Dr Clara

Dr Clara
Episode 11


__ADS_3

Setelah adegan cium mencium, hisap menghisap, gigit digigit aku berusaha menyibukkan diri agar tidak sendiri lagi.


Kudatangi ruang rawat nyonya Reni yang kemarin telah aku bantu proses persalinannya.


Melliza: "Selamat pagi menjelang siang nyonya Reni" sapaku pada seorang wanita yang tengah duduk di ranjang Rumah Sakit dengan menggendong bayi pria yang tampan.


Reni: "Oh hai dok selamat pagi juga"


Melliza: "Hai tampan... apa kamu sudah minum susu?" tanyaku pada bayi itu.


Reni: "Sudah dokter cantik" jawab ibunya menggunakan suara ala anak kecil.


Melliza: "Boleh saya menggendongnya?" tanyaku pada nyonya Reni dengan tangan kiriku yang masih mengelus elus pipi bayi mungil dihadapan ku.


Reni: "Tentu saja"


Aku menggendong dan menimang nimang bayi tampan itu.


Melliza: "Bagaimana kondisi anda sekarang? apakah masih merasakan sakit yang tidak bisa ditahan?" tanyaku yang masih menggendong bayi itu.


Ku lihat nyonya Reni seperti menahan tawanya dengan menutup mulutnya menggunakan punggung tangannya.


Melliza: "Anda kenapa? Apa ada yang lucu dari pertanyaan saya?" tanyaku terheran dengan tingkah nyonya Reni.


Reni: "Tidak tidak semuanya baik baik saja dok" jawabnya masih sedikit menahan tawanya.


Melliza: "Baiklah kalau begitu saya permisi masih ada urusan lain yang harus saya urus. Dokter pergi dulu ya pangeran kecil" kataku dengan menyerahkan bayi itu pada ibunya.


Reni: "Tunggu dr. Melliza!"


Melliza: "Ya kenapa?" tanyaku membalikkan badan saat aku hendak pergi.


Reni: "Inih" katanya dengan menyerahkan suatu benda.


Melliza: "Hah? untuk apa shal ini?" tanyaku dengan melihat shal berwarna kuning ditangan ku.


Dia tersenyum dan terus menahan tawanya, aku jadi semakin terheran heran.


Reni: "Pakai saja , ini untuk dr. Melliza hitung hitung ucapan terima kasih dari saya"


Aku pun akhirnya menerimanya walau masih ada rasa aneh kenapa aku diberi shal. Tidak lupa aku ucapkan terima kasih dan aku mulai berjalan keluar ruangan itu.


Melliza: "Aneh ada apa dengan orang orang hari ini, kenapa setiap aku berpapasan dengan beberapa orang mereka selalu memperhatikanku"


Melliza: "Apa memang penampilanku terlalu mencolok? mungkin memang karna celana ini"


Aku terus berjalan dengan membawa shal itu ditangan ku melewati beberapa dokter atau penjenguk yang sedang duduk didepan ruangan yang aku lewati.


"Dasar tidak tahu malu, hal seperti itu kok diumbar didepan umum" kata seorang dokter wanita yang usianya lumayan lebih tua dariku.


"Iya benar, lihatlah dia bahkan berjalan dengan penuh percaya diri seolah tidak ada apa apa" sahut teman dokter disebelahnya.


Beberapa dokter wanita senior berbisik saat aku melewatinya tapi masih bisa terdengar dengan jelas oleh kedua telingaku.


Melliza: "Sudahlah Melliza, bersikaplah seperti orang yang tidak mendengar bukankah itu sudah biasa terjadi jadi kamu tidak perlu merasa tidak enak" kataku lirih pada diriku sendiri dan terus melangkah maju.


"MELLIZA!!!"

__ADS_1


Aku tengok kearah sebelah kanan, kulihat Marsya yang sedang berjalan cepat kearahku.


Dia kenapa? Kenapa aura wajahnya tidak terlihat menyenangkan begitu? Matanya melotot bikin merinding saja batinku.


Melliza: "Hei Sya, kamu kena...


Melliza: "Eeeh.. eh kok main tarik tarik"


Aku terkejut begitu Marsya menghampiriku tangan kananku langsung diseret olehnya.


