Dr Clara

Dr Clara
Episode 25


__ADS_3

Sebenarnya aku membohongi mas David perihal perasaanku terhadap kak Bagas dulu, aku hanya ingin melihat seberapa cemburunya dia saat mendengar aku memiliki perasaan terhadap pria lain meski itu dulu.


Bagaimana aku bisa menyukai pria cupu, culun berkaca mata yang selalu berteman dengan buku buku tebal seperti dia dulu, meski sekarang aku harus akui dia memiliki kadar ketampanan yang melebihi rata rata. Tak ada lagi kata cupu atau culun bahkan tidak ada lagi kaca mata yang melengkapi keculunannya dulu.


"Oi" kata seseorang yang datang dari belakangku yang sedang berjalan dilorong Rumah Sakit menuju ruanganku.


Melliza: "Eh! kak Bagas?" aku tengok ternyata kak Bagas yang mengejutkanku.


Bagas: "Hai Racanhai" dia melambaikan tangannya seolah memberi sapa.


Melliza: "Racanhai?" tanya gue bingung.


Bagas: "Rara cantik aduhai" jawabnya kemudian mengacak acak rambutku membuat aku terpesona oleh perlakuannya.


Ya ampun tidak tau ya perempuan itu paling tersentuh dengan hal hal meski terlihat biasa tapi ini nampak romantis bagi kaum wanita.


Kalo nanti aku suka bagaimana?


Mau dibuang kemana mas David kesayanganku?


Rara? itulah panggilan kak Bagas suatu kita masih menjadi anak kuliahan. Kak Bagas yang sudah dipenghujung semester sedangkan aku masih awal semester dua di Universitas Padjadjaran. Selisih umur kita sekitar 5 sampai 6 tahun, aku tidak tahu pastinya.


Dulu aku yang masih berpacaran dengan Krisna tidak menjadi hambatan baginya yang cupu dilengkapi culun untuk mengungkapkan perasaannya terhadapku.


Sampai telinganya mendengar kabar aku putus dengan Krisna, dia semakin menggebu gebu mengejar cintaku.


Awalnya aku selalu main kucing kucingan dengannya, selalu menghindarinya agar tidak menyakiti perasaanya karna dia bilang bahwa aku adalah cinta pertamanya.


Sungguh ironis bukan jika cinta pertamanya memberikan luka yang teramat dalam.


Hingga akhirnya aku yang sudah merubah penampilanku menjadi wanita super cantik nan sexy ini menolaknya secara blak blakan agar kak Bagas jera.


Aku beralasan bahwa aku tidak mau berpacaran dengan pria cupu, culun dan selalu memakai kaca mata kemanapun dia pergi. Aku ingin cowo trendi, tampan dan menawan tidak memiliki kekurangan.


Seminggu lebih tidak lagi nampak wajahnya di kampus aku kira dia sakit hati dan mulai menjauhi ku, tapi nyatanya dia mengubah penampilannya berbanding terbalik dari yang kemarin.


Awalnya ku kira dia anak pindahan, tapi setelah kak Bagas mendekatiku terlebih dulu dan bertanya perihal perubahannya yang secara drastis barulah aku sadar bahwa dia kak Bagas yang cupu dan culun itu.


Kita mulai dekat, sering nongkrong bareng. Dikampus jika ada mata pelajaran yang sama kita suka ketemu atau hanya sekedar jalan sebentar mengelilingi kampus sebelum pulang. Sampai akhirnya dia hilang tidak ada kabar sebelum kita jadian.


Melliza: "Gombalan kak Bagas receh banget sih" kataku masih jalan berdampingan dengannya.


Bagas: "Biarin receh, tapi kamu suka kan?" ledeknya.

__ADS_1


Melliza: "Tidak" jawabku singkat.


Bagas: "Ra?" panggilnya.


Melliza: "Hm?"


Kak Bagas menahan tanganku dan menghentikan langkah kita.


Bagas: "Kita lanjutkan hubungan yang sempat tertunda yuk Ra?" perkataannya berhasil membuatku diam tak berkutik.


Bagas: "Ra kamu belum punya pacar kan? jadilah pacarku Ra" katanya lagi menggenggam kedua tanganku.


Melliza: "Maaf kak, aku udah punya seseorang dihatiku" jawabku menunduk.


Bagas: "Siapa Ra?" tanyanya tapi mana mungkin kan aku kasih tahu.


