Dr Clara

Dr Clara
Episode 12


__ADS_3

Selesainya rapat, aku langsung bertolak arah ruanganku dengan amarah yang meluap luap nafas yang menggebu gebu ingin rasanya mengamuk meluapkan semua yang ada di dalam hatiku.


Aku langkahkan kakiku menuju ruangan seseorang yang sedang mencari ribut denganku. Aku terus melangkah dengan kaki jenjangku melewati ruangan demi ruangan disetiap lorong yang aku lewati.


"Kamu mau kemana?" perkataan seseorang yang seketika memberhentikan langkahku karna aku tau siapa pemilik suara itu.


Melliza: "Marsya? Aku mau ke ruangan pak David" jawabku.


Marsya: "Ngapain?" beginilah Marsya sifat keponya terlalu besar, hampir tidak ada yang bisa aku sembunyikan darinya kecuali tentang pak David.


Jawab apa ini aku? masa iya aku jawab mau melabrak pak David batinku masih berfikir mencari alasan lain.


Marsya: "Mau minta hukumannya pak David yah?" aku tersenyum mendengarkan pertanyaannya, ternyata aku tidak perlu bersusah susah mencari alasan didepan Marsya.


Melliza: "Eh iya, kamu tau aja sih Sya"


Marsya: "Ya sudah sana gih, aku doakan semoga pak David memberikan hukuman yang berat untukmu agar kamu jera dan tidak akan mengulanginya lagi" katanya dengan sedikit menekan perkataannya yang sedikit menyindirku.


Melliza: "Kamu temen aku bukan sih Sya? ko jahat gitu?" tanyaku dengan ekspresi super sedih yang dibuat buat.


Marsya: "Bukan!" jawabnya ketus yang membuat hati aku sakit bukan main.


Melliza: "TEGA!"


Marsya: "Ok deh ok... Aku maafin kamu, tapi jangan ulangi lagi ya kalau sampai terjadi lagi aku wajib tau siapa pria itu. Kamu mengerti Elliza?" katanya dengan mengancam ku dan ku balas dengan anggukan kepala super cepat dan juga jari kelingking kanan yang mengacung keatas menandakan aku berjanji padanya.


Marsya: "Ya sudah sana katanya mau ke ruangan pak David, nanti keburu pak David ada jam praktek loh" katanya mengingatkanku.


Aku mengangguk kembali dan akan meninggalkannya, tapi baru satu langkah aku berfikir jika aku datang sendirian mungkin pak David akan menggigit leherku kembali. Ga! aku harus bawa bodyguard batinku.


Aku tengok balik, masih ada Marsya yang masih berdiri memandangiku ditempat yang sama.


Marsya: "Loh kenapa? Ga jadi?" tanyanya terheran karna aku kembali mendekatinya.


Aku menarik tanyanya tanpa meminta persetujuannya terlebih dulu.


Melliza: "Temani aku" kataku masih menarik tangannya.


Marsya: "Lah memangnya kamu ga berani sendiri? Biasanya juga keluar masuk ruangannya pak David bawakan makanan untuknya"


Lah iya kalau pak David masih kaya kemarin kemarin, pak David yang sekarang ganas aku ga bisa bertemu dengannya bila hanya berdua batinku.


Melliza: "Ini kasusnya berbeda" alasanku agar Marsya percaya dan mau menemaniku datang keruangannya.


Marsya: "Ok aku temani tapi jangan lama yah, sebentar lagi aku ada pasien mau konsultasi"


Melliza: "Iya iya tidak akan lama" jawabku meyakinkannya dengan tetap menarik tangannya.


Setibanya didepan ruangan pak David, nyaliku menciut keberanianku hilang seketika dan aku juga merasa minder dengan penampilanku sekarang yang masih menggunakan shal kuning.


Marsya: "Loh kenapa malah diam? Ayo ketuk pintunya! mau sampai kapan kita berdiri didepan pintu ini?"


Melliza: "Aku ga berani" jawabku menatap Marsya yang langsung terkejut dengan jawabanku.


Marsya: "WHAT?!!! Ga salah dengar aku? Kamu lagi ga sakit kan?" tanyanya dengan memegangi dahiku.


Marsya: "Ga panas ko, Udah buruan diketuk pintunya. Ini kaya bukan Elliza yang aku kenal saja" katanya masih terheran heran padaku.