Marsya: "Udah diem, AYO!" katanya dan terus menarik tanganku dengan erat.


Melliza: "Marsya pelan pelan jalannya" dia tidak menjawab tetap menarik tanganku hingga kita masuk kedalam ruangannya.


Marsya: "Katakan!" dia melepas tanganku dan menatap mataku.


Melliza: "Apa?" tanyaku dengan mengelus elus pergelangan tangan kananku yang ditarik olehnya.


Marsya: "Siapa?!"


Melliza: "Siapa apanya?" Aku makin bingung dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Marsya.


Marsya: "Lehermu digigit siapa Ellizaa?"


Apa tadi dia melihatnya? Ah habislah aku kena semprot sama Marsya batiku mulai panik.


Melliza: "Aku tidak digigit siapa siapa, lagian memangnya aku bakal tetap diam saja kalau ada yang berani gigit aku? Nyamuk saja aku tepuk sampai mati" Elakku mencari alasan. Semoga Marsya percaya akan perkataanku.


Dia menarik tanganku kembali menyeretku menuju kamar mandi yang berada didalam ruangannya.


Marsya: "Lihat ke kaca"


Marsya: "Siapa Elliza? Kamu melakukannya dengan siapa? tadi pagi aku melihatmu belum ada tanda itu" katanya menatapku tajam.


Aduh harus kasih alasan apa ini, masa iya jujur bilang kalo ini sama pak David. Tidak tidak pikirkan alasan lain Melliza batinku menjalankan otakku untuk berfikir mencari alasan.


Marsya: "Elliza jawab!" katanya menarik bahuku agar menghadap kearahnya.


Melliza: "Anu.. itu..


Tok. Tok. Tok


Aku tersenyum dan menghembuskan nafas, akhirnya Tuhan mendengarkan doa ku dan mengirimkan seseorang untuk menjadi malaikat penolongku dari Marsya and the bear ini.


Marsya: "Jangan lega dulu Elliza, kita akan lanjutkan setelah ini" katanya dengan meninggalku didalam kamar mandi.


Aku telan salivaku, aku tahu kalau Marsya sudah begini tidak akan mudah untuk melepaskan diri darinya.


Marsya: "Oh Mba Vera, ada apa mbak?"


Ku dengar suara Marsya dari dalam kamar mandi dan ku putuskan keluar kamar mandi dengan menutup leherku menggunakan shal yang diberikan nyonya Reni. Ternyata ini alasan nyonya Reni menahan tawa juga memberikanku shal ini.


Vera: "Begini.. Lah ini ada dr. Melliza juga disini, ya sudah sekalian saja ya. Diadakan rapat dadakan bagi semua dokter yang sedang tidak bertugas dan diwajibkan mengikutinya, terutama anda dr. Melliza" katanya lalu menatap kearahku.


Aku bersitatap dengan Marsya.


Vera: "Kalau begitu aku pergi dulu ya Marsya dr. Melliza" pamitnya pada kami berdua.

__ADS_1


Marsya: "Iya mbak Vera makasih ya informasinya"


Setelah kepergian dr. Vera Marsya sangat cuek padaku tidak mau berbicara padaku bahkan tidak mau melihatku.


Melliza: "Marsya bagaimana ini? pasti ini akan membahas tentang aku" kataku mengekori Marsya yang sedang berjalan didepanku mengarah ke ruang rapat.


Dia tetap diam tidak menjawab dan terus berjalan.


Melliza: "Sya! bantu aku, bukankah aku sahabatmu?" dia berhenti sesasaat dan menoleh kearahku.


Marsya: "Kalau kamu menganggapku sahabatmu, pasti kamu bilang siapa yang menggigitmu Elliza" katanya dan mulai berjalan kembali.


Melliza: "Ini cuma kesalah Marsya, aku tidak ada hubungan apa apa dengan pria itu" kataku terus mengekorinya hingga kita tiba diruang rapat.


Kali ini tidak ada pak Arman atau Si tua bangka berotak mesum. Aku duduk disebelah Marsya dengan masih menggunakan shal dileherku.