Bagas: "Kayanya aku harus konsultasi sama om David deh" mendengar sang nama kekasih disebut membuatku mendongak melihat kearahnya.


Melliza: "Aku mau praktek kak, mending kak Bagas pergi kalau tidak ada kepentingan di Rumah Sakit ini" kataku berusaha mengusirnya sebelum mas David lihat aku sedang berduaan dengannya dilorong yang sepi ini belum lagi ini lorong dekat dengan ruangannya.


Bagas: "Ayo aku antar, aku tahu kok tempat ruanganmu dimana" dia menarik tangan kiriku.


Melliza: "Kak Bagas penguntit yah?!" kataku langsung menepis tangannya yang masih menggandengku.


"Kalian sedang apa disini?"


Mati deh aku, ketahuan kan sama pacar sedang berduaan sama cowo lain. Aku tengok kearah suara yang tak lain suara mas David yang sedang berdiri dibelakang kami dan kalian jangan lupakan tatapan mata tajamnya seolah akan menerkamku.


Aku berusa menelan salivaku yang sangat sulit takut dia akan salah paham tentang aku dan kak Bagas terlebih kemarin aku bilang bahwa aku memiliki perasaan terhadapnya.


Bagas: "Hai om.. ini aku mau mengantar wanitaku keruangannya"


What?


Apa yang kak Bagas barusan katakan?


David: "Wanitamu?" tanyanya dengan alis yang terangkat sebelah.


Setelah ini jika aku bertemu dengan mas David sudah pasti mas David membedah tubuhku tanpa ampun batinku.


Bagas: "Oh! calon om calon.. meski Rara bilang dia memiliki pria lain dihatinya tapi sebelum resmi jadi milik pria itu aku masih berhak kan om mengejar cintanya?" katanya kemudian merangkul bahuku.


Pandangan mataku mengarah pada tangannya kak Bagas yang dengan santainya bertengger dibahuku kemudian pandangan mataku beralih melihat mas David.

__ADS_1


Aura membunuh sudah terpasang di mode tatapan mas David, begitu mengerikan.


Aku melepas tangannya paksa dari bahuku berusaha menjauhi sebelum mas David benar benar murka nantinya jika hanya ketemu berdua denganku.


Melliza: "Kak Bagas mending kakak pulang atau mau pergi kemana deh terserah yang penting jangan ganggu aku yah" kataku mencari celah mengusirnya.


Bagas: "Iya ini aku juga mau kerja kok Rara sayang"


Sayang? aduh semakin melotot aja mata mas David melihat kearahku. Harus cepat cepat kabur dari situasi macam ini.


Melliza: "Ya sudah sana gih kak Bagas kerja, jangan ganggu aku lagi nanti kekasih ku murka. Dia berbahaya kalau sudah marah" kataku dengan melirik kearah mas David.


Bagas: "Berbahaya apa sih Ra? kalo kamu takut sama pria model begitu kenapa tidak diputuskan saja mending kamu sama aku"


Melliza: "Bahaya kak! BAHAYA! cowoku ini dokter bedah kak Bagas bisa dicabik cabik nanti" kataku sudah kelimpungan karna mas David benar benar dalam mode murka yang siap meluapkan amarahnya.


Bagas: "Dokter bedah? waaaah samaan dong kaya aku" katanya penuh percaya diri tanpa melihat ekspresi mas David sekarang yang sudah naik pitam.


Melliza: "HAH? samaan? ya sudah samaan iya, tapi mending sekarang kak Bagas pergi gih siapa tahu lagi ada banyak pasien yang hendak dibedah" aku terus mendorong punggungnya agar segera pergi dari hadapannya mas David.


Bagas: "Iiih gemes deh sama Rara cantik nan aduhai ini" dia malah berbalik badan dan mencubit cubit pipi tirusku.


Bagas: "Kan aku salah satu dokter bedah dirumah sakit ini"


Melliza: "Hah?!" aku terkejut mendengar penuturannya.


Bagas : "Iyaaa! dan om David ini menjadi dokter pendampingku"


Melliza: "Apah?!!!"


Bagas: "Kok kamu terkejut gitu sih Ra, jangan bilang kamu setelah mendengar aku ini anak pemilik Rumah Sakit ini dan keponakan om David kamu bakal lari terbirit birit"


Aku semakin mematung ditempat, ini mimpi kan yah?


Mimpi kan?


Keponakan?


Jadi kak Bagas keponakan mas David?


Keponakan?


Oh astaga!

__ADS_1


__ADS_2