celana serba putih.
Bahkan aku tak pernah menolak perlakuan manisnya didalam mimpiku, dia yang memijit serta menciumi perutku tak membuat aku berusaha mendorong menjauh darinya.
Bahkan rasanya begitu nyaman dan terasa nyata.
Saking terasa nyatanya aku bahkan curiga kalau itu bukan mimpi, aku curiga kalau aku sungguh melakukannya dengan mas David sampai aku selalu menanyaknya pada Jihan perihal adakah pria yang keluar masuk kamarku tapi jawaban Jihan selalu sama bahwa dia tidak pernah melihat orang lain yang keluar masuk kedalam kamarku selain Jihan apalagi itu seorang pria jelas tidak mungkin.
Jika Jihan sudah mengatakan itu hanya ada satu kemungkinan mungkin memang bayi yang aku kandung sangat merindukan papahnya sampai aku harus melewati mimpi mimpi aneh disetiap malamku.
Mimpi Melliza
"Mas David? kau datang lagi?" tanyaku padanya yang didepan pintu karna hampir setiap malam setelah aku terlelap aku selalu melihat wajahnya yang menggunakan pakaian serba putih.
Dia hanya tersenyum dan berjalan mendekat kearahku yang terduduk diranjang.
Mas David duduk disebelahku, tangan kanannya seperti biasa mengelus perutku yang masih tertutup oleh baju tidurku dan bibirnya mulai bergerak maju kerah wajahku hendak mencium bibirku.
Mas David melumatnya bergantian dalam matanya yang terpejam.
Melliza: "Apa mas David akan melakukannya lagi?" tanyaku setelah terlepas dari ciumannya.
CUP
mas David mencium pipiku dan menyibakan gaun tidurku keatas lalu mengelus permukaan kulit perutku.
Dia membaringkanku lalu memposisikan wajahnya berada diantara selangkanganku yang sudah tak memakai CD.
"aaah.. maashh"
Mas David mengulumnya dan menjilatinya perlahan. Memasukan lidahnya keluar masuk sambil kedua tanganya menahan kedua pahaku agar mengangkang.
Setelah puas akan permainannya mas David seperti biasa memposisikan diriku agar memunggunginya dan mulai sedikit mengangkat kakiku sebelah.
" aaah.."
__ADS_1
Mas David mulai menggerakkan pinggulnya dengan tanyanya yang menahan pinggulku agar mau menerima tusukannya.
"Aaahhh.. maaashh" kurasakan tangan kanannya ikut memainkan klitor*sku.
"Panggil aku daddy" bisiknya yang semakin menguatkan sodokanya.
Untuk beberapa saat aku langsung tersadar dan terbangun dari tidurku yang ternyata masih berpakaian seperti sebelumnya.
Aku bangkit dan mengecek semuanya.
Melliza: "Jelas ini masih terkunci dan jendela kamarku dilapisi stenlis"
Melliza: "Ternyata benar mimpi?" gumamku masih tak percaya.
Hari hari terus aku lewati dan mimpi itu menjadi yang terakhir aku lewati.
Hingga akhirnya penantianku akan segera berakhir karna tepat dihari ini baby yang aku tunggu kehadirannya akan datang dan menghiasi hari hariku yang lebih cerah nantinya.
Aku yang sudah dimasukan kedalam rumah sakit sejak pukul lima dini hari karna mengalami mules berkelanjutan yang tak kunjung hilang.
Awalnya aku kira aku ini kebelet buang air besar tapi lama kelamaan mulesnya semakin menjadi.
Nada: "Dibawa jalan jalan terlebih dulu Verna, ayo saya tuntun" ajaknya.
Melliza: "Sakit mbak.. ini sakiit"
Nada: "Iya.. mbak tahu memang awalnya akan sangat sakit tapi nanti setelah keluar kamu akan enakan, beda halnya dengan caesar kamu akan merasakan sakit setelah melahirkan bisa sampai setahun atau mungkin lebih"
Aku pun dituntunnya berjalan tidak jauh hanya disekat ruanganku saja sambil diawasi beberapa bodyguard takutnya tiba tiba aku sudah siap melahirkan.
Aku telah sampai pembukaan keenam tapi ketubanku belum juga pecah, aku hanya dibimbing agar memiringkan badan dan mengatur nafas.
Wajahku telah berkeluh keringat rasanya begitu ingin segera menuntaskannya.
Ayo lah sayang.. jangan siksa mommy mu ini batinku.
Aku terus menggenggam tangan Jihan yang selalu mendampingiku dan ikut menyemangatiku.
Melliza: "Sakit Ji.. Aku tidak kuat lagi" keluhku memeluk lengannya.
Jihan: "Demi dede bayi neng, neng harus kuat neng pasti bisa" semangatnya dengan mengelus punggungku.
__ADS_1
Melliza: "Apa tidak bisa dipercepat mbak? rasanya sungguh sakit" keluhku.
Nada: "Jangan banyak bergerak Verna, tunggulah sebentar lagi dan jangan melakuan pengejaan tanpa bimbinganku"
Aku pun menurutinya hanya mengatur nafas dan memiringkan badanku kesana kemari sesuai perintahnya.
Karna bagaimanapun aku tidak ingin terjadi sesuatu pada calon anakku.
"Ketubannya sudah pecah dan sudah di tahap pembukaan sembilan dok" kata suster yang mendampingi mbak Nada.
Nada: "Baiklah.. kita lakukan sekarang"
Suster itu mulai mempersiapkan peralatan tempur yang dulu selalu bergelayut manja ditanganku.
Melliza: "Mas David kau dimana? aku butuh kamu mas" rancauku saat nafasku mulai tersenggal.
Tak kusangka proses pengeluaran baby girl lebih cepat dari yang aku bayangkan. Bayangkan saja merasakan mules dan sakitnya kurang lebih selama 11 jam dan aku melahirkan hanya butuh waktu kurang lebih satu jam.
Proses itu tak lepas dari cengkraman kuat kedua tanganku yang memeluk lengan Jihan dalam upaya menyalurkan segala rasa sakit yang tak terperi.
Bukan hanya aku yang berkeringat dan penuh nafas perjuangan. Mbak Nada dengan upayanya membantu proses persalinanku pun ikut merasakan syok saat aku berhenti mengejan dan hampir menyerah saat kepala sang baby sudah mulai nampak.
Saat tak terdengar suara tangisannya, rasa takut mulai mengelayutiku tepat setelah keluarnya.
Ya Tuhan.. KAU tak akan mengambilnya kan? batinku dengan tetes air mata penuh ketakutan.
Melliza: "Sayang mommy..hiks.. hiks. baby nya mommy" kataku penuh rasa syukur tapi juga rasa khawatir.
"Dok.. bayinya meminum air ketuban" kata sang suster.
Nada: "Kau urus pasien biar saya yang menangani bayinya"
Mbak Nada pergi membawa bayiku, dan aku masih tergeletak dengan mata terpejam dengan butiran air mata yang terus mengalir.
Tangan yang begitu besar mengelus rambutku dan perlahan bibir itu mencium keningku.
"Daddy disini mom.. mommy jangan takut lagi"
"Daddy akan melindungi ratu dan putri kecil daddy sampai nafas terakhir"
"Daddy mencintai mommy dulu, sekarang dan selamanya"
__ADS_1