Karna aku yang tak kunjung mengetuk pintu akhirnya Marsya mengetuk pintunya untukku.


Saat kami berada didalam ruangan dan berhadapan secara langsung dengan pak David yang tengah duduk, iya menyapa kami dengan wajahnya yang seperti biasa.


Wajah datar, cuek dan matanya yang tajam ya seperti itulah wajah keseharian pak David.


David: "Iya? Ada maksud apa kalian berdua datang keruangan saya mengganggu saya?" tanyanya datar pada kami berdua yang masih berdiri di hadapannya.


Marsya: "Begini dr. David, kedatangan saya kemari hanya menemani Melliza untuk bertemu dr. David" jelas Marsya pada pria itu.


David: "Menemani?" tanyanya dengan pandangan matanya tertuju padaku.


Marsya: "Iya.. Melliza ingin menanyakan tentang hukuman yang dr. David katakan diruang rapat. Benar kan Elliza?" jelas Marsya kembali tentang tujuan kami berada diruangan pak David.


Melliza: "Iya benar" jawabku sembari menganggukan kepala.


Pak David diam sesaat, sepeti sedang memikirkan sesuatu.


David: "Oh begitu, tapi sebelum itu dr. Marsya saya boleh meminta bantuan anda?"


Apa yang sedang di pikiran pak David, kenapa dia meminta bantuan pada Marsya?


Marsya: "Tentu saja, apa yang bisa saya bantu dr. David?"


David: "Begini saya membutuhkan hasil check up milik bapak Bambang Nur Kholis yang sekarang berada diruangan dr. Haris. Apa ada bisa mengambilnya untuk saya?"


Apa maksudnya menyuruh Marsya datang keruangannya pak Haris? Apa dia memiliki niatan buruk lagi terhadapku?


Marsya: "Baiklah saya akan mengambilnya untuk anda dr. David" jawab Marsya membuat mataku terbelalak mendengarnya.


Melliza: "Eh tunggu, biar aku saja yang mengambilnya" kataku hendak menghentikan Marsya yang akan berjalan keluar.

__ADS_1


David: "Anda sangat lucu dr. Melliza, bagaimana anda bisa mengambilnya bukankah anda datang kemari untuk menanyakan hukuman yang akan saya berikan untuk anda?"


Marsya: "Iya Elliza, kamu ini bagaimana? Ya sudah aku pergi dulu nanti aku kembali lagi. Ok?" aku hanya mengangguk karna bagaimanapun sepertinya aku tidak akan bisa pergi.


Aku terus mengamati kepergian Marsya hingga akhirnya dia hilang dibalik pintu.


David: "Ada apa Clara? Apa kamu takut?"


Aku berbalik badan dan melihat kearahnya yang masih duduk dikursinya.


Wajahnya yang tadinya menunjukan wajah datar, cuek dan tatapan tajam berubah menjadi senyuman dengan tatapan yang lembut.


Melliza: "Langsung pada intinya pak David, apa hukuman untuk saya" kataku berusaha tenang.


Aku memang dulu menyukainya bahkan tergila gila padanya tapi jika sifatnya berubah drastis seperti ini aku sedikit was was meski masih ada perasaan untuknya apalagi saat dia menciumku lembut rasanya cintaku padanya semakin bertambah.


David: "Kamu sangat bersemangat sekali Clara" katanya dengan menyunggingkan senyumannya semakin lebar membuat wajahnya semakin tampan dimataku.


David: "Baiklah aku memberikan 3 hukuman untukmu Clara, tapi aku hanya akan menyebutkanya satu persatu tidak 3 sekaligus. Jika satu hukuman yang aku sebutkan kamu bisa melaksanakannya dengan benar maka aku akan menyebutkan hukuman berikutnya"


David: "Bagaimana Clara?" tanyanya dengan menaikkan alisnya sebelah kiri.


Pak David ga mungkin menyuruhku melepas semua bajuku kan?


Melliza: "Baiklah asal itu masih dibatas wajar sebuah hukuman saya akan melakukannya" jawabku sedikit was was dengan hukuman yang akan diberikan pak David.


David: "Kamu terlalu berlebihan Clara, tenang ini tidak akan menyiksamu" katanya dengan senyuman yang semakin lebar dan karna senyumannya itu pula membuat aku semakin terjaga.


Melliza: "Langsung saja sebutkan hukuman yang pertama" kataku to the point.


David: "Hukuman yang pertama... duduklah dipangkuanku"


Melliza: "APA?!! Itu jelas jelas bukan hukuman pak David. Anda jangan menyalah artikan sebuah kepercayaan pak Budiman untuk menjadi peluang anda sendiri pak David" jelasku tidak terima tentang hukuman yang baru saja dia sebutkan.


David: "Terserah apa katamu Clara, itu hukuman yang pertama dariku" katanya seolah tidak perduli dengan perkataanku.


Melliza: "Akan saya laporkan pada pak Budiman" kataku hendak keluar pintu.


David: "Satu langkah lagi kamu berani melangkah maka kamu akan menyesal dengan keputusanmu Clara, lagian coba kamu pikirkan apa pak Budiman atau dokter yang lain akan percaya pada perkataanmu. Perkataan yang muncul dari mulut seorang dokter yang telah membuat masalah tadi pagi sehingga membuat Rumah Sakit ini gempar karnanya" penjelasannya sesaat menyadarkanku bahwa apa yang pak David katakan ada benarnya, mana mungkin ada yang percaya dengan perkataanku bahkan Marsya tidak akan percaya padaku.


David: "Bukankah kamu menyukaiku? Apa yang membuatmu ragu untuk duduk dipangkuanku?"


Melliza: "Istri anda dr. David" jawabku dari pertanyaannya.


Pak David memalingkan wajahnya kearah lain dan menghembuskan nafasnya.


David: "Kamu akan melakukan hukuman yang sudah aku sebutkan atau tidak Clara? jika tidak keluarlah" katanya dengan wajah datarnya.


Sebenarnya ada apa dengan hubungan pak David dan istrinya?


Melliza: "Apa hukumannya tidak bisa diganti dengan yang lain pak David?" tanyaku mencoba untuk mendapat toleransi darinya.


David: "Tidak" jawabnya singkat dengan mulai mengamati kertas kertas diatas mejanya.


David: "Jika kamu belum siap untuk melakukan hukumanmu sekarang maka keluarlah" katanya yang masih fokus pada kertas yang sedang iya pegang.


Aku tarik nafas perlahan dan membuangnya, aku langkahkan kakiku perlahan mendekatinya hingga kini aku berdiri tepat disampingnya yang masih fokus pada kertas kertas itu.


Pak David melihat kearahku yang berdiri disampingnya, dia tersenyum kembali padaku wajah suramnya hilang seketika.


David: "Duduklah" katanya dengan menepuk kedua pahanya.


Aku menatap pahanya, benarkah aku akan melakukannya? tapi jika tidak sekarang kapan lagi? menunggu dikeluarkan dari Rumah Sakit ini? Oh tidak tidak.


Aku akhirnya duduk dipangkuanku dengan menyamping dengan rasa ragu ragu.


Melliza: "Baiklah hukuman yang kedua?" tanyaku tentang hukuman selanjutnya.


David: "Bukan seperti itu Clara, duduklah menghadap kearahku"


Apa maksudnya aku harus mengangkanginya? Apa ini tidak terlalu berlebihan?


David: "Apabila kamu masih ragu, lebih baik lain waktu saja Clara, aku sedang tidak ingin bertele tele"


Karna ingin selesai dengan semua drama ini akhirnya ku turuti apa maunya.


Aku duduk menghadap padanya dengan jarak yang sangat dekat. Aku malu, iya aku benar benar malu. Jantungku berdetak lebih cepat lagi dengan posisiku yang sekarang.


Dia menatap mataku dengan senyuman yang menghiasi wajah tampannya. Kedua tangannya berada dipinggangku mendorongnya agar lebih dekat lagi dengan tubuhnya dan tangannya menuntun tanganku agar bertengger di bahunya.


David: "Ini baru benar Clara" katanya dengan menyingkirkan shal yang berada dileherku. Aku tersipu malu hingga tidak sanggup melihat matanya.


David: "Apa kamu sudah melihat karyaku pada lehermu Clara? ini sungguh mengagumkan" katanya dengan menyentuh leherku yang terdapat tanda merah miliknya. Aku berusaha cuek akan perkataannya agar tidak menambah waktu lama aku duduk dipangkuannya.


Melliza: "Lalu apa hukuman yang kedua?" tanyaku masih berada dipangkuannya.


David: "Hukuman yang kedua....Berikan bibirku sebuah ciuman yang mesra Clara"


Aku terkejut mendengar perkataannya, hukuman macam apa ini.

__ADS_1


Melliza: "Hukuman macam apa ini pak David? Apa dihukuman ketiga anda berniat memberikanku hukuman untuk melepas semua bajuku?" tanyaku menatap matanya.


David: "Kamu berfikir terlalu jauh Clara, tapi jika kamu bersedia aku tidak akan melarangnya" katanya yang disertai dengan senyuman mesum.


Mendengar perkataannya membuat aku malu sendiri, ternyata otak aku ini terlalu berfikir jauh.


David: "Bagaimana Clara kamu mau melakukannya tidak? nanti keburu dr. Marsya datang dan melihatmu dipangkuanku seperti ini menurutmu apa yang akan dia pikirkan tentang kita?"


Benar juga jika Marsya sampai melihat ini pasti dia akan menggantungku atau mungkin menguburku hidup hidup karna dikira menjadi pelakor.


Aku telan salivaku, kulihat bibirnya yang lebih tebal dari milikku. Bibir yang telah mencuri ciuman pertamaku.


David: "Lakukanlah Clara jangan hanya melihatnya bukankah kau sudah mencoba rasanya?"


CUP


Ku kecup bibirnya sekilas, tapi saat bibirku hendak melarikan diri tengkukku ditahan olehnya.


Dia kembali menciumku dengan panas, tangannya terus mengelus punggungku yang tertutup oleh baju. Tangannya yang satu mendorong pinggangku agar lebih dekat dengannya hingga tubuh kami saling menghimpit satu sama lain.


Dadaku menempel pada dada bidangnya dan entah mengapa lama kelamaan aku duduk dipangkuannya aku merasa ada sesuatu dibawah sana yang keras berusaha untuk keluar.


Aku sangat menikmatinya, ku tutup mataku kemudian tanganku perlahan mengelus lehernya menekan lebih tengkuknya.


Hingga akhirnua aku mulai sadar kembali dan mendorong bahunya berusaha melepaskan ciuman panas kita berdua.


David: "Aku mencintaimu Clara" katanya membisikan di telinga kiriku.


Melliza: "Dan apa hukuman yang terakhir" tanyaku berharap semua ini akan berakhir dalam waktu sehari.


David: "Hukuman yang ketiga.... Jadilah kekasih ku Clara"


Melliza: "Ga!" jawabku jelas didepan wajahnya.


David: " Kalau begitu kamu masih berhutang satu hukuman padaku"


Melliza: "Apa tidak bisa diganti pak? saya sudah melakukan 2 hukuman yang pak David sebutkan tadi" aku terus berusaha mendapatkan toleransi darinya.


David: "Sudah aku katakan tidak Clara" katanya terus terusan kekeh pada keputusannya.


Aku terus berfikir, apa aku iya kan saja yah? bukankah ini yang kamu inginkan Melliza? Cintamu tidak bertepuk sebelah tangan.


Tapi bagaimana dengan istrinya? Bagaimana jika Marsya tau? Apa aku benar benar akan menjadi orang ketiga?


David: "Jangan terlalu lama berfikir Clara, waktu terus berjalan dan aku masih ada urusan lain"


David: "Jika sangat sulit bagi mulutmu untuk mengatakan iya, maka berikan aku jawaban dari ciumanmu. Ciuman yang lebih tulus dari yang tadi dan penuh dengan kelembutan"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.DOOR!


Serius banget bacanya sampe kedengaran detak jantungnya sampai author.


Jangan lupa mampir di karya novel saya yang lain dengan judul Wanita Yang Tak "SEMPURNA"

__ADS_1


novel yang berjenre Romantis Komedi, jadi buat para readers yang suka tentang cerita komedi bisa coba mampir kalian disugukan dengan cerita konyol gokil bikin ngakak


Happy reading gaes,, salam dari dr. Clara untuk para readers yang slalu mendukung karya ndk.id


__ADS_2