Sungguh tidak matching, celana robek robek baju model terbaru hanya berlengan sebelah kanan saja sepatu sneakers sangat modis tapi harus dilengkapi dengan shal berwarna kuning.


Marsya: "Berdoalah masalah ini tidak diperbesar, karna jika itu terjadi maka siap siaplah kamu mencari Rumah Sakit lain Elliza" katanya lirih yang hanya didengar olehku.


Kulihat pak Budiman sedang berdiri dengan jarak yang cukup lumayan jauh denganku, tapi itu tidak menjadi daya tarikku untuk melihat kearah sana karna mataku lebih tertarik menatap seseorang yang duduk di sebelahnya. Seseorang yang telah membuat masalah untukku di hari ini.


Pak David dengan santainya dia duduk melihat kearahku tanpa ada rasa bersalah karna telah menjadi penyebab keadaan seperti ini.


Budiman: "Baiklah sepertinya cuma ini yang hadir, jadi saya langsung saja membuka rapat ini. Tidak terlalu resmi karna ini hanya pembahasan tentang permasalahan dr. Melliza"


Mendengar namaku disebut membuat semua dokter melihat kearahku. Aku memang suka menjadi pusat perhatian tapi bukan dengan tatapan menyudutkan seperti ini.


Budiman: "Hari ini banyak laporan masuk kepada saya bahwa dr. Melliza melakukan tindakan yang tidak pantas bagi seorang dokter, apa itu benar dr. Melliza?" tanya pak Budiman padaku, aku hanya diam dan menunduk bingung harus menjawab apa karna pada kenyataannya aku salah.


Budiman: "dr. Melliza... saya dan pihak Rumah Sakit tidak mempermasalahkan cara berpakaian anda tapi jika tentang hal ini menurut saya anda sudah melewati batasan menjadi seorang dokter" aku masih terus menunduk.


"Pak Budiman apa tidak sebaiknya dr. Melliza dikeluarkan saja, dari pada nanti membuat Rumah Sakit ini semakin malu menanggapi cibiran para pengunjung" saran salah satu dokter yang berada diruang rapat.


Aku mendongak melihat tajam seseorang yang telah membuatku dalam situasi ini. Dia melihatnya tapi dia diam padahal jelas jelas ini semua perbuatannya.


Budiman: "Saya tidak bisa mengambil keputusan besar itu begitu saja, belum lagi prestasi dr. Melliza yang berhasil menyelesaikan 19 operasinya dalam waktu 3 minggu ini dan kadang dr. Melliza ikut mengambil alih kendali operasi besar yang sulit di hadapi rekan dokter lainnya"


Aku pasrah, jika memang dikeluarkan maka itu mungkin akan menjadi hal mudah untukku melupakan pak David.


Budiman: "Menurut anda bagaimana dr. David, anda selaku dokter pembimbingnya dr. Melliza apa memiliki saran lain?"


Aku terus menatapnya, apa yang akan dia katakan?


David: "Jika dilihat dari prestasi dr. Melliza akan sangat disayangkan jika Rumah Sakit mengeluarkannya"


David: "Apa saya diperbolehkan mengambil alih masalah ini pak Budiman selaku saya dokter pembimbingnya?"


Apa yang dipikirkan olehnya, ini masalah yang anda perbuat pak David batinku.


Budiman: "Baiklah apa baiknya saja"


David: "Berikan surat peringatan pertama pada dr. Melliza kemudian tidak hanya itu, saya selaku dokter pembimbingnya akan memberikannya sedikit pelajaran agar dr. Melliza tidak mengulangi kesalahan seperti ini lagi. Bagaimana pak Budiman?"


APA?!! hei ini perbuatanmu kenapa aku yang mendapat surat peringatan dan hukumannya?


Budiman: "Baiklah saya setuju, sepertinya itu yang terbaik untuk saat ini, dan saya harap dr. Melliza tidak mengulangi hal ini kembali"

__ADS_1


Melliza: "Baik pak saya minta maaf kepada pak Budiman dan semua dokter, perawat maupun staff Rumah Sakit ini termasuk pada dokter pembimbing saya" kataku dengan menatap wajahnya yang seolah merasa menang dariku.


__ADS